Pak Risfan ysh, selamat atas penerbitan bukunya. Wah kelihatannya
Referensiers sudah banyak yang menjadi penulis buku. Saya pengen
memiliki bukunya pak, tapi yang ada tanda tangan penulisnya.

Saya dulu pernah ikutan juga kuliah Arsitektur, tentang konservasi dan
preservasi, dosennya Pak Danisworo. Tapi kok lebih ke arkeologi ya
dengan 'stonehenge'-nya. Mengenai Koentjaraningrat
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3015> , belum sampai
kesana pak pelajaran saya, khususnya terkait materialisme kebudayaan.
Dalam era relativisme memang sepertinya formulasi unsur kebudayaan Pak
Koen sangat menonjol, yaitu: ide/gagasan-aktivitas-karya. Namun
formulasinya Pak Koen ini masih berpengaruh di Indonesia saat ini.
Mungkin Pak Yando dkk berkenan menjelaskan.

Sewaktu mudik kemarin, saya sempat membawa beberapa buku tua dari
perpustakaan ayah saya, seperti terjemahan dari "Inleiding tot de
Culturelle: Anthropologie van Indonesie" door Dr. H.Th.Fischer, termasuk
juga buku "Ilmu Bumi Militer Indonesia" Jilid I itu. Seharusnya
referensi ini dapat memperkaya kajiannya Pak Aby, kapan waktu saya
kopikan. Memang pendekatan teori kebudayaan jauh berbeda, dan semakin
berkembang. Seperti misalnya pada era Pak Koen, telah tumbuh kesadaran
mengenai meningkatnya 'kompleksitas' masyarakat, yaitu perubahan dari
kondisi homogen ke heterogen. Inti penguraian kompleksitas ada dua:
membangun relasional dan penggalian konteks. Namun hingga saat ini
lingkup antropologi semakin longgar, malah batas-batasnya 'terkesan
kabur', termasuk era posmo-nya Foucault. Namun bagi antropolog seperti
Pak Yando itu masih bisa menarik benang merahnya. Seperti contoh, kalau
ada buku yang tidak ada unsur 'kultur'nya, pasti deh masuk keranjang
sampah.

Kalau kita mencermati perjalanan Pak Wawo
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3015>  menuntut ilmu,
ilmu kedua yang seharusnya dipelajari oleh perencana adalah Antropologi.
Ilmu ketiga adalah Ekonomi, ditunjukkan dengan dipilih dan dikirimnya
Sugijanto Soegijoko ke Amerika. Dst.

Demikian sementara waktu pak, mudah-mudahan Sabtu sore ini kita ketemuan
di Bandung ... kopi darat, katanya mau difasilitasi Prof Boy Kombaitan.
Namun kita perlu agendakan juga pak acara 'nonton bareng 2012'. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Rekans ysh,
>
> Ajakan Ekadj ini jadi mengingatkan kuliah Pengantar Arsitektur dan
Ilmu Sosial (PAIS) dari Jur Arsitektur. Bukunya kebanyakan dr
Kontjaraningrat (kenapa dia tdk diacu juga?).
>
> Saya baca Ruth, seperti saya katakan sebelumnya karena ingin tahu
adakah 'ruh' budaya Samurai Masih berpengaruh. Jadi saya lebih hafal isi
buku The Book of Five Rings karya Miyamoto Musashi dlm beberapa versi
interpretasi ( he he he) daripada bukunya Ruth yang pernah ditranslate
sebagai "Pedang Samurai dan Bunga Seruni".
>
> Point yang saya ingat dari Ruth ialah "budaya malu" yang kuat pada
budaya Jepang. Etikanya didasari kuatnya "rasa malu", sehingga terkenal
adanya tradisi seppuku itu, lebih baik mati drpd menanggung rasa malu.
Digambarkan, bahwa memberi sesuatu kepada orang Jepang itu bisa jadi
perkara yang merepotkan, karena mereka "malu" kalau tak bisa membalas
pemberian itu. Repotnya kalau penerima ini tak punya resources untuk
bisa membalas pemberian atau budi itu.
>
> Pendekatan yang digunakan (maaf ini interpretasi saya yang bukan
Anthropolog) juga berkisah seperti C.Geertz jadi enak membacanya seperti
novel. Yang dibangun dari hasil-hasil wawancara dengan orang yang
mengalaminya.
> Dalam analisisnya Ruth juga banyak melakukan perbandingan berbagai
tradisi dan pola pikir Jepang dengan Amerika. Kita juga ingat Geertz
juga membandingkan Pulau Jawa dengan Jepang dibagian akhir buku Involusi
Pertanian-nya.
