Pak Risfan ysh. Sebenarnya kajian Ruth Benedict ini sangat terkait dan melandasi kajian Pak Aby, dan perlu kita apresiasi tersendiri. Saya sudah mencari-cari buku "The Chrysanthemum and the Sword" itu, namun belum ketemu. Saya mengenal dan mengutip Ruth dari beberapa penulis Neo-Boasian lainnya, seperti Daniel Rosenblatt dan Ira Bashkow. Namun dengan adanya pehobby seperti Pak Risfan, mudah-mudahan mau mengupas sedikit, siapa tahu bisa berkembang menjadi "Jalan Pedang Kaum Perencana Jilid 2".
Yang saya ketahui sedikit Ruth Benedict mempunyai guru bernama Franz Boas, lalu punya murid namanya Talcott Parsons, dan muridnya lagi bernama Clifford Geertz, dan muridnya lagi bernama Abiyoso. Jadi cukup jelas kinship dari Neo-Boasian ini. Sedangkan buku "The Chrysanthemum and the Sword" itu ditulis semasa WW2 dengan menggunakan data-data sekunder, seperti dari koran, buku, dll; serta sempat mendapatkan data primer yaitu wawancara POW atau tentara Jepang yang ditawan oleh sekutu. Jadi konsep 'national character' yang dikonstruksi oleh Ruth, saya perkirakan adalah rumusan national character-nya Jepang, bukan Amerika. Buku ini selesai 1946 dan diserahkan kepada Presiden USA, dan menjadi landasan dalam kebijakan Amerika setelah itu; dan kemungkinan juga mendasari filosofi terbentuknya UN. Ruth merujuk "The Tale of the Forty-Seven Ronin" sebagai 'national epic', termasuk mengidentifikasi karakter moral orang Jepang sebagai obligasi universal (gimu) dan kongkrit (giri). Gimu pada kaisar ditunjukkan dari tidak mau menyerahnya orang Jepang pada WW2 sebelum kaisar sendiri yang mengatakan menyerah. Saya kira Pak Risfan lebih kredibel menjelaskan, karena membaca langsung, termasuk juga apresiasi yang dimiliki Pak Indra, Pak Irwan, Jehan, dll. Saya hanya fokus pada konsep Neo-Boasian yang dibawa oleh Ruth yang masih merujuk pada konsep difusi dan integrasi, yang pada kenyataannya masih relevan dengan globalisasi dan patut direvitalisasi (a.l. seperti kajian yang dilakukan oleh Abiyoso). Sebagaimana dengan misi teori-teori kebudayaan lainnya, Ruth mengembangkan pendekatan kebudayaan untuk menghadapi uniformality (keseragaman sosial yang dipaksakan). Pendekatannya lebih maju dari eranya, yaitu telah menggunakan agency dan society, yang sebenarnya mirip dengan pendekatan Bourdieu; termasuk dalam kategori 'theories of practice'. Konsep inti dari Neo-Boasian adalah mempercayai difusi (historical particularism) dan konfigurasi (integration), jadi tidak mengabaikan internal variation, sehingga juga bisa fokus pada tindakan orang(-orang). Neo-Boasian memperhitungkan 'boundaries', namun tidak berbentuk 'spatial', walaupun saya berpendapat sebaliknya. Satu pengertian yang saya peroleh dari Rosenblatt adalah "Boundaries help give conceptual order to the world, but they do so in ways that reflect how those who create them already order the world". Kalau saya terjemahkan secara bebas kurang lebih: "batasan-batasan dibuat supaya kehidupan menjadi tertata, dibangun melalui cara-cara yang mencerminkan keteraturan yang telah terbentuk sebelumnya". Saya kira hal ini yang menjadi point dari 'proyek nasionalisme', bahwa Indonesia bukanlah dibentuk oleh Soekarno-Hatta dan tim-tim pada masa itu; tetapi merupakan cerminan berbagai suku bangsa dan lapisan masyarakat yang menghendaki tatanan keteraturan yang lebih luas. Bila theory of practice-nya untuk kondisi kekinian mengarah pada integrasi/konfigurasi pendidikan-pangan-energi, saya harap Pak Risfan dapat melanjutkan thesisnya. Sementara demikian dulu. Salam. -ekadj 2009/11/9 Risfan M <[email protected]> > > > Uda Ekadj, Pak Aby dan rekans ysh, > > Eka, saya baca Ruth Benedict karena ingin mengenal budaya samurai lebih > jauh dan karena hobi saja. Soal East-West tentunya Pak Wawo lebih fasih > karena pernah jadi santri di kepulauan di Pacific yang letaknya di tengah > kancah East dan West itu. > > Tentang proyek nasionalisme (ini karena kadung reply) kalau menurut saya > mesti dilihat kondisi obyektif masa kini juga kali ya. Maksud saya situasi > Poleksosbudlinktek + Dana nya. Terlepas dari retorika atau teorinya. > > POLITIK - ada hubungan pusat - daerah; daerah - daerah; regional dan > internasional. Hubungan pusat daerah sedang dalam proses tarik menarik > desentralisasi berbagai urusan. Hubungan daerah-daerah juga sedang menikmati > eforia otonomi baru dan coba-coba dengan identitas daerah (ada yang mencari > akar etnik, ada yang agama). Serta situasi regional Asean++, masuknya > Indonesia ke G20, "kemesraan" China-USA. Semua ini tentu ada pengaruhnya. > > EKONOMI. Kenyataan bahwa banyak perusahaan besar di dalam negeri (termasuk > perbankan, eksploitasi SDA, pelayanan publik) dimiliki sahamnya oleh asing > dan diperjual belikan. Keharusan ekspor, ketergantungan pada impor. Lapangan > kerja, angka kemiskinan. Pengaruhnya kepada kegiatan dan corak kehidupan > kita tentu besar. > > SOSIAL. Angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. Kesenjangan tingkat > kesejahteraan antar kelompok, antar daerah. Pelayanan kesehatan dan > pendidikan yang masih jauh dari harapan. > > BUDAYA. Sebetulnya aspek budaya yang selalu jadi tema "nasionalisme" > (menjadi Indonesia). Karena kalau orang tua memberi pesan kepada generasi > muda "kembali keakar budaya kita". Lah akar budaya kan berarti Jawa, Sunda, > Minang dst. Tapi tak boleh kesukuan. Jadi yang mana? Sementara itu acara TV > yang bisa dikatakan ekspresi budaya kan isinya "budaya barat dan pop > ibukota". Itu yang ditonton di seluruh tanah air dari metropolitan sampai > desa terpencil. Buat kita yang membesarkan anak di Jabodetabek dan kota > besar lain, apalagi yang kawin antar suku, soal budaya ini ya "apa yang > terjadi"lah. Apalagi budaya kaum marginal di kota besar (urbanisasi) lebih > kompleks lagi. > > LINGKUNGAN. Konon kita hidup di "ring of fire", untaian pulau-pulau, > dataran rendah dan pegunungan yang memang berisiko. Karena ekosistem, > wilayah "perairan dalam" nyatanya yang lebih layak dijadikan sarana > interaksi, karena "perairan luar" menghadapi ombak samudera yang besar, dan > belakangan tzunami dan gempa bumi. Soal lingkungan juga soal sulitnya > mengendalikan keserakahan orang telah banyak merusak lingkungan di hutan, > gunung, dataran, laut dan kota. Perlu jadi agenda nasional yang urgen juga. > > TEKNOLOGI. Teknologi komunikasi seperti TV menyajikan harapan (janji) besar > kepada orang desa terpencil sekalipun, akan indahnya, mewahnya hidup di > kota. Orang desa jadi melihat lingkungan hidup, ekonomi, budaya sekitarnya > begitu papa.Teknologi transportasi bagus di Jawa, tapi di Kalimantan, Papua, > apalagi di kepulauan masih jauh dari harapan. > > Dan terakhir, menyangkut ANGGARAN. Adakah anggaran yang memadai bagi > (utamanya pemerintah