Pro Sahabats

Asw, saya salut atas upaya riset bu Sulis, juga rekan2 yg menggeluti penelitian 
sosial mendalam. Khusus di kali Adem, saya pun pernah riset kecil2an, khususnya 
dari sisi resettlement dan proses migrasi mereka. Saya sertakan foto setting 
pemukiman di sana. Selamat n sukses. Salam, Koes,jkt

--- On Sun, 6/9/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:

From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Fw: sedikit cerita ttg pengalaman penelitian saya  
hari ini
To: [email protected]
Date: Sunday, 6 September, 2009, 6:20 PM






 




    
                  Pak ATAm Ibu Sulis dan rekan2,

Dongeng Ibu Sulis dan komentar Pak ATA menggugah saya untuk ikut berkomentar, 
bahwa teori-teori yang berkembang selama ini kadang perlu dicek lagi 
kebenarannya dengan fenomena empiris yang ada di lapangan. Jika teori tersebut 
dibangun dengan cara pandang yang rasionalistik, misalnya, maka menurut 
filsafat ilmu kan memiliki keterbatasan sebab hanya menggunakan kacamata yang 
tertuju pada fenomena tangible. Jika kita coba verifikasi dengan sedikit 
kreatif, dengan menggunakan paradigma lain pada tema kajian yang sama, tentu 
akan menemukan teori yang berbeda....bisa saja akan menggugurkan teori 
sebelumnya, seperti pengalaman Ibu Sulis. Apakah begitu ya ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sun, 9/6/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
Subject: Re: [referensi] Fw: sedikit cerita ttg pengalaman penelitian saya  
hari ini
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, September 6, 2009, 5:22 PM






 

    
                  Semoga planner kita yang lain tidak ada yang terkejut-kejut 
...
....karena sebelumnya belum pernah ketempat-tempat seperti yang disampaikan 
Sulis. 

Mbak Sulis, itu hanya sebagian sangat kecil dari masyarakat kita yang sebagian 
besar memang hidup dalam tantangan serupa itu, .....yang seringkali di"lupa"kan 
sebagai dasar pertimbangan utama pembangunan (peningkatan kualitas hidup) yang 
kita upayakan (termasuk melalui "penataan ruang"...?), ....apalagi di daerah 
yang tidak termasuk ibukota negara ini...

Bahkan kalau anda ke pedalaman, anda akan terkejut lagi...antara lain setelah 
sekian jam perjalanan, sekian kilometer jalan kaki mendaki gunung...istirahat 
dan diharuskan makan atau hingga bermalam dahulu oleh kepala dusun 
setempat...biar kuat ....naik lagi sekian jam...anda menemukan komunitas lokal 
yang hidup bersama alam, sengaja tidak ingin aksesnya diperbaiki agar dapat 
hidup lebih "sejahtera". ...dan... .

ternyata disana anda menemukan beberapa ahli dari berbagai negara lain...baik 
Barat maupun Timur....yang sudah lama mengenal, atau "hidup" bersama mereka 
....untuk kepentingan penelitian atau dalam rangka mengumpulkan bahan s3 
nya........dan

...pejabat kita di kota terdekat (apalagi terjauh seperti Jakarta) ...tidak 
tahu tentang itu...
bahkan kadang kala info awalnya juga semula didapat dari peneliti asing...

Semoga yang lebih muda mamu menghilangkan kesenjangan dan keterasingan ini.... 


Salam,
ATA

2009/9/4 ffekadj <4ek...@gmail. com>













 




    
                  FYI
--- On Tue, 6/2/09, sulistyowati <su...@...> wrote:





All,
Aduh, saya masih ter-bengong2 mengingat betapa tadi siang kami pergi ke daerah 
kumuh, perkampungan nelayan di Kali Adem, Muara Angke. Hanya 20 menit dari 
Pluit Mega Mall, yang benar2 megah dan tak terkatakan mewahnya, dan lokasi 
perkampungan elit yang benar2 super megah !

 
Rumah mereka berada di bantaran kali, tidak ada RT dan RW (karena illegal). 
Sudah 4 kali mengalami penggusuran. Keluarga yang tinggal (kembali lagi) 
sekitar 149 keluarga, inilah yang menjadi fokus penelitian saya. Para lelaki 
adalah nelayan, sehingga tempat ini disukai untuk tinggal, dekat dengan laut, 
dan dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan.


