Pak Eka, kenapa jumlahnya kok kehampaan ? Apakah meditasi / kontemplasi dalam 
spiritualitas Islam ujungnya adalah kehampaan ? Mohon pencerahan.

Dalam ajaran kejawen, khususnya melalui lakon Dewa Ruci, ujung meditasi adalah 
PERJUMPAAN antara diri dengan jatidiri (Bimo dengan Dewaruci). Setelah 
perjumpaan itulah kemudian lahir pencerahan, dan kita tahu dari seluruh wayang 
yang diciptakan hanya Bimoseno yang berjumpa dengan jatidirinya. Apakah 
artinya, meditasi itu sulit, dan yang mampu berjumpa dengan jatidiri sangat 
minim ?

Dalam keyakinan kami, meditasi yang benar ya perjumpaan dengan Tuhan, yang 
dalam rumusan Jawa dikatakan Manunggaling Kawulo lan Gusti. Sejauh saya tahu, 
kemanunggalan ciptaan dengan pencipta merupakan sebuah hal yang tabu 
dibicarakan dalam Islam. Apakah begitu ? Sebab pada akhirnya toh jiwa manusia 
yang diperkenankan memasuki surga ilahi ya akan bersatu dengan Allah. Mohon 
pencerahan lagi.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 11/27/09, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: [email protected]
Cc: [email protected], [email protected]
Date: Friday, November 27, 2009, 10:26 PM







 



  


    
      
      
      Terima kasih Bang Thalhah, sangat mencerahkan, saya kira sudah 
mempertajam Descartes: cogito ergo sum. Memang pada waktu itu belum ada 
penjelasan secara fisika kuantum, namun saya dapat merasakan kenikmatan bertemu 
dengan Pencipta, yang terasa begitu dekat. Memasuki ashar terasa kehampaan 
semakin utuh. Walaupun tidak sampai terbang ke langit, namun terasa seperti 
proses pembalikan. Apakah ini momentum yang dihasilkan dari pertemuan ruang dan 
waktu? Kalau boleh dijelaskan juga konsep ruang dan waktu secara fisika. 
Sementara waktu saya rumuskan: ruang + waktu = kehampaan.

 
Mengenai asmaul husna saya sepakat bila itu merupakan 'sifat' Pencipta, yang 
berlaku pada ciptaanNya. Namun saya koq kurang sependapat dengan beberapa 
konsep yang berkembang selama ini bila asmaul husna itu walaupun beberapa, 
tertanam ke dalam ciptaanNya sebagai 'God spot', dan melalui eksplorasi 
tertentu kemudian sang ciptaan mengekspresikan sifat keilahiatan itu ke dalam 
kehidupannya. Seperti contoh 'sang pencipta' (al khaliq), walaupun similaritas 
bahasa dan ada kendala kebahasaan, tentunya tetap berbeda pemaknaannya dan 
pensifatannya kepada manusia. Apakah demikian?

 
Sementara demikian dulu bang, terima kasih sebelumnya. Salam.
 
-ekadj
 

2009/11/27 thal...@indosat. net.id <thal...@indosat. net.id>



  



Benar sekali, makna wukuf di Arafah mirip dengan 'kematian'. Inilah 
alam singular, dimana tidak ada 
pengkutuban (kiri-kanan, atas-bawah, panas-dingin, dsb) sehingga pada 
saat itu dilarang berpolemik.

Pengkutuban adalah produk ego (otak kiri dan kanan yang saling berebut 
pengaruh). Terjebak pada egolah
yang membikin manusia hanya mampu mengaktifkan sel2 otaknya kurang 
dari 10 persen, sehingga sulit
menjalankan tugas sebagai khalifah.

Jika memandang realitas dari fisika quantum akan sangat jelas bahwa 
semua materi sebenarnya kosong karena
hanya merupakan quanta/gelombang (dalam fisika dikenal adanya dualisme 
gelombang dan cahaya). 
Realitas sebenarnya adalah merupakan gelombang/quantum karena memang 

semuanya terbentuk dari cahaya Allah. 
An Nur 35 menjelaskan hal ini. Cahaya di dalam tabung kaca yg berada 
di dalam lubang yg tak tembus. Begitulah
materi mewujud, dari cahaya Nya yang difilter berlapis-lapis sehingga 

akhirnya jadilah dunia materi seperti apa yg kita pahami dengan
panca indera. Gelombang2 Asmaul Husna mewujud dalam semua realitas, 
saling berinterferensi sehingga membentuk
gelombang2 baru dengan fase yang berbeda-beda. Eksistensi kita 

terkunci pada fase tertentu yang merupakan kombinasi dari
Asmaul Husna sehingga membuat kita sulit memahami Asmaul Husna. Kita 
menyukai sifatnya yang Maha Menghidupkan,
tapi kita mungkin kurang menyukai sifat Maha Mematikan. Padahal sel2 

kita memang perlu ada yg mati agar tumbuh sel baru
yg lebih sehat, jika manusia tidak ada yg mati tentu bumi penuh. 
"Tidak ada satupun yang Engkau ciptakan secara sia-sia", karena
interelasi antar makhluk akan saling mengunci fase sehingga jadilah 

kita seperti sekarang. Sehingga virus dan kuman sekalipun, 
bukanlah ciptaan yang sia2 karena mereka berperan dalam keteraturan 
penguncian fase. (Note: dalam gelombang ada fase, frekensi dan
perioda yg saling terkait). Dengan pemahaman gelombang ini, maka 

sesungguhnya semua makhluk saling terhubung,namun panca
indera kita tidak mampu memahaminya karena terdapat filter yg berlapis-
lapis.
Dengan filter yg berlapis ini dan otak yg terjebak pada ego, maka 
manusia sulit mencapai kesadaran tertinggi. Inilah gunanya wukuf

di arafah, mematikan ego dan masuk ke alam tanpa polaritas. Pikiran 
harus dibikin diam. Biarkan akal yang tampil dan selanjutnya
sampai pada pemahaman Tauhid yang sebenarnya.
Kira2 demikian bang Eka sedikit tambahannya. Terimakasih atas 

masukan2nya. 


----Original Message----
From: 4ek...@gmail. com

Terima kasih Pak Koes atas koreksi dan tambahan informasinya, mudah-
mudahan
Allah swt menambahkan kemuliaan kepada bapak. Hal ini menunjukkan dua 
hal:
pertama manusia adalah bersifat khilaf, dan kedua di antara sesama 

manusia
hendaknya saling berwasiat dalam kebaikan. Kajian tentang hal ini 
perlu kita
lakukan mengingat saran yang disampaikan oleh
moderator<http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/9957>kita. 




Mengenai tapak kenabian Ibrahim, hal ini menjadi renungan saya juga, 
seperti
tergambar dalam tabel bapak bahwa perjalanan haji itu merupakan 
syariat yang
terbangun dari perjalanan Nabi Ibrahim 'sekeluarga' untuk menjadi 

pelajaran
bagi umat dan penyempurna dalam syariat. Mulai dari wuquf dan jumrah 
yang
dulu dilaksanakan oleh Ibrahim dan Ismail, hingga sa'i yang 
dilaksanakan
oleh Siti Hajar: menunjukkan keikhlasan bertauhid dan berkorban dalam 

suatu
keluarga. Tidak ada duanya bentuk pengorbanan sebagaimana ditunjukkan 
oleh
'keluarga' (household) Ibrahim ini. Hal ini kiranya yang menjadi 
hikmah bagi
kita, yang ditunjukkan melalui penyembelihan hewan qurban.


Ada sedikit cerita pak dari perjalanan saya tahun lalu. Sewaktu
mempersiapkan untuk haji, kami mendapatkan ceramah dari ustadz, di 
antaranya
disebutkan sewaktu wuquf di Arafah hendaknya kita menyiapkan do'a-do'a 

yang
spesifik. Pada waktu itu saya bertanya, bolehkah kita mendo'akan 
bangsa dan
negara kita secara lebih spesifik, misalnya tingkat pengangguran 
menjadi
berkurang, kesejahteraan masyarakat meningkat sekian persen,

pemimpin-pemimpin kita diampunkan dosa-dosanya dan mendapatkan 
penerangan
dalam tugas-tugasnya, dan sebagainya. Pak ustadz menjawab bahwa 
biasanya
do'a adalah untuk diri pribadi dan keluarga, namun untuk bangsa dan 

negara
disampaikan secara umum. Seorang rekan menyampaikan pandangan bahwa 
untuk
pemimpin-pemimpin yang zalim sudah ada ketentuan dari Allah. Setelah 
itu
memang kami di dalam rombongan terbagi pada dua pandangan berbeda 

mengenai
hal ini.

