Benar Pak, saya juga barusan mendamaikan di dalam pikiran saya tentang 
lingkungan saya Jurusan Arsitektur dan Perencanaan UGM. Di tempat saya ini 
menurut saya ada dua "aliran/gaya" yaitu Amerika dan Jepang dengan 
tokoh-tokohnya. Saya mendapat pencerahan bahwa gaya Amerika mantap dalam 
metodologi, yaitu untuk mendapatkan kebenaran caranya harus diyakini benar 
sejak dalam pikiran. Sementara teman-teman saya yang lain mendapat latihan 
bagaimana berjuang membuat publikasi internasional oleh para guru gaya Jepang 
melalui komunikasi dan kesepatakan sesama ilmuwan dengan instrumen format 
tulisan. Artinya, dalam kesadaran saya, para guru Amerika mengajarkan 
kemantaban bermetodologi, sedangkan para guru Jepang mengajarkan kekuatan 
publikasi. Keduanya, atas inspirasi Guru saya, lantas saya gabungkan menjadi 
gagasan "mantab dalam metodologi, kuat dalam publikasi. Nah, jika orang 
mengatakan, ah itu UGM Banget, ya silahkan....Mohon diingat, ini angan-angan
 fenomenologis saya heheheeee...

Nah, jika perdamaian kuantitatif dengan kualitatif apakah cukup dengan sebutan 
MIXED PARADIGM ? Perpaduan Amerika-Jepang di UGM terjadi dalam diri mahasiswa 
dan pada mahasiswa yang mengalami diskusi serta bimbingan intensif. Jadi 
melalui interaksi dalam iklim akademiknya, dosen dengan mahasiswa dan mahasiswa 
dengan mahasiswa, terutama di ruang diskusi. Proses ini mengikuti pepatah "ilmu 
kelakone kanthi laku"....yang tidak intensif berinteraksi ya hasil karakternya 
bisa berbeda.

Mohon pencerahan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 10/30/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas
To: [email protected]
Date: Friday, October 30, 2009, 9:55 PM






 




    
                  Saya kok mencium debat klasik Quantitative vs Qualitative 
Paradigm.

Ekonom, planner umumnya terdidik quantitative pardigm. Sementara arsitek, 
anthropolog terdidik qualitative paradigm. 

Menurut saya keduanya sebaiknya dikombinasikan dimana perlu, kalau tidak ya 
jalan seiring. Tapi mempertentangkannya kok mesti hati-hati.

Salam,
Risfan Munir







From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Sent: Friday, October 30, 2009 7:07 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: [referensi] Re: Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas

  
 Pak ATA ysh, mengingat Pak Nuzul sedang di 'lapangan', saya kira yang
 disampaikan Pak Nuzul masih berupa scratch-note, jadi belum suatu
 paparan ilmiah yang utuh. Satu model scratch-notes yang dikompilasi
 adalah bukunya Pak Sumitro Joyohadikusumo yang covernya warna merah
 marun itu. Sekarang sudah datang Pak Wawo, yang pelan-pelan mulai
 mengeluarkan head-notesnya. Mudah-mudahan nanti bisa kita hasilkan
 recorded-notes. Mengenai substansi, mudah-mudahan Pak Nuzul berkenan
 menjelaskan. Salam.

 -ekadj

 --- In refere...@yahoogrou ps.com, abimanyu takdir alamsyah
 <takdi...@.. .> wrote:
 >
 > Rekan ysh,
 >
 > Saya kok meragukan pengembangan teori yang berbasis praktek di
 lingkungan
 > yang berbeda dari NKRI.
 > Yang penting terjun langsung (action), merekam, evaluasi, kaji dan
 susun
 > teori ekonomi baru yang berbasis lingkungan dfan manusia di negara
 kepulauan
 > ini mas. Setelah itu baru angka-angka keterkaitan antara temuan dengan
 > kuantitifikasi perilaku ekonomi makro punya arti.
 > Termasuk apa kaitan antara ICT dengan kebijakan antar negara mengenai
 CTI
 > terhadap peningkatan kualitas masyarakat dan lingkungan kepulauan di
 masa
 > mendatang misalnya...
 >
 > Salam,
 > ATA
 >
 >
 > 2009/10/25 Nuzul Achjar ach...@...
 >
 > >
 > >
 > > Sahabat Referensiers Ysh,
 > >
 > > Masih terkait dengan diskusi yang hangat tentang peranan planner,
 berikut
 > > saya kirimkan artikel yang sudah dimuat di Batam Pos beberapa hari
 lalu.
 > > Motivasi tulisan ini adalah memberi motivasi kepada pemerintah
 provinsi
 > > untuk tidak terjebak pada data makro ekonomi regional untuk mengukur
 > > kesejahteraan. Tulisan ini dimotivasi oleh publikasi yang
 dikeluarkan oleh
 > > Stiglitz, Amartya Sen, Fitoussi. Presiden Sarkozy lah yang meminta
 mereka
 > > membuat analisis tentang indikator kesejahteraan.
 > >
 > > Salam hangat,
 > > Nuzul Achjar
 > >
 > >
 > >
 > >
 > > PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKUALITAS
 > >
 > > Oleh: Nuzul Achjar
 > >
 > >
 > >
 > > Dalam audisi calon menteri untuk mengisi Kabinet Indonesia Bersatu
 (KIB) II
 > > pada 17-19 Oktober 2009, kepada salah satu calon menteri tim
 ekonomi,
 > > presiden SBY berpesan tentang pentingnya upaya untuk meningkatkan
 > > pertumbuhan ekonomi berkualitas. Dalam Kebijakan Ekonomi Makro 2010,
 dari
 > > lima sasaran yang akan dicapai, dua di antaranya adalah tentang
 pertumbuhan
 > > ekonomi berkualitas dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini diulangi
 lagi
 > > dalam pidato pelantikan SBY sebagai presiden masa bakti 2009-2014
 pada
 > > Selasa, 20 Oktober 2009.
 > >
 > >
 > >
 > > Menjadi pertanyaan kita, bagaimanakah relevansi pertumbuhan ekonomi
 > > berkualitas dan kesejahteraan masyarakat bagi Provinsi Kepulauan
 Riau dan
 > > apa implikasinya.
 > >
 > >
 > >
 > > Di media massa, adalah merupakan hal yang biasa jika kita membaca
 berbagai
 > > indikator ekonomi makro nasional seperti pertumbuhan ekonomi, yang
 lazim
 > > juga disebut sebagai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB),
 ataupun
 > > pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada level
 regional. Di
 > > samping PDB dan PDRB, dikenal pula indikator ekonomi makro lainnya
 seperti
 > > inflasi, indeks harga konsumen (IHK), tingkat pengangguran, tingkat
 > > kemiskinan, dan lainnya.
 > >
 > >
 > >
 > > Kitapun memahami bahwa berbagai indikator ekonomi makro sebagaimana
 telah
 > > disebutkan, berguna untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan produksi
 ataupun
 > > konsumsi barang dan jasa. Namun indikator ekonomi makro mempunyai
 > > keterbatasan tersendiri, khususnya jika dimaksudkan untuk
 mengevaluasi
 > > kesejahteraan masyarakat. Pendapatan per kapita yang didekati dengan
 PDRB
 > > per kapita misalnya belum memberikan gambaran yang lebih riil
 tentang
 > > kesejahteraan.
 > >
 > >
 > >
 > > Menyadari akan kelemahan dan keterbatasan indikator ekonomi makro
 > > tradisional untuk mengukur kesejahteraan, Presiden Prancis Nicholas
 Sarkozy
 > > pada Februari 2008 menyampaikan keprihatinannya kepada para ekonom
 terkemuka
 > > seperti Yoseph Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi.
 Stiglitz dan
 > > kawan-kawan kemudian membentuk sebuah komisi yang disebut
 "*Commission on
 > > the Measurement of Economic Performance and Social Progress*"
 (Komisi
 > > Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial). Belum lama ini
 sekitar
 > > pertengahan tahun 2009, komisi telah mempublikasikan hasil
 kajiannya.
 > >
 > >
 > >
 > > Dalam laporannya, Stiglitz dan kawan-kawan menyoroti berbagai
 kelemahan
 > > ataupun keterbatasan indikator ekonomi makro tradisional untuk
 mengukur
 > > pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Sebenarnya tidak ada yang
 salah
 > > dalam penggunaan indikator ekonomi makro tersebut. Namun karena
 perubahan
 > > teknologi, bergesernya pola konsumsi barang dan jasa, data-data yang
 diolah
 > > haruslah mencerminkan cita rasa kesejahteraan. Jadi kuncinya
 terletak
 > > pada proses memasak data-data tersebut.
 > >
 > >
 > >
 > > Kita ambil contoh tentang nilai tambah sektor jasa pendidikan dan
 kesehatan
 > > yang merupakan bagian dari perhitungan PDB atau PDRB. Nilai tambah
 sektor
 > > jasa tersebut lazimnya diperoleh dari pendapatan dari upah dan gaji
 guru,
 > > pengajar, dokter dan paramedis, termasuk pendapatan atau surplus
 usaha
 > > institusi pendidikan dan kesehatan. Namun nilai tambah tersebut
 tidak akan
 > > banyak berbicara tentang indikator kualitas pendidikan dan
 kesehatan, yang
 > > justru penting untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi yang
 berkualitas. Di
 > > sini kita berbicara tentang *ouput*, *outcome* dan kualitas
 faktor-faktor
 > > produksi.
 > >
 > >
 > >
 > > Ketika terjadi kemacetan kendaraan di dalam kota, katakanlah di
 Batam atau
 > > Tanjung Pinang, konsumsi BBM menjadi tidak produktif alias boros.
 > > Peningkatan konsumsi BBM adalah kata lain peningkatan produksi BBM.
 Tentu
 > > logis pula jika catatan nilai tambah sektor industri juga meningkat.
 Namun
 > > catatan tentang pertumbuhan sektor industri tersebut akan bertolak
 belakang
 > > dengan aspek kesejahteraan. Emisi karbon yang ditimbulkan oleh
 konsumsi BBM
 > > menurunkan kualitas lingkungan, karena meningkatnya polusi udara.
 > >
 > >
 > >
 > > Stiglitz mengingatkan bahwa berubahnya pola konsumsi secara global
 > > mengharuskan kita melihat indikator ekonomi makro tidak semata dari
 sisi
 > > produksi. Masyarakat semakin banyak menggantungkan kegiatan ekonomi,
 sosial
 > > dan budaya kepada dukungan teknologi informasi (TIK) atau
 *information and
 > > communication technology* (ICT). Untuk itu diperlukan reformasi
 tentang
 > > indikator ekonomi makro.
 > >
 > >
 > >
 > > Krisis global yang terjadi dewasa ini adalah akibat dari kelengahan
 kita
 > > yang terlalu terpaku pada sisi produksi, tanpa memperhatikan pola
 konsumsi,
 > > termasuk utang korporasi. Kita tidak mempunyai sistem peringatan
 dini, dan
 > > akibatnya pun jelas: kredit macet di sektor properti di AS yang
 berdampak
 > > sangat luas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dasar yang kokoh
 tidak
 > > lebih dari perekonomian buih (*bubble economy*).
 > >
 > >
 > >
 > > Tapi baiklah, tak perlu kita berpikir terlalu ideal sebagaimana 12
 saran
 > > yang diajukan oleh Stiglitz untuk memperbaiki indikator ekonomi
 makro dan
 > > kemajuan sosial. Bagi Kepulauan Riau, yang paling pokok adalah upaya
 untuk
 > > terus menerus memperbaiki kualitas data ekonomi makro dan mikro,
 termasuk
 > > data sosial budaya. Tidak mungkin kita dapat membuat keputusan
 dengan baik
 > > tanpa didukung oleh analisis data yang baik. Kebutuhan akan data
 yang baik
 > > tidak hanya penting untuk para pengambil keputusan di berbagai
 tingkat
 > > pemerintahan, tetapi juga untuk para peneliti, akademisi, bahkan
 oleh pihak
 > > swasta sekalipun.
 > >
 > >
 > >
 > > Jikapun masih banyak kelemahan data tentang indikator ekonomi makro
 dan
 > > mikro di Kepuluauan Riau, rasanya tidaklah adil jika kesalahan
 semata
 > > ditujukan pada keterbatasan ataupun kelemahan sumber daya manusia.
 > > Seringkali kualitas data yang tersedia tidak didukung oleh perangkat
 > > infrastruktur seperti jaringan informasi dan teknologi komunikasi
 antar
 > > instansi pemerintah daerah, baik antar kabupaten dan provinsi maupun
 maupun
 > > intra provinsi.
 > >
 > >
 > >
 > > Data tentang indikator ekonomi makro di Provinsi Kepulauan Riau
 sebenarnya
 > > cukup baik. Laju inflasi kota Batam yang mencapai 8,6% pada tahun
 2008
 > > merupakan terendah ke empat dari 45 kota di Indonesia. Inflasi
 tertinggi
 > > terjadi di kota Pangkal Pinang (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung -
 Babel)
 > > yang mencapai 18,4% pada tahun yang sama. Tingkat kemiskinan di
 Kepulauan
 > > Riau menurun dari 10,3% pada tahun 2007 menjadi 9,2% pada 2008.
 Dengan PDRB
 > > per kapita yang relatif hampir sama dengan Provinsi Riau dan
 Provinsi Babel
 > > yaitu berkisar Rp 2,874 juta– Rp 2,883 juta (Nota Keuangan dan
 RAPBN
 > > 2010), pada tahun 2008 tingkat kemiskinan di Kepri (9,2%) lebih
 tinggi
 > > dibandingkan Babel (8,5%), walaupun lebih baik dari Provinsi Riau
 (10,5%).
 > >
 > >
 > >
 > >
 > > Apa arti angka-angka di balik itu? Pertama adalah optimisme,
 dorongan dan
 > > kerja keras bahwa Kepulauan Riau akan mampu mencapai target
 *Millenium
 > > Development Goal* (MDG) 2015. Kedua, mengejar ketertinggalan dengan
 > > monitoring dan evaluasi yang terus menerus tentang kualitas
 pendidikan dan
 > > kesehatan melalui teknologi informasi secara berkala, bahkan *real
 time*.
 > > Ketiga, memberikan kesadaran kepada semua pihak bahwa infrastruktur
 TIK atau
 > > ICT merupakan bagian tidak terpisahkan untuk memperbaiki kualitas
 hidup
 > > melalui akses informasi.
 > >
 > >
 > >
 > > Bersama-sama dengan jaringan listrik, jaringan pipa air bersih, ICT
 > > merupakan bagian utilitas jaringan (*network utilities)* yang sangat
 > > penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia
 (*social
 > > overhead capital*). Nyaris tidak ada lagi institusi pendidikan
 tinggi yang
 > > tidak didukung oleh ketersediaan ICT dalam bentuk yang sederhana
 sekalipun.
 > > Ranking universitas antara lain dapat dilihat dari indikator
 ketersediaan
 > > ICT untuk mempermudah komunikasi, interaksi, tukar menukar informasi
 di
 > > antara pengajar, peneliti. Banyak kreatifitas mahasiswa muncul
 karena
 > > didukung oleh ketersediaan ICT di kampus.
 > >
 > >
 > >
 > > Dalam konteks provinsi maritim, dengan dukungan ICT, adalah ideal
 jika
 > > institusi pemerintah ataupun pendidikan tinggi mempunyai database
 yang
 > > terkait dengan kegiatan maritim baik data numerik, tabular maupun
 spasial.
 > > Dengan database ini kita dapat memperoleh informasi tentang estimasi
 > > kebutuhan akan tenaga kerja klerikal dan manajerial di bidang
 konstruksi
 > > kapal, jasa transportasi kargo, jasa forwarding, asuransi maritim,
 akuntan
 > > publik dan perusahaan, dan tenaga kerja yang terkait dengan dunia
 maritim
 > > dan kelautan yang dapat dipasok oleh anak negeri. Bukankah kita
 berniat untuk
 > > meningkatkan kinerja perekonomian regional Kepulauan Riau yang
 berkualitas,
 > > berdaya saing dan kreatif. Semoga.


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke