Pak Eka, untuk bergerak ke arah transenden kayaknya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Ketika kita memiliki informasi yang mendalam tentang suatu tempat, dan jiwa kita "terlatih" mengalami pengalaman religius tampaknya agak lebih mudah orang melintasi ambang pintu gaib itu. Dalam bahasa yang lain, ketika kita memandang sebuah lukisan, syarat-syarat yang diperlukan memadai, maka yang kita pandang bukan lagi lukisan itu melainkan sesuatu yang lebih relijius.
Hal seperti ini pernah saya alami, ketika sebelum menelusiri jejak kerajaan Majapahit di Trowulan kami diberi informasi lebih dahulu tentang seluk-beluk Trowulan oleh ahlinya (pasangan arkeolog Pak Romli dan Ibu Inayati). Pak Romli adalah dedengkot lapangan sedangkan istrinya doktor arkeologi, jadinya klop pemahaman awalnya. Nah ketika kami di lapangan, pemahaman awal tersebut berkembang lebih kaya dan berbagai diskusi yang terjadi semakin memperkaya. Persoalan "menghayati ruang" ini saya kira lebih menjadi tugas para arsitek, barangkali jauh dari kebiasaan para planner. Apakah begitu ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Thu, 12/3/09, - ekadj <[email protected]> wrote: From: - ekadj <[email protected]> Subject: [referensi] liminalitas dan ruang To: [email protected], [email protected], [email protected] Date: Thursday, December 3, 2009, 9:03 PM Pak Djarot dan rekan2 ysh. Saya pernah mendatangi beberapa tempat, seperti gereja Notre Dome, Abbey, Koln, dan Brugge. Yang di Brugge itu menarik karena ada lukisan dinding abad pertengahan. Memang nuansa keagamaan untuk kota-kota di Eropah khususnya terbangun sejak abad pertengahan. Untuk nuansa Hindu-Budha di Indonesia telah terbangun jauh sebelum itu. Termasuk Maya-nya Pak Aby. Sepertinya dirangkum oleh Machiavelli, bahwa setiap orang yang berdaulat berdiri pada hubungan singularitas dan eksternalitas dan kemudian transenden, untuk mengukuhkan kedaulatannya. Hal ini, menurut Victor Turner, karena manusia selalu mengalami proses 'liminalitas' (liminality) , yaitu proses transisi dari dua tempat kedudukan yang berbeda (ambang pintu). Seharusnya dilakukan ritual untuk mengiringi proses ini untuk memantapkan pemindahan. Untuk ritual skala besar, atau untuk 'communitas' (community dikurangi struktur), maka dilakukan disain kota/kawasan sedemikian rupa, termasuk juga disain arsitektur. Hampir semua agama melakukan hal yang sama secara keruangan. Namun, menurut saya, untuk agama Islam kurang begitu diperhatikan. Persyaratan liminalitas terpulang kepada masing-masing individu: taubat, syukur, zikir, dan ikhlas. Biasanya mudah dilakukan di tempat yang bersih dan tenang; dan apresiasi yang sangat mendalam biasanya pada orang-orang yang sedang terzalimi dan sedang menuntut ilmu. Karenanya ada hadits yang menyebutkan: 'tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat' dan 'tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina'; yang berarti diharapkan pada setiap muslim untuk selalu berada dalam posisi liminalitas dan ingin berubah. Yang berarti juga, proses liminalitas dilakukan dengan penuh kesadaran (conciousness) dan rasional, dan satu lagi: bergerak dari satu tempat ke tempat lain (mobile). Mungkin demikian sementara waktu pak. Mohon pelurusan dan penambahan dari para ahli hikmah. Salam. -ekadj 2009/12/3 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Koes, Pak Eka, dan sahabats, Tambahan dan koreksi: contoh pengalaman spiritual dari agama lain tampaknya keliru. Seharusnya, misalnya dari kalangan Katolik ada orang yang berkali-kali dan rutin datang ke Sendangsono. bukan karena terpesona mahakarya Mangunwijaya, melainkan karena kerinduan mengalami pengalaman spiritual. Tampaknya tema "nilai ruang yang trandenden" bukan ekonomis atau sosial semata menjadi hal yang penting dalam profesi arsitektur atau perencanaan. Dengan demikian, deposit pengetahuan kita tidak hanya berisi teori-teori yang akan menjadikan kita sangat textbook thinking melainkan akan memperkaya cara berpikir kita menjadi lebih baik, yaitu trancendental thinking juga. Belajar dari pengalaman sendiri memang perlu tetapi kekayaan pengalaman orang lain juga sangat penting untuk memperkaya jiwa kita, praktek profesi kita. Apakah begitu ya ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Thu, 12/3/09, muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> wrote: From: muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, December 3, 2009, 5:37 AM Mas ATA, Mas Ekadj, dