Spertinya ini lebih menjawab permasalahan di Singapore.. 
Baik dari segi demand lahan, maupun supply duit/private equity..

Sebagaimana kota2 yg dibangun top-down, akan kembali terjadi dualisme 
Kota&Kampung..
Ada bagian kota yg terbangun hyper-modern, ada pula yg kondisinya tetap buruk& 
makin terancam penggusuran..

Salam,
-K-














Pedal Powered BikeBerry


-----Original Message-----
From: <[email protected]>
Date: Thu, 19 Nov 2009 03:20:57 
To: milis referensi<[email protected]>
Subject: [referensi] Sumatera: Arena baru pembangunan superblok di Indonesia?

Dari Harian Kompas, 19 November 2009
 
Beberapa pengembang mulai menjadikan beberapa kota di Sumatera (Batam, Medan 
dan Palembang) sebagai arena baru dalam pembangunan superblok...
 
Apakah pembangunan superblok2 tsb mampu menjadi elemen urban regeneration bagi 
kota-kota tsb, atau hanya sekedar menjadi spekulasi properti saja..? Pertanyaan 
selanjutnya apakah superblok tersebut juga mampu meningkatkan kebangkitan 
perekonomian kota dan wilayah sekitar, atau hanya akan sekedar menjadi asesoris 
penghias kota..?
 
Bagaimana kira-kira pendapat Bapak-bapak, Ibu-ibu dan rekan-rekan sahabat 
referensiers..? 
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 
 
Superblok: Peluang Pasar yang Besar, Ada di Luar Pulau Jawa













 


Kamis, 19 November 2009 | 17:53 WIB
Laporan wartawan KONTAN Martha Dian Novita,Titis Nurdiana


KOMPAS.com -   PENGEMBANG properti mulai membangun kawasan superblok di 
daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Selain karena ada potensi pasar, alasan 
lainnya karena pasar properti di Pulau Jawa mulai sesak. Bagaimana prospek 
investasi di sana? Pembangunan kawasan superblok di Jakarta dan Pulau Jawa, 
hingga saat ini belum ada yang sepenuhnya selesai. Namun, para pengembang 
properti sudah mulai latah membangun kawasan terintegrasi tersebut di berbagai 
daerah di luar Pulau Jawa.

Sebut saja pengembang Grand Uway Development, yang kini tengah dalam proses 
membangun superblok bernama Grand Quarter, di kawasan Batam. Proyek mixed used 
berisi mal, apartemen, kondotel, sampai waterpark itu sudah mulai dibangun pada 
Agustus 2009 lalu, dan rencananya akan selesai tahun 2011.

Kemudian ada juga Sinar Menara Deli, yang membangun kawasan superblok pertama 
di Medan, Sumatera Utara dengan nama Deli Grand City. Pada tahap awal, Sinar 
Menara yang merupakan bagian dari Grup Kompak, akan membangun mal dan 
kondominium satu menara setinggi 33 lantai.

Walau merupakan proyek perdana, para pengembang itu tak mau tanggung-tanggung 
dalam berinvestasi. Nilai proyek Deli Grand City misalnya, ditaksir mencapai 
angka Rp 2,5 triliun. Sementara proyek Grand Quarter, sampai US$ 120 juta atau 
sekitar Rp 1,2 triliun.

Melihat keberanian pengembang mematok angka cukup tinggi, tentu mereka cukup 
yakin dengan prospek pasar proyek tersebut. “Lokasi kami ditunjang view yang 
bagus karena terletak di tepi sungai. Kami yakin, investasi disini bisa naik 
15%-20% per tahun,” kata Wilson Chandra, Marketing Executive Sinar Menara Deli.

Grand Uway juga memiliki optimisme yang sama. Chief Operation Officer Grand 
Uway, Totonafo Lase bilang, Grand Quarter adalah proyek superblok pertama di 
Batam. Jadi, belum banyak pesaing. “Peluang untung besar,” ujarnya. Proyek 
superblok itu juga diuntungkan oleh lokasinya yang berada di Batam, kawasan 
transit bagi warga asing yang ingin berwisata atau berbisnis di wilayah 
Indonesia.

Pengamat properti Ali Tranghanda menilai, Batam memang lahan empuk buat 
pembangunan superblok. Pulau tersebut terletak di area free trade zone yang 
sering kedatangan konsumen dari Singapura atau Malaysia. “Superblok menjawab 
kebutuhan hotel dan tempat konvensi di Batam,” terangnya.

Di atas bunga bank
Menurut pengamat properti sekaligus Kepala Riset Jones Lang Lasalle, Anton 
Sitorus, selain karena menjawab kebutuhan pasar, kemunculan superblok di daerah 
terjadi karena proyek superblok di Jawa atau Jakarta sudah padat. “Investasi di 
Jakarta jadi terlihat kurang menguntungkan,” katanya.

Akhirnya, para pengembang mencari daerah yang dianggap punya potensi sebagai 
pusat bisnis. Misalnya, daerah dengan potensi sumber daya alam besar seperti 
Pekanbaru yang kaya akan minyak, atau Pulau Bali yang memiliki potensi wisata 
yang besar.

Beberapa daerah lain seperti Medan, Palembang, Balikpapan, Pontianak, Makasar, 
kini juga menjadi target para pengembang. “Mereka bisa menjadi yang pertama di 
daerah tersebut, persaingannya jadi tidak ada,” ungkapnya.

Biasanya sebelum berinvestasi pengembang akan melihat dua faktor. Pertama, 
faktor keuntungan dari proyek. Kedua, capital gain, atau potensi keuntungan 
bila properti tersebut nantinya dijual kembali, juga harus tinggi. “Patokannya, 
keuntungan harus lebih tinggi dari bunga bank,” ujar Anton.

Ali berpendapat, membangun superblok di daerah, menguntungkan dari segi lahan. 
Selain jumlah lahan masih luas, harganya juga masih lebih murah. Beberapa 
daerah ada yang harga tanahnya masih seperenam hingga sepersepuluh harga tanah 
di Jakarta.

Nah, bila ditata secara benar, menurut dia nilai tanah bisa meningkat hingga 
dua kali lipat dalam waktu singkat. Namun, agar sukses, investor perlu 
memperhatikan kondisi dan kebutuhan pasar setempat.

Karena, tiap daerah memiliki karakter atau kekhususan masing-masing. Surabaya 
misalnya, meski merupakan kota besar, memiliki sifat tradisional yang kental. 
Jadi, superblok akan banyak didominasi oleh ruko-ruko. Adapun Manado yang kaya 
akan obyek wisata, harusnya memiliki superblok yang banyak berisi hunian 
menengah ke atas, tempat konvensi, atau hotel mewah.

Mau melongok investasi superblok di luar Pulau Jawa? Berikut beberapa 
diantaranya.

Deli Grand City, Medan
Konsep superblok yang berdiri di atas lahan seluas 5,2 hektare (ha) ini adalah 
gabungan antara shopping mall, convention hall, apartemen, dan kondotel. “Kami 
berniat menggabungkan pusat bisnis dan investasi,” terang Wilson.

Di kawasan ini bakal berdiri tiga menara kondotel, satu menara perkantoran, 
plus pusat perbelanjaan enam lantai. Tata Internasional didaulat menjadi 
konsultan proyek superblok pertama di Medan ini.

Pada tahap awal, Sinar Menara selaku pengembang bakal membangun mal dan 
kondominium satu menara setinggi 33 lantai. Di dalamnya ada 40 unit 
kondominium. “Yang sudah laku saat ini sekitar 35 persen,” papar Wilson. 
Targetnya, akhir tahun bisa sampai 50 persen.

Sinar Menara menawarkan harga kondominium antara Rp 1 miliar hingga Rp 1,7 
miliar. “Makin ke atas biasanya makin mahal,” kata Wilson. Rencananya, dua 
lantai teratas akan dibuat penthouse. Pemilik kondotel bisa menjadikannya 
sebagai hunian, atau menyewakannya.

Perusahaan juga sudah menawarkan kios atau gerai di mal, yang memiliki luas 
kurang lebih 189.000 m². Sistim yang dipakai adalah sewa, seharga Rp 400 juta 
sampai Rp 1,7 miliar untuk sewa selama 20 tahun. Dari total 1.000 kios, sudah 
dipesan sekitar 45 persennya. Carrefour tercatat sebagai salah satu tenant di 
mal ini.

Grand Quarter, Batam
Pengembang Grand Quarter yakni Grand Uway Development, adalah perusahaan hasil 
kongsi antara pengembang lokal Batam, PT Uway Makmur, beserta Totonafo Lase dan 
Ansyar Heryadi.

Dalam proyek superblok yang berdiri di atas lahan seluas 15 ha ini, Grand Uway 
akan membangun apartemen 18 lantai berkapasitas 179 unit. Adapun kondotelnya 
akan memiliki tinggi hingga 11 lantai, berisi 280 unit. Di luar itu masih ada 
mal, serta ruang konvensi berstandar internasional dengan kapasitas daya 
tampung hingga 3.000 orang.

Kontraktor utama proyek ini, di luar kontraktor pemancangan adalah Dragages 
Singapore Pte Ltd, anak usaha perusahaan kontraktor asal Perancis, Bouygues 
Batimen. Rencananya, Dragages akan membangun superblok dalam dua tahap.

Tahap pertama pusat rekreasi waterpark, kondotel, apartemen dan ruang konvensi. 
Selanjutnya, sport mall, lifestyle center, dan clubhouse. Saat ini mereka baru 
memasarkan kondotelnya. Sasaran investor Grand Quarter adalah dari Indonesia, 
Batam, Singapura, Malaysia, hingga Korea. “Sampai akhir tahun, target kami 10 
persen dari total kondominium akan terjual,” kata Totonafo.

Pasalnya, sudah ada investor institusi yang berniat membeli 5-10 unit 
kondominium itu secara gelondongan. “Bila perusahaan yang membeli, bisa 
menjadikan kondotel sebagai hak milik atau aset usaha,” tambah Totonafo.

Kondotel Grand Quarter dibanderol di harga Sing$ 85.000 untuk ukuran terkecil 
atau superior, seluas 35 meter persegi (m2). Dua unit lainnya yakni tipe suite 
seluas 75  m² dan tipe executive seluas 110  m², harganya masing-masing  
170.000 dollar Singapura dan 380.000 dollar Singapura. 

Selama tiga tahun pertama, investor berhak akan imbal hasil 6% per tahun, dari 
nilai investasi. Setelah itu sistemnya bagi hasil. Jika membeli tunai, investor 
akan memperoleh pengembalian (cash back) 3 persen.

The Fame City Walk, Palembang
Satu superblok merangsek ke Kota Palembang, Sumatera Selatan. Namanya, The Fame 
City Walk. Pengembang superblok berkonsep lifestyle itu adalah Istana Kenten 
Indah (IKI Group), pengembang lokal yang banyak bermain di proyek perumahan.

Kawasan terpadu The Fame terdiri dari kawasan one stop business berisi bangunan 
pertokoan, perbankan, dan perkantoran. Kemudian di dalamnya juga ada citywalk, 
berisi tempat belanja, makan, dan rekreasi. Tersedia pula kondotel dan tempat 
konvensi.

Pada saat peluncuran, pihak manajemen memperkirakan proyek properti ini bisa 
menyajikan kenaikan nilai properti antara 12 persen hingga 15 persen per tahun. 
Sayang, hingga berita ini diturunkan tidak ada pihak manajemen IKI Group yang 
bisa memberi keterangan tentang kabar terbaru proyek ini.

Irfin Agus Salim, staf marketing IKI Group yang dihubungi via telepon hanya 
menjawab singkat. “Proyek masih dalam pembangunan,” katanya. (Martha Dian 
Novita | Titis Nurdiana | Veby Mega/KONTAN Weekend)
 
 


      

Kirim email ke