Rumah mereka (lebih tepat bedeng, terbuat dari papan2 bekas), tidak permanen, 
didirikan di atas tumpukan sampah, dan hampir setiap hari banjir dari air laut 
(rob). Karena terdiri dari papan2 bekas, bisa2 tiba2 ada yang kejeblos, dan 
kalau kejeblos masuk ke air kotor, yang ada di bawah rumah. Rumah mereka 
dikelilingi air kotor dari banjir rob (air laut pasang). Warna air hitam dan 
kotor bercampur sampah. Daan..tentulah termasuk sampah pembuangan kotoran 
manusia...


Dan di air yang tergenang  itulah kami berjalan menyusuri rumah demi rumah, 
untuk sampai ke "balai pertemuan" lebih tepatnya, tempat pertemuan publik,  
tempat  mereka berkumpul, dan sering juga berfungsi sebagai mushola. Terbuat 
dari papan2 bekas juga. Sangat sempit, (4 x 2,5 meter ?) utk disebut sebagai 
balai pertemuan. 


(Catatan: Dan ketika jalan di air rob menyusuri rumah2 itu, isi perut rasanya 
ingin keluar, karena kotor dan mencium bau tidak enak... Yang aku lakukan 
bersama teman2 adalah jangan lihat airnya, jangan lihat kakimu yang  terendam 
di air kotor...mendongak ke atas...jalan terus...jalan terus..)


Saya dua kali pergi ke tempat ini. Sementnara teman2 saya sudah melakukan 
penelitian tahun yang lalu. Dan ada teman2 saya yang mendampingi mereka, yaitu 
LBH Masyarakat, terutama Sdr Dhoho Sastro. Oleh karena ada Dhoho dkk, maka kami 
bisa masuk ke tempat ini dengan mudah. Artinya, diterima. Dhoho lah yang 
mengajari mereka membuat pemerintahan sendiri (karena tidak ada RT dan RW), 
memiliki koperasi simpan pinjam di antara mereka, mengajari pembukuan sang 
bendahara, mengajari punya tabungan kolektif untuk menghadapi penggusuran. 
Gila, anak muda itu hebat sekali ! 


Tadi siang di "balai pertemuan" bekrumpul lebih dari 20 perempuan, di 
antaranya ada yang bersma bayi dan anak2nya...
Gambaran umum perempuan di situ:




Perempuan pada umunya kawin muda, umur 13, 15 atau 17 tahun 
Punya anak dua atau lebih 
Umur 40 an sudah punya cucu 
Bekerja di sektor informal, jualan kecil atau menjadi PRT, menjadi penopang 
besar bagi penghasilan suami yang tidak jelas hasilnya dari laut

Teori2 Access to Justice  runtuh ! Mereka punya surat lahir anak2nya, yang 
dikeluarkan oleh puskesma  (bukan Akte Lahir, karena mahal), KTP (bahkan banyak 
yang punya dua, dari desa asal dan dari Jakarta..dengan cara 

"menembak", yang cukup mahal 200 ribu sampai 400 ribu). Mereka juga bisa 
menyekolahkan anak dan kalau sakit ke puskesman (Sekoah dan Puskesman) sangat 
dekat dari tempat tinggal mereka.

Di sinilah runtuhnya teori2 Acces to justice ! yang antara lain dipromosikan 
oleh Hernando de Soto
Mereka punya hampir semua legal identity itu... tetapi mengapa mereka miskin ? 

Mencari ikan hari ini untuk makan hari ini
Tidak punya apa2, kecuali sedikit baju, perabotan alat masak
Perahu untuk mencari ikan, disewa dari taoke
Dan mereka hidup di tempat yang tidak bisa dibayangkan. ..mungkin itulah neraka 
dunia !

Dan mereka tidak pernah didengar, tidak pernah ditanggapi, tidak pernah 
diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkat 
kebijakan... .
(Ini juga meruntuhkan konsep2 ttg kemiskinan.. .yang terlalu berat ke soal 
ekonomi, 2 dolar sehari, dll)


Penelitian (Post Doc) saya sebenarnya adalah ttg waris. Hancur lebur ! Tidak 
bisa bicara soal waris, karena mereka tidak punya apa2. Konsep waris yagn 
digagas oleh para ahli hukum, dan hukum adat, juga hancur lebur dalam konteks 
kemiskinan ! .Mereka tidak 

punya apa2 untuk warisan... ! Mungkin waris dalam pengertian non-material: daya 
tahan hidup, semangat2, harapan2 ! PAra perempuan itu ingin punya anak2 yang 
tidak mengalami nasib seperti mereka.  Itukah warisan nya ?

 
Wah, maaf, cerita ini cuma catatan2 yang tidak karuan...nanti kalau sudah jadi 
dalam bentuk tulisan,  boleh baca. 
 
Salam,
SI


 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




 

      


         
        
        




      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke