Pak Koes, Pak Eka dan sahabats,

Jika demikian, saya jadi mengerti mengapa suatu ruang tertentu menjadi selalu 
dirindui (ngangeni) untuk dialami kembali, karena ya pengalaman spiritual 
semacam itu. Fenomena pengalaman spiritual yang sangat mendalam barangkali 
menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan para arsitek dan 
perencana dalam menjalankan tugas profesionalnya. Tentu fenomena ini terjadi 
pada tema atau kasus ruang-ruang bernuansa religius. Saya jadi ingat, mengapa 
Parangkusumo-Parangtritis setiap malem satu Suro pengunjungnya mbludag, bahkan 
pemkab Bantul menjadikannya salah satu penghasilan daerah, ya karena nilai 
spiritual dari ruang itulah MAGNETnya (meminjam istilah Pak Sudaryono).

Saya lantas jadi mengerti, mengapa seseorang ingin berkali-kali ke Mekkah, 
bukan semata-mata karena berhaji berkali-kali melainkan karena mengalami 
peristiwa spiritual yang menyentuh jiwanya hingga sangat mendalam. Jika 
motivasinya adalah pencerahan ilahi, tentu hal ini sangat manusiawi dan 
religius. Hal yang sama juga terjadi di kalangan umat agama yang lain, misalnya 
ziarah Walisongo yang populer di kalangan pesantren di jawa.

Menurut saya, jika kita punya pengalaman tentang spiritual semacam itu, 
pastilah menjadi penguat dalam praktek profesi karena kita memilikinya sebagai 
deposit pengetahuan (dan pengalaman). Seorang arsitek bisa saja tidak perlu 
menjadi seorang presiden terlebih dahulu untuk menyelesaikan tugas merancang 
istana presiden, atau tidak perlu menjadi penjahat lebih dulu untuk 
menyelesaikan tugas desain sebuah penjara yang manusiawi....

Saya kira, pengalaman spiritual atau apapun mesti kita tarik manfaatnya untuk 
pemerkayaan profesi kita, jika kita sepakat milis ini untuk mengembangkan 
pengalaman dan profesionalitas profesi kita....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 12/3/09, muhammad koeswadi <[email protected]> wrote:

From: muhammad koeswadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: [email protected]
Date: Thursday, December 3, 2009, 5:37 AM







 



  


    
      
      
      Mas ATA, Mas Ekadj, dll,
Alhamdulillah, para pemikir kita ini, telah memperoleh pencerahan dari 
sumberNya,.. .semoga oleh-oleh cahayaNya bertahan lama 
Siapa mau menyongsong, menyusu, dan menyusul 
Salam, KoesJKT
 

--- On Wed, 2/12/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote:


From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, 2 December, 2009, 21:27


  

Betul sekali,
saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut...
...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat 
mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main....
...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang- kultur berbeda, padang 
Arafah sepi melompong... .tidak ada apa-apanya.. ..

Wassalam,
ATA


2009/11/27 muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk>


  


[Attachment(s) from muhammad koeswadi included below] 





Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah nama yang 
membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan kesejajaran dan 
‘kematian’. 
Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu Allah/dhuyufur rahmah) 
berstatus sama. Waktunya 9 dzulhijjah (hari Arafah) bukan 10 dzulhijjah, jamnya 
dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat hingga sore). Tempatnya padang 
Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas adminstrasi tegas (menurut sumber 
ditetapkan Malaikat Jibril as.). Siapapun yang berhaji (wukuf) harus masuk di 
dalam wilayah administrasi ini. Di luar batas ini batal (tidak syah).  Di luar 
batas waktu ini batal juga. 
Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak berjahit) 
menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga lingkungan 
hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang rumput, 
pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan dilarang 
mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku, rambut. 
Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu pengetahuan 
(jidal). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 hari, 9-13 dzulhijjah). 
Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran kena saknsi denda (dam). 
Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian (Ibrahim 
as.).  (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table Peristiwa 
Hajji). 
Wassalam. Koes, JKT.

--- On Fri, 27/11/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: im...@yahoogroups. com
Cc: refere...@yahoogrou ps.com, kebuday...@yahoogro ups.com, alumnimuslimitb@ 
yahoogroups. com
Date: Friday, 27 November, 2009, 14:03


  


Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat abang 
sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut, terutama dari 
aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana hal itu 
terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai Bakhtin sampai 
Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum itu?
 
Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan, semata-mata 
berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair.
 
-ekadj

2009/11/27 <thal...@indosat. net.id>






Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi tertinggi, 
dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas (pengkutuban) , yg ada 
hanya singularitas. Tempat segala sesuatu menjadi tidak ada, yg ada hanya 
Allah. Ini dicapai dengan pernungan, meditasi, zikir dalam keheningan. Yg ada 
hanya Dia. 
Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan dalam diri maka 
lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam situasi stillness 
(diam, hening, tanpa dimensi).
Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi menjadi khalifah 
di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan di 'langit'. Tapi 
turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit bukanlah turun ke dimensi yg 
lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga dimensi spirit dan fisik 
berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran spiritual tinggi. Oleh 
karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur dengan seluruh umat
 manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun berorientasi penuh (menyembah) 
Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada Ka'bah.
Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 (jihad), tidak 
kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah sudah training 
menjadi khalifah yg selalu menyembahNya.
Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan lil'alamin 
setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah menjadi orang yg berserah 
diri sepenuhnya kepadaNya (muslim).

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: - ekadj <4ek...@gmail. com> 


 





Pertemuan Ruang dan Waktu



Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah mengetahui') 
, yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang senior dan guru saya 
(semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau) menyampaikan satu wejangan 
sebelum saya berangkat haji, bila saya nantinya akan menyaksikan ‘pertemuan 
ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu bertemunya tempat yang ditentukan dan waktu 
yang ditentukan, sebagai fenomena pembelajaran terpenting bagi setiap perencana 
kehidupan. Tempatnya adalah di Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara 
waktu Zuhur dan Ashar. Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara 
manusia dengan Tuhannya, yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah 
hadits qudsi menyebutkan bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan 
turun langsung ke muka bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan 
berzikir kepadaNya serta memohonkan keampunan. Ya
 Allah, ampunilah kami.
Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan haji, 
sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam kepadamu), 
dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan bagi engkau 
wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia pada siapa 
pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk meminta ampun, 
berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan mempersiapkan masa depan; 
serta menyempurnakan rukun Islam.
Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu bagiMu. Segala 
puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. (22:27-28).







      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke