Keberserah-dirian, kehampaan, tawakal -

Samurai legendaris Miyamoto Musashi di usia senjanya menulis buku "The Book of 
Five Rings". Setelah Bab Bumi, Air, Api, Angin, Bab-5 nya ialah "Kehampaan 
(Kekosongan)".

Dalam kekosongan (pikiran, persepsi) muncul "kejernihan pikiran" - dengan itu 
dia bisa bebas dari "tipu daya lawan dan dari keragu-raguannya sendiri" dan 
menang.

Salam,
Risfan Munir

Penulis buku, "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" 
(Gramedia, Nov'09) - Dilengkapi dengan seni olah pikiran NLP.












-----Original Message-----
From: Harya Setyaka <[email protected]>
Sent: Saturday, November 28, 2009 11:47 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu

 


Sori komentar singkat.
Pada intinya: keberserah-dirian.
-K-


Pedal Powered BikeBerry
From:  - ekadj <[email protected]>
Date: Sat, 28 Nov 2009 22:48:05 +0700
To: <[email protected]>
Cc: <[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu

  
Pak Djarot ysh, terima kasih atas apresiasi bapak mengenai kisah di Arafah ini. 
Segala harapan yang disampaikan, kita kembalikan kepada Yang Maha Kuasa.
 
Ada beberapa hal yang ingin saya luruskan, yaitu pengalaman Arafah ini 
sepertinya dialami oleh setiap orang pada saat itu, sehingga bersifat 
pengalaman komunal, tentunya dengan tingkat yang berbeda-beda pada setiap 
orang. Saya sendiri mengakui kalau ibadah saya tidak sempurna, apalagi zikir 
dan doa masih dituntun oleh ustadz. Bila saya pahami sepenuhnya zikir dan doa 
itu, tentunya akan lebih mantab. Namun tentunya kita berharap timbangan 
keadilan dari Tuhan sesuai dengan kemampuan setiap insan berdasarkan iman dan 
taqwa masing-masing. Namun saya merasakan bila momentum seperti itu tidak akan 
berulang pada kesempatan lain, walaupun persiapan akan lebih baik, dan kita 
diberi kesempatan untuk melaksanakan haji berkali-kali. Mudah-mudahan ada 
rekan-rekan di sini yang sudah berhaji untuk dapat menceritakan pengalamannya.
 
Mengenai pencapaian pada sore itu sebenarnya retrospeksi pribadi usai zikir dan 
doa, sebagai suatu usaha yang kuat untuk menarik hikmah. Dalam hal ini saya 
memandang perlunya persiapan dalam melaksanakan haji, yang diingatkan sebagai 
’bekal’ (2:197). Bahwa selain persiapan materi, kesehatan, dan ketaqwaan, perlu 
juga persiapan pengetahuan. Sehingga sebenarnya momentum akan terjadi bila kita 
sanggup menangkap al hikmah. Kembali disini bila al hikmah kiranya adalah 
bersesuaian untuk setiap orang.
 
Hal terpenting dalam cerita saya sebenarnya adalah doa yang disampaikan pada 
Arafah itu, sesuai dengan saran senior saya, agar tidak semata untuk diri 
sendiri dan keluarga serta umat muslimin sedunia, tetapi juga untuk bangsa 
Indonesia. Dengan ketatnya quota haji serta kesempatan yang semakin terbatas, 
sebenarnya para jamaah haji Indonesia adalah juga ’duta-duta bangsa’ yang 
berkesempatan pada saat itu untuk bertemu dengan Sang Pencipta di Padang 
Arafah. Bila pada kesempatan itu 200.000 jemaah Indonesia secara bersamaan 
bersyukur nikmat dan berikhlas diri, mendoakan keampunan untuk bangsa, 
mendoakan turunnya petunjuk dan hidayah kepada para pemimpin dan rakyatnya, 
mendoakan keadilan dan kesejahteraan tersemai di bumi Indonesia, dst; wahai, 
sungguh kita sangat berharap Allah swt mengabulkan permintaan itu.
 
Demikian pak dan terima kasih sebelumnya. Salam.
 
-ekadj

2009/11/28 Djarot Purbadi <[email protected]>
  
Pak Eka yang dirahmati Allah.

Kalimat Pak Eka: Di penghujung ashar waktu itu di Arafah, saya merasakan 
kelegaan luar biasa, karena saya yakin bila sang Pencipta saat itu sedang 
memperhatikan saya, dan akan selalu memperhatikan saya. Amanah yang saya 
rumuskan saat itu adalah memelihara dan menegakkan sunnatullah dalam kehidupan 
di bumi ini, selayu-layu tulang semati-mati angin.

Saya menduga, panjenengan sedang merasakan "dipandang" Allah dan tentunya ada 
hal-hal yang luar biasa dirasakan, secara fisik - batin hingga jiwa kita Jadi, 
tampaknya bukan kehampaan yang terjadi, melainkan perjumpaan yang sangat 
pribadi dan intim. Indikasinya, bisa dirasakan diri sendiri dan terlebih-lebih 
orang lain. Panjenengan akan menunjukkan perubahan-perubahan yang tidak kita 
duga.

Jika kita dalam keadaan sakit kemudian merindukan berjumpa dengan kekasih, pada 
saat perjumpaan dalam sepersekian detik terjadi mukjizat kesembuhan...

Kirim email ke