Jangan gitu ah. Bagaimanapun Golkar adalah aset politik nasionalis RI.Kalau nanti nggak ada pendukungnya (di bawah treshold pada pemilu mendatang) khan bubar dengan sendirinya. Jadi nggak usah diomongin pembubaran Golkar.
Tetapi mengikuti perang kampanye antara Surya Paloh melalui Metro dan Aburizal melalui TV-One ada yang menarik. Bukan menarik apa isu yang diwacanakan oleh kedua pihak, tapi justru isu yang diwartakan kedua stasiun TV tersebut sungguh sangat tidak menarik ..koq ya diwartakan. Habis dianya yang punya...siapa berani? Selamat Lebaran, maaf lahir bathin. Thanks. CU. BTS. ----- Original Message ----- From: Harya Setyaka To: [email protected] Sent: Saturday, September 26, 2009 10:34 PM Subject: Re: [futurologi] Fw: Sampai Wartawan Dua TV pun Terpaksa Jadi “Pelacur” Demi Golkar 1 yang Peot Tanggung kalao ngomongin calon ketua Golkar.. Mendingan ngomongin pembubaran Golkar.. -K- Pedal Powered BikeBerry ------------------------------------------------------------------------------ From: "Mohammad Andri Budiman" Date: Sat, 26 Sep 2009 15:06:38 +0000 Subject: [futurologi] Fw: Sampai Wartawan Dua TV pun Terpaksa Jadi “Pelacur” Demi Golkar 1 yang Peot Makes sense. Salam, MAB Sent from my AXIS BlackBerry® ------------------------------------------------------------------------------ From: Cardiyan HIS <[email protected]> Date: Sat, 26 Sep 2009 07:39:17 -0700 (PDT) To: <[email protected]> Subject: [indonesia] Sampai Wartawan Dua TV pun Terpaksa Jadi “P elacur” Demi Golkar 1 yang Peot Sampai Wartawan Dua TV pun Terpaksa Jadi “Pelacur” Demi Golkar 1 yang Peot Oleh Cardiyan HIS Golkar 1 yang sudah kakek peot pun masih direbutin demi ngincar bagi-bagi kursi kabinet SBY jilid 2. Benar kata khatib shalat Ied, jangan-jangan Indonesia bubar justru setelah puasa selama satu bulan! Pindahin saja channel TV One dan Metro TV bila terus-terusan dijadikan alat kepentingan pribadi pemiliknya. Dan wartawan yang tak berkarakter pun jatuh menjadi “pelacur intelektual”. Kalau jadi pemilik toko televisi, kita asyik bisa nonton secara paralel tayangan “Kick Andy” di Metro TV dan “Republik Mimpi” di TV One. Metro TV adalah milik Surya Paloh dan TV One milik Aburizal Bakrie. Kedua pengusaha ini tengah bersaing memperebutkan kursi Golkar 1, partai yang semakin peot karena perolehan suaranya semakin melorot. Tetapi tokh masih menjadi rebutan mereka berdua. Karena mereka masih berasumsi kalau menjadi Golkar 1, masih punya “bargaining position” dengan SBY, yang nyaris akan semakin mendekati kekuasaan seniornya Soeharto dalam mengangkangi kekuatan parlemen. Oleh karenanya, Surya Paloh dan Aburizal Bakrie secara maksimal memanfaatkan media elektronika yang dimilikinya tersebut secara optimal untuk saling “membunuh”. Hanya kita sebagai penonton televisi menjadi sangat sebel. Andy F. Noya yang dibangga-banggakan sebagai sangat humanis, pembela rakyat dan tak mau disetir oleh siapapun pengusaha kelas kakap termasuk oleh bos Surya Paloh, ternyata “wartawan kelas ecek-ecek” juga. Saya menyesal banget menghadiri dies Emas ITB awal Maret 2009 dengan satu alasan mau terbang dari Kalimantan Tengah untuk datang ke ITB karena ingin melihat Andy F. Noya (orang luar ITB) menerima penghargaan ITB yang sangat terkenal di dunia sangat pelit itu; mengapa ITB sampai memberi penghargaan begitu tinggi pada seorang Andy F. Noya? Apakah pasca insiden ini Andy F. Noya akan mundur dari Metro TV kita tunggu saja. Dan di channel lain, TV One, seorang Emha Aenun Najib, yang bangga disebut budayawan papan atas Indonesia, yang dulu juga sangat bangga “direken” oleh Soeharto karena diundang sangat eksklusif satu dua hari sebelum Reformasi, begitu gagahnya membela keluarga Bakrie dalam kasus lumpur Lapindo. Apa urusannya budayawan Emha lebih membela pengusaha kelas atas Indonesia dibanding membela korban lumpur Lapindo? Kolega saya di media cetak terpandang begitu gundahnya dengan insiden dagelan di dua media elektronika ini, forward ke saya jawaban sms-smsnya dari tokoh Dewan Pers dan KPI. Jawabannya memang seperti orang yang sudah sangat ngantuk habis menonton kedua dagelan itu. Media, baik itu media cetak maupun media elektronika memang semakin kasat mata telah menjadi alat para pemiliknya memainkan kepentingannya. Bisa kepentingan bisnis, bisa kepentingan politis atau sekedar menjadi alat mendongkrak popularitas pribadi menjadi selebritas alias pesohor. Bagaimana penonton yang sangat sebel akan segera pencet “remote control” manakala Surya Paloh, pemilik Metro TV begitu seringnya berbuih-buih di depan Metro TV seolah sangat heroik dengan durasi 4 sampai 5 menit tanpa editing sama sekali dari Pemimpin Redaksi Metro TV yang tentu sangat takut sama “big boss”. Masih agak mending Aburizal Bakrie tak turun gunung, dan menganggap lebih pantas diwakili oleh sang putra mahkota Anindya Bakrie untuk sering muncul di TV One. Inilah persis apa yang dikatakan oleh John Swinton, the former Chief of Staff for the New York Times, was one of New York's best loved newspapermen. Called by his peers "The Dean of his Profession", John was asked in 1953 to give a toast before the New York Press Club, and in so doing, made a monumentally important and revealing statement. He is quoted as follows: “.......The business of the journalists is to destroy the truth; to lie outright; to pervert; to vilify; to fawn at the feet of mammon, and to sell his country and his race for his daily bread. You know it and I know it, and what folly is this toasting an independent press? We are the tools and vassals of rich men behind the scenes. We are the jumping jacks, they pull the strings and we dance. Our talents, our possibilities, and our lives are all the property of other men. We are intellectual prostitutes." ------------------------------------------------------------------------------ Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain!

