Pak Risfan, Pak Eka dan rekan ysh.

Saya sepakat dgn Pak Risfan bahwa kedua jenis pendekatan tsb tidak perlu kita 
pertentangkan, karena keduanya mutlak sgt penting... pendekatan kuantitatif, 
misalkan, utk negara dgn luasan dan jumlah penduduk sebesar Indonesia tentunya 
tdk dpt dihindari utk dapat mengukur pertumbuhan ekonomi maupun tingkat 
kesejahteraan rata2. Hanya saja, tentunya pendekatan kualitatif diperlukan 
karena data kuantitatif yg digunakan memiliki banyak ketidaksempurnaan...

Pak Eka, menurut sy kita jg perlu berhati2 dlm menempelkan cap bahwa kalau 
kuantitatif dgn sendirinya adalah neolib, dan kalau kualitatif adalah 
sosialis... bahkan marxist pun masih menggunakan ukuran2 kuantitatif utk 
menunjukan fenomena tertentu, jumlah penduduk, sederhananya, kan harus diukur 
dgn ukuran kuantitatif...

salam.



--- On Fri, 10/30/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas
To: [email protected]
Date: Friday, October 30, 2009, 6:16 PM






 




    
                  

Benar Pak Risfan, bisa lari ke diskusi 'ekonomi bejo' dulu, untuk EK+PL

vs AN+AR, neolib vs sosialis. Untuk kualitatif selalu dikritik:

bagaimana ngukurnya, dan belum ada penjelasan yang memuaskan. Namun

dengan Ostrom terima Nobel ekonomi, kalangan neolib boleh tertegun.

Untuk rekan2 Indiana, boleh dong kasih tahu pemikiran2nya Ostrom, selain

informasi bunga anggreknya. Atau mungkin Pak Yando dkk?



Saya mengira-ngira saja, katakanlah secara sukarela mewakili Pak ATA dan

Pak Yando. Sebenarnya via Bourdieu bisa menjelaskan, untuk skala

'ekonomi mikro'. Untuk makro kita gunakan strukturalist Giddens, karena

formulasi Pak ATA mengenai: ruang + waktu = sistem sosial/kultural, saya

kira berasal dari Giddens. Konsep dasar strukturasi adalah dalam

struktur, agent mereproduksi struktur. Proses konseptualisasi struktur

ini disebut strukturasi, yaitu berupa 'rules' dan 'resources', yang

dilakukan dalam 'ruang' dan 'waktu'; masing-masing komponen ini memiliki

karakteristik. Agent atau agencies sendiri adalah pembawa gen perubahan,

atau istilah Pak Risfan sebagai transformer, atau dalam bahasa Al Quran

disebut berwatak hanif. Bekerja dalam duree (habitus, ruang semedi)

secara reflexive hingga motivated. Dalam the duality of structure, agent

akan aktif memproduksi struktur. Rules berbentuk 1 normatif atau 2

interpretatif; sedangkan resources berbentuk 1 authoritative resources

(organizational capacity), 2 allocative resources (penggunaan material

dan barang untuk membentuk pola interaksi). Modalitas ini digunakan

untuk 1 membangkitkan power, 2 menegaskan aturan sosial, dan 3

menciptakan saling pengertian dalam masyarakat; dan selanjutnya disebut

'institusi'. Institusi dapat berbentuk 1 simbolik, 2 politik, 3 ekonomi,

dan 4 hukum;  merupakan ranking berdasar

dominansi-signifika si-legitimasi. Pemantapan dan keseimbangan

strukturasi ini dapat mengarah pada 'self-authority' . Maaf saya kurang

bisa menjelaskan dengan baik, tentunya lebih kompeten bila Pak ATA dan

Pak Yando yang menjelaskan.



Bila digunakan dalam kasus Pak Nuzul, tentunya akan sangat berbeda dalam

kerangka pendekatan. Seperti misalnya ICT disebutkan sebagai

transformer, namun kok non-human; atau sebenarnya bagian dari allocative

resources? Kemudian indikator ekonomi, supremasinya masih menunjukkan

institusi kemasyarakatan masih berada dalam stadia ke-3. Demikian

seterusnya.



Sementara itu dulu Pak Risfan, sedikit pengantar. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan Munir <risf...@... > wrote:

>

> Saya kok mencium debat klasik Quantitative vs Qualitative Paradigm.

>

> Ekonom, planner umumnya terdidik quantitative pardigm. Sementara

arsitek, anthropolog terdidik qualitative paradigm.

>

> Menurut saya keduanya sebaiknya dikombinasikan dimana perlu, kalau

tidak ya jalan seiring. Tapi mempertentangkannya kok mesti hati-hati.

>

> Salam,

> Risfan Munir

>

>

>

>

>

>

>

> -----Original Message-----

> From: ffekadj 4ek...@...

> Sent: Friday, October 30, 2009 7:07 PM

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Subject: [referensi] Re: Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas

>

>

>

> Pak ATA ysh, mengingat Pak Nuzul sedang di 'lapangan', saya kira yang

> disampaikan Pak Nuzul masih berupa scratch-note, jadi belum suatu

> paparan ilmiah yang utuh. Satu model scratch-notes yang dikompilasi

> adalah bukunya Pak Sumitro Joyohadikusumo yang covernya warna merah

> marun itu. Sekarang sudah datang Pak Wawo, yang pelan-pelan mulai

> mengeluarkan head-notesnya. Mudah-mudahan nanti bisa kita hasilkan

> recorded-notes. Mengenai substansi, mudah-mudahan Pak Nuzul berkenan

> menjelaskan. Salam.

>

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, abimanyu takdir alamsyah

> takdir65@ wrote:

> >

> > Rekan ysh,

> >

> > Saya kok meragukan pengembangan teori yang berbasis praktek di

> lingkungan

> > yang berbeda dari NKRI.

> > Yang penting terjun langsung (action), merekam, evaluasi, kaji dan

> susun

> > teori ekonomi baru yang berbasis lingkungan dfan manusia di negara

> kepulauan

> > ini mas. Setelah itu baru angka-angka keterkaitan antara temuan

dengan

> > kuantitifikasi perilaku ekonomi makro punya arti.

> > Termasuk apa kaitan antara ICT dengan kebijakan antar negara

mengenai

> CTI

> > terhadap peningkatan kualitas masyarakat dan lingkungan kepulauan di

> masa

> > mendatang misalnya...

> >

> > Salam,

> > ATA

> >

> >

> > 2009/10/25 Nuzul Achjar achjar@

> >

> > >

> > >

> > > Sahabat Referensiers Ysh,

> > >

> > > Masih terkait dengan diskusi yang hangat tentang peranan planner,

> berikut

> > > saya kirimkan artikel yang sudah dimuat di Batam Pos beberapa hari

> lalu.

> > > Motivasi tulisan ini adalah memberi motivasi kepada pemerintah

> provinsi

> > > untuk tidak terjebak pada data makro ekonomi regional untuk

mengukur

> > > kesejahteraan. Tulisan ini dimotivasi oleh publikasi yang

> dikeluarkan oleh

> > > Stiglitz, Amartya Sen, Fitoussi. Presiden Sarkozy lah yang meminta

> mereka

> > > membuat analisis tentang indikator kesejahteraan.

> > >

> > > Salam hangat,

> > > Nuzul Achjar

> > >

> > >

> > >

> > >

> > > PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKUALITAS

> > >

> > > Oleh: Nuzul Achjar

> > >

> > >

> > >

> > > Dalam audisi calon menteri untuk mengisi Kabinet Indonesia Bersatu

> (KIB) II

> > > pada 17-19 Oktober 2009, kepada salah satu calon menteri tim

> ekonomi,

> > > presiden SBY berpesan tentang pentingnya upaya untuk meningkatkan

> > > pertumbuhan ekonomi berkualitas. Dalam Kebijakan Ekonomi Makro

2010,

> dari

> > > lima sasaran yang akan dicapai, dua di antaranya adalah tentang

> pertumbuhan

> > > ekonomi berkualitas dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini diulangi

> lagi

> > > dalam pidato pelantikan SBY sebagai presiden masa bakti 2009-2014

> pada

> > > Selasa, 20 Oktober 2009.

> > >

> > >

> > >

> > > Menjadi pertanyaan kita, bagaimanakah relevansi pertumbuhan

ekonomi

> > > berkualitas dan kesejahteraan masyarakat bagi Provinsi Kepulauan

> Riau dan

> > > apa implikasinya.

> > >

> > >

> > >

> > > Di media massa, adalah merupakan hal yang biasa jika kita membaca

> berbagai

> > > indikator ekonomi makro nasional seperti pertumbuhan ekonomi, yang

> lazim

> > > juga disebut sebagai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB),

> ataupun

> > > pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada level

> regional. Di

> > > samping PDB dan PDRB, dikenal pula indikator ekonomi makro lainnya

> seperti

> > > inflasi, indeks harga konsumen (IHK), tingkat pengangguran,

tingkat

> > > kemiskinan, dan lainnya.

> > >

> > >

> > >

> > > Kitapun memahami bahwa berbagai indikator ekonomi makro

sebagaimana

> telah

> > > disebutkan, berguna untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan

produksi

> ataupun

> > > konsumsi barang dan jasa. Namun indikator ekonomi makro mempunyai

> > > keterbatasan tersendiri, khususnya jika dimaksudkan untuk

> mengevaluasi

> > > kesejahteraan masyarakat. Pendapatan per kapita yang didekati

dengan

> PDRB

> > > per kapita misalnya belum memberikan gambaran yang lebih riil

> tentang

> > > kesejahteraan.

> > >

> > >

> > >

> > > Menyadari akan kelemahan dan keterbatasan indikator ekonomi makro

> > > tradisional untuk mengukur kesejahteraan, Presiden Prancis

Nicholas

> Sarkozy

> > > pada Februari 2008 menyampaikan keprihatinannya kepada para ekonom

> terkemuka

> > > seperti Yoseph Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi.

> Stiglitz dan

> > > kawan-kawan kemudian membentuk sebuah komisi yang disebut

> "*Commission on

> > > the Measurement of Economic Performance and Social Progress*"

> (Komisi

> > > Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial). Belum lama ini

> sekitar

> > > pertengahan tahun 2009, komisi telah mempublikasikan hasil

> kajiannya.

> > >

> > >

> > >

> > > Dalam laporannya, Stiglitz dan kawan-kawan menyoroti berbagai

> kelemahan

> > > ataupun keterbatasan indikator ekonomi makro tradisional untuk

> mengukur

> > > pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Sebenarnya tidak ada yang

> salah

> > > dalam penggunaan indikator ekonomi makro tersebut. Namun karena

> perubahan

> > > teknologi, bergesernya pola konsumsi barang dan jasa, data-data

yang

> diolah

> > > haruslah mencerminkan cita rasa kesejahteraan. Jadi kuncinya

> terletak

> > > pada proses memasak data-data tersebut.

> > >

> > >

> > >

> > > Kita ambil contoh tentang nilai tambah sektor jasa pendidikan dan

> kesehatan

> > > yang merupakan bagian dari perhitungan PDB atau PDRB. Nilai tambah

> sektor

> > > jasa tersebut lazimnya diperoleh dari pendapatan dari upah dan

gaji

> guru,

> > > pengajar, dokter dan paramedis, termasuk pendapatan atau surplus

> usaha

> > > institusi pendidikan dan kesehatan. Namun nilai tambah tersebut

> tidak akan

> > > banyak berbicara tentang indikator kualitas pendidikan dan

> kesehatan, yang

> > > justru penting untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi yang

> berkualitas. Di

> > > sini kita berbicara tentang *ouput*, *outcome* dan kualitas

> faktor-faktor

> > > produksi.

> > >

> > >

> > >

> > > Ketika terjadi kemacetan kendaraan di dalam kota, katakanlah di

> Batam atau

> > > Tanjung Pinang, konsumsi BBM menjadi tidak produktif alias boros.

> > > Peningkatan konsumsi BBM adalah kata lain peningkatan produksi

BBM.

> Tentu

> > > logis pula jika catatan nilai tambah sektor industri juga

meningkat.

> Namun

> > > catatan tentang pertumbuhan sektor industri tersebut akan bertolak

> belakang

> > > dengan aspek kesejahteraan. Emisi karbon yang ditimbulkan oleh

> konsumsi BBM

> > > menurunkan kualitas lingkungan, karena meningkatnya polusi udara.

> > >

> > >

> > >

> > > Stiglitz mengingatkan bahwa berubahnya pola konsumsi secara global

> > > mengharuskan kita melihat indikator ekonomi makro tidak semata

dari

> sisi

> > > produksi. Masyarakat semakin banyak menggantungkan kegiatan

ekonomi,

> sosial

> > > dan budaya kepada dukungan teknologi informasi (TIK) atau

> *information and

> > > communication technology* (ICT). Untuk itu diperlukan reformasi

> tentang

> > > indikator ekonomi makro.

> > >

> > >

> > >

> > > Krisis global yang terjadi dewasa ini adalah akibat dari

kelengahan

> kita

> > > yang terlalu terpaku pada sisi produksi, tanpa memperhatikan pola

> konsumsi,

> > > termasuk utang korporasi. Kita tidak mempunyai sistem peringatan

> dini, dan

> > > akibatnya pun jelas: kredit macet di sektor properti di AS yang

> berdampak

> > > sangat luas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa dasar yang

kokoh

> tidak

> > > lebih dari perekonomian buih (*bubble economy*).

