Pak Aby dan rekans ysh, Ayo dong Pak Aby, gak sabar ini, kok Bapak ngajak lagi ke yang lalu. Udahlah "mikul duwur, mendem jero" saja. Rekonsiliasi (psikologis) istilah Mandela.
Contoh saya misalnya, dr. Yusuf SK, Walikota Tarakan. Dia punya inisiatif membangun "pembangkit listrik" sendiri. Dia minta ijin PLN, bukan sekedar dapat ijin, malah dibeli kelebihan dayanya. Ini inovasi Pemda yang membanggakan, pada saat krisis energi dimana-mana. Idenya sederhana saja menurut dia. Karena awal tahun 2000an dia baca artikel Sri Mulyani di Kompas tentang ramalan krisis energi. Kebutuhan dana antara lain ditutup dari kontribusi warga. Cara persuasinya disampaikan dalam bahasa "harga sebatang rokok per-hari". Menurut saya ini kategori kepedulian atau "cinta tanah air" dalam bentuk praktis. Sekali lagi, kampanye nasionalisme ala indoktrinasi apel di lapangan terbukti gak efektif. Juga model "jual kecap" ala P4. Model self-critic juga sudah kebal. Oleh karena itu perlu dicoba model menanamkan "kebanggaan nasional". Sekedar saran. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: hengky abiyoso <[email protected]> Sent: Sunday, November 22, 2009 8:14 AM To: referensi <[email protected]> Cc: plbpm <[email protected]> Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai ++++: Mungkin sudah saatnya mengangkat "kebanggaan bangsa". Sejarah orang biasa, seperti belakangan sering di Kompas. Potensi dan prestasi orang kita banyak. Tahan uji lagi. Ada baiknya "cinta tanah air" ditumbuhkan dari situ Ini adalah cara baru yang mesti dicoba. Karena cara pandang Pak Aby, maaf, selalu bangsa ini sebagai victim/korban. Sbg korban penjajah, pemimpin sendiri, imperialis, dst. Sehingga Pak Aby lebih banyak membahas penjajah dan penindasnya drpd "potensi bangsa" ini. >>>>: Pertama trims banget atas perkenan diskusinya….tolong sabar pak Risfan >>>>…sekali lagi dan sekali lagi anda sangat benar dan smsekali tidak salah dgn >>>>itu ….saya hanya blm selesai saja dgn urutan serial thread nasionalisme ini >>>>….saya hanya sekedar tak mau ujug2 saja dari nasionalisme kita yg sakit >>>>parah kok tiba2 mau lompat ke nasionalisme ekonomi 2009 yg mantab ….nanti >>>>khan ujung2nya saya akan sampai ke-sana2 juga?……. Generasi muda orang Jepang atau Korea mungkin bisa lsg mudah diajak bicara ttg nasionalisme ekonomi justru krn mereka hanya memiliki etnonasionalisme tunggal, tak perlu diajar bhineka tunggal ika, tak rawan separatisme dll …dan (kecuali Korea oleh Jepang) mrk tak ada riwayat dijajah yg pilu dan kelam…..kita khan jauh lbh ruwet dan sangat berbeda?......... Saya hanya ingin coba skrg ini bicara dulu agak sedikit lbh utuh dan runut namun saya coba rada singkat (tapi maaf terpaksa dlm format bbrp postings) ttg akar sejarah nasionalisme kita..... krn bukan tak mungkin sebagian milisters kita jg suatu saat nanti akan harus memberikan pengertian singkat praktis pada putra-putrinya yg kini masih kecil ttg fakta netral (dan bukan pembelokan) sejarah ttg riwayat nasionalisme kita … yg tak mungkin secara ujug2 kita hari ini hrs lompat begitu saja pd ‘nasionalisme ekonomi’ (atau nanti nyusul nasionalisme budaya, teknologi dsb) tanpa lbh dulu diawali dgn pengertian atau mengingat kembali ttg riwayat nasionalisme politik kita yg amat berliku dan kelam yg menjadi cikal bakal nasionalisme kita kedepan……. Setidaknya thread ini saya buat bukannya tak ada hujan dan tak ada