Mas Fajar ysh,
Maturnuwun atas perhatian serta doanya….. mudah2an karunia dari doa anda itu 
juga kelak diberikan oleh Allah kpd anda sklg…. 
 
++++: ….Kalau pada saat ini kita masih mencoba melakukan pengekspresian 
nasionalisme dengan cara rapat besar di lapangan Ikada, baris berbaris dan 
mendengarkan petuah-petuah para "Bung" kecil maupun besar, jangan-jangan kita 
harus kembali ke jaman 45 he he he…(…)  Apalagi para "Bung" tersebut sudah pada 
kembali ke rahmatullah dan para "Bung" yang sekarang sudah banyak yang 
terkontaminasi leh kepentingannya sendiri-sendiri. . 
>>>>:  Sblm masuknya teknologi televisi ke Ind. yg diawali dgn mulai 
>>>>mengudaranya TVRI pd  24 Ags 1962 (17 Ags 1962 meliput acara di Istana 
>>>>Merdeka adlh siaran percobaan)….hrs diingat bhw variasi indoor 
>>>>entertainment masyarakat kita hanyalah satu2nya …dan itupun barulah sistem 
>>>>audio saja… ialah siaran radio belaka ….itupun hanya RRI dan blm ada radio 
>>>>swasta yg acaranya  umumnya jauh lbh dinamis…. Satu2nya cara utk masyarakat 
>>>>dpt menikmati entertainment visual selain hrs jalan ke bioskop atau 
>>>>panggung sandiwara/ wayang orang/ ketoprak… cara satu2nya melihat para 
>>>>pemimpinnya  atau melihat tokoh2 istimewa (artis dsb) secara live tak ada 
>>>>lain cara kecuali masyarakat hrs going outdoors….. pergi ke rapat umum/ 
>>>>kepanggung terbuka .…maka tak heran kalau tahu ada jadwal para pemimpin itu 
>>>>(terlbh presiden) datang dikota tertentu ….kala itu masyarakat kita dgn 
>>>>amat enthusias datang2 berbondong dari kota2 terdekat sekitar …dgn naik moda
 angkutan apa saja yg tersedia … truk bak terbukapun jadi….. 
Saat ini dgn kemajuan teknologi khususnya teknologi home entertaining spt tv/ 
vcd …. Kita tahu …masyarakat tlh amat sgt dimanjakan dgn itu ….jadi semua orng 
tahu bhw masyarakat tak lagi butuh pergi kelapangan utk sekedar menikmati 
acara2 visual…… jgnkan hrpkan masyarakat datang kelapangan…. Industri 
entertainment outdoor spt bioskp dan panggung wy. orng/ ketoprakpun bangkrut 
semua … kini kalaupun ada yg inginkan itu,  mrkpun telah tahu aturan mainnya…. 
hrs sediakan amplop, bagi kaos, door prize, artis, musik dangdut dsb…..

++++: ….Juga tidak mudah membaca buku-buku hasil pemikiran para "Bung" yang 
terdahulu dan kini lebih mudah mendengar cerita "mitos" dari para "Bung" 
terdahulu tersebut dimana mits-mits tersebut juga banyak "interpretasi" menurut 
kepentingan atau interest para penginterpretasinya ...
>>>>: Ya ini satu salah kaprah dari berbagai pihak….  Oratornya krn merasa 
>>>>berbicara dgn masyarakat luas (trmsk kpd massa partainya) dimana yg 
>>>>terbanyak adalah klas terbawah… maka mrk pikir perlu bicara yg sedikit 
>>>>menggebu, menggugah, sedikit gemuruh, sedikit melawak dsb. agar masyarakat 
>>>>tetap berminat mendengarnya…. Atau kalaupun menuliskan pemikiran2nya ….tak 
>>>>memikirkan besaran format ….tak mau berpikir bhw kalau kelewat panjang 
>>>>lebar pastilah yg mbaca bisa nggak nyampe2 dan capek (tapi khan kala itu 
>>>>belum ada banyak media komunikasi spt tv, internet dsb)…. Publisher 
>>>>bukunyapun tak mau mengedit ……takut naskahnya jadi gak original …..tapi 
>>>>memang manusia tak sempurna dan proses memang masih berjalan….dan yg sudah 
>>>>(kuno) ya sudah… tak perlu dipaido… karena masa, konteks dan teknologinya 
>>>>kala itu serba tak persis dgn saat ini ……selain bhw mereka khan jg sdg 
>>>>berpikir ttg mengindoktrinasi massa partainya……
 Hrs diakui bhw dari para pemimpin yg terdahulu …ajaran nasionalismenya masih 
cenderung nasionalisme politik…. Belum bergeser kuat kenasionalisme ekonomi…. 
Ya maklumlahnya trauma penjajahan masih kuat sekali ….juga unsur separatisme…. 
Padahal telah sekian lama perekonomian kita babakbelur akibat 
penjajahan……makanya mnjadi tugas generasi berikutlah utk bukannya lalu berpikir 
bernikmat2 ….namun agar melanjutkan pekerjaan yg belumselesai  dgn penekanan 
bgeser ke nasionalisme ekonomi, sosial, budaya dsb…. .  

++++: …….Kembali ke laptop, saya merasa sedih dan kasihan walau bisa memahami 
ketika membaca berita di salah satu harian nasional dimana kedua beliau bersama 
Bambang Sulistomo (?) salah seorang putra "Bung" yang lain bersandiwara  main 
perang-perangan dengan pakaian ala tentara penjajah ketika merayakan Hari 
Pahlawan di kotanya... 
Saya sedih karena rasanya kita kok selalu "terperangkap" di dalam masa lalu 
ketika kita berbicara tentang nasionalisme, kepahlawanan, dan bela negara... 
Kalau nggak terperangkap ke masa lalu, setidaknya kita terlalu terjerat ke 
dalam romantisme masa lalu dan kurang berorientasi ke depan he he he...
>>>>: Ya kalau mereka bisanya baru itu ya tolong dimaklum saja …..kita hargai 
>>>>maksud baiknya… setidaknya ada upaya utk mengingatkan kembali bhw 
>>>>perjuangan yg sudah itu tak hanya bermodal kerja keras belaka ….namun juga 
>>>>menyabung nyawa …. Yg tentu lbh pahit ….tapi ini tentu jg suatu model 
>>>>sosialisasi yg patut dihargai…. Tak ubahnya acara seni budaya yg 
>>>>dipentaskan pada hari2 besar keagamaan…..

++++: …Saya ingat ketika baru masuk himpunan planologi dulu, kami diwajibkan 
membaca buku "Gelandangan" oleh para senior di HMP Pangripta Loka, walau 
sekarang juga sudah lupa isinya.. Juga kami wajib baca buku "Pendidikan Kaum 
Tertindas" atau "Pendidikan Pangkal Pembebasan", salah satu trilogi dari Paulo 
Freire, seorang teolog pedagogist Amerika Latin , di salah satu unit aktivitas 
mahasiswa dulu, yang sekarang saya rasakan sebagai salah satu dasar penanaman 
nasionalisme dalam diri saya, walau di beberapa tahu kemudian saya 
berkesempatan membaca buku "Di Bawah Bendera Revolusi" karya "Bung Besar" yang 
tebel buanget sebanyak dua jilid itu, dan juga salah satu karya dari "Bung 
Kecil" yang saya lupa judulnya tapi kalau saya nggak salah ingat buku tersebut 
ditulis ketika beliau sedang berada dalam proses pengobatan di pengasingan 
dimana satu hal penting (walau sederhana) buku tersebut mengajarkan ke saya 
untuk bisa menghormati seseorang hanya karena dia
 adalah seorang manusia dan bukan karena dia seorang pejabat, seorang yang kaya 
raya atau embel-embel lainnya...
>>>>: Karya yg kontekstual sesuai masa dan sikonnya akan dpt lbh efektif 
>>>>mempengaruhi pikiran seseorang…..

++++: Malah ketika saya membaca bukunya "Bung Besar" yang dua jilid besar-besar 
tersebut saya banyak ngak paham.. (entah karena saya memang ngak mampu 
memahaminya, atau karena bukunya terlalu tebal sehingga saya cepat ngantuk 
bacanya, atau memang saya nggak mampu mengkaitkannya dengan kondisi sejarah 
waktu artikel-artikel di dalam buku tersebut ditulis..
>>>>: memang benar…. Terlampau panjang dan spt semakin tak sesuai konteks 
>>>>tantangan zaman mas kini ….ia mungkin lbh tepat  menjadi koleksi musium 
>>>>sejarah perjuangan masa lalu…….

++++: Tapi, ketika saya membaca "Geladangan" yang kemudian dipadukan dengan 
"Kemiskinan Struktural" (dari Umar Khayam ya..?), malah saya lebih mudah 
memahaminya, seperti ketika saya baca "Pendidikan Kaum Tertindas" tersebut... 
Buku-buku tersebut lah yang lebih menanamkan rasa nasionalisme dalam diri 
saya... dan insya Allah juga menjadi salah satu dasar dari pemikiran-pemikiran 
saya dalam konteks nasionalisme. . 
Kenapa hal-hal itu saya bilang menanamkan nasionalisme dalam diri saya, saya 
rasa karena buku-buku tersebut menanamkan motivasi kepada saya untuk bisa turut 
berkontribusi di dalamnya, kayaknya.... 
>>>>: >>>>: Karya yg kontekstual sesuai masa dan sikonnya akan dpt lbh efektif 
>>>>mempengaruhi pikiran seseorang…..

++++: Jadi, menurut saya, untuk membangun nasionalisme di dalam masyarakat kita 
pada saat ini adalah bagaimana untuk meningkatkan motivasi masyarakat untuk 
merasa berbangsa dan bernegara Indonesia.. IMSO, peningkatan motivasi tersebut 
tidak cukup dilakukan dengan baris berbaris, rapat di lapangan Ikada dan 
semacam itu... 
>>>>: ya benar……

++++: Kalau dikaitkan dengan bidang kita pembangunan wilayah dan kota, 
peningkatan mtivasi tsb memerlukan kontribusi dari bidang kita untuk tidak 
hanya membangun suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi juga 
"keadilan spasial" bagi seluruh wilayah Indonesia he he he... (ini IMSO lho 
Pak....). 
Bagaimana kita semua bisa memiliki motivasi positif yang saling menguatkan 
kalau keadilan spasial ini belum terbentuk hingga lebih dari 8 windu kita 
(konon) merdeka....
>>>>:ya betul……..

++++: Sekian dulu Pak Aby ya... mohon responnya ya Pak... Saya nantikan lho he 
he he...
>>>>: Nah… udah khan ya?......salam,
aby

--- On Sun, 11/22/09, [email protected] <[email protected]> 
wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm 
Selesai
To: [email protected]
Date: Sunday, November 22, 2009, 2:17 AM


  








Pak Aby, Pak Risfan dan semua sahabat referensiers,
 
Saya setuju dengan pandangan Pak Risfan tentang perlunya kita melakukan 
pendefinisian ulang atau revitalisasi dalam metoda/cara pengekspresian 
nasionalisme. .
 
Kalau pada saat ini kita masih mencoba melakukan pengekspresian nasionalisme 
dengan cara rapat besar di lapangan Ikada, baris berbaris dan mendengarkan 
petuah-petuah para "Bung" kecil maupun besar, jangan-jangan kita harus kembali 
ke jaman 45 he he he... (mohon maaf Pak Aby ya....piss Pak...). Apalagi para 
"Bung" tersebut sudah pada kembali ke rahmatullah dan para "Bung" yang sekarang 
sudah banyak yang terkontaminasi leh kepentingannya sendiri-sendiri. . Juga 
tidak mudah membaca buku-buku hasil pemikiran para "Bung" yang terdahulu dan 
kini lebih mudah mendengar cerita "mitos" dari para "Bung" terdahulu tersebut 
dimana mits-mits tersebut juga banyak "interpretasi" menurut kepentingan atau 
interest para penginterpretasinya ...
 
Waktu saya baca koran dimana Syaifullah Yusuf (Wagub Jatim), Aris Afandi 
(Wawali Kota Surabaya), yang pernah saya jumpa keduanya ketika mereka sedang 
mengunjungi salah satu kota tercantik yang ada (ini saya seneng sekali bertemu 
dengan keduanya karena saya "diongkosi (kata beliau-beliau lho...)" pulangnya 
dengan uang yang berlipat-lipat dari harga tiket kereta yang harus saya 
keluarkan untuk dua atau tiga kali menjumpai di hari-hari itu (suer, saya 
seneng banget lho "diongkosi" spt itu he he he..., sudah ikut jalan-jalan 
bareng beliau-beliau yang artinya makan-makan masakan yang jauh lebih enak 
daripada hasil masakan saya, pulangnya diongksi lagi he he he...), he he he 
he... jadi ngelantur nih... Kembali ke laptop, saya merasa sedih dan kasihan 
walau bisa memahami ketika membaca berita di salah satu harian nasional dimana 
kedua beliau bersama Bambang Sulistomo (?) salah seorang putra "Bung" yang lain 
bersandiwara  main perang-perangan dengan pakaian
 ala tentara penjajah ketika merayakan Hari Pahlawan di kotanya... Saya sedih 
karena rasanya kita kok selalu "terperangkap" di dalam masa lalu ketika kita 
berbicara tentang nasionalisme, kepahlawanan, dan bela negara... Kalau nggak 
terperangkap ke masa lalu, setidaknya kita terlalu terjerat ke dalam romantisme 
masa lalu dan kurang berorientasi ke depan he he he... Ini hanya pemikiran 
bodoh saya aja lho.. jadi mohon saya jangan di-prita-kan. ... Ini bukan untuk 
mendiskreditkan beliau-beliau yang saya kagumi (bukan karena sudah "ngongkosi", 
tapi karena salah satu dari Beliau sudah mencoba menjejakkan kakinya di banyak 
daerah terpencil dan kurang sejahtera ketika Beliau menjabat sebagai seorang 
pejabat publik penting di negeri kita, dan karena Beliau yang lainnya sudah 
mencoba membangun suatu cara komunikasi egaliter dalam jabatan Beliau sebagai 
pejabat publik...)
 
