+++++:  Beberapa pengembang mulai menjadikan beberapa kota di Sumatera (Batam, 
Medan dan Palembang) sebagai arena baru dalam pembangunan superblok...
 Apakah pembangunan superblok2 tsb mampu menjadi elemen urban regeneration bagi 
kota-kota tsb, atau hanya sekedar menjadi spekulasi properti saja..? 
>>>>: bag.  terbesar dari masy. Indonesia yg bekerja disektor halal dan sektor 
>>>>kerja keras tak ada pilihan lain  kecuali hrs bekerja dan berproduktivitas 
>>>>dibidang ekonomi dan industri……mrk tak mungkin hanya menggerombol 
>>>>mengharapkan tender APBN terus ...atau bekerja seluruhnya diladang (onfarm) 
>>>>.... jadi realitasnya adalah bekerja dikota …dikewiraswastaan dan disektor 
>>>>industri manufaktur serta jasa….
Pertumbuhan perekonomian perkotaan tentu  membutuhkan akomodasi ruang2…. baik 
ruang2 produksi ….ruang2 pemasaran …ruang meeting dan negosiasi ....ruang 
perkantoran …ruang2 tinggal ..ruang rekreasi kota….. Ttg apakah itu hanya 
sekedar spekulasi properti saja ……tentu unsur itu ada …namun tambahan kebutuhan 
ttg ruang ‘kewiraswastaan kota’ itu pastilah selalu ada … walaupun prosesnya 
mungkin tidak sepesat optimisme para developers..….
++++: Pertanyaan selanjutnya apakah superblok tersebut juga mampu meningkatkan 
kebangkitan perekonomian kota dan wilayah sekitar, atau hanya akan sekedar 
menjadi asesoris penghias kota..?
>>>>: mrk yg berinvestasi secara besar2an itu pastilah tlh punya hitung2annya 
>>>>…bukan asal ngawur saja dan gambling..… bank yg mengucurkan uangnya jg 
>>>>pastilah sdh ekstra hati2 dan memandangnya sbg layak.... perekonomian yg 
>>>>tumbuh diatas 6% pastilah dampak wujudnya a.l. akan berupa kebangkitan 
>>>>perekonomian kota dan wilayah sekitarnya dgn material semen, pasir dan besi 
>>>>beton selain jg alat angkut roda 4, tiket pesawat, alat komunikasi hp. 
>>>>tlpon, email, fax dan pastilah juga urbanisasi dan migrasi serta tak kalah 
>>>>penting sektor informal..……
 
@@@@: Spertinya ini lebih menjawab permasalahan di Singapore.. 
Baik dari segi demand lahan, maupun supply duit/private equity..
>>>>: menjawab masalah ini bisa dgn bbrp aspek…..yg pertama misalnya 
>>>>…..keraguan, sinisme,  atau sikap apriori dari planners thd aktivitas 
>>>>industri properti… aplg yg dilakukan jauh bukan ditanah jawa botabek dgn 
>>>>mengurug sawah ….bisa berbalik mengundang  sinisme dari masyarakat industri 
>>>>properties spt arsitek, sipil, interior dan tentu para ekonom investors 
>>>>….mrk bisa ganti bilang ….lha yg digambar2 oleh planners ttg zonasi dan 
>>>>RDTR itu bukankah imajinasi  dan harapan ttg dibangunnya deretan properties 
>>>>dimana didalamnya bisa  berjalan  aktivitas bisnis dan lalu terbuka peluang 
>>>>kesempatan kerja orang2 kantoran pasca proses konstruksi, atau buruh 
>>>>bangunan kala proses konstruksinya? .....lalu perekonomian wilayah jadi 
>>>>berkembang? .....lha kok malah sinis?.......
Kalau kegiatan yg  sudah jauh2 dilakukan diluar Jawa.. bahkan diperbatasan dgn 
negara tetangga, sdh tidak makai APBN, tapi makai duwit sendiri walau boleh 
ngutang …. masih dicibir juga …mrk bisa ganti balik bertanya galak… emangnya 
apa sih pada maunya serta isi pikiran masyarakat intelektual planning itu? 
......membuat lukisan abstrak yg bernama RTRW atau RDTR?..... 
Kedua, kalau ngomong Singapore …brkali yg dimaksud lbh menyangkut  Batam 
….Singapore dulu jg awalnya dibangun dari nol ……jadi wajar bhw Batam atau Johor 
juga mulai dari 0, 1, 2, 3 lalu lama2 jg akan jadi 10,11 dan lama2 jg jadi 20, 
21 dst… setidaknya walau pelan namun pasti Johor dan Batam akan menjadi pesaing 
S’pore …..selain menjadi limpahan investasi industri dari S’pore… setidaknya 
saat ini Batam Bintan Karimun menjadi tempat investasi dari bbrp negara Eropa, 
AS dan Asia Timur….baik utk industri galangan kapal dsb…. selain jg menjadi 
tujuan wisata penduduk S’pore dan Malaysia….. kalau ingat bhw S’pore selalu 
menjadi tempat pelarian para penjahat keuangan kelas kakap kita dan S’pore 
menolak perjanjian ekstradisi dgn syarat wajar ….lalu kita lihat penduduk kita 
getol datang,  belanja bahkan beli 20% apartemen di S’pore ….yg itu tentu mrpkn 
sikap yg kurang nasionalistik …...dgn nasionalisme yg baru ….kebiasaan
 kurang patriotik itu kiranya bisa diubah menjadi mengutamakan datang,  
menginap dan belanja di Batam … dan ke S’pore hanya nyebrang pake feri, jalan2 
, tak usah nginep, paling sedikit makan siang dan lsg  pulang lagi ke Batam……
 
@@@@:  Sebagaimana kota2 yg dibangun top-down, akan kembali terjadi dualisme 
Kota&Kampung..
Ada bagian kota yg terbangun hyper-modern, ada pula yg kondisinya tetap buruk 
makin terancam penggusuran. .
>>>>: Dualisme abadi itu biar saja tak mengapa …..tak usah dipusingkan … krn 
>>>>isi dunia itu akan selalu begitu ….walau di AS sekalipun…. Selalu akan  ada 
>>>>sikaya dan simiskin/ si pas-pasan ….. tak mungkinlah semuanya jadi bos  dan 
>>>>berumah bagus semua… jadi selalu harus ada bawahan…. Ada rakyat ada 
>>>>pemimpin…. Ada kelas menengah atas ada klas bawah …demikian dst ….bagian 
>>>>kota yg buruk tak selalu solusinya adalah penggusuran ….tapi bukankah malah 
>>>>peremajaan atau revitalisasi?…… kalau yg digusur pastilah yg ilegal dan 
>>>>amat tak sesuai dgn rencana kota …dimana rencana kota bukanlah binatang 
>>>>haram tapi adalah sesuatu yg jg telah disetujui oleh dewan rakyat 
>>>>…..peralihan peruntukkan bagian wilayah kota tentu tak lalu memakai cara 
>>>>gusur yg semena2 .. tetapi memakai penggantian kerugian bg yg berhak…… tak 
>>>>semua simiskin kota adlh bersikap liar dan bandel serta selalu melanggar 
>>>>etika tata kota ….banyak yg taat hukum dan pro
 pembangunan kota….…salam,
aby 
 


--- On Thu, 11/19/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:






Spertinya ini lebih menjawab permasalahan di Singapore.. 
Baik dari segi demand lahan, maupun supply duit/private equity..

Sebagaimana kota2 yg dibangun top-down, akan kembali terjadi dualisme 
Kota&Kampung..
Ada bagian kota yg terbangun hyper-modern, ada pula yg kondisinya tetap buruk 
makin terancam penggusuran. .

Salam,
-K-

From: <efha_mardiansjah@ yahoo.com> 
Date: Thu, 19 Nov 2009 03:20:57 -0800 (PST)
To: milis referensi<refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: [referensi] Sumatera: Arena baru pembangunan superblok di Indonesia?

  






Dari Harian Kompas, 19 November 2009
 
Beberapa pengembang mulai menjadikan beberapa kota di Sumatera (Batam, Medan 
dan Palembang) sebagai arena baru dalam pembangunan superblok...
 
Apakah pembangunan superblok2 tsb mampu menjadi elemen urban regeneration bagi 
kota-kota tsb, atau hanya sekedar menjadi spekulasi properti saja..? Pertanyaan 
selanjutnya apakah superblok tersebut juga mampu meningkatkan kebangkitan 
perekonomian kota dan wilayah sekitar, atau hanya akan sekedar menjadi asesoris 
penghias kota..?
 
Bagaimana kira-kira pendapat Bapak-bapak, Ibu-ibu dan rekan-rekan sahabat 
referensiers. .? 
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 
 
Superblok: Peluang Pasar yang Besar, Ada di Luar Pulau Jawa













 


Kamis, 19 November 2009 | 17:53 WIB
Laporan wartawan KONTAN Martha Dian Novita,Titis Nurdiana


KOMPAS.com -   PENGEMBANG properti mulai membangun kawasan superblok di 
daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Selain karena ada potensi pasar, alasan 
lainnya karena pasar properti di Pulau Jawa mulai sesak. Bagaimana prospek 
investasi di sana? Pembangunan kawasan superblok di Jakarta dan Pulau Jawa, 
hingga saat ini belum ada yang sepenuhnya selesai. Namun, para pengembang 
properti sudah mulai latah membangun kawasan terintegrasi tersebut di berbagai 
daerah di luar Pulau Jawa.

Sebut saja pengembang Grand Uway Development, yang kini tengah dalam proses 
membangun superblok bernama Grand Quarter, di kawasan Batam. Proyek mixed used 
berisi mal, apartemen, kondotel, sampai waterpark itu sudah mulai dibangun pada 
Agustus 2009 lalu, dan rencananya akan selesai tahun 2011.

Kemudian ada juga Sinar Menara Deli, yang membangun kawasan superblok pertama 
di Medan, Sumatera Utara dengan nama Deli Grand City. Pada tahap awal, Sinar 
Menara yang merupakan bagian dari Grup Kompak, akan membangun mal dan 
kondominium satu menara setinggi 33 lantai.

Walau merupakan proyek perdana, para pengembang itu tak mau tanggung-tanggung 
dalam berinvestasi. Nilai proyek Deli Grand City misalnya, ditaksir mencapai 
angka Rp 2,5 triliun. Sementara proyek Grand Quarter, sampai US$ 120 juta atau 
sekitar Rp 1,2 triliun.

Melihat keberanian pengembang mematok angka cukup tinggi, tentu mereka cukup 
yakin dengan prospek pasar proyek tersebut. “Lokasi kami ditunjang view yang 
bagus karena terletak di tepi sungai. Kami yakin, investasi disini bisa naik 
15%-20% per tahun,” kata Wilson Chandra, Marketing Executive Sinar Menara Deli.

Grand Uway juga memiliki optimisme yang sama. Chief Operation Officer Grand 
Uway, Totonafo Lase bilang, Grand Quarter adalah proyek superblok pertama di 
Batam. Jadi, belum banyak pesaing. “Peluang untung besar,” ujarnya. Proyek 
superblok itu juga diuntungkan oleh lokasinya yang berada di Batam, kawasan 
transit bagi warga asing yang ingin berwisata atau berbisnis di wilayah 
Indonesia.

Pengamat properti Ali Tranghanda menilai, Batam memang lahan empuk buat 
pembangunan superblok. Pulau tersebut terletak di area free trade zone yang 
sering kedatangan konsumen dari Singapura atau Malaysia. “Superblok menjawab 
kebutuhan hotel dan tempat konvensi di Batam,” terangnya.

Di atas bunga bank
Menurut pengamat properti sekaligus Kepala Riset Jones Lang Lasalle, Anton 
Sitorus, selain karena menjawab kebutuhan pasar, kemunculan superblok di daerah 
terjadi karena proyek superblok di Jawa atau Jakarta sudah padat. “Investasi di 
Jakarta jadi terlihat kurang menguntungkan,” katanya.

Akhirnya, para pengembang mencari daerah yang dianggap punya potensi sebagai 
pusat bisnis. Misalnya, daerah dengan potensi sumber daya alam besar seperti 
Pekanbaru yang kaya akan minyak, atau Pulau Bali yang memiliki potensi wisata 
yang besar.

Beberapa daerah lain seperti Medan, Palembang, Balikpapan, Pontianak, Makasar, 
kini juga menjadi target para pengembang. “Mereka bisa menjadi yang pertama di 
daerah tersebut, persaingannya jadi tidak ada,” ungkapnya.

Biasanya sebelum berinvestasi pengembang akan melihat dua faktor. Pertama, 
faktor keuntungan dari proyek. Kedua, capital gain, atau potensi keuntungan 
bila properti tersebut nantinya dijual kembali, juga harus tinggi. “Patokannya, 
keuntungan harus lebih tinggi dari bunga bank,” ujar Anton.

Ali berpendapat, membangun superblok di daerah, menguntungkan dari segi lahan. 
Selain jumlah lahan masih luas, harganya juga masih lebih murah. Beberapa 
daerah ada yang harga tanahnya masih seperenam hingga sepersepuluh harga tanah 
di Jakarta.

Nah, bila ditata secara benar, menurut dia nilai tanah bisa meningkat hingga 
dua kali lipat dalam waktu singkat. Namun, agar sukses, investor perlu 
memperhatikan kondisi dan kebutuhan pasar setempat.

Karena, tiap daerah memiliki karakter atau kekhususan masing-masing. Surabaya 
misalnya, meski merupakan kota besar, memiliki sifat tradisional yang kental. 
Jadi, superblok akan banyak didominasi oleh ruko-ruko. Adapun Manado yang kaya 
akan obyek wisata, harusnya memiliki superblok yang banyak berisi hunian 
menengah ke atas, tempat konvensi, atau hotel mewah.

Mau melongok investasi superblok di luar Pulau Jawa? Berikut beberapa 
diantaranya.

Deli Grand City, Medan
Konsep superblok yang berdiri di atas lahan seluas 5,2 hektare (ha) ini adalah 
gabungan antara shopping mall, convention hall, apartemen, dan kondotel. “Kami 
berniat menggabungkan pusat bisnis dan investasi,” terang Wilson.

Di kawasan ini bakal berdiri tiga menara kondotel, satu menara perkantoran, 
plus pusat perbelanjaan enam lantai. Tata Internasional didaulat menjadi 
konsultan proyek superblok pertama di Medan ini.

Pada tahap awal, Sinar Menara selaku pengembang bakal membangun mal dan 
kondominium satu menara setinggi 33 lantai. Di dalamnya ada 40 unit 
kondominium. “Yang sudah laku saat ini sekitar 35 persen,” papar Wilson. 
Targetnya, akhir tahun bisa sampai 50 persen.

Sinar Menara menawarkan harga kondominium antara Rp 1 miliar hingga Rp 1,7 
miliar. “Makin ke atas biasanya makin mahal,” kata Wilson. Rencananya, dua 
lantai teratas akan dibuat penthouse. Pemilik kondotel bisa menjadikannya 
sebagai hunian, atau menyewakannya.

Perusahaan juga sudah menawarkan kios atau gerai di mal, yang memiliki luas 
kurang lebih 189.000 m². Sistim yang dipakai adalah sewa, seharga Rp 400 juta 
sampai Rp 1,7 miliar untuk sewa selama 20 tahun. Dari total 1.000 kios, sudah 
dipesan sekitar 45 persennya. Carrefour tercatat sebagai salah satu tenant di 
mal ini.

Grand Quarter, Batam
Pengembang Grand Quarter yakni Grand Uway Development, adalah perusahaan hasil 
kongsi antara pengembang lokal Batam, PT Uway Makmur, beserta Totonafo Lase dan 
Ansyar Heryadi.

Dalam proyek superblok yang berdiri di atas lahan seluas 15 ha ini, Grand Uway 
akan membangun apartemen 18 lantai berkapasitas 179 unit. Adapun kondotelnya 
akan memiliki tinggi hingga 11 lantai, berisi 280 unit. Di luar itu masih ada 
mal, serta ruang konvensi berstandar internasional dengan kapasitas daya 
tampung hingga 3.000 orang.

Kontraktor utama proyek ini, di luar kontraktor pemancangan adalah Dragages 
Singapore Pte Ltd, anak usaha perusahaan kontraktor asal Perancis, Bouygues 
Batimen. Rencananya, Dragages akan membangun superblok dalam dua tahap.

Tahap pertama pusat rekreasi waterpark, kondotel, apartemen dan ruang konvensi. 
Selanjutnya, sport mall, lifestyle center, dan clubhouse. Saat ini mereka baru 
memasarkan kondotelnya. Sasaran investor Grand Quarter adalah dari Indonesia, 
Batam, Singapura, Malaysia, hingga Korea. “Sampai akhir tahun, target kami 10 
persen dari total kondominium akan terjual,” kata Totonafo.

Pasalnya, sudah ada investor institusi yang berniat membeli 5-10 unit 
kondominium itu secara gelondongan. “Bila perusahaan yang membeli, bisa 
menjadikan kondotel sebagai hak milik atau aset usaha,” tambah Totonafo.

Kondotel Grand Quarter dibanderol di harga Sing$ 85.000 untuk ukuran terkecil 
atau superior, seluas 35 meter persegi (m2). Dua unit lainnya yakni tipe suite 
seluas 75  m² dan tipe executive seluas 110  m², harganya masing-masing  
170.000 dollar Singapura dan 380.000 dollar Singapura. 

Selama tiga tahun pertama, investor berhak akan imbal hasil 6% per tahun, dari 
nilai investasi. Setelah itu sistemnya bagi hasil. Jika membeli tunai, investor 
akan memperoleh pengembalian (cash back) 3 persen.

The Fame City Walk, Palembang
Satu superblok merangsek ke Kota Palembang, Sumatera Selatan. Namanya, The Fame 
City Walk. Pengembang superblok berkonsep lifestyle itu adalah Istana Kenten 
Indah (IKI Group), pengembang lokal yang banyak bermain di proyek perumahan.

Kawasan terpadu The Fame terdiri dari kawasan one stop business berisi bangunan 
pertokoan, perbankan, dan perkantoran. Kemudian di dalamnya juga ada citywalk, 
berisi tempat belanja, makan, dan rekreasi. Tersedia pula kondotel dan tempat 
konvensi.

Pada saat peluncuran, pihak manajemen memperkirakan proyek properti ini bisa 
menyajikan kenaikan nilai properti antara 12 persen hingga 15 persen per tahun. 
Sayang, hingga berita ini diturunkan tidak ada pihak manajemen IKI Group yang 
bisa memberi keterangan tentang kabar terbaru proyek ini.

Irfin Agus Salim, staf marketing IKI Group yang dihubungi via telepon hanya 
menjawab singkat. “Proyek masih dalam pembangunan,” katanya. (Martha Dian 
Novita | Titis Nurdiana | Veby Mega/KONTAN Weekend)
 
 








      

Kirim email ke