Pak Koes, Pak Eka, dan sahabats, Tambahan dan koreksi: contoh pengalaman spiritual dari agama lain tampaknya keliru. Seharusnya, misalnya dari kalangan Katolik ada orang yang berkali-kali dan rutin datang ke Sendangsono. bukan karena terpesona mahakarya Mangunwijaya, melainkan karena kerinduan mengalami pengalaman spiritual. Tampaknya tema "nilai ruang yang trandenden" bukan ekonomis atau sosial semata menjadi hal yang penting dalam profesi arsitektur atau perencanaan.
Dengan demikian, deposit pengetahuan kita tidak hanya berisi teori-teori yang akan menjadikan kita sangat textbook thinking melainkan akan memperkaya cara berpikir kita menjadi lebih baik, yaitu trancendental thinking juga. Belajar dari pengalaman sendiri memang perlu tetapi kekayaan pengalaman orang lain juga sangat penting untuk memperkaya jiwa kita, praktek profesi kita. Apakah begitu ya ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Thu, 12/3/09, muhammad koeswadi <[email protected]> wrote: From: muhammad koeswadi <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu To: [email protected] Date: Thursday, December 3, 2009, 5:37 AM Mas ATA, Mas Ekadj, dll, Alhamdulillah, para pemikir kita ini, telah memperoleh pencerahan dari sumberNya,.. .semoga oleh-oleh cahayaNya bertahan lama Siapa mau menyongsong, menyusu, dan menyusul Salam, KoesJKT --- On Wed, 2/12/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, 2 December, 2009, 21:27 Betul sekali, saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut... ...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main.... ...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang- kultur berbeda, padang Arafah sepi melompong... .tidak ada apa-apanya.. .. Wassalam, ATA 2009/11/27 muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> [Attachment(s) from muhammad koeswadi included below] Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah nama yang membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan kesejajaran dan ‘kematian’. Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu Allah/dhuyufur rahmah) berstatus sama. Waktunya 9 dzulhijjah (hari Arafah) bukan 10 dzulhijjah, jamnya dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat hingga sore). Tempatnya padang Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas adminstrasi tegas (menurut sumber ditetapkan Malaikat Jibril as.). Siapapun yang berhaji (wukuf) harus masuk di dalam wilayah administrasi ini. Di luar batas ini batal (tidak syah). Di luar batas waktu ini batal juga. Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak berjahit) menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga lingkungan hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang rumput, pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan dilarang mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku, rambut. Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu pengetahuan (jidal). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 hari, 9-13 dzulhijjah). Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran kena saknsi denda (dam). Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian (Ibrahim as.). (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table Peristiwa Hajji). Wassalam. Koes, JKT. --- On Fri, 27/11/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote: From: - ekadj <4ek...@gmail. com> Subject: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu To: im...@yahoogroups. com Cc: refere...@yahoogrou ps.com, kebuday...@yahoogro ups.com, alumnimuslimitb@ yahoogroups. com Date: Friday, 27 November, 2009, 14:03 Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat abang sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut, terutama dari aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana hal itu terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai Bakhtin sampai Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum itu? Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan, semata-mata berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair. -ekadj 2009/11/27 <thal...@indosat. net.id> Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi tertinggi, dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas (pengkutuban) , yg ada hanya singularitas. Tempat segala sesuatu menjadi tidak ada, yg ada hanya Allah. Ini dicapai dengan pernungan, meditasi, zikir dalam keheningan. Yg ada hanya Dia. Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan dalam diri maka lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam situasi stillness (diam, hening, tanpa dimensi). Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi menjadi khalifah di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan di 'langit'. Tapi turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit bukanlah turun ke dimensi yg lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga dimensi spirit dan fisik berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran spiritual tinggi. Oleh karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur dengan seluruh umat manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun berorientasi penuh (menyembah) Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada Ka'bah. Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 (jihad), tidak kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah sudah training menjadi khalifah yg selalu menyembahNya. Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan lil'alamin setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah menjadi orang yg berserah diri sepenuhnya kepadaNya (muslim). Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: - ekadj <4ek...@gmail. com> Pertemuan Ruang dan Waktu Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah mengetahui') , yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang senior dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau) menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya nantinya akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu bertemunya tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya adalah di Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan Ashar. Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan Tuhannya, yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi menyebutkan bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung ke muka bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir kepadaNya serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami. Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan haji, sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam kepadamu), dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan bagi engkau wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia pada siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk meminta ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan mempersiapkan masa depan; serta menyempurnakan rukun Islam. Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu bagiMu. Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. (22:27-28).

