Uda Ekadj dan rekans ysh, Mengenai buku saya "Samurai Sejati" saya titipkan ke panitia bazar Plano-50 Sambil kontribusi ke panitia.
Ada endorsement Pak Wawo, yang pasti menarik: "Shibaraku no yo-o, nogare keri, fuyu gomori" (he he he, apa artinya silahkan baca). Juga dari Pak ATA: "Menarik sekali. Mulai dengan kisah dua samurai dengan keteguhan dan kepekaan yang berbeda, secara mengalir penulis mampu mengupasnya menjadi acuan keberhasilan yang meyakinkan. Bacalah semoga Anda dapat menjadi samurai ketiga yang melalui keberhasilan diri mampu menyumbang bagi keunggulan bangsa .." Uda dan rekans, terkait diskusi kita. Diantara kesimpulan seminar internasional "Positioning Planning in Global Crises" ini yang dapat saya tangkap ialah - terjadinya perubahan konteks sosekpolink mesti bisa direspons oleh para planner dan pendidikan planning dengan perubahan paradigma pula. Termasuk memadukan kuantitatif dengan kualitatif. Juga pentingnya pengayaan tools, tak hanya analytical tools, tapi juga "communication" tools, mengingat pendekatan "governance" memerlukan skill untuk bisa komunikasi lebih baik dengan komunitas (stakeholders). Dinyatakan bahwa yang diperlukan bukan sekedar tambahan kuliah sana-sini, tetapi pendekatan yang utuh untuk hadapi context yang senantiasa berubah ini. Termasuk perubahan ini: Dari sisi lingkungan - climate change yang di kota2 pantai mulai terasa dampaknya, run-off yg naik meningkatkan risiko banjir dan ikutannya. Dari sisi sosial terjadinya fragmentasi kehidupan dan fisik lingkungan kota berdasarkan kondisi sosial penghuninya. Dari sisi ekonomi, agenda regional economic yang menghadapi soal inequalities, rural-urban relation yang bukan membaik. Dari sisi politik, jelas otonomi dan demokratisasi, serta perilaku aktor pembangunan kota/daerah terjadi perubahan besar. Dari segi pembiayaan, makin terasa kebutuhan untuk melibatkan peran swasta, investor. Semua sisi perubahan context itu membutuhkan respons dari planner di lapangan dan akademisinya. Selintas saya tangkap uraian bahwa kurikulum sekolah planning (Planologi/PWK) sekarang kalau dibanding 50th yang lalu juga sudah bergeser jauh sesuai perkembangan konteks dan kebutuhan yang berjalan bertahap. Dari fokus siteplan, land-use...hingga sekarang yang mencoba melihat kota/daerah sebagai entitas utuh yang berkembang. Hingga selain butuh ilmu tapi juga kemampuan imajinatif, visioner kedepan. Sabtu siang saya kebagian sebagai pembicara, akan mengangkat "Mengefektifkan Knowledge Management Perencanaan Wilayah dan Kota", salah satu kasus "refere...@yahoogroups" sbg media knowledge sharing. Salam, Risfan Munir Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: ffekadj <[email protected]> Sent: Friday, November 13, 2009 11:26 PM To: [email protected] Subject: [referensi] Re: Proyek Nasionalisme Pak Risfan ysh, selamat atas penerbitan bukunya. Wah kelihatannya Referensiers sudah banyak yang menjadi penulis buku. Saya pengen memiliki bukunya pak, tapi yang ada tanda tangan penulisnya. Saya dulu pernah ikutan juga kuliah Arsitektur, tentang konservasi dan preservasi, dosennya Pak Danisworo. Tapi kok lebih ke arkeologi ya dengan 'stonehenge'-nya. Mengenai Koentjaraningrat, belum sampai kesana pak pelajaran saya, khususnya terkait materialisme kebudayaan. Dalam era relativisme memang sepertinya formulasi unsur kebudayaan Pak Koen sangat menonjol, yaitu: ide/gagasan-aktivitas-karya. Namun formulasinya Pak Koen ini masih berpengaruh di Indonesia saat ini. Mungkin Pak Yando dkk berkenan menjelaskan. Sewaktu mudik kemarin, saya sempat membawa beberapa buku tua dari perpustakaan ayah saya, seperti terjemahan dari "Inleiding tot de Culturelle: Anthropologie van Indonesie" door Dr. H.Th.Fischer, termasuk juga buku "Ilmu Bumi Militer Indonesia" Jilid I itu. Seharusnya referensi ini dapat memperkaya kajiannya Pak Aby, kapan waktu saya kopikan. Memang pendekatan teori kebudayaan jauh berbeda, dan semakin berkembang. Seperti misalnya pada era Pak Koen, telah tumbuh kesadaran mengenai meningkatnya 'kompleksitas' masyarakat, yaitu perubahan dari kondisi homogen ke heterogen. Inti penguraian kompleksitas ada dua: membangun relasional dan penggalian konteks. Namun hingga saat ini lingkup antropologi semakin longgar, malah batas-batasnya 'terkesan kabur', termasuk era posmo-nya Foucault. Namun bagi antropolog seperti Pak Yando itu masih bisa menarik benang merahnya. Seperti contoh, kalau ada buku yang tidak ada unsur 'kultur'nya, pasti deh masuk keranjang sampah. Kalau kita mencermati perjalanan Pak Wawo menuntut ilmu, ilmu kedua yang seharusnya dipelajari oleh perencana adalah Antropologi. Ilmu ketiga adalah Ekonomi, ditunjukkan dengan dipilih dan dikirimnya Sugijanto Soegijoko ke Amerika. Dst. Demikian sementara waktu pak, mudah-mudahan Sabtu sore ini kita ketemuan di Bandung ... kopi darat, katanya mau difasilitasi Prof Boy Kombaitan. Namun kita perlu agendakan juga pak acara 'nonton bareng 2012'. Salam. -ekadj --- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote: > > Rekans ysh, > > Ajakan Ekadj ini jadi mengingatkan kuliah Pengantar Arsitektur dan Ilmu > Sosial (PAIS) dari Jur Arsitektur. Bukunya kebanyakan dr Kontjaraningrat > (kenapa dia tdk diacu juga?). > > Saya baca Ruth, seperti saya katakan sebelumnya karena ingin tahu adakah > 'ruh' budaya Samurai Masih berpengaruh. Jadi saya lebih hafal isi buku The > Book of Five Rings karya Miyamoto Musashi dlm beberapa versi interpretasi ( > he he he) daripada bukunya Ruth yang pernah ditranslate sebagai "Pedang > Samurai dan Bunga Seruni". > > Point yang saya ingat dari Ruth ialah "budaya malu" yang kuat pada budaya > Jepang. Etikanya didasari kuatnya "rasa malu", sehingga terkenal adanya > tradisi seppuku itu, lebih baik mati drpd menanggung rasa malu. Digambarkan, > bahwa memberi sesuatu kepada orang Jepang itu bisa jadi perkara yang > merepotkan, karena mereka "malu" kalau tak bisa membalas pemberian itu. > Repotnya kalau penerima ini tak punya resources untuk bisa membalas pemberian > atau budi itu. > > Pendekatan yang digunakan (maaf ini interpretasi saya yang bukan Anthropolog) > juga berkisah seperti C.Geertz jadi enak membacanya seperti novel. Yang > dibangun dari hasil-hasil wawancara dengan orang yang mengalaminya. > Dalam analisisnya Ruth juga banyak melakukan perbandingan berbagai tradisi > dan pola pikir Jepang dengan Amerika. Kita juga ingat Geertz juga > membandingkan Pulau Jawa dengan Jepang dibagian akhir buku Involusi > Pertanian-nya. > > Uda Ekadj dan teman-teman. Buku "Samurai Sejati" yang saya tulis kata > Gramedia sudah terbit kemarin, dan beredar di toko buku minggu depan. > Silahkan membaca. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > > > > > --- In [email protected], - ekadj 4ekadj@ wrote: > > > > Pak Risfan ysh. > > > > Sebenarnya kajian Ruth Benedict ini sangat terkait dan melandasi kajian Pak > > Aby, dan perlu kita apresiasi tersendiri. Saya sudah mencari-cari buku "The > > Chrysanthemum and the Sword" itu, namun belum ketemu. Saya mengenal dan > > mengutip Ruth dari beberapa penulis Neo-Boasian lainnya, seperti Daniel > > Rosenblatt dan Ira Bashkow. Namun dengan adanya pehobby seperti Pak Risfan, > > mudah-mudahan mau mengupas sedikit, siapa tahu bisa berkembang menjadi > > "Jalan Pedang Kaum Perencana Jilid 2". > > > > Yang saya ketahui sedikit Ruth Benedict mempunyai guru bernama Franz Boas, > > lalu punya murid namanya Talcott Parsons, dan muridnya lagi bernama Clifford > > Geertz, dan muridnya lagi bernama Abiyoso. Jadi cukup jelas kinship dari > > Neo-Boasian ini. Sedangkan buku "The Chrysanthemum and the Sword" itu > > ditulis semasa WW2 dengan menggunakan data-data sekunder, seperti dari > > koran, buku, dll; serta sempat mendapatkan data primer yaitu wawancara POW > > atau tentara Jepang yang ditawan oleh sekutu. Jadi konsep 'national > > character' yang dikonstruksi oleh Ruth, saya perkirakan adalah rumusan > > national character-nya Jepang, bukan Amerika. Buku ini selesai 1946 dan > > diserahkan kepada Presiden USA, dan menjadi landasan dalam kebijakan Amerika > > setelah itu; dan kemungkinan juga mendasari filosofi terbentuknya UN. > > > > Ruth merujuk "The Tale of the Forty-Seven Ronin" sebagai 'national epic', > > termasuk mengidentifikasi karakter moral orang Jepang sebagai obligasi > > universal (gimu) dan kongkrit (giri). Gimu pada kaisar ditunjukkan dari > > tidak mau menyerahnya orang Jepang pada WW2 sebelum kaisar sendiri yang > > mengatakan menyerah. Saya kira Pak Risfan lebih kredibel menjelaskan, karena > > membaca langsung, termasuk juga apresiasi yang dimiliki Pak Indra, Pak > > Irwan, Jehan, dll. > > > > Saya hanya fokus pada konsep Neo-Boasian yang dibawa oleh Ruth yang masih > > merujuk pada konsep difusi dan integrasi, yang pada kenyataannya masih > > relevan dengan globalisasi dan patut direvitalisasi (a.l. seperti kajian > > yang dilakukan oleh Abiyoso). Sebagaimana dengan misi teori-teori kebudayaan > > lainnya, Ruth mengembangkan pendekatan kebudayaan untuk menghadapi > > uniformality (keseragaman sosial yang dipaksakan). Pendekatannya lebih maju > > dari eranya, yaitu telah menggunakan agency dan society, yang sebenarnya > > mirip dengan pendekatan Bourdieu; termasuk dalam kategori 'theories of > > practice'. > > > > Konsep inti dari Neo-Boasian adalah mempercayai difusi (historical > > particularism) dan konfigurasi (integration), jadi tidak mengabaikan > > internal variation, sehingga juga bisa fokus pada tindakan orang(-orang). > > Neo-Boasian memperhitungkan 'boundaries', namun tidak berbentuk 'spatial', > > walaupun saya berpendapat sebaliknya. Satu pengertian yang saya peroleh dari > > Rosenblatt adalah "Boundaries help give conceptual order to the world, but > > they do so in ways that reflect how those who create them already order the > > world". Kalau saya terjemahkan secara bebas kurang lebih: "batasan-batasan > > dibuat supaya kehidupan menjadi tertata, dibangun melalui cara-cara yang > > mencerminkan keteraturan yang telah terbentuk sebelumnya". > > Saya kira hal ini yang menjadi point dari 'proyek nasionalisme', bahwa > > Indonesia bukanlah dibentuk oleh Soekarno-Hatta dan tim-tim pada masa itu; > > tetapi merupakan cerminan berbagai suku bangsa dan lapisan masyarakat yang > > menghendaki tatanan keteraturan yang lebih luas. > > > > Bila theory of practice-nya untuk kondisi kekinian mengarah pada > > integrasi/konfigurasi pendidikan-pangan-energi, saya harap Pak Risfan dapat > > melanjutkan thesisnya. > > Sementara demikian dulu. Salam. > > > > -ekadj > > > > 2009/11/9 Risfan M risfano@ > > > > > > > > > > > Uda Ekadj, Pak Aby dan rekans ysh, > > > > > > Eka, saya baca Ruth Benedict karena ingin mengenal budaya samurai lebih > > > jauh dan karena hobi saja. Soal East-West tentunya Pak Wawo lebih fasih > > > karena pernah jadi santri di kepulauan di Pacific yang letaknya di tengah > > > kancah East dan West itu. > > > > > > Tentang proyek nasionalisme (ini karena kadung reply) kalau menurut saya > > > mesti dilihat kondisi obyektif masa kini juga kali ya. Maksud saya situasi > > > Poleksosbudlinktek + Dana nya. Terlepas dari retorika atau teorinya. > > > > > > POLITIK - ada hubungan pusat - daerah; daerah - daerah; regional dan > > > internasional. Hubungan pusat daerah sedang dalam proses tarik menarik > > > desentralisasi berbagai urusan. Hubungan daerah-daerah juga sedang > > > menikmati > > > eforia otonomi baru dan coba-coba dengan identitas daerah (ada yang > > > mencari > > > akar etnik, ada yang agama). Serta situasi regional Asean++, masuknya > > > Indonesia ke G20, "kemesraan" China-USA. Semua ini tentu ada pengaruhnya. > > > > > > EKONOMI. Kenyataan bahwa banyak perusahaan besar di dalam negeri (termasuk > > > perbankan, eksploitasi SDA, pelayanan publik) dimiliki sahamnya oleh asing > > > dan diperjual belikan. Keharusan ekspor, ketergantungan pada impor. > > > Lapangan > > > kerja, angka kemiskinan. Pengaruhnya kepada kegiatan dan corak kehidupan > > > kita tentu besar. > > > > > > SOSIAL. Angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. Kesenjangan tingkat > > > kesejahteraan antar kelompok, antar daerah. Pelayanan kesehatan dan > > > pendidikan yang masih jauh dari harapan. > > > > > > BUDAYA. Sebetulnya aspek budaya yang selalu jadi tema "nasionalisme" > > > (menjadi Indonesia). Karena kalau orang tua memberi pesan kepada generasi > > > muda "kembali keakar budaya kita". Lah akar budaya kan berarti Jawa, > > > Sunda, > > > Minang dst. Tapi tak boleh kesukuan. Jadi yang mana? Sementara itu acara > > > TV > > > yang bisa dikatakan ekspresi budaya kan isinya "budaya barat dan pop > > > ibukota". Itu yang ditonton di seluruh tanah air dari metropolitan sampai > > > desa terpencil. Buat kita yang membesarkan anak di Jabodetabek dan kota > > > besar lain, apalagi yang kawin antar suku, soal budaya ini ya "apa yang > > > terjadi"lah. Apalagi budaya kaum marginal di kota besar (urbanisasi) lebih > > > kompleks lagi. > > > > > > LINGKUNGAN. Konon kita hidup di "ring of fire", untaian pulau-pulau, > > > dataran rendah dan pegunungan yang memang berisiko. Karena ekosistem, > > > wilayah "perairan dalam" nyatanya yang lebih layak dijadikan sarana > > > interaksi, karena "perairan luar" menghadapi ombak samudera yang besar, > > > dan > > > belakangan tzunami dan gempa bumi. Soal lingkungan juga soal sulitnya > > > mengendalikan keserakahan orang telah banyak merusak lingkungan di hutan, > > > gunung, dataran, laut dan kota. Perlu jadi agenda nasional yang urgen > > > juga. > > > > > > TEKNOLOGI. Teknologi komunikasi seperti TV menyajikan harapan (janji) > > > besar > > > kepada orang desa terpencil sekalipun, akan indahnya, mewahnya hidup di > > > kota. Orang desa jadi melihat lingkungan hidup, ekonomi, budaya sekitarnya > > > begitu papa.Teknologi transportasi bagus di Jawa, tapi di Kalimantan, > > > Papua, > > > apalagi di kepulauan masih jauh dari harapan. > > > > > > Dan terakhir, menyangkut ANGGARAN. Adakah anggaran yang memadai bagi > > > (utamanya pemerintah tentu) untuk melaksanakan suatu Grand Design apapun? > > > Apakah masih ada keleluasaan memilih-milih model, orientasi, dst tanpa > > > risiko kedodoroan? > > > > > > Tidak berlebihan kalau ada yang mengingatkan akan pentingnya fokus > > > prioritas kepada "PENDIDIKAN, PANGAN, ENERGI' karena boleh jadi kedaulatan > > > (nasionalisme) kita masa kini dan mendatang tergantung pada tiga hal itu. > > > > > > Faktor pengikat lainnya barangkali kesamaan nasib hidup di "ring of fire" > > > yang berisiko ditambah risiko banjir yang terjadi dimana-mana karena > > > gundulnya hutan (hampir semua kita menyukai kayu untuk bangunan). Budaya > > > dan > > > etika yang mendesak diterapkan barangkali ya "hemat energi, kurangi > > > pemakaian kayu", sadar lingkungan, sadar kelangkaan, sadar anti korupsi > > > (kirim bingkisan mungkin adalah contoh budaya korupsi paling nyata dalam > > > budaya kita). Bagaimana pula sikap kita terhadap sumber energi nuklir? > > > Serta > > > kampanye kemandirian energi dengan teknologi tepat guna (appropriate)

