Pak Koes ysh,
Ini hanya sumbangan pikir cetek dan ngawur saja…...maafkan kalau kurang pas……..
Nikmatnya puasa adalah karunia dapat menikmati  pahitnya derita bak seolah anda 
sedang  teraniaya (padahal anda mungkin saat ini sedang cukup berkuasa)…. 
Puasa adalah nikmatnya pura2 lapar bagai orang miskin yg tak terbeli makanan 
(padahal jelas bhw istri tercinta nanti sore sudah pasti akan menyiapkan 
hidangan2 kesukaan anda dalam jumlah balas dendam tak terkira) …..
Puasa adalah nikmatnya menghayati suasana seolah anda sedang dalam peperangan…. 
 Padahal nanti sore pukul enam pastilah musuh dengan amat baik hati dan ramah 
mengajak bergencatan senjata……
Puasa adalah nikmatnya membayangkan bisa dekat dan disayang Allah…… karena 
Allah dekat dan menyayangi orang2 yang tetap berhati mulia dan tawakal walau 
dalam keadaan teraniaya dan  miskin, lapar dan dahaga…….. 
Allahpun  juga menyayangi orang2 yang tahu untuk tak menghabis2kan hak2nya atas 
seluruh nikmat2 Allah……. Nikmatnya tidur karena kantuk….. nikmatnya makan dan 
minum karena lapar dan dahaga……. nikmatnya berkuasa dan bersombong diri karena 
ada pihak yang kalah dan lemah……. nikmatnya menjadi orang sehat karena ada yang 
lain yang tak bergizi, lemah dan cacat....Nikmatnya memiliki kecerdasan dan 
kebijakan karena Allah tak memberikan itu kepada semua orang………
Salam,
 

--- On Fri, 8/21/09, muhammad koeswadi m_koesw...@....... wrote:


From: muhammad koeswadi <m_koesw...@........>
Subject: [referensi] mencari nikmatnya berpuasa
To: "alumni planologi" <[email protected]>
Date: Friday, August 21, 2009, 8:27 AM


  







Pro rekans


Asw. Saya sudah berpengalaman puluhan kali berpuasa. Supaya lebih bersemangat, 
saya sedang mencari-cari nikmatnya berpuasa. Namun pada bagian mana kenikmatan 
ini terletak. Apakah lapar dan hausnya, atau merasakan bludagnya tarawih 
bersama di awal masa? Atau karena mendengar khutbahnya para ustad/ustadzah yang 
menerangkan bahwa sekarang masa ampunan masal, pemutihan dosa, dan pahala 
melimpah? Dan katanya lagi buat orang-orang tua seperti saya harus agak beda  
dengan cara puasanya anak-anak saya..Kalau beda, apakah kenikmatannya juga 
beda? Inilah yang sedang saya cari dari siang hari tadi..sebelum memasuki 
ramadhan sebagai bulan penuh berkah. Untuk siapa berkahnya, dapatkah saya juga 
akan kebagian. Dalam bentuk/keadaan apa? Kalau tidak kebagian, sebabnya apa ya? 
Apa keseringan nonton TV, buka facebook, baca koran gossip, tetapi kurang 
ngaji, kurang perhatian kepada golongan masyarakat miskin, atau mungkin 
ngedumel waktu jalanan macet? 
Pengalaman berpuasa di Jakarta, pada 3-5 hari pertama, jalanan agak kurang 
macet, klakson kendaraan berkurang, dan sepertinya pengemudi (mobil, bus, 
motor) agak sopan…kenapa ya..apakah takut sebagai dosa? Kenapa di bulan-bulan 
lain agak tidak sopan..bahkan liar. Mohon pencerahan rekans milis. Salam, Koes 
JKT.

















      

Kirim email ke