Pak Bambang ysh., Terimakasih atas tanggapan kembali dari bapak. Kebetulan di sini saya terdaftar di 2 laboratorium, yg salah satunya milik CNRS (LIPI nya Prancis) utk studi2 Asia Tenggara, di mana saya banyak menimba ilmu dr berbagai disiplin: anthropolog, sosiolog, sejarawan, ilmu politik, dll.. Dari mereka saya melihat betapa pentingnya pemahaman secara komprehensif akan wilayah studi... dan betapa saya terkesan akan betapa banyak tidak tahunya saya walaupun saya terlibat dlm kegiatan perencanaan di wilayah yg sama dgn wilayah studi mereka, misalkan... sebagai planner by training, secara otomatis saya melihat betapa sangat pentingnya pemahaman akan wilayah studi thd produk perencanaan.. di sini saya juga tertarik utk mengetahui lebih jauh berbagai metodologi yg mereka gunakan... tentu saja saya tidak menafikan pentingnya data2 dan permodelan kuantitatif, tetapi seperti yg bapak sampaikan, permodelan kuantitatif saja tidak cukup...
pengalaman kedua yg mempengaruhi saya adalah ketika di awal penyusunan thesis/disertasi saya berdiskusi dgn pembimbing saya ttg metodologi yg hendak saya gunakan... saya saat itu sangat terkesan, dari diskusi itu saya baru mengetahui bahwa ternyata apa yg saya pikir saat itu sebagai pendekatan yg scientific, tidaklah se scientific yg saya kira, dan juga sebaliknya... diskusi ttg scientific value dari sebuah pendekatan dan data, saat itu membuka mata saya... memang kita perlu sangat critical thd data utk bisa mendapatkan pemahaman yg lebih baik akan wilayah studi... permodelan kuantitatif perlu tetapi kita perlu kritis thd data, dan perlu juga pendekatan lain utk mendapatkan gambaran yg lebih lengkap dr wilayah studi... secanggih apapun model yg kita gunakan, data tetap memiliki bias2 tertentu dlm menggambarkan realitas... salam hangat... --- On Sun, 10/25/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis To: [email protected] Date: Sunday, October 25, 2009, 4:57 AM Pak Eko ysh, Bapak menuliskan : Terkait dengan apa yg disampaikan Pak BSP ttg planner yg lebih berfungsi dan bermakna di kehidupan nyata, saya pun merasakan demikian Pak. Planner jelas memerlukan masukan dari berbagai disiplin di lingkungan ilmu sosial di atas utk dapat memahami dunia (wilayah perencanaan) dengan baik... masalahnya sering kali waktu utk melakukan field work sangat terbatas, alhasil data sebagian besar lebih berupa data statistik yg didapat dari buku Kabupaten Dalam Angka dan sejenisnya, yg bisa saja mengakibatkan pemahaman ttg wilayah perencanaan tidak bisa utuh, dan ujung2nya rencana nya tdk dapat diaplikasikan. .. menurut hemat saya utk itu, antara lain, berbagai metodologi perlu diadopsi oleh planner dlm rangka memahami wilayah perencanaan, apapun istilahnya: ethnography, fenomenography, spatial statistics, dsb. tentunya dgn biaya dan waktu observasi yg memadai. Saya menanggapi : Saya sangat sepakat. Karena sebenarnya kita BELUM PERNAH melakukan sbeuah perencanaan. Yang selama ini kita lakukan adalah sebuah penggagasan. Dulu2 jamannya mbah2 "planner" sampai dengan bukunya Mumford yang UTOPIA, saya sangat terkesan dengan postulat : dalam perenc. kenalilah dulu bisa kau akan tahu harus bertindak apa. Nah pernahkah kita dengan ilmu yang dimiliki para planner yang huebat2 itu .. kita bisa mengenali secara utuh obyek perencanaan kita ... termasuk dalam mekanisme pembentukan rencananya. ...??? Setahu saya, saya belum pernah melihat ada sebuah perencanaan yang bisa memenuhi kriteria itu. Nah itulah yang menyebabkan kita belum merencana. Hal ini sangat benar dari pak Eko yaitu masalah field knowledge. Pernahkah kita menampung persepsi dan aspirasi dari obyek perencanaan secara utuh. Kita lebih sering terjebak dengan perhitungan2 dan modelling. Padahal modelling dalam social science katanya para pakar adalah penyederhanaan hubungan masalah. Nah kalau itu yang terjadi maka jelaslah statement pak Eko benar sekali. Pernah saya mendapatkan keterkejutan waktu seorang planner dari Inggris dan Canada yang punya nama baik di Afrika maupun Asua (Gilles Clark, Bob Carson, Stubbs, Gelinek) yang bereaksi setelah saya mengatakan ... mengapa kita tidak menggunakan modelling dalam perencanaan Jabotabek (tahun 1981-saya masih sangat2 percaya dan menuhankan modelling). Mereka yang saya tanyai secara terpisah hampir sama mengatakan yang intinya ... modelling itu adalah cara yang menyesatkan pada saat kita ingin melakukan sesuatu pada suatu wilayah yang cepat berkembang seperti di negara2 berkembang. Sebagai catatan ... mereka sdh mempunyai track record seperti di Ismailiah, Tel Aviv, Kairo sebagai planner. Jadi pemahaman pada riil permaslahan melalui field work harus dilakukan ... dan itu tidak sekedar permainan angka semata. Salam bambang sp .