tentu) untuk melaksanakan suatu Grand Design apapun? > Apakah masih ada keleluasaan memilih-milih model, orientasi, dst tanpa > risiko kedodoroan? > > Tidak berlebihan kalau ada yang mengingatkan akan pentingnya fokus > prioritas kepada "PENDIDIKAN, PANGAN, ENERGI' karena boleh jadi kedaulatan > (nasionalisme) kita masa kini dan mendatang tergantung pada tiga hal itu. > > Faktor pengikat lainnya barangkali kesamaan nasib hidup di "ring of fire" > yang berisiko ditambah risiko banjir yang terjadi dimana-mana karena > gundulnya hutan (hampir semua kita menyukai kayu untuk bangunan). Budaya dan > etika yang mendesak diterapkan barangkali ya "hemat energi, kurangi > pemakaian kayu", sadar lingkungan, sadar kelangkaan, sadar anti korupsi > (kirim bingkisan mungkin adalah contoh budaya korupsi paling nyata dalam > budaya kita). Bagaimana pula sikap kita terhadap sumber energi nuklir? Serta > kampanye kemandirian energi dengan teknologi tepat guna (appropriate). > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > > > > > > --- On *Sun, 11/8/09, ffekadj <[email protected]>* wrote: > > > From: ffekadj <[email protected]> > Subject: [referensi] Re: (7) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai > To: [email protected] > Date: Sunday, November 8, 2009, 12:00 PM > > > > Atau mungkin Ruth Benedict-nya Pak Risfan? Saya coba kutipkan dari "The > Chrysanthemum and the Sword" (1946): > > "That all the differences between East and West, black and white, > Christian and Mohammedan, are superficial and that all mankind is really > like-minded. > > To demand such uniformity as a condition of respecting another nation is > as neurotic as demanding it of one's wife or one's children. > > The goal ... was a world made safe for differences. > > If people in other societies differed from us, the cause was not their > inferiority or their backwardness; rather, it was their adherence to a > different way of life, oriented toward different values and embodied in > different customs and institutions. If some people found it hard to > measure up, it might result from of an unfortunate mismatch between > their proclivities and the arbitrary standards of the society in which > they happened to find themselves." > > --- In refere...@yahoogrou > ps.com<http://us.mc1115.mail.yahoo.com/mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>, > "ffekadj" <4ek...@...> wrote: > > > > Geertzian? Kelihatannya Pak Aby sudah mulai menyandarkan sebagian > > keyakinan ilmiahnya pada Geertz. > > > > > > --- In refere...@yahoogrou > > ps.com<http://us.mc1115.mail.yahoo.com/mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>, > hengky abiyoso watashiaby@ wrote: > > > > > > Milisters ysh, > > > Kemunculan negara-negara baru yang homogen di Eropa kerap dimotori > > oleh state-seeking nationalism………suatu klaim dari > perwakilan > > politik yg tdk mendapat akses kontrol atas suatu > > ’state’….lalu mengklaim otonomi politik….atau > > bahkan memisahkan diri….atas dasar perbedaan identitas > > budaya…….. > > > Menurut Tilly, sebelum tahun 1800, rata-rata corak nasionalisme > adalah > > state-led, tetapi setelah tahun itu, state-seeking nationalism menjadi > > motor dari revolusi di Eropa…….. > > > Belajar pada kenyataan sejarah itu,  konon katanya seyogyanya > > format nasionalisme kita harus memberi tempat kepada > > kebaruan……dlm hal ini mendemokratisasikan hubungan pusat dan > > daerah ….termasuk menurut Nezar Patria (jg pernah oleh Amien > Rais) > > “keberanian menguji bentuk federalisme�….tapi > > disini saya kira Nezar (jg Amien) telah bermain api tak mau menghitung > > bgmn resikonya kalau federalisasi di Indonesia nanti menjadi > > balkanisasi spt Soviet dan Yugoslavia……lalu NKRI ini > tercabik2 > > menjadi bbrp negara yg terpisah2 (pdhal memang ada analisis > > intelijen ttg skenario balkanisasi NKRI itu oleh > > AS)…..….. > > > Kedua, dengan munculnya kekerasan komunal yang dipicu oleh konflik > > agama atau etnis di berbagai wilayah nusantara…..atau dlm > derajat > > lebih kualitatif adalah mengerasnya ethno-nationalism……maka > > nasionalisme Indonesia harus dikembalikan menjadi ’proyek > > bersama’ yg urgent………. > > > Pemberian otonomi yang luas atau bahkan > > ’self-government’ kepada wilayah bergolak adalah cara > > untuk tetap membuat warga daerah tetap ambil bagian dari > ’proyek > > bersama’ Indonesia ……selain itu, arah pembangunan > > ekonomi yang berkeadilan menjadi prioritas……krn federalisme > > atau otonomi yang miskin, sama saja dengan perubahan yang > > nihil………. > > > Ketiga, nasionalisme baru Indonesia konon katanya harus pula  > > mampu menghadapi kecenderungan global…….krn itu �civic > > nationalism� atau nasionalisme kewargaan konon harus menjadi > > agenda dari ’proyek bersama’……... > > > Nasionalisme ini disebut ’civic’ karena dia adalah > > antitesa dari nasionalisme berbasiskan etnik ……nasionalisme > > yang ’civic’ mampu menempatkan segenap elemen bangsa > > melampaui agama, ras dan suku sebagai komunitas setara, dan > mendapatkan > > hak-hak penuh ……dgn demikian nasionalisme ini secara inheren > > berciri demokratik karena ia dibangun beralaskan prinsip kedaulatan > > rakyat……… > > > Nasionalisme yang ’civic’ juga menjadi semacam > > �etik� dalam menjaga martabat bangsa …dimana > > perilaku buruk seperti korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia > adalah > > cacat politik yg mempermalukan bangsa secara keseluruhan…….. > > > Nasionalisme Indonesia menghadapi problem yang tak mudah dalam > > mengawinkan ’nation-state’ sebagai sebuah institusi > > politik solid ……nasionalisme adalah fenomena psikologis yang > > membutuhkan perasaan keterlibatan, dan disposisi yang berbeda dengan > > ’nation-state’ sebagai institusi ……rMealitas > > sosial politik menunjukkan hadirnya ’sentimen > > nasionalisme’ pada bangsa-bangsa yang tidak mempunyai > > ’State’…… > > > Krn itu kembali ke Indonesia sebagai ’proyek bersama’ > > yang belum selesai……Suatu ’nation’ yang > > melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, dan mencoba menyatukan > > ’old nations’ yang ada di nusantara……krn > itulah, > > pengalaman �menjadi� bangsa adalah juga meningkatkan > > kesadaran fenomena kesukuan agar lebih menasional dan > > universal……... > > > Lalu, bagaimana membuat ’State’ yang bisa > mengakomodasi > > variasi spektrum agama dan suku, dan bahkan menampung revivalisme > > ’old nationalities’ di sejumlah daerah saat > > ini…….. > > > Mungkin ’civic nationalism’ yang dipraktekkan di > Inggris > > sejak pertengahan abad 18 bisa menjadi inspirasi……..bagaimana > > Great Britain bisa berhasil menjadi satu > > ’negara-bangsa’, yang sebenarnya terdiri dari empat > > bangsa berbeda: Irish, Scots, Welsh dan English……… > > > Salam, > > > > >

