Pak Eka, kata magnet mungkin sudut pandang pengamat berjarak atau 
terkontaminasi ilmu fisika. Hidayah apakah sama atau mirip dengan wahyu dalam 
pewayangan Jawa ? Ataukah hidayah sama dengan enerji ilahi yang suci dan murni 
menurut kacamata fisika-religius ? Atau mirip dengan spirit of place, yang 
artinya multi tafsir ? Mohon pencerahan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 12/3/09, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: hidayah dan ruang
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Thursday, December 3, 2009, 8:18 PM







 



  


    
      
      
      Pak Djarot, Pak Koes, dan rekan2 ysh.
Terima kasih atas pandangan dan pendapatnya. Sebelumnya judul thread ini kita 
ubah sedikit, mengingat sudah ada peringatan dari Pak Mody.
Saya ada sedikit pandangan berbeda mengenai istilah 'magnet', bahwa sebenarnya 
yang dikejar oleh setiap peziarah itu sebenarnya adalah 'hidayah', yang 
diyakini berada di tempat-tempat tertentu. Sebagaimana beberapa peristiwa yang 
saya alami, hidayah itu ternyata tidak menetap di suatu ruang dan di suatu 
waktu; terkecuali ruang-waktu yang dijanjikan Allah swt seperti di Arafah itu, 
juga Masjidil Haram dan Madinah.

 
Mungkin saya diizinkan menjelaskan sedikit mengenai hidayah itu sejauh 
pemahaman saya selama ini. Hal ini sebenarnya cukup berat saya lakukan karena 
kompetensi yang kurang, dan juga sebenarnya hal ini merupakan tugas para 
mujtahid; seperti banyak yang lebih pantas menyampaikan di antara kita peserta 
milis ini. Bahwa sebenarnya hidayah Allah itu diberikan ke seluruh alam 
semesta, dalam berbagai bentuk, dan terkadang juga membedakan hakekat makhluk. 
Hal ini sebenarnya merupakan rahasia dari keadilan Allah swt. Misalnya hidayah 
akal, diberikan kepada manusia untuk membedakannya dengan makhluk lain. 
Kemudian hidayah kemerdekaan, yang membedakan insan religi dengan insan lainnya 
yang masih disaput nafsu. Kemudian hidayah iman, yang membedakan seorang muslim 
dengan manusia dan makhluk lainnya, yang juga merupakan hidayah tertinggi.

 
Dengan demikian hidayah itu telah ditentukan oleh Allah swt dengan demikian 
adilnya. Terkadang bisa diberikan ketika beribadah, di Curitiba, di Paris, di 
dalam bus kota, di goa Selarong, di Parang Tritis, di musholla hotel di Kemang, 
di tengah laut, dst. Di berbagai tempat yang bersih dan wening, dimana hidayah 
berkenan untuk hadir. Namun sejauh yang saya yakini bila hidayah itu 'hinggap' 
dan bergerak berbatas ruang dan waktu. Sehingga belum tentu bila seseorang yang 
pernah menerima hidayah akan terberkati selamanya. Dalam hal ini adalah benar 
kiranya apa yang disampaikan oleh Pak Koes: "... mudah-mudahan oleh-oleh 
cahayaNya bertahan lama ..." Karena hati manusia tidaklah terbuat dari besi dan 
menyediakan media penyimpanan yang permanen. Atau sering disebut Mulan Jameela 
dengan "hatiku ini bukanlah hati yang tercipta dari besi dan baja, hatiku ini 
bisa remuk dan hancur". Dengan demikian bila hidayah itu telah hinggap, memang 
merupakan suatu tugas
 berat untuk menjaga dan memeliharanya.

 
Saya tidak mempercayai bila hidayah itu 'bersemayam' di suatu tempat kecuali 
tempat-tempat yang disebutkan secara khusus; namun bisa jadi pernah singgah di 
tempat itu. Sehingga seharusnya memang manusia itu mengharapkan hidayah 
'langsung' dari Allah swt, di berbagai tempat yang bersih dan wening dan di 
berbagai waktu. Dan secara senantiasa, secara taubat, syukur dan ikhlas.

 
Demikian sementara waktu pak, mudah-mudahan ada yang berkenan meluruskan dan 
menambahkan. Salam.
 
-ekadj


2009/12/3 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>


  







Pak Koes, Pak Eka dan sahabats,

Jika demikian, saya jadi mengerti mengapa suatu ruang tertentu menjadi selalu 
dirindui (ngangeni) untuk dialami kembali, karena ya pengalaman spiritual 
semacam itu. Fenomena pengalaman spiritual yang sangat mendalam barangkali 
menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan para arsitek dan 
perencana dalam menjalankan tugas profesionalnya. Tentu fenomena ini terjadi 
pada tema atau kasus ruang-ruang bernuansa religius. Saya jadi ingat, mengapa 
Parangkusumo- Parangtritis setiap malem satu Suro pengunjungnya mbludag, bahkan 
pemkab Bantul menjadikannya salah satu penghasilan daerah, ya karena nilai 
spiritual dari ruang itulah MAGNETnya (meminjam istilah Pak Sudaryono).


Saya lantas jadi mengerti, mengapa seseorang ingin berkali-kali ke Mekkah, 
bukan semata-mata karena berhaji berkali-kali melainkan karena mengalami 
peristiwa spiritual yang menyentuh jiwanya hingga sangat mendalam. Jika 
motivasinya adalah pencerahan ilahi, tentu hal ini sangat manusiawi dan 
religius. Hal yang sama juga terjadi di kalangan umat agama yang lain, misalnya 
ziarah Walisongo yang populer di kalangan pesantren di jawa.


Menurut saya, jika kita punya pengalaman tentang spiritual semacam itu, 
pastilah menjadi penguat dalam praktek profesi karena kita memilikinya sebagai 
deposit pengetahuan (dan pengalaman). Seorang arsitek bisa saja tidak perlu 
menjadi seorang presiden terlebih dahulu untuk menyelesaikan tugas merancang 
istana presiden, atau tidak perlu menjadi penjahat lebih dulu untuk 
menyelesaikan tugas desain sebuah penjara yang manusiawi... .


Saya kira, pengalaman spiritual atau apapun mesti kita tarik manfaatnya untuk 
pemerkayaan profesi kita, jika kita sepakat milis ini untuk mengembangkan 
pengalaman dan profesionalitas profesi kita.... 


Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Thu, 12/3/09, muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> wrote:



From: muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> 

Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, December 3, 2009, 5:37 AM


  







Mas ATA, Mas Ekadj, dll,
Alhamdulillah, para pemikir kita ini, telah memperoleh pencerahan dari 
sumberNya,.. .semoga oleh-oleh cahayaNya bertahan lama 
Siapa mau menyongsong, menyusu, dan menyusul 
Salam, KoesJKT
 

--- On Wed, 2/12/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote:



From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: refere...@yahoogrou ps.com 



Date: Wednesday, 2 December, 2009, 21:27


  

Betul sekali,
saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut...
...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat 
mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main....
...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang- kultur berbeda, padang 
Arafah sepi melompong... .tidak ada apa-apanya.. ..


Wassalam,
ATA


2009/11/27 muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk>



  


[Attachment(s) from muhammad koeswadi included below] 





Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah nama yang 
membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan kesejajaran dan 
‘kematian’. 

Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu Allah/dhuyufur rahmah) 
berstatus sama. Waktunya 9 dzulhijjah (hari Arafah) bukan 10 dzulhijjah, jamnya 
dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat hingga sore). Tempatnya padang 
Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas adminstrasi tegas (menurut sumber 
ditetapkan Malaikat Jibril as.). Siapapun yang berhaji (wukuf) harus masuk di 
dalam wilayah administrasi ini. Di luar batas ini batal (tidak syah).  Di luar 
batas waktu ini batal juga. 

Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak berjahit) 
menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga lingkungan 
hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang rumput, 
pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan dilarang 
mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku, rambut. 

Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu pengetahuan 
(jidal). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 hari, 9-13 dzulhijjah). 
Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran kena saknsi denda (dam). 

Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian (Ibrahim 
as.).  (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table Peristiwa 
Hajji). 

Wassalam. Koes, JKT.






    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke