Pak Risfan, mas Fajar, pak Onnos dan milisters semuanya ysh,
Maaf absen bbrp hari dan maafkan kalau posting  lanjutan ini kurang uptodate 
…..trims atas perhatian serta doa2nya…. 

++++: Itu sebetulnya senada dengan Muchtar Lubis, siapa itu yang maki-maki dari 
Ireland? Intelektual seperti itu mungkin akan pergi ke Kutub, ke Bulan, ke Mars 
hanya untuk menemukan artikel yang bilang "bangsa kita payah." Padahal gak usah 
kemana-mana, tiap pagi koran bilang begitu. Soalnya apa yang mau kita lakukan.
Saya kira yang lebih bisa menghargai "bangsa kita" justru Malaysia. Semua dari 
kita hafal kelemahan bangsa sendiri, tapi justru Malaysia yang tahu sekali 
potensi kita. Di Bandung kemarin saya ketemu Profesor dari Malaysia yang tiap 
kali belajar dari Mang Ujo dalam memasyarakatkan angklung. Bukan untuk 
mengklaim seperti pemerintahnya, tapi jujur belajar mengembangkan "community 
based tourism" cara Mang Ujo itu.
>>>>: Itulah bedanya bangsa yg sudah mapan dan tak lagi hrs berjuang setengah 
>>>>mati utk urusan perut … dibanding dgn bangsa yg masih urusannya hari ini 
>>>>makan besok entah blm tahu … atau yg pagi tadi makan dan sore nanti entah 
>>>>blm tahu ……mereka bangsa yg sudah kenyang dan biasa makan dgn teratur dan 
>>>>bergizi  tentu akan sempat berpikir ttg masalah2 yg bukan lagi spt 
>>>>urusannya  orang2 yg kelaparan …orang yg hidup susah terus …org yg ditindas 
>>>>tak hanya oleh penjajah …namun  jg bahkan (pernah) ditindas pula oleh pmrth 
>>>>ramboonya sendiri bersama tentaranya, polisinya dan lembaga peradilannya 
>>>>…dsb…… coba kalau kita perhatikan binatang ayam dan kucing saja misalnya 
>>>>….. setelah beres urusan makan kenyang, mereka biasanya ganti sejenak 
>>>>membersihkan atau merapikan bulu2nya (ekh tapi kadang utk kita terbalik 
>>>>ya? .…rapi2 dulu baru makan?) ....pertanda bhw urusan perut (ekonomi) 
>>>>nampaknya dimana2 adalah masalah urusan nomor satu diatas
 segalanya ……dan barulah urusan lain nyusul sesudahnya….

++++: Dari percobaan saya menerapkan pendekatan yang appreciative ke komunitas 
di daerah dan Pemda, bisa dilihat perubahan ekspresi mereka dalam menghargai 
potensi dan capaian sendiri. Mereka jadi melihat manfaat berfikir positif 
menghargai prestasi daerah hingga unit nya. Saya pikir langkah itu sederhana 
tapi menggulirkan perubahan, dari pada nunggu-nunggu orang hebat.
>>>>: Spt sdh saya katakan diatas … tak semua orang dari kita tak mengerti 
>>>>nasionalisme yg uptodate (ekonomi) itu yg seperti apa/ yg spt bgmn….. yg 
>>>>pak Risfan temui dan ceritakan kebetulan mrk yg tidak buta hurup dgn 
>>>>kesadaran ‘nasionalisme uptodate’ itu…… kalau ketemu yg begitu tentu saja 
>>>>kita tak usah susah payah bicara panjang lebar ttg nasionalism dari a 
>>>>sampai z……Faktanya kalau pernah seorang ketua umum Muhammadiyah spt prof. 
>>>>Syafii Maarif pernah katakan bhw “kerusakan bangsa ini nyaris sempurna”…… 
>>>>bukankah itu sama artinya spt ia/ kita mau katakan bhw bagian dari bangsa 
>>>>ini yg melek nasionalisme tidak lebih banyak jumlahnya dibanding mereka yg 
>>>>buta/ buta huruf nasionalisme?........... 
++++: Sudah belasan tahun kita saling kritik, jawabannya selalu cari kambing 
hitam. Mungkin yang dikritik juga sudah hapal cara menjawabnya. Buktinya, malah 
komitenya yang diperkarakan.
>>>>>: Utk maksud retracking jalan sejarah yg lurus dan dari kepentingan yg 
>>>>>netral ….kambing hitam pd tiap episode sejarah  pastilah  selalu jelas 
>>>>>siapa2nya …nah …kalau ttg komite yg malah mau diperkarakan spt kata anda 
>>>>>itu ……barangkali disini pak Risfan sambil lalu spt ganti mau katakan bhw  
>>>>>“iya benar …kali ini saya giliran sdg ketemu dgn bagian masyarakat kita yg 
>>>>>mata dan hatinya terkunci dan tidak melek nasionalisme”……

++++: Berikan apresiasi kepada bangsa, supaya terjadi saling dukung untuk 
prestasi yang lebih baik.
>>>>: sptnya acara semacam Kick Andy dan banyak kolom di media telah lakukan 
>>>>itu … tak kurang jg apa yg dilakukan oleh pmrth  berupa penghargaan dan 
>>>>bintang jasa …maupun yys. masyarakat seperti ttg diberikannya penghargaan 
>>>>dan Awards ……saya kira memang intinya kita semua masih amat perlu bekerja 
>>>>keras ……banyak agenda penting perlu dikerjakan .....agar hasil2 yg baik 
>>>>semakin nampak semakin banyak ……belum saatnya bernikmat2 ….. dan jangan2 yg 
>>>>kini sudah bernikmat dpt jg digolongkan sbg anasionalis? ..….salam,
aby





      

Kirim email ke