angin….sambil saya coba ambil momen yg rada pas (awalnya sekitar 17 Ags lalu, dismbung 28Okt dan 10 nop.. dn itu ternyata rupanya msh dianggap tidak pas juga ) …..saya (sdh) coba bicara sejak kita mengawali niat kemerdekaan (1945) dan bukan bicara ujug2 ttg nasionalisme 2009 … sambil bbrp orang mungkin tak mengingat betul (aplg generasi berikut nanti) detail singkat urutan liku2 cerita sejak 1945…… Krn bukankah tak semuanya memahami (menghafal, menyukai) sejarah spt kita ini misalnya ……dn lagi pula bukankah spt apa yg menjadi tak disukai oleh generasi muda spt mas Koko misalnya l/k. ttg adanya pembelokan tujuan luhur nasionalisme kita yl … juga ttg pembelokan fakta sejarah (utk menutupi skandal sejarah kudeta) sekaligus pembelokan nasionalisme spt misalnya oleh orde baru spt bhw kenapa tiba2 sejak film G30S (berdurasi 220 menit atau hampir 4 jam) yg dibuat pd 1984… lalu kenapa ia hrs menjadi santapan rohani wajib di tv disemua channel pd tiap 30 September ( lbh gila lagi dampaknya : a.l. murid SD diberi PR nonton itu dan esoknya harus serahkan paper ttg film itu pd gurunya) …..film ‘pesanan’ yg oleh sutradaranya lbh diakui sbg film horor more than film dokumenter…. Terlebih lagi bhw kemudian terbukti pd hasil visum tak ada penyiksaan/ pemotongan kelamin para jendral oleh Gerwani dsb …..Jg dibuat serentetan film2 lain ‘kehebatan rambo suharto’ spt Janur Kuning, Serangan Fajar dll... .lalu rakyat kita dicekoki (sekaligus ditakuti2) dgn doktrin abstrak sakralisasi Pancasila dan UUD 1945 …..lalu bgmn generasi muda kita yg tua juga (kecuali sedikit tua muda yg luar biasa) akan ujug2 menyambut nasionalisme dgn hati yg jernih..... lalu bgmn ujug2 bisa berkobar jiwa nasionalisme ekonominya macam orang Jepang dan KoreaSelatan misalnya..... dgn ujug2 mencintai produk dalam negeri mrk misalnya .....pdhal kemiskinan, korupsi dan ketidak adilan hukum, ekonomi dan sosial dinegeri kita terus berjalan?....... maaf mandeg sekian dulu lanjutannya sgr nyusul, cucu pertama saya blm lama lahir …salam, aby Thursday, November 19, 2009 2:27 AM From: "Risfan Munir" [email protected] Pak Aby dan rekans ysh, Mengenai jawaban atas posting nasionalisme Pak Aby terakhir, lebih enak saya jawab dijalur ini. Salah satu temuan saya dari Bandung kemarin ialah bahwa angkatan (masuk) 2004 sudah banyak yang lulus, sebagian 2005 juga. Bayangkan, mereka th 1998 itu masih SD/SMP. Waktu pak Poernomosidhi mengenalkan SWP jelas mereka masih di sorga. Sehingga waktu ada senior (yang usianya beda 40th dari alumni baru) tanya, kok orang sekarang bikin konsep macam-macam, kenapa gak pakai SWP saja. Maka Pak dosen harus bersopan kata, bahwa konteksnya sudah juauuuuh berubah. Desentralisasi, demokratisasi, dan gonjang-ganjing global telah merubah konteks dan relasi pemerintah - warga, pusat - daerah, antar negara, arus info, uang, barang. Sepertinya masing-masing dari kita perlu "unlearn" lalu "relearn". Pak Aby, secara pribadi saya lebih percaya pada kekuatan "bangsa" kita Setelah mengalami pemerintahan 6 pemimpin, kayaknya yang hebat adalah "bangsa" kitanya. Seperti kata rocker Tina Turner, "We don't need another hero." Kalau toh perlu hero, menurut saya adalah orang biasa yang memakai "produk dalam negeri", yang mematikan lampu kalau gak perlu. Karena 80 persen konsumsi listrik adalah rumah tangga. Dan langkah-langkah kecil yang konkrit seperti itu. Salam, Risfan Munir

