Pak Risfan ysh, Bawa ke isyu poligami?....Kalau saya sih nggak lah ya…… entahlah kalau oleh penulis lainnya.. tapi siapa tahu lho ada gunanya juga utk nambah wawasan bagi masy. planners khususnya bagi yg sdh pada mapan …. Dan bukankah ckp menarik utk para beliau…. spt kata anda dan Natsir …ada celah permission utk ‘kondisi tertentu’ serta asalkan bisa adil…… Kalau ttg isyu ‘hidup sederhana’ …..saya kira itu tetap amat sgt relevan dikaitkan dgn nasionalisme/ rasa cinta bangsa dan negara dan utk ‘morality in planning’ supaya tdk condong ke hedonism dan profesionalism yg keliru….. jg utk mengingatkan kembali para kawula muda dan imut ….khususnya yg msh ngeres berpikir curiga ttg kemewahan hidup yg dikira dikejar oleh para pemimpin utama perjuangan kemerdekaan kita kala itu…… Kalau yg berkait konteks Referensi … emang sih… saya jg masih blm selesai dgn lanjutan diskusi dgn bos saya yg di Paris…. salam, aby
--- On Wed, 11/18/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote: From: Risfan Munir <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: Mbu Nenekku To: [email protected] Date: Wednesday, November 18, 2009, 2:40 PM Pak Aby, Koko dan rekans ysh, Apakah diskusi ini akhirnya dibawa ke isyu "hidup sederhana" juga "poligami"? Saya jadi ingat cerita guru saya jaman dulu, yang mengisahkan adanya debat antara seorang Pemimpin vs Natsir. Yang mana sang Pemimpin bersikeras "anti poligami" sementara Natsir sebagai ulama menyampaikan pandangan normatif agamanya bahwa poligami dalam "kondisi tertentu" boleh, dengan berbagai syarat terutama "adil". Kenyataan sejarah mencatat Natsir selalu hidup sederhana dan tidak berpoligami. Sorry, ini sudah di luar konteks Referensi kali ya. Salam, RM From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Sent: Wednesday, November 18, 2009 11:42 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: Mbu Nenekku Memang sangat iba mendengar kisah Ibu Fatmawati, korban Poligami.. Kontras sekali dengan Naoko Nemoto, aka. Ratna Dewi Soekarno.. yg dinikahi Soekarno pada usia 19 tahun, ketika itu Soekarno berusia 57 tahun, pada tahun 1959 .. Sepeninggal Sukarno, Dewi melanjutkan hidupnya sebagai sosialita di Swiss, Perancis dan USA .. Sekarang tinggal di rumah mewah di Tokyo .. mungkin kalao ada gerakan anti-poligami (yg menurut saya penting), bisa mengambil nama Fatmawati... Salam, -K- selebihnya: http://www.nytimes. com/1998/ 02/17/world/ jakarta-journal- weighty-past- pins-the- wings-of- a-social- butterfly. html?sec=&spon=&pagewanted=print From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: Mbu Nenekku To: kebuday...@yahoogro ups.com, "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com>, "plbpm" <pl...@yahoogroups. com>, futurol...@yahoogro ups.com Date: Tuesday, November 17, 2009, 5:57 PM Puti namaku… itu nama pemberian Mbu (nenek) tercinta….. Aku terkenang setiap magrib Mbu mengaji ….aku berbaring di dekatnya dan ah.. suaranya merdu sekali…….. Mbu sebenarnya tinggal di Kebayoran tapi untuk sementara waktu menemani kami di Cempaka putih…… Ketika aku masih sekolah SMP di Cikini….. Mbu sering menjemputku dengan naik bajaj ….. maklum Mbu tak punya mobil ……sebelum pulang kami membeli lotek didekat situ lalu berdua kami naik bajaj pulang ke Cempaka Putih …….. Selain mengajarkan tentang kesederhanaan… .Mbu itu orang pertama yang mengajariku untuk senang membaca… Dia membuka wawasan seorang makhluk kecil ini untuk menjadi pintar……. Aku ingat pernah dibelikannya komik serial Mahabharata karya RA Kosasih…. beliau membelikan aku buku-buku dari tukang loak….. Tukang loak?….. Ya, tukang loak..... Aku pernah bertanya….. mengapa Mbu beli buku dari tukang loak dan bukannya dari toko buk?..... Jawabnya, karena uangku tidak cukup untuk membeli buku di toko buku, Puti…. begitu katanya…….. “Puti…… siapa sih Mbu itu?.....”. "Beliau itu ibu dari ayahku….ia mantan first lady pertama negeri ini…....namanya Fatmawati Sukarno……”.