>
> Uda Ekadj dan teman-teman. Buku "Samurai Sejati" yang saya tulis kata
Gramedia sudah terbit kemarin, dan beredar di toko buku minggu depan.
Silahkan membaca.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> --- In [email protected], - ekadj 4ekadj@ wrote:
> >
> > Pak Risfan ysh.
> >
> > Sebenarnya kajian Ruth Benedict ini sangat terkait dan melandasi
kajian Pak
> > Aby, dan perlu kita apresiasi tersendiri. Saya sudah mencari-cari
buku "The
> > Chrysanthemum and the Sword" itu, namun belum ketemu. Saya mengenal
dan
> > mengutip Ruth dari beberapa penulis Neo-Boasian lainnya, seperti
Daniel
> > Rosenblatt dan Ira Bashkow. Namun dengan adanya pehobby seperti Pak
Risfan,
> > mudah-mudahan mau mengupas sedikit, siapa tahu bisa berkembang
menjadi
> > "Jalan Pedang Kaum Perencana Jilid 2".
> >
> > Yang saya ketahui sedikit Ruth Benedict mempunyai guru bernama Franz
Boas,
> > lalu punya murid namanya Talcott Parsons, dan muridnya lagi bernama
Clifford
> > Geertz, dan muridnya lagi bernama Abiyoso. Jadi cukup jelas kinship
dari
> > Neo-Boasian ini. Sedangkan buku "The Chrysanthemum and the Sword"
itu
> > ditulis semasa WW2 dengan menggunakan data-data sekunder, seperti
dari
> > koran, buku, dll; serta sempat mendapatkan data primer yaitu
wawancara POW
> > atau tentara Jepang yang ditawan oleh sekutu. Jadi konsep 'national
> > character' yang dikonstruksi oleh Ruth, saya perkirakan adalah
rumusan
> > national character-nya Jepang, bukan Amerika. Buku ini selesai 1946
dan
> > diserahkan kepada Presiden USA, dan menjadi landasan dalam kebijakan
Amerika
> > setelah itu; dan kemungkinan juga mendasari filosofi terbentuknya
UN.
> >
> > Ruth merujuk "The Tale of the Forty-Seven Ronin" sebagai 'national
epic',
> > termasuk mengidentifikasi karakter moral orang Jepang sebagai
obligasi
> > universal (gimu) dan kongkrit (giri). Gimu pada kaisar ditunjukkan
dari
> > tidak mau menyerahnya orang Jepang pada WW2 sebelum kaisar sendiri
yang
> > mengatakan menyerah. Saya kira Pak Risfan lebih kredibel
menjelaskan, karena
> > membaca langsung, termasuk juga apresiasi yang dimiliki Pak Indra,
Pak
> > Irwan, Jehan, dll.
> >
> > Saya hanya fokus pada konsep Neo-Boasian yang dibawa oleh Ruth yang
masih
> > merujuk pada konsep difusi dan integrasi, yang pada kenyataannya
masih
> > relevan dengan globalisasi dan patut direvitalisasi (a.l. seperti
kajian
> > yang dilakukan oleh Abiyoso). Sebagaimana dengan misi teori-teori
kebudayaan
> > lainnya, Ruth mengembangkan pendekatan kebudayaan untuk menghadapi
> > uniformality (keseragaman sosial yang dipaksakan). Pendekatannya
lebih maju
> > dari eranya, yaitu telah menggunakan agency dan society, yang
sebenarnya
> > mirip dengan pendekatan Bourdieu; termasuk dalam kategori 'theories
of
> > practice'.
> >
> > Konsep inti dari Neo-Boasian adalah mempercayai difusi (historical
> > particularism) dan konfigurasi (integration), jadi tidak mengabaikan
> > internal variation, sehingga juga bisa fokus pada tindakan
orang(-orang).
> > Neo-Boasian memperhitungkan 'boundaries', namun tidak berbentuk
'spatial',
> > walaupun saya berpendapat sebaliknya. Satu pengertian yang saya
peroleh dari
> > Rosenblatt adalah "Boundaries help give conceptual order to the
world, but
> > they do so in ways that reflect how those who create them already
order the
> > world". Kalau saya terjemahkan secara bebas kurang lebih:
"batasan-batasan
> > dibuat supaya kehidupan menjadi tertata, dibangun melalui cara-cara
yang
> > mencerminkan keteraturan yang telah terbentuk sebelumnya".
> > Saya kira hal ini yang menjadi point dari 'proyek nasionalisme',
bahwa
> > Indonesia bukanlah dibentuk oleh Soekarno-Hatta dan tim-tim pada
masa itu;
> > tetapi merupakan cerminan berbagai suku bangsa dan lapisan
masyarakat yang
> > menghendaki tatanan keteraturan yang lebih luas.
> >
> > Bila theory of practice-nya untuk kondisi kekinian mengarah pada
> > integrasi/konfigurasi pendidikan-pangan-energi, saya harap Pak
Risfan dapat
> > melanjutkan thesisnya.
> > Sementara demikian dulu. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> > 2009/11/9 Risfan M risfano@
> >
> > >
> > >
> > > Uda Ekadj, Pak Aby dan rekans ysh,
> > >
> > > Eka, saya baca Ruth Benedict karena ingin mengenal budaya samurai
lebih
> > > jauh dan karena hobi saja. Soal East-West tentunya Pak Wawo lebih
fasih
> > > karena pernah jadi santri di kepulauan di Pacific yang letaknya di
tengah
> > > kancah East dan West itu.
> > >
> > > Tentang proyek nasionalisme (ini karena kadung reply) kalau
menurut saya
> > > mesti dilihat kondisi obyektif masa kini juga kali ya. Maksud saya
situasi
> > > Poleksosbudlinktek + Dana nya. Terlepas dari retorika atau
teorinya.
> > >
> > > POLITIK - ada hubungan pusat - daerah; daerah - daerah; regional
dan
> > > internasional. Hubungan pusat daerah sedang dalam proses tarik
menarik
> > > desentralisasi berbagai urusan. Hubungan daerah-daerah juga sedang
menikmati
> > > eforia otonomi baru dan coba-coba dengan identitas daerah (ada
yang mencari
> > > akar etnik, ada yang agama). Serta situasi regional Asean++,
masuknya
> > > Indonesia ke G20, "kemesraan" China-USA. Semua ini tentu ada
pengaruhnya.
> > >
> > > EKONOMI. Kenyataan bahwa banyak perusahaan besar di dalam negeri
(termasuk
> > > perbankan, eksploitasi SDA, pelayanan publik) dimiliki sahamnya
oleh asing
> > > dan diperjual belikan. Keharusan ekspor, ketergantungan pada
impor. Lapangan
> > > kerja, angka kemiskinan. Pengaruhnya kepada kegiatan dan corak
kehidupan
> > > kita tentu besar.
> > >
> > > SOSIAL. Angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. Kesenjangan
tingkat
> > > kesejahteraan antar kelompok, antar daerah. Pelayanan kesehatan
dan
> > > pendidikan yang masih jauh dari harapan.
> > >
> > > BUDAYA. Sebetulnya aspek budaya yang selalu jadi tema
"nasionalisme"
> > > (menjadi Indonesia). Karena kalau orang tua memberi pesan kepada
generasi
> > > muda "kembali keakar budaya kita". Lah akar budaya kan berarti
Jawa, Sunda,
> > > Minang dst. Tapi tak boleh kesukuan. Jadi yang mana? Sementara itu
acara TV
> > > yang bisa dikatakan ekspresi budaya kan isinya "budaya barat dan
pop
> > > ibukota". Itu yang ditonton di seluruh tanah air dari metropolitan
sampai
> > > desa terpencil. Buat kita yang membesarkan anak di Jabodetabek dan
kota
> > > besar lain, apalagi yang kawin antar suku, soal budaya ini ya "apa
yang
> > > terjadi"lah. Apalagi budaya kaum marginal di kota besar
(urbanisasi) lebih
> > > kompleks lagi.
> > >
> > > LINGKUNGAN. Konon kita hidup di "ring of fire", untaian
pulau-pulau,
> > > dataran rendah dan pegunungan yang memang berisiko. Karena
ekosistem,
> > > wilayah "perairan dalam" nyatanya yang lebih layak dijadikan
sarana
> > > interaksi, karena "perairan luar" menghadapi ombak samudera yang
besar, dan
> > > belakangan tzunami dan gempa bumi. Soal lingkungan juga soal
sulitnya
> > > mengendalikan keserakahan orang telah banyak merusak lingkungan di
hutan,
> > > gunung, dataran, laut dan kota. Perlu jadi agenda nasional yang
urgen juga.
> > >
> > > TEKNOLOGI. Teknologi komunikasi seperti TV menyajikan harapan
(janji) besar
> > > kepada orang desa terpencil sekalipun, akan indahnya, mewahnya
hidup di
> > > kota. Orang desa jadi melihat lingkungan hidup, ekonomi, budaya
sekitarnya
> > > begitu papa.Teknologi transportasi bagus di Jawa, tapi di
Kalimantan, Papua,
> > > apalagi di kepulauan masih jauh dari harapan.
> > >
> > > Dan terakhir, menyangkut ANGGARAN. Adakah anggaran yang memadai
bagi
> > > (utamanya pemerintah tentu) untuk melaksanakan suatu Grand Design
apapun?
> > > Apakah masih ada keleluasaan memilih-milih model, orientasi, dst
tanpa
> > > risiko kedodoroan?
> > >
> > > Tidak berlebihan kalau ada yang mengingatkan akan pentingnya fokus
> > > prioritas kepada "PENDIDIKAN, PANGAN, ENERGI' karena boleh jadi
kedaulatan
> > > (nasionalisme) kita masa kini dan mendatang tergantung pada tiga
hal itu.
> > >
> > > Faktor pengikat lainnya barangkali kesamaan nasib hidup di "ring
of fire"
> > > yang berisiko ditambah risiko banjir yang terjadi dimana-mana
karena
> > > gundulnya hutan (hampir semua kita menyukai kayu untuk bangunan).
Budaya dan
> > > etika yang mendesak diterapkan barangkali ya "hemat energi,
kurangi
> > > pemakaian kayu", sadar lingkungan, sadar kelangkaan, sadar anti
korupsi
> > > (kirim bingkisan mungkin adalah contoh budaya korupsi paling nyata
dalam
> > > budaya kita). Bagaimana pula sikap kita terhadap sumber energi
nuklir? Serta
> > > kampanye kemandirian energi dengan teknologi tepat guna
(appropriate).
> > >
> > > Salam,
> > > Risfan Munir
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > --- On *Sun, 11/8/09, ffekadj 4ek...@* wrote:
> > >
> > >
> > > From: ffekadj 4ekadj@
> > > Subject: [referensi] Re: (7) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg
Blm Selesai
> > > To: [email protected]
> > > Date: Sunday, November 8, 2009, 12:00 PM
> > >
> > >
> > >
> > > Atau mungkin Ruth Benedict-nya Pak Risfan? Saya coba kutipkan dari
"The
> > > Chrysanthemum and the Sword" (1946):
> > >
> > > "That all the differences between East and West, black and white,
> > > Christian and Mohammedan, are superficial and that all mankind is
really
> > > like-minded.
> > >
> > > To demand such uniformity as a condition of respecting another
nation is
> > > as neurotic as demanding it of one's wife or one's children.
> > >
> > > The goal ... was a world made safe for differences.
> > >
> > > If people in other societies differed from us, the cause was not
their
> > > inferiority or their backwardness; rather, it was their adherence
to a
> > > different way of life, oriented toward different values and
embodied in
> > > different customs and institutions. If some people found it hard
to
> > > measure up, it might result from of an unfortunate mismatch
between
> > > their proclivities and the arbitrary standards of the society in
which
> > > they happened to find themselves."
> > >
> > > --- In refere...@yahoogrou
ps.com<http://us.mc1115.mail.yahoo.com/mc/compose?to=referensi%40yahoogr\
oups.com>,
> > > "ffekadj" <4ekadj@> wrote:
> > > >
> > > > Geertzian? Kelihatannya Pak Aby sudah mulai menyandarkan
sebagian
> > > > keyakinan ilmiahnya pada Geertz.
> > > >
> > > >
> > > > --- In refere...@yahoogrou
ps.com<http://us.mc1115.mail.yahoo.com/mc/compose?to=referensi%40yahoogr\
oups.com>,
> > > hengky abiyoso watashiaby@ wrote:
> > > > >
> > > > > Milisters ysh,
> > > > > Kemunculan negara-negara baru yang homogen di Eropa kerap
dimotori
> > > > oleh state-seeking nationalism………suatu
klaim dari
> > > perwakilan
> > > > politik yg tdk mendapat akses kontrol atas suatu
> > > > ’state’….lalu mengklaim otonomi
politik….atau
> > > > bahkan memisahkan diri….atas dasar perbedaan identitas
> > > > budaya……..
> > > > > Menurut Tilly, sebelum tahun 1800, rata-rata corak
nasionalisme
> > > adalah
> > > > state-led, tetapi setelah tahun itu, state-seeking nationalism
menjadi
> > > > motor dari revolusi di Eropa……..
> > > > > Belajar pada kenyataan sejarah itu, Â konon katanya
seyogyanya
> > > > format nasionalisme kita harus memberi tempat kepada
> > > > kebaruan……dlm hal ini mendemokratisasikan
hubungan pusat dan
> > > > daerah ….termasuk menurut Nezar Patria (jg pernah oleh
Amien
> > > Rais)
> > > > â€Å"keberanian menguji bentuk
federalismeâ€�….tapiÂ
> > > > disini saya kira Nezar (jg Amien) telah bermain api tak mau
menghitung
> > > > bgmn resikonya kalau federalisasi di Indonesia nanti
menjadi
> > > > balkanisasi spt Soviet dan Yugoslavia……lalu
NKRI ini
> > > tercabik2
> > > > menjadi bbrp negara yg terpisah2 (pdhal memang ada analisis
> > > > intelijen ttg skenario balkanisasi NKRI itu oleh
> > > > AS)…..…..
> > > > > Kedua, dengan munculnya kekerasan komunal yang dipicu oleh
konflik
> > > > agama atau etnis di berbagai wilayah nusantara…..atau
dlm
> > > derajat
> > > > lebih kualitatif adalah mengerasnya
ethno-nationalism……maka
> > > > nasionalisme Indonesia harus dikembalikan menjadi
’proyek
> > > > bersama’ yg urgent……….
> > > > > Pemberian otonomi yang luas atau bahkan
> > > > ’self-government’ kepada wilayah
bergolak adalah cara
> > > > untuk tetap membuat warga daerah tetap ambil bagian dari
> > > ’proyek
> > > > bersama’ Indonesia ……selain itu,
arah pembangunan
> > > > ekonomi yang berkeadilan menjadi prioritas……krn
federalisme
> > > > atau otonomi yang miskin, sama saja dengan perubahan yang
> > > > nihil……….
> > > > > Ketiga, nasionalisme baru Indonesia konon katanya harus pula
Â
> > > > mampu menghadapi kecenderungan global…….krn itu
�civic
> > > > nationalism� atau nasionalisme kewargaan konon harus
menjadi
> > > > agenda dari ’proyek
bersama’……...
> > > > > Nasionalisme ini disebut ’civic’
karena dia adalah
> > > > antitesa dari nasionalisme berbasiskan etnik
……nasionalisme
> > > > yang ’civic’ mampu menempatkan segenap
elemen bangsa
> > > > melampaui agama, ras dan suku sebagai komunitas setara, dan
> > > mendapatkan
> > > > hak-hak penuh ……dgn demikian nasionalisme ini
secara inheren
> > > > berciri demokratik karena ia dibangun beralaskan prinsip
kedaulatan
> > > > rakyat………
> > > > > Nasionalisme yang ’civic’ juga menjadi
semacam
> > > > �etik� dalam menjaga martabat bangsa
…dimana
> > > > perilaku buruk seperti korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia
> > > adalah
> > > > cacat politik yg mempermalukan bangsa secara
keseluruhan……..
> > > > > Nasionalisme Indonesia menghadapi problem yang tak mudah dalam
> > > > mengawinkan ’nation-state’ sebagai
sebuah institusi
> > > > politik solid ……nasionalisme adalah fenomena
psikologis yang
> > > > membutuhkan perasaan keterlibatan, dan disposisi yang berbeda
dengan
> > > > ’nation-state’ sebagai institusi
……rMealitas
> > > > sosial politik menunjukkan hadirnya ’sentimen
> > > > nasionalisme’ pada bangsa-bangsa yang tidak
mempunyai
> > > > ’State’……
> > > > > Krn itu kembali ke Indonesia sebagai ’proyek
bersama’
> > > > yang belum selesai……Suatu
’nation’ yang
> > > > melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, dan mencoba
menyatukan
> > > > ’old nations’ yang ada di
nusantara……krn
> > > itulah,
> > > > pengalaman �menjadi� bangsa adalah juga
meningkatkan
> > > > kesadaran fenomena kesukuan agar lebih menasional dan
> > > > universal……...
> > > > > Lalu, bagaimana membuat ’State’ yang
bisa
> > > mengakomodasi
> > > > variasi spektrum agama dan suku, dan bahkan menampung
revivalisme
> > > > ’old nationalities’ di sejumlah daerah
saat
> > > > ini……..
> > > > > Mungkin ’civic nationalism’ yang
dipraktekkan di
> > > Inggris
> > > > sejak pertengahan abad 18 bisa menjadi
inspirasi……..bagaimana
> > > > Great Britain bisa berhasil menjadi satu
> > > > ’negara-bangsa’, yang sebenarnya
terdiri dari empat
> > > > bangsa berbeda: Irish, Scots, Welsh dan
English………
> > > > > Salam,


Kirim email ke