Saya ingat ketika baru masuk himpunan planologi dulu, kami diwajibkan membaca 
buku "Gelandangan" oleh para senior di HMP Pangripta Loka, walau sekarang juga 
sudah lupa isinya.. Juga kami wajib baca buku "Pendidikan Kaum Tertindas" 
atau "Pendidikan Pangkal Pembebasan", salah satu trilogi dari Paulo Freire, 
seorang teolog pedagogist Amerika Latin , di salah satu unit aktivitas 
mahasiswa dulu, yang sekarang saya rasakan sebagai salah satu dasar penanaman 
nasionalisme dalam diri saya, walau di beberapa tahu kemudian saya 
berkesempatan membaca buku "Di Bawah Bendera Revolusi" karya "Bung Besar" yang 
tebel buanget sebanyak dua jilid itu, dan juga salah satu karya dari "Bung 
Kecil" yang saya lupa judulnya tapi kalau saya nggak salah ingat buku tersebut 
ditulis ketika beliau sedang berada dalam proses pengobatan di pengasingan 
dimana satu hal penting (walau sederhana) buku tersebut mengajarkan ke saya 
untuk bisa menghormati seseorang hanya karena dia adalah
 seorang manusia dan bukan karena dia seorang pejabat, seorang yang kaya raya 
atau embel-embel lainnya...
 
Malah ketika saya membaca bukunya "Bung Besar" yang dua jilid besar-besar 
tersebut saya banyak ngak paham.. (entah karena saya memang ngak mampu 
memahaminya, atau karena bukunya terlalu tebal sehingga saya cepat ngantuk 
bacanya, atau memang saya nggak mampu mengkaitkannya dengan kondisi sejarah 
waktu artikel-artikel di dalam buku tersebut ditulis..
 
Tapi, ketika saya membaca "Geladangan" yang kemudian dipadukan dengan 
"Kemiskinan Struktural" (dari Umar Khayam ya..?), malah saya lebih mudah 
memahaminya, seperti ketika saya baca "Pendidikan Kaum Tertindas" tersebut... 
Buku-buku tersebut lah yang lebih menanamkan rasa nasionalisme dalam diri 
saya... dan insya Allah juga menjadi salah satu dasar dari pemikiran-pemikiran 
saya dalam konteks nasionalisme. . Kenapa hal-hal itu saya bilang menanamkan 
nasionalisme dalam diri saya, saya rasa karena buku-buku tersebut menanamkan 
motivasi kepada saya untuk bisa turut berkontribusi di dalamnya, kayaknya.... 
(ini menurut pemikiran subyektif saya aja lho Pak... siapa tahu menurut 
penilaian orang thdp diri saya akan berbeda....)
 
Jadi, menurut saya, untuk membangun nasionalisme di dalam masyarakat kita pada 
saat ini adalah bagaimana untuk meningkatkan motivasi masyarakat untuk merasa 
berbangsa dan bernegara Indonesia.. IMSO, peningkatan motivasi tersebut tidak 
cukup dilakukan dengan baris berbaris, rapat di lapangan Ikada dan semacam 
itu... 
 
Kalau dikaitkan dengan bidang kita pembangunan wilayah dan kota, peningkatan 
mtivasi tsb memerlukan kontribusi dari bidang kita untuk tidak hanya membangun 
suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi juga "keadilan 
spasial" bagi seluruh wilayah Indonesia he he he... (ini IMSO lho Pak....). 
Bagaimana kita semua bisa memiliki motivasi positif yang saling menguatkan 
kalau keadilan spasial ini belum terbentuk hingga lebih dari 8 windu kita 
(konon) merdeka....
 
Sekian dulu Pak Aby ya... mohon responnya ya Pak... Saya nantikan lho he he 
he...
 
Salam hormat dari jauh, dari yang muda kepada sesepuh ya Pak....
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 


--- On Sun, 11/22/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm 
Selesai
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, November 22, 2009, 9:06 AM


  





  









 


  
 
 
  
  
 













      

Kirim email ke