> > >

> > >

> > >

> > > Tapi baiklah, tak perlu kita berpikir terlalu ideal sebagaimana 12

> saran

> > > yang diajukan oleh Stiglitz untuk memperbaiki indikator ekonomi

> makro dan

> > > kemajuan sosial. Bagi Kepulauan Riau, yang paling pokok adalah

upaya

> untuk

> > > terus menerus memperbaiki kualitas data ekonomi makro dan mikro,

> termasuk

> > > data sosial budaya. Tidak mungkin kita dapat membuat keputusan

> dengan baik

> > > tanpa didukung oleh analisis data yang baik. Kebutuhan akan data

> yang baik

> > > tidak hanya penting untuk para pengambil keputusan di berbagai

> tingkat

> > > pemerintahan, tetapi juga untuk para peneliti, akademisi, bahkan

> oleh pihak

> > > swasta sekalipun.

> > >

> > >

> > >

> > > Jikapun masih banyak kelemahan data tentang indikator ekonomi

makro

> dan

> > > mikro di Kepuluauan Riau, rasanya tidaklah adil jika kesalahan

> semata

> > > ditujukan pada keterbatasan ataupun kelemahan sumber daya manusia.

> > > Seringkali kualitas data yang tersedia tidak didukung oleh

perangkat

> > > infrastruktur seperti jaringan informasi dan teknologi komunikasi

> antar

> > > instansi pemerintah daerah, baik antar kabupaten dan provinsi

maupun

> maupun

> > > intra provinsi.

> > >

> > >

> > >

> > > Data tentang indikator ekonomi makro di Provinsi Kepulauan Riau

> sebenarnya

> > > cukup baik. Laju inflasi kota Batam yang mencapai 8,6% pada tahun

> 2008

> > > merupakan terendah ke empat dari 45 kota di Indonesia. Inflasi

> tertinggi

> > > terjadi di kota Pangkal Pinang (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

-

> Babel)

> > > yang mencapai 18,4% pada tahun yang sama. Tingkat kemiskinan di

> Kepulauan

> > > Riau menurun dari 10,3% pada tahun 2007 menjadi 9,2% pada 2008.

> Dengan PDRB

> > > per kapita yang relatif hampir sama dengan Provinsi Riau dan

> Provinsi Babel

> > > yaitu berkisar Rp 2,874 juta– Rp 2,883 juta (Nota Keuangan dan

> RAPBN

> > > 2010), pada tahun 2008 tingkat kemiskinan di Kepri (9,2%) lebih

> tinggi

> > > dibandingkan Babel (8,5%), walaupun lebih baik dari Provinsi Riau

> (10,5%).

> > >

> > >

> > >

> > >

> > > Apa arti angka-angka di balik itu? Pertama adalah optimisme,

> dorongan dan

> > > kerja keras bahwa Kepulauan Riau akan mampu mencapai target

> *Millenium

> > > Development Goal* (MDG) 2015. Kedua, mengejar ketertinggalan

dengan

> > > monitoring dan evaluasi yang terus menerus tentang kualitas

> pendidikan dan

> > > kesehatan melalui teknologi informasi secara berkala, bahkan *real

> time*.

> > > Ketiga, memberikan kesadaran kepada semua pihak bahwa

infrastruktur

> TIK atau

> > > ICT merupakan bagian tidak terpisahkan untuk memperbaiki kualitas

> hidup

> > > melalui akses informasi.

> > >

> > >

> > >

> > > Bersama-sama dengan jaringan listrik, jaringan pipa air bersih,

ICT

> > > merupakan bagian utilitas jaringan (*network utilities)* yang

sangat

> > > penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia

> (*social

> > > overhead capital*). Nyaris tidak ada lagi institusi pendidikan

> tinggi yang

> > > tidak didukung oleh ketersediaan ICT dalam bentuk yang sederhana

> sekalipun.

> > > Ranking universitas antara lain dapat dilihat dari indikator

> ketersediaan

> > > ICT untuk mempermudah komunikasi, interaksi, tukar menukar

informasi

> di

> > > antara pengajar, peneliti. Banyak kreatifitas mahasiswa muncul

> karena

> > > didukung oleh ketersediaan ICT di kampus.

> > >

> > >

> > >

> > > Dalam konteks provinsi maritim, dengan dukungan ICT, adalah ideal

> jika

> > > institusi pemerintah ataupun pendidikan tinggi mempunyai database

> yang

> > > terkait dengan kegiatan maritim baik data numerik, tabular maupun

> spasial.

> > > Dengan database ini kita dapat memperoleh informasi tentang

estimasi

> > > kebutuhan akan tenaga kerja klerikal dan manajerial di bidang

> konstruksi

> > > kapal, jasa transportasi kargo, jasa forwarding, asuransi maritim,

> akuntan

> > > publik dan perusahaan, dan tenaga kerja yang terkait dengan dunia

> maritim

> > > dan kelautan yang dapat dipasok oleh anak negeri. Bukankah kita

> berniat untuk

> > > meningkatkan kinerja perekonomian regional Kepulauan Riau yang

> berkualitas,

> > > berdaya saing dan kreatif. Semoga.

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke