++++: Tidak ada gempa dan tdk ada kebingungan di sini pak... mungkin bapak saja 
yg salah mengintepretasi tulisan sy... 
>>>>: ato mungkin sambil anda nulis tapi sambil praktek resep masakan baru 
>>>>didapur lalu ditinggal…lupa… dan gosong lalu  konsentrasi diskusi anda 
>>>>kacau?.....hehe..

++++: tapi singkatnya, konsentrasi aktivitas ekonomi tdk terjadi merata di 
semua tempat (teori apapun mengatakan ini)... 
>>>>: saya kira ayat ini  cocok utk diajarkan pada para pemula kuliah ekonomi 
>>>>regional/ regional planning……tapi kalau antar kita ya tak usahlah lagi itu 
>>>>ditegaskan atau diulang2… kecuali kalau anda pikir saya tak mengerti  
>>>>samasekali soal ini …..

++++: upaya2 pemerataannya banyak dianggap tdk berhasil, bahkan dikatakan naif, 
terutama kalau mengingat bahwa konsentrasi2 tsb adalah fenomena logis dr sifat 
kapital (Marxist)... 
>>>>: Kalau anda perhatikan…. Bicara ttg ‘pemerataan’ atau dekonsentrasi (dalam 
>>>>artian concentrated deconcentration) dan berkait dgn konsep pusat 
>>>>pertumbuhan…. saya tak pernah bicara ttg agenda2 pembangunan secara umum 
>>>>dan luas SaMeMiTe (dr Sabang smp Merauke dr Miangas smp Rote) …..tapi lsg 
>>>>bicara KTI… bahkan lbh lsg lagi bicara ttg Makasar ……bahkan terakhir saya 
>>>>sampaikan fotos ttg perkembangan terakhir pembangunan fisik di metropolitan 
>>>>Makassar……….
(utk para milisters ysh, tentu saja /kota/ pusat pertumbuhan dan ‘top down’ 
/dimulai dikota terbesarnya yg pengaruhnya nanti menyebar kewilayah 
kelilingnya/ ….bukanlah satu2nya model/ konsep pembangunan wilayah…. Krn ada 
pula model yg dimulai dgn pembangunan pertanian dan pedesaan/ pedalaman/ 
bottom-up… spt misalnya dlm proyek transmigrasi…. namun sepanjang dikaitkan dgn 
tujuan membangkitkan pusat aglomerasi baru diwilayah …..maka tiada lain 
penekanan pada pengembangan kota yg dimaksudkan sbg  ‘pusat baru’ pertumbuhan 
adalah sptnya pilihan yg tak ada duanya ….sebab tujuan membentuk pusat 
aglomerasi baru membutuhkan struktur ruang berupa kota besar, SDM berupa 
kerahputih dan penghasilan klas menengah atas sbg ujung tombak,  manufaktur dgn 
multiplier luas sbg motor pembangunan, dan aliran migrasi perkotaan kepusat 
baru itu yg mencolok sbg tolok ukur keberhasilan)…….

++++: upaya2 pemerataannya banyak dianggap tdk berhasil, bahkan dikatakan naif, 
terutama kalau mengingat bahwa konsentrasi2 tsb adalah fenomena logis dr sifat 
kapital (Marxist)... 
>>>>: Tak berhasil dan naif?.....ya jelas saja kalau kebijakan ‘pemerataan’ itu 
>>>>diimplementasikan secara harafiah oleh para otoritas dan pelaksana 
>>>>pembangunan ……ditargetkan merata secara fisik dimana-mana SaMeMiTe …bukan 
>>>>secara taktis dan filosofis….
Perlu kiranya dibedakan…. Adanya semacam ‘hirarkhi’ antara a/.cita2 
....b/.tujuan …c/.strategi……. d/.taktik….. e/. action……‘Tujuan’ dari pemerataan 
(pembangunan ekonomi) tentu kita semua secara umum setuju…… Maksud upaya 
praktek/ teknik  dari ‘pemerataan’ adlh tentu dalam artian bukan harafiah 
….namun adlh secara filosofis dan taktis……
Scr harfiah…ada ‘sesuatu’ dlm pembangunan nasional yg dpt disebar secara 
‘merata’ …dimana tiap kepala/ kawasan dpt memperolehnya (contohnya pembagian 
tabung gas LPG 3kiloan, raskin, hak pemilu, hak pendidikan tingkat SD/SMP, BLT 
utk simiskin, siaran tv/ radio.. uang misalnya saja pmrth bermaksud membagi 
tiap kepala dapat 10rb rp… dsb) …. Namun ada ‘sesuatu’ yg lain yg tak dapat 
disebar secara merata dalam artian harafiah gitu  …namun ia hanya dapat 
‘disebar’ secara ‘merata’ dlm artian filosofis dan taktis……
Misalnya ada jatah 2 buah tv umum dan 2 komputer plus internet utk  satu desa 
yg amat tertinggal dan terpencil…..… kalau mau ‘merata’ dlm artian harfiah agar 
seluruh penduduk dpt menikmati jatah itu…..salah satu cara ya jual saja kedua 
bh tv dan komputer itu lalu uangnya dibagi rata keseluruh desa….. namun kalau 
anda bermaksud membagi rata manfaat tv dan komputer bagi penduduk desa….. satu 
cara adalah tentu masing2 tv/ komputer ditaruh di’pusat’ dari masing2 separuh 
desa…..apakah satu diutara satu diselatan dsb….. sehingga seluruh desa dpt 
menonton tv/ memanfaatkankomputer  bersama dgn jarak2 perjalanan dari rumah yg 
relatif rata dan adil diseluruh desa…….
Contoh nyata lain…. Kalau thn 1976 utk I- kalinya Indonesia/ Jawa/ Jkt  punya 
Taman Mini TMII …tentu sdh akan dpt dibilang cukup ‘merata’lah ...kalau saja 
berikutnya dpt  dibuat satu lagi TMII 2 ditempat lain jauh dr Jkt/Jawa  ….sebab 
kalo gak maka setiap orang Indonesia SaMeMiTe asal mau nonton TMII  hrs 
semuanya  ke Pondok Gede atau tidak samasekali…....kita  tahulah  bhw  ttg 
‘pemerataan’ itu tak usahlah apa saja dipaksakan ditiap propinsi/ ditiap 
kabupaten hrs dibuat TMII…..

Daripada bicara terlampau umum  terus (dan mau sampai kapan) malah tetap saja 
membuat jarak antara ‘cita2’ dan ‘konkretisasi’ pembangunan wilayah tetap saja 
jauh (khan kita sdh praktekkan pembangunan regional sejak 1970-75-an?)….. maka 
saya selalu lbh suka kita bicara ttg pragmatism, ttg konkretisasi….. dan bahkan 
lbh suka bicara ttg ‘taktik’ lbh daripada ‘strategi’….apalagi kembali bicara 
terus muter2 ttg teori dasarnya ….. krn dalam pemahaman saya….’taktik sbg 
‘langkah yg lbh kecil’ daripada strategi dan kebijakan umum dan ia ‘affordable’ 
dan ‘konkrit’ krn sudah (dekat) berupa ‘action’…..…ia akan semakin dekat saja 
pada ‘konkretisasi’ dan ‘dampak’…..dan lagi pula saya pikir banyak dari kawan 
berdiskusi kita dimilis ini adalah bukan lagi para pemula dibidang studi 
perencanaan regional ….namun selain para pakar…tak kurang malah banyak pula 
dari para otoritas keruangan…….
Krn itu ttg ‘upaya pemerataan (secara filosofis/ taktis)  kegiatan ekonomi 
nasional kita ….….saya krg suka (mengulang2) bicara yg kelewat umum kelewat 
elementer dan jauh dari praktek how to do nya…… itu rasanya sama saja spt 
kembali kebangku kuliah semester2 awal…. Atau mirip diskusi awal pembangunan 
regional spt pd sekitar thn 1975-80an…..
Sebenarnya saya lbh suka (kita)  bicara lsg menukik mengerucut pd materi  
‘taktik’  sbg revisi pola2 yg sudah2 (bukan lagi bicara teori dasar terus, 
bukan lagi bicara strategi umum terus yg sebenarnya malah jadi ‘pemerataan 
secara harafiah’ dan tentu saja gagal) ….…ialah pertama  agar kita tak lagi 
bicara ttg ‘aktivitas ekonomi secara umum’ ……tapi lsg ttg ‘taktik’ aktivitas 
utama dlm ekonomi …..ialah industri urban dan industri urban (krn planning 
lahir justru krn rev industri  perkotaan.... bukan krn   industri pertanian/ 
agraris)…. 
Krnnya saya selalu ulang2 bicara ttg ….(a). bgmn “menyemai (bukan memindahkan 
totally)  aktivitas industri memimpin”  bersifat foot loose’ (dan bukan asalkan 
industri apa saja) dilokasi ‘separuh wilayah RI’ yg kurang maju (KTI)… krn 
menurut teorinya bukankah hanya “industry memimpin foot loose’ lah (bukan asal 
sebarang perusahaan)  yg akan mampu survive ditempat ‘terpencil’ dan mampu pula 
membangkitkan dampak ganda yg luas…….
Dan kedua …. (b). dipakai logika umpama bgmn menempatkan  2 teve umum didesa 
tertinggal tadi … dan jgn lagi kita diskusikan ‘pemerataan secara harafiah’ 
(contohnya  sejumlah 13 Kapet buatan oligarki Habibie dan Suharto yg bukan para 
spatial planners itu disebar dari Aceh sampai Papua, tak berbasis urban……dan yg 
11 tewas)…….
Sbg langkah ‘taktis’ dan  samasekali  bukan langkah ‘umum’ (lalu anda selalu 
mentahkan dgn katakan …. “singkatnya, konsentrasi aktivitas ekonomi tdk terjadi 
merata di semua tempat / teori apapun mengatakan ini”... ….. Sayapun sdh ulang2 
kemukakan ttg  “menyemai” (mohon nanti jangan lagi di mentahkan) …. ttg  
industry spd motor yg kapasitas pasarnya  6-6,5 juta unit per tahun dan menjadi 
pasar ke-3 terbesar dunia setelah China dn India  (itulah sesungguhnya leading 
foot loose industries kita)….utk agar 1/8 nya saja (kapasitas 250.000 unit) 
dari proses produksinya dipindah disatu titik aglomerasi diluar Jawa/ KTI  
(sekali lagi, mohon jangan dimentahkan lagi)  ……dimana itu akan berkait dgn 
migrasi kerah putih sbg ujung tombak SDM kreatif  dan tumbuhnya berbg dampak 
ganda luas lainnya …..dimana ‘langkah taktis’ ini sudah berulang2 saya katakan 
…….hanya mungkin saja kalo gak di Paris sering terjadi gempa bumi
 ….mungkin sambil diskusi sambil anda nyobain resep masakan baru didapur dan 
gosong maka konsentrasi anda kacau……...
Krn itu dikemudian hari saya berharap kalau kita lanjut diskusi ttg KTI ini 
….mari jo …..kita lsg bahas dan perdalam ttg ‘menyemai industry memimpin 
bersifat foot loose ini’ ….dan tak lagi muter2 terus diseputar kisah metropole 
d’equilibrium dan teori2 dsr regnl  planning atau bilang tentang pandangan2 
pemerataan yg absurd…… yg itu malah jatuhnya langkah mundur…….atau jangan2 
malah menyiratkan anda  yg tak mampu mengimajinasikan artikulasi dari teori itu 
 dgn leluasa…. Krn ini memang memerlukan visi yg cukup ttg industri dan 
kewiraswastaan… dan sokur2 pengalaman sbg praktisi industri ……krn memang 
pemikiran2 dlm industri dan kewiraswastaan itu ya pas dgn teori Perroux itu 
……jd penghayatannya menjadi mudah…..
Sekian dulu, lanjutannya diposting berikut …. salam,
aby
 
 
 
Monday, November 2, 2009 1:32 AM
From: "Eko B K" [email protected]
To: [email protected]  

Pak Aby ysh.
Tidak ada gempa dan tdk ada kebingungan di sini pak... mungkin bapak saja yg 
salah mengintepretasi tulisan sy... tapi singkatnya, konsentrasi aktivitas 
ekonomi tdk terjadi merata di semua tempat (teori apapun mengatakan ini)... 
upaya2 pemerataannya banyak dianggap tdk berhasil, bahkan dikatakan naif, 
terutama kalau mengingat bahwa konsentrasi2 tsb adalah fenomena logis dr sifat 
kapital (Marxist)... karenanya yg diusulkan bukan usaha menyebarkan aktifitas2 
ekonomi, tapi upaya mengurangi kesenjangan kesejahteraan rata2 penduduk antar 
wilayah..nah sy percaya ini... 
permasalahannya kita juga perlu hati2 menyikapi hal tsb...antara lain dgn 
melihat kasus Prancis dan metropolitan penyeimbangnya. .. dosen sy mengatakan 
bahwa tanpa 8 metropolitan tsb., maka saat ini agglomerasi Paris pasti akan 
lebih dahsyat...jadi dlm konteks ini bisa saja metropolitan tsb dianggap 
sukses... tapi ini pendapat tanpa basis studi yg mendalam... 
yg jelas saat ini kebijakan tsb sudah dihentikan oleh Pemerintah Prancis... 
dan di dunia rasanya tdk banyak kebijakan seperti ini... yg disebut oleh WDR 
2009 adalah kasus Sovyet... kita punya kasus juga sebetulnya, yakni KAPET... 
apakah KAPET berhasil? saya tdk tahu... nah selama belum pernah dibuktikan 
bahwa upaya penyebaran konsentrasi ekonomi secara paksa di dunia ini ada yg 
berhasil, tentu saya tdk bisa percaya begitu saja...
Ini kita belum bicara soal atomisasi ruang (istilah yg digunakan Slater), bahwa 
dgn adanya penyebaran pusat ekonomi seperti metropolitan penyeimbang, mungkin 
bisa lebih menyeimbangkan Paris dan 8 metropolitan lainnya, tetapi jelas hal 
ini menimbulkan kesenjangan baru, yakni antara 8 metropolitan tsb dgn wilayah 
sekitarnya dan wilayah lainnya...
Perroux beda dgn Marxist pak, Perroux mendukung pemusatan investasi di pole2 
tertentu utk pertumbuhan ekonomi nasional, Marxist melihat adanya pemusatan2 
kapital ini sebagai fenomena logis dr kapitalisme dan meng-condemn nya...(sy 
bukan Marxist, jd sy tdk meng-condemn) ...
salam
 
 


      

Kirim email ke