Its ok.. Informatif koq..
ini yg bikin seru diskusi..

menyikapi Polygamy;
Kalo normatif akan jadi non-ilmu..

Saya lebih memilih pendekatan sosial-empiric..

Menurut saya, kalao secara ilmiah disepakati bahwa polygamy tidak baik bagi 
masyarakat secara umum, maka pemerintah sebaiknya tidak menggunakan police 
power, seperti perppu anti-polygamy.. Tapi focus ke penyuluhan &pemberdayaan 
perempuan..

Saya sendiri sih ogah polygamy.. Makin banyak istri, makin banyak mertua... 
Hahahaha..


Salam,
-K-





Pedal Powered BikeBerry


-----Original Message-----
From: Risfan Munir <[email protected]>
Date: Thu, 19 Nov 2009 05:40:08 
To: <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Mbu Nenekku

Pak Aby, Koko dan rekans ysh,

Apakah diskusi ini akhirnya dibawa ke isyu "hidup sederhana" juga "poligami"?
Saya jadi ingat cerita guru saya jaman dulu, yang mengisahkan adanya debat 
antara seorang Pemimpin vs Natsir. Yang mana sang Pemimpin bersikeras "anti 
poligami" sementara Natsir sebagai ulama menyampaikan pandangan normatif 
agamanya bahwa poligami dalam "kondisi tertentu" boleh, dengan berbagai syarat 
terutama "adil". 
Kenyataan sejarah mencatat Natsir selalu hidup sederhana dan tidak berpoligami.
Sorry, ini sudah di luar konteks Referensi kali ya.

Salam,
RM





-----Original Message-----
From: Harya Setyaka <[email protected]>
Sent: Wednesday, November 18, 2009 11:42 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: Mbu Nenekku

 


Memang sangat iba mendengar kisah Ibu Fatmawati, korban Poligami..
Kontras sekali dengan Naoko Nemoto, aka. Ratna Dewi Soekarno.. yg dinikahi 
Soekarno pada usia 19 tahun, ketika itu Soekarno berusia 57 tahun, pada tahun 
1959 ..

Sepeninggal Sukarno, Dewi melanjutkan hidupnya sebagai sosialita di Swiss, 
Perancis dan USA ..
Sekarang tinggal di rumah mewah di Tokyo ..

mungkin kalao ada gerakan anti-poligami (yg menurut saya penting), bisa 
mengambil nama Fatmawati...


Salam,
-K-


 selebihnya:

http://www.nytimes.com/1998/02/17/world/jakarta-journal-weighty-past-pins-the-wings-of-a-social-butterfly.html?sec=&spon=&pagewanted=print



From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: Mbu Nenekku
To: kebuday...@yahoogro ups.com, "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>, 
"plbpm" <pl...@yahoogroups. com>, futurol...@yahoogro ups.com

Date: Tuesday, November 17, 2009, 5:57 PM

 
 
Puti namaku… itu nama pemberian Mbu (nenek) tercinta…..
Aku terkenang setiap magrib Mbu mengaji ….aku berbaring di dekatnya dan ah... 
suaranya merdu sekali……..
Mbu sebenarnya tinggal di Kebayoran tapi untuk sementara waktu menemani kami di 
Cempaka putih……
Ketika aku masih sekolah SMP di Cikini….. Mbu sering menjemputku dengan naik 
bajaj ….. maklum Mbu tak punya mobil ……sebelum pulang kami membeli lotek 
didekat situ lalu berdua kami naik bajaj pulang ke Cempaka Putih ……..
Selain mengajarkan tentang kesederhanaan….Mbu itu orang pertama yang 
mengajariku untuk senang membaca… Dia membuka wawasan seorang makhluk kecil ini 
untuk menjadi pintar…….
Aku ingat pernah dibelikannya komik serial Mahabharata karya RA Kosasih…. 
beliau membelikan aku buku-buku dari tukang loak…..  
Tukang loak?….. Ya, tukang loak..... Aku pernah bertanya….. mengapa Mbu beli 
buku dari tukang loak dan bukannya dari toko buk?..... Jawabnya, karena uangku 
tidak cukup untuk membeli buku di toko buku, Puti…. begitu katanya……..
“Puti…… siapa sih Mbu itu?.....”.
"Beliau itu ibu dari ayahku….ia mantan first lady pertama negeri ini…...namanya 
Fatmawati Sukarno……”.
 
 
 
 




Kirim email ke