Untuk bisa membuat perimbangan, kayaknya saya perlu menyampaikan kutipan dari 
milist sebelah yang sedang membayhas tentang budaya Sunda.

Bagimana pandangan hidup orang Sunda mengatur hubungan antara manusia dengan 
sesama manusia, agar tujuan dari arti nama "Sunda" itu dapat tercapai?

1) Kawas gula jeung peueut
"seperti gula dengan nira yang matang"
artinya : hidup rukun sayang menyayangi, tidak pernah berselisih.

2) Ulah kawas seuneu jeung injuk
"jangan sepert api dengan ijuk"
Artinya: jangan mudah berselisih.agar pandai mengendalikan napsu-napsu negatif 
yang merusak hubungan dengan orang lain.

3) Ulah nyieun pucuk ti girang
"jangan merusak tunas dari hulu"
Artinya: jangan mencari bibit permusuhan

4) Ulah neundeun piheuleut ulah nunda picela
"jangan menyimpan jarak jangan menyimpan cela"
Artinya: jangan mengajak orang lain untuk melakukan kejelekan dan permusuhan.

5) Bisi aya ti geusan mandi
"kalau-kalau ada dari tempat mandi"
Artinya: segala sesuatu harus dipertimbangkan agar pihak lain tidak tersinggung.

6) Henteu asa jeung jiga
"tidak merasa sangsi dan ragu"
Artinya: sudah merasa seperti saudara, bersahabat

7) Yén ana perkara ajang dhéng buka (Jawa-Cirebon)
"jika ada perkara jangan dibuka"
Artinya: jika kita mengetahui sesuatu kejelekan orang lain, hal itu Janganlah 
disebarluaskan.
Kita melakukan suatu kebajikan ataupun kebaikan terhadap orang lain atau 
seseorang harus merupakan kesadaran dari diri kita sendiri, jangan sekedar 
terbawa bawa saja, seperti tampak dalam contoh berikut ini:

8) Ulah rubuh-rubuh gedang
"jangan rebah seperti papaya"
Artinya: janganlah mengerjakan pekerjaan tanpa mengetahui apa maksud dan 
tujuannya, hanya karena orang lain melakukannya.

Penampilan tingkah laku orang Sunda dalam pergaulan hendaknya saling mencintai, 
saling menghargai, sopan-santun, saling setia dan jujur disertai kerelaan, 
sesuai `folkways' yang mencakup aturan hidup/kehidupan sosial, sopan-santun, 
dan kesusilaan. Sebagaimana tampak dalam ungkapan berikut ini:

9) Ngadeudeul ku congo rambut
"memberi bantuan dengan ujung rambut"
Artinya: memberi sumbangan atau bantuan kecil, tetapi disertai kerelaan atau 
dengan ikhlas hati.

10)Pondok jodo panjang baraya
"pendek jodoh panjang persaudaraan"
Artinya: meskipun sebagai suami istri sudah berpisah, hendaknya persaudaraan 
tetap dilanjutkan/dipertahankan.
(ditambah ungkapan nomor 2)

Masyarakat Sunda sering menghindari hal-hal perselisihan, menghindari menghasut 
dan melibatkan orang lain ke dalam perselisihan, sebagaimana tampak dalam 
ungkapan Nomor 2,3, dan Selain itu, ada juga ungkapan sebagaimana berikut ini.

11) Ulah marebutkeun balung tanpa eusi
"jangan memperebutkan tulang tanpa isi"
Artinya: jangan memperebutkan perkara yang tidak ada gunanya'

12)Ulah ngadu-ngadu raja wisuna
"jangan membangkitkan amarah"
Artinya: jangan membangkitkan bibit kemarahan antara dua orang agar pecah 
persahabatannya/berpisah bersahabat.

Hidup rukun dan damai akan tercapai apabila dalam kehidupan bermasyarakat kita 
saling sayang-menyayangi, saling hormat-menghormati, dan tidak memancing 
keresahan dan kemarahan orang lain, seperti tampak pada ungkapan nomor 3 dan 7 
di samping ungkapan berikut ini:

13) Ulah ngaliarkeun taleus ateul
"jangan menyebarkan talas gatal"
Artinya: jangan menyebarkan perkara yang dapat menimbulkan keburukan/keresahan.
Selain itu, di dalam proses interaksi sosial antara individu yang satu dengan 
individu lainnya, dalam masyarakat Sunda tidak boleh menyinggung perasaan orang 
lain yang akan mengakibatkan perpecahan di antara anggota masyarakat itu 
sendiri. Seperti terungkap dalam data nomor 5 dan ungkapan berikut ini

14) Ulah nyolok mata buncelik
"jangan mencolok mata yang melotot"
Artinya: jangan berbuat sesuatu di hadapan orang lain, dengan maksud 
mempermalukan orang lain.

15) Ulah biwir nyiru rombengeun
"bibir jangan seperti niru yang rusak dan sobek-sobek"
Artinya: janganlah membicarakan sesuatu yang tidak pantas
terdengar oleh orang lain, senantiasa mengendalikan diri dalam bertutur kata.
Sesuai dengan sosial solidaritas, bahwa dalam berkehidupan bermasyarakat kita 
tidak boleh mementingkan diri sendiri tetapi harus mendahulukan kepentingan 
masyarakat dan keputusan pribadi yang tidak menguntungkan, sesuai dengan sikap 
yang dikehendaki oleh masyarakat Sunda yang tidak boleh mementingkan diri 
sendiri, sebagaimana tampak dalam ungkapan berikut ini:

16) Buruk-buruk papan jati
"betapa pun lapuknya kayu jati itu kuat"
Artinya: betapapun besar kesalahan saudara atau sahabat, mereka tetap saudara 
kita, orang tua tentu dapat mengampuninya.

17) Kaciwit daging kabawa tulang
"tercubit kulit dagingpun terbawa"
Artinya: ikut tercemar karena perbuatan salah seorang sanak keluarga

18)Ulah mapay ka puhu leungeun
"jangan menyusur ke pangkal lengan"
Artinya: janganlah kesalahan anak membawa buruk kepada orang tuanya.
Manusia di muka bumi ini sesuai dengan ajaran agama diwajibkan saling 
hormat-menghormati, dan saling harga menghargai dengan sesama manusia, sesuai 
pula dengan sila Pancasila. Dalam masyarakat Sunda pun hal itu tercermin pada 
ungkapan berikut ini:

19) Wong asih ora kurang pangalé, wong sengit ora kurang panyacad
"orang pengasih tidak kurang pujian, orang yang jelek (pemarah) tidak 
kekurangan celaan"
Artinya: orang yang pengasih kepada yang lain akan disenangi, dan orang yang 
bengis akan dibenci.

20) Ana deleng dén deleng, anu rungu dén rungu
"ada penglihatan dilihat, ada pendengaran didengar"
Artinya: jika ada sesuatu lihatlah atau dengarlah dengan patuh, tetapi 
janganlah dilihat atau didengar dengan tujuan jelek.
Data ungkapan yang telah disajikan, yang merupakan pencerminan dari adanya 
hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam masyarakatnya sesuai dengan 
pandangan hidup orang Sunda, juga dengan folkwas, solidarity social, juga 
tentang fungsi keluarga dan tata sosial dalam masyarakat Sunda

Semoga bermanfaat dan memberi pengkayaan tentang khasanah bangsa kita tercinta 
Indonesia.

DIRGAHAYU NEGARA TERCINTA INDONESIA

Salam

bambang sp

Kirim email ke