Milisters ysh, Dihari kemerdekaan ini ada baiknya kita renungkan sedikit ttg nasionalisme……… Bersekolah (kalau dari angle ortu: menyekolahkan anak) di LN/ dinegara maju adalah fenomena yg semakin umum dan meluas saja saat ini dinegeri kita….. Salah satu alasannya dari sisi pandang pasar tenaga kerja adlh krn ijazah dari LN/ negara maju lbh bergengsi hingga kalau kembali ketanah air nanti dlm persaingan kesempatan kerja peluangnya akan lbh baik dibanding yg lulusan domestik…. Ini manusiawi dan masih bisa dimengerti….. tapi ada juga motivasi ingin dpt bekerja di LN/ negara maju dan bahkan keinginan utk sekalian berpindah kewarganegaraan ..….krn pandangan bhw di Indonesia kemajuan, kemakmuran, keadilan, pemerintahan bersih dan berbagai parameter lain kemajuan bangsa/ negara tak kunjung dicapai…… dan kelompok pandangan ini tak mau menjadi bagian dari yg hrs berlelah2 memperjuangkan pencapaian itu……... Dari lingkungan sempit (relasi bisnis UKM istri saya) yg saya kenal…… ada 2 keluarga bersaudara dari pedagang pakaian di ManggaDua dari etnis China yg menyekolahkan anak2 mereka di Singapura bahkan sekitar sejak dari klas 5 atau 6 SD (kini sudah bekerja di Singapura dgn permanent stay, ibunya yg di Jkt dihari tuanya boleh ikut kesana dan mati disana)….dan 1 dari 2 keluarga ini juga menyekolahkan anaknya yg lain keprogram S1 di Perth, Australia (kini juga sudah bekerja disana, sdh mencicil rumah, ibunyapun di Jkt diharituanya boleh pilih, ikut tinggal di Perth/ Singapura)… lalu satu keluarga lain penjual kain di Pasar Tanah Abang juga menyekolahkan kedua anak lelakinya sejak masih SD di Perth, Australia…. Lalu 1 klg lainnya dari Tn. Abang jg menyekolahkan 3 anaknya selepas SMA ke Ausi tapi drop out semuanya dan balik ke jkt jaga toko di psr Tn. Abang dan jual beli mobil)…….…. Kasus David Hartanto Wijaya yg juara olimpiade sekolah dan bersekolah di Singapura lalu akhirnya dibunuh oleh profesornya lalu krn ini menyangkut kepentingan unsur intelijen negara Singapura lalu dipengadilan pihak David dikalahkan dan dinyatakan sebagai bunuh diri…. Ini menyebabkan pihak keluarga David kurang puas dan meminta campur tangan pemerintah RI yg dirasa sbg kok dingin2 saja dan tidak/ kurang memberikan pembelaannya……. Yg dpt kita lihat adalah….kalau utk kasus2 TKI kita baik di Singapura, Malaysia, TimurTengah… serba sedikit/ banyak pemerintah kita sdh terlihat campur tangannya….. tapi utk kasus David ini belum jelas…….. Mungkinkah pemerintah kita males berurusan dgn Singapura mengingat bgmn culasnya SIngapura dgn melindungi demikian banyak buronan kakap penjahat2 keuangan kita disana….. atau ingat bgmn ketika pemerintah kita mengajak buat perjanjian ekstradisi….lalu Pemerintah Singapura meminta imbalan dibidang hankam yg terlalu besar yg sangat membuat geram bangsa dan pemerintah kita?…….. Mungkinkah pemerintah mempertimbangkan bhw ketika mereka ingin bersekolah saja motivasinya anggap enteng dan ingin tinggalkan Indonesia.. lalu kok giliran bermasalah lalu ingat minta tolongnya ke pemerintah Indonesia?....... Ataukah sikap diamnya Deplu saat ini bisa diartikan sbg ingin memberi pelajaran kepada bangsa ini agar memikirkan kembali sikapnya kepada Singapura yg gebleg itu (dimana banyak dari bangsa ini masih saja prefer utk jalan2 ke SIngapura lbh daripada ke Bali, msh banyak prefer utk sekolah dan ingin bekerja di Singapura)….. atau kalau sekiranya dpt diterjemahkan secara lebih vulgar …. Apakah itu bisa dimaknakan sbg Menlu kita mau memberi pelajaran kepada mereka yg tak mengerti nasionalisme Indonesia dan rasa bela bangsa dan mau mengatakan “Makan tuh Singapura!” gitu?……… mohon pencerahannya…..… Salam,

