Pak BSP dan Pak Eka, dalam studi saya dengan terpaksa saya melakukan kategorisasi menjadi Etnografi dan Fenomenografi. Nyuwun pangapunten, sebab nama ternyata mengandung makna mendasar juga. jadi rada nggak sepakat dengan Empu Sedah dari sono itu. Dalam pandangan saya, fenomenografi memang dilandasi filsafat fenomenologi seperti biasa saya ceritakan itu, sedangkan etnografi ya landasannya ada historisnya dalam etnologi/antropologi. Dalam studi, saya memunculkan istilah itu sebagai kata kunci penting dan menjadi label untuk bagian terpenting dalam laporan studi. Pada titik ini saya memang akan mendapat pencerahan dari Pak Hedy Ahimsa guru saya, karena memang belum ujian heheheee....
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sat, 10/24/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Rencana adalah karya Disain Grafis To: [email protected] Date: Saturday, October 24, 2009, 9:15 PM Pak BSP ysh, hehehe, agak maksa ya pak. Saya sepakat bila saat ini terdapat batas-batas yang kabur dari keilmuan, karena proses induksi dan deduksi. Hal yang bapak sarankan akan kita camkan sebagai sikap ilmiah: konseptualism dan fungsionalism. Namun boleh juga kan kalau kita menunggu pembabaran ekonomi geo-grafi itu. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, "bspr...@... " <bspr...@... > wrote: > > Uda Eka ysh, > > saya malah sangat mendukung bila kita tidak terjebak pada peristilahan namun lebih pada pemaknaan dan fungsionalnya dalam kehidupan nyata .... mungkin ini akan bisa membuat planner benar2 bisa dianggap dipasaran yang lebih luas.... > > Kata empu Sedahnya Inggris yang bernama Raden Shakepear " apa tho arti sebuah nama ... bunga mawar tetap wangi meskipun disebut bakung ..." > > Salam hangat > > bambang sp >

