Terima kasih Pak Irwan, sahabat yang terlihat selalu damai dan penuh senyum. Pak Djarot, Pak Irwan ini yang dulu menyarankan saya untuk memperhatikan kerang-kerangan di Timor. Salam.
--- In [email protected], Irwan Wipranata <irwan_wipran...@...> wrote: > > Yth pak eka,Pak Jarot, Pak Koes,dan rekan2 ysh, > Salam kenal pak. Terimakasih atas pandangan dan pendapat bapak bapak, saya sudah lama mengikuti milis ini, benar2 kali ini saya tersentuh dgn tulisan pak Eka, terasa tenaga hidayah itu tersalurkan melalui milis ini. > Kalau dikalangan umat katholik kita mengenal juga seperti di Lourdes Perancis, bahkan di indonesia ada beberapa tempat spt Sendang Sono , lembah Karmel didesa Cikanyere dllnya, saya percaya bahwa hidayah itu Tuhan berikan dengan seadil adilnya. > > Bahagia sekali tulisan pak Eka seolah memberi jawaban apa yg saya rasakan pada saat berziarah,ditempat yang bersih, wening,berbagi waktu, akan menghantar kita pada rasa syukur, taubat , kedamaian dan sukacita. > > Apa yg saya rasakan bahwa ada curahan Rohul kudus yg kita terima untuk menerima hidayah di ruang itu. > Menarik sekali untuk mengadakan diskusi lebih lanjutyg diharapkan akan memperkaya khasanah tata ruang yg porak poranda contohnya seperti di Dubai, Macau dllnya. >  > Khasanah budaya dan religi kita dgn konteks hidayah dan ruang akan lebih menebalkan ke imanan kita. > semoga ya pak. >  > salam, > B.Irwan Wipranata >  >  >  >  > > ________________________________ > > From: - ekadj 4ek...@... > To: [email protected]; [email protected]; [email protected] > Sent: Thu, 3 December, 2009 20:18:50 > Subject: [referensi] Re: hidayah dan ruang > > Pak Djarot, Pak Koes, dan rekan2 ysh. > Terima kasih atas pandangan dan pendapatnya. Sebelumnya judul thread ini kita ubah sedikit, mengingat sudah ada peringatan dari Pak Mody. > Saya ada sedikit pandangan berbeda mengenai istilah 'magnet', bahwa sebenarnya yang dikejar oleh setiap peziarah itu sebenarnya adalah 'hidayah', yang diyakini berada di tempat-tempat tertentu. Sebagaimana beberapa peristiwa yang saya alami, hidayah itu ternyata tidak menetap di suatu ruang dan di suatu waktu; terkecuali ruang-waktu yang dijanjikan Allah swt seperti di Arafah itu, juga Masjidil Haram dan Madinah. > > Mungkin saya diizinkan menjelaskan sedikit mengenai hidayah itu sejauh pemahaman saya selama ini. Hal ini sebenarnya cukup berat saya lakukan karena kompetensi yang kurang, dan juga sebenarnya hal ini merupakan tugas para mujtahid; seperti banyak yang lebih pantas menyampaikan di antara kita peserta milis ini. Bahwa sebenarnya hidayah Allah itu diberikan ke seluruh alam semesta, dalam berbagai bentuk, dan terkadang juga membedakan hakekat makhluk. Hal ini sebenarnya merupakan rahasia dari keadilan Allah swt. Misalnya hidayah akal, diberikan kepada manusia untuk membedakannya dengan makhluk lain. Kemudian hidayah kemerdekaan, yang membedakan insan religi dengan insan lainnya yang masih disaput nafsu. Kemudian hidayah iman, yang membedakan seorang muslim dengan manusia dan makhluk lainnya, yang juga merupakan hidayah tertinggi. > > Dengan demikian hidayah itu telah ditentukan oleh Allah swt dengan demikian adilnya. Terkadang bisa diberikan ketika beribadah, di Curitiba, di Paris, di dalam bus kota, di goa Selarong, di Parang Tritis, di musholla hotel di Kemang, di tengah laut, dst. Di berbagai tempat yang bersih dan wening, dimana hidayah berkenan untuk hadir. Namun sejauh yang saya yakini bila hidaah itu 'hinggap' dan bergerak berbatas ruang dan waktu. Sehingga belum tentu bila seseorang yang pernah menerima hidayah akan terberkati dselamanya. Dalam hal ini adalah benar kiranya apa yang disampaikan oleh Pak Koes: "... mudah-mudahan oleh-oleh cahayaNya bertahan lama ..." Karena hati manusia tidaklah terbuat dari besi dan menyediakan media penyimpanan yang permanen. Atau sering disebut Mulan Jameela dengan "hatiku ini bukanlah hati yang tercipta dari besi dan baja, hatiku ini bisa remuk dan hancur". Dengan demikian bila hidayah itu telah hinggap, memang merupakan suatu tugas > berat untuk menjaga dan memeliharanya. > > Saya tidak mempercayai bila hidayah itu 'bersemayam' di suatu tempat kecuali tempat-tempat yang disebutkan secara khusus; namun bisa jadi pernah singgah di tempat itu. Sehingga seharusnya memang manusia itu mengharapkan hidayah 'langsung' dari Allah swt, di berbagai tempat yang bersih dan wening dan di berbagai waktu. Dan secara senantiasa, secara taubat, syukur dan ikhlas. > > Demikian sementara waktu pak, mudah-mudahan ada yang berkenan meluruskan dan menambahkan. Salam. > > -ekadj

