Pak BTS, hehehe, memang kita coba jajagi pola pikir seperti ini (: deductive reasoning), yang dominan melingkupi masyarakat kita. Saya teringat dulu ceramah dr. Watik Pratiknya yang menjelaskan 2 pemikiran besar masyarakat kita: positivistik/realistik dan nativistik. Justru saat ini pemikiran nativistik sangat populer di kalangan scholar, seperti diakui Pak SBY sebelum pemilu kemarin. Namun ini selintas saja, sambil menunggu-nunggu isu aktual lainnya. Salam.
-ekadj --- In [email protected], Bambang Tata Samiadji <btsamia...@...> wrote: > > Kalau isu tata ruang semakin kemistik,... susah juga mau ikut nimbrung. >  > Thanks. CU. BTS. > > --- On Sat, 7/25/09, ffekadj 4ek...@... wrote: > > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] Re: tempat keramat > To: [email protected] > Date: Saturday, July 25, 2009, 2:33 PM > > >  > > > > > Pak Koes dan Pak Djarot ysh, > > Terima kasih atas informasinya. Kalau saya rumuskan sementara waktu > mengenai tempat keramat ini, dari Pak Koes menyebutkan sebagian besar > merupakan kuburan/makam, sehingga sering menjadi tempat tawassul. Saya > kira tradisi tawassul ini sangat khas NU/Jawa, walau di beberapa tempat > di nusantara ini juga ada yang melakukan terutama dari kalangan > thariqat. > > Dari Pak Djarot disebutkan adanya tempat-tempat yang memiliki kekuatan > alam yang digunakan untuk bermunajat, dan saya kira ini sangat khas Jawa > (Mataraman). Saya kurang tahu cara menandai tempat-tempat keramat ini, > mungkin perlu kemampuan metafisik tertentu, termasuk juga kemampuan > untuk menyerap kekuatan-kekuatan alam tersebut. > > Saya kira tempat-tempat keramat ini khas nusantara, terdapat di berbagai > tempat. Di depan Istana Maymoon di Medan ada bangunan kecil yang > mencingkupi 'meriam tomong' yang selalu mengeluarkan air (mata), dan > dikeramatkan juga oleh masyarakat Deli. Di Banda Aceh ada makam Syiah > Kuala, yang tidak terganggu sewaktu tsunami kemarin. Di Kedukan Bukit > Palembang juga terdapat petilasan Sriwijaya dan termasuk keramat juga. > Di Pariaman ada kuburan Syech Burhanuddin Ulakan yang diziarahi ribuan > orang setiap tahunnya. Namun masyarakat Sumatera pada umumnya kurang > mempopulerkan tradisi tawassul ini, terkecuali ziarah yang dilakukan > setiap memasuki bulan Ramadhan. > > Kalau di Asmat tempat yang dikeramatkan adalah bangunan Jew, yang sering > untuk tempat pertemuan. Di Manado saya melihat kuburan Tuanku Imam > Bonjol di Pineleng sering juga diziarahi, namun yang pasti bukan orang > Minang. Sepertinya kita perlu informasi dari berbagai daerah mengenai > tempat-tempat keramat ini. > > Apakah kekuatan-kekuatan alam dari tempat-tempat keramat tersebut > signifikan mempengaruhi peri kehidupan masyarakat setempat? Dan > bagaimana fenomenologi memanfaatkan kekuatan tersebut, serta untuk > kebutuhan apa? Apakah gejala nativisme ini dapat dijelaskan secara > ilmiah, atau hanya sugesti saja? Mohon kesediaan menjelaskan lebih > lanjut. > > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi <m_koeswadi@ ...> > wrote: > > > > Pro Sahabats ysh > > > > Asw. Saya sangat setuju usul mas Ekadj ada bahasan jagad Madura. > > Tentunya diharapkan ada juga jagad-jagad lainnya, supaya kita lebih > mengenal > > alam sekitar. Tinjauan ekonomi, lingkungan hidup, NKRI boleh kiranya > disertakan ya mas. > > > > Kata orang Madura, kota Sumenep ini bagai kuburan.. karena, > > kuburan ada di mana2..yang agaknya menjadi elemen perkotaan. Kuburan2 > besar > > berdampingan dengan kawasan terbangun. Kuburan, di masyarakat ini > bukan sekedar > > tempat mengubur mayat..tetapi tempat terhormat yang leluhurnya selalu > (biasa) > > dikunjungi, tidak hanya sewaktu mau puasa atau lebaran. Kemudian, yg > ekonominya > > mampu, nisannya dibangun pagar berhias ataupun à cungkup, dst. > Contoh nisan semacam ini banyak > > dijumpai di wilayah Jordan utara arah menuju obyek wisata Bahr Mayyit > (Laut > > Mati). Selain untuk ziarah, juga untuk wisata, misalnya ke makam Zun > Nun al > > Misr, Muaz bin Jabbal dll. Juga ada di kota Palestina (makam syech > perempuan agung > > Rabiââ¬â¢ah al Addawiyyah), atau di kota Hebron (wilayah Palestina) > yang makamnya > > menjadi bagian masjid Hebron. Di beberapa tempat lainnya, saya lihat > model > > cungkup di kuburan Jogja (kalau tidak keliru di sekitar Gajahan, dan > juga di > > komplek makam ââ¬" lupa namanya - yang di dalamnya ada pangeran > agung Alap-alap > > Samber Nyowo). Di luar kota Kandangan ââ¬" Barabai Kalsel jug ada, > bahkan dihiasi > > kain seperti di Jordan Utara. > > > > > > Jika orang Madura berziarah kubur relative lebih lama. Banyak > > peziarah sambil meminta berkah saat punya hajat di kuburan keluarga > atau > > kuburan orang-orang tertentuââ¬Â¦(maaf, cara ini sebagian orang > meyakininya tidak > > syirik).à Saya tidak hendak membahas > > perbedaan paham ini di milis ini.à > > > > Info di bawah ini lebih bersifat hasil pendataan sesaat saja. > > Paham mengunjungi tempat keramat (karomah) masih subur di masyarakat > Madura. Agaknya > > juga di sebagian masyarakat Jawa Barat. Yang saya maksud keramat > adalah: > > kuburan, benda2 alam, benda2 bersejarah/legenda, dan para ulama/ kyai > yang > > masih hidup terutama yg punya pondok pesantren. à Secara ringkas, > à berikut ini: > > > > 1.à à à > > MMakam para raja/keluarga raja di Asta Tenggi kota > > Sumenep > > > > > > 2.à à à à à à > > Makam para raja dan para ulama agung di pulau > > Talango (1.5km dari pelabuhan Kalianget, 17 Km dari kota Sumenep). > Suasananya > > seperti di makam Syech Caringin (Syech Asnawi, Syech Abdurahman), > Caringin > > Banten, atau seperti di makam Syech Maulana Mansyur, Kadupinang > Pandegelang. > > > > > > 3.à à à à à à > > Makam untuk umum, tersebar dikampung2 hingga > > ujung barat Madura (Kamal Bangkalan), tetapi di antara makam ada yang > > ditengarai sebagai keramat. Bisa ditanya ke orang2 di sekitar makam. > (tidak > > selalu juru kunci). > > > > > > 4.à à à à à à > > Makam pangeran Joko Tole, dan perangkat kuda terbang > > yang dipakai perang (legenda) berlokasi di 40 Km luar kota Sumenep. > > > > > > 5.à à à à à à > > Selain maka, Ulama-ulama keturunan Arab, ataupun > > bukan keturunan Arab, banyak yg dikunjungi untuk keperluan konsultasi > dan minta > > ââ¬Ëdibantu ini ituââ¬â¢ termasuk yang urusan supranatural. > Salah satunyaà à keturunan alm. Syech Bahaââ¬â¢uddin (di > Kepanjen > > Sumenep). Semasa hidupnya beliau juga pernah menulis buku sangat > popular dan > > menguasai beberapa bahasa asing. > > > > > > 6.à à à à à à > > Atau berkunjung ke pesantren2 à a.l . di Lenteng (20Km dari kota > Sumenep), di > > Lukguluk (jalan nasional menuju Pamekasan), di Batu Ampar (kab > Bangkalan) ,di > > Batu Poteh (kab Sampang). Para ulamanya punya kelebihan masing-masing > yang > > pantas disimak. > > > > > > 7.à à à à à à > > Yang namanya ââ¬Ëjimat = barang siji dirumatââ¬â¢, > > banyak masyarakat Madura yang menyimpan ââ¬Ëtulisan arabââ¬â¢ > (wafaq) baik yg disimpan > > di rumah (dekat pintu) ataupun dibawa. Mereka peroleh dari ulama2 > tertentu. > > Termasuk menyimpan senjata keris dan tombak beraneka bentuk lebih > dihargai. > > Mereka tidak menyimpan clurit, kecuali para petani ladang. Clurit > seperti yg > > ditulis dalam makalah mhs ITS à (ibu Retno > > H.) kiriman mas Djarot, adalah barang peralatan bertani (sama dg > sabit/arit). Memang > > benar, yg ini banyak di pasar2, seperti kita biasa melihat orang jual > > sabit/bedog/ cangkul di pasar2à p. Jawa. > > > > à > > > > Ada penelaahan penting, selain aspek tata ruang. Makam para > > ulama, tokoh2 agama, dan tokoh nasional, memiliki daya tarik bagi > sesiapa yang > > mencintainya/ menghormati jasanya. Mas Djarot menyebutnya sebagai > adanya kesamaan nilai spiritual. Kedatangan peziarah membawa keberkahan > bagi > > sang almarhum (atas kiriman doââ¬â¢anya), juga bagi yang berziarah > (beroleh > > ketenangan bathiniah), juga bagi masyarakat sekitar (beroleh lapangan > > usaha/ekonomi oleh sebab bisa menjual hasil bumi dan kerajinannya) , > juga bagi pemda > > (disparda dapat retribusi). Kita bisa hitung, berapa penghasilan dan > kesempatan > > berusaha tercipta oleh satu makam. Jadi, bagaimana kita mengapresiasi > dimensi > > keseluruhan ini? Bisakah kita berbalas budi, seperti beliau2, yang > beliau2 > > sudah wafat saja sanggup memberkahi (menghidupi) banyak > orangââ¬Â¦apalagi semasa > > hidupnya. Inikah yang disebut karomah?? > > > > > > Memindahkan makam/kuburan adalah sesuatu yang sulit dikerjakan > > di Madura. Apalagi melindas makam menjadi jalan ekonomià seperti > kota2 lain. Di Madura hal ini dikategori > > tabu. Para pemikir tata ruang boleh mencari solusi, atau memahami apa > adanya. > > Bukankah demikian adalah salah satu produk budaya local yang perlu > diapresiasi. > > Perlu dipahami, sifat orang Madura sangat kuat hubungan /penghormatan > kepada > > keluarga termasuk yang sudah meninggal. Menyanjung kepada yang > dihormati akan > > dianggap keluarga besarnya. Begitu pula sebaliknya, akan menjadi > persoalan > > serius. Kiranya, lokasi kuburan (sebagai fasilitas perkotaan) à di > masa depan, juga yang dikeramatkan, harus > > di plan secermat mungkin, bukan sekedar ada di lahan kosong di > pinggiran. (Kita > > boleh perhatikan hadits Nabi, yang esensinya agar menyegerakan prosesi > kubur; > > tata cara menjumpai mayat di jalan ââ¬" termasuk yg ada dalam > ambulan kota; tata laku > > memasuki kuburan, termasuk waktu ikut mengiringi ke liang lahat; dan > masih > > banyak lagi..semua berkait site plan, distribusi lokasi, dan RTH). > Nah, sedikit > > soal building code nya bangunan rumah tinggal di kota Madura, mungkin > perlu > > banyak modifikasi di sini. Misalnya, soal GSB sebagaimana yg kita > kenal, sulit > > diterapkan. Wong dinding dapur/kamar tidurnya adalah pagar jalan raya > (lihat di > > jl Pendekar kota Sumenep, atau di Kec Labang kab Bangkalan). Salam, > Koes, JKT. > > > > > > --- On Sat, 25/7/09, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: > > > > From: Djarot Purbadi dpurbadi@ > > Subject: Re: [referensi] tempat keramat > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Date: Saturday, 25 July, 2009, 8:03 AM > > > > > > > > > > > > > > à > > > > > > > > > > > > Pak Ekadj, sejauh saya tahu tempat yang keramat biasanya ada kaitan > dengan NILAI SPIRITUAL tertentu, dan didatangi orang karena ada > kebutuhan spiritual yang cocok dengan nilai yang ada di tempat itu. > Kasus yang paling saya tahu ya Parangtritis. Teori yang ditemukan dari > penelitian lapangan dengan paradigma fenomenologi adalah bahwa nilai > spiritual itu menlahirkan (generate) nilai-nilai lain yang akhirnya > menciptakan entitas kehidupan di tempat itu. > > > > Batu Gilang di Parangkusumo, yang menurut legenda adalah "tempat > indehoy" Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul merupakan titik > penting di kawasan Parangtritis. Orang penganut kejawen datang dan > berdoa di tempat itu dengan pemahaman sedang menghadap dua sosok gaib > sedang duduk berdua, maka posisi doa menghadap kedua batu itu. Saudara > kita para keturunan Cina mengadakan Peh Cun dengan titik pusat di > > batu gilang dengan persepsi penguasa laut Kidul adalah Dewi Kwan Im. > Saudara saya penganut Islam berdoa di atas bukit di makam Syeh Maulana > Maghribi dalam kaitan dengan ziarah ke makam tokoh-tokoh Islam...konon > beliau adalah salah satu wali. Penganut Kejawen Hondodento juga > menghadap Kanjeng Ratu Kidul mempersembahkan labuhan setiap bulan Suro > ya di pesisir Parangkusumo. Labuhan Hindu dalam rangka ritual tertentu > juga di Parangkusumo, yang diyakini merupakan "alun-alun utara" dari > Kraton Segoro Kidul. Sementara teman-teman saya kelompok Pak Tembong > berdzikir setiap tengah malam tepat di bibir pantai menghadap selatan ya > di parangkusumo. Saya pernah mengikuti di tengah dzikir itu dari awal > sampai akhir, rasanya seperti naik perahu besar di tengah samudera dan > diayun-ayunkan ombak penuh nikmat. > > > > Salam, > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > --- On Fri, 7/24/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote: > > > > From: ffekadj 4ek...@gmail. com> > > Subject: [referensi] tempat keramat > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Date: Friday, July 24, 2009, 8:04 PM > > > > > > > > > > > > > > à > > > > > > Pak Koes dan rekan2 ysh, > > Ex ovo omnia (Lt.), mumpung kita sedang bicara, mohon pencerahan > mengenai tempat/lahan keramat sebagaimana telah bapak ungkapkan di > bawah. Kurang lebih apa-apa saja yang dapat disebut sebagai tempat > keramat, aspek pemanfaatan ruangnya bagaimana, dan aspek pengendalian > pemanfaatan ruangnya juga bagaimana? Berhubung banyak 'guru' dan > praktisi di milis ini untuk berkenan berbagi pengetahuan dan pengalaman. > Terima kasih sebelumnya. Salam. > > -ekadj > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi m_koeswadi@ ..> > wrote: > > > > > > Ini yang terlihat (kasad mata). Yang tersimpan/tidak > terlihat/supranatur al masih banyak yg belum dipublikasi. Bila mau > mendalami, menseriusi, bisa ke para informal leaders.. Termasuk > pemahaman soal 'anasir alam'. Sebagai info, di beberapa tempat, diyakini > banyak lahan keramat, makam keramat, juga 'pesantren tua' seperti di > Batu Ampar. Nah, soal 'keramat' ini, saya agak khawatir dengan rencana > expansi pembangunan2 lantaran adanya jembatan baru. Semoga tidak ada > konflik sosial-ekonomi. Semoga semua beroleh berkahNya. Wassalam Koes, > JKT > > >