Sewaktu wuquf di Arafah sejak subuh hingga menjelang waktu zuhur saya 
hanya
menangis di dalam tenda, mengharapkan bangsa ini dapat diampuni atas 
segala
kesalahan, agar kita dapat hidup dalam saling mengikhlaskan 

sebagaimana
telah ditunjukkan Ibrahim sekeluarga, namun diberikan penerangan dan
kekuatan untuk memperbaiki kehidupan, dst. Tergerak hati untuk 
mengirimkan do'a
bersama <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/7090> melalui 




sms
kepada beberapa sahabat. Setelah itu pada waktu masuk zuhur, do'a 
paling
spesifik untuk pribadi dan keluarga adalah semata mohon keampunan dari 
Allah
swt, sungguh merasa tidak pantas untuk memohon lebih dari itu.


Demikian sementara waktu pak, mohon pandangannya lebih lanjut. Salam.

-ekadj

2009/11/27 muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk>


>
>
> Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah 
nama
> yang membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan 
kesejajaran
> dan ‘kematian’.
>
> Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu 

Allah/*dhuyufur
> rahmah*) berstatus sama. Waktunya 9 *dzulhijjah* (hari Arafah) bukan 
10 *
> dzulhijjah*, jamnya dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat 
hingga
> sore). Tempatnya padang Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas

> adminstrasi tegas (menurut sumber ditetapkan Malaikat Jibril as.). 
Siapapun
> yang berhaji (*wukuf*) harus masuk di dalam wilayah administrasi 
ini. Di
> luar batas ini batal (tidak syah). Di luar batas waktu ini batal 

juga.
>
> Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak 
berjahit)
> menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga 
lingkungan
> hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang 

rumput,
> pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan 
dilarang
> mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku, 
rambut.
>
> Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu

> pengetahuan (*jidal*). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 
hari,
> 9-13 dzulhijjah). Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran 
kena
> saknsi denda (*dam*).
>
> Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian 

(Ibrahim
> as.). (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table
> Peristiwa Hajji).
>
> Wassalam. Koes, JKT.
>
>
> --- On *Fri, 27/11/09, - ekadj <4ek...@gmail. com>* wrote:

>
>
> Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat 
abang
> sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut, 
terutama
> dari aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana 

hal itu
> terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai 
Bakhtin
> sampai Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum 
itu?
>
> Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan, 

semata-mata
> berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair.
>
> -ekadj
> 2009/11/27 <thal...@indosat. net.id<http://uk.mc244. mail.yahoo.

com/mc/compose? to=thalhah@ indosat.net. id> 



> >
>
>> Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi
>> tertinggi, dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas
>> (pengkutuban) , yg ada hanya singularitas. Tempat segala sesuatu 

menjadi
>> tidak ada, yg ada hanya Allah. Ini dicapai dengan pernungan, 
meditasi, zikir
>> dalam keheningan. Yg ada hanya Dia.
>> Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan 

dalam diri
>> maka lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam 
situasi
>> stillness (diam, hening, tanpa dimensi).
>> Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi 

menjadi
>> khalifah di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan 
di
>> 'langit'. Tapi turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit 
bukanlah
>> turun ke dimensi yg lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga 

dimensi
>> spirit dan fisik berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran 
spiritual
>> tinggi. Oleh karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur 
dengan
>> seluruh umat manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun 

berorientasi
>> penuh (menyembah) Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada 
Ka'bah.
>> Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 
(jihad), tidak
>> kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah 

sudah
>> training menjadi khalifah yg selalu menyembahNya.
>> Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan
>> lil'alamin setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah 

menjadi
>> orang yg berserah diri sepenuhnya kepadaNya (muslim).
>> Sent from my BlackBerry®
>> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>> ------------ --------- ---------
>> *From: *- ekadj <4ek...@gmail. com<http://uk.mc244. mail.yahoo.

com/mc/compose? to=4ekadj@ gmail.com>> 



>>
>>
>
>
>> Pertemuan Ruang dan Waktu
>>
>> Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah
>> mengetahui'), yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang 

senior
>> dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau)
>> menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya 
nantinya
>> akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu 

bertemunya
>> tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena
>> pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya 
adalah di
>> Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan 

Ashar.
>> Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan 
Tuhannya,
>> yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi 
menyebutkan
>> bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung 

ke muka
>> bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir 
kepadaNya
>> serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami.
>>
>> Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan 

haji,
>> sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam 
kepadamu),
>> dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan 
bagi engkau
>> wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia 

pada
>> siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk 
meminta
>> ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan 
mempersiapkan masa
>> depan; serta menyempurnakan rukun Islam.

>>
>> Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu 
bagiMu.
>> Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu 
bagiMu.
>> (22:27-28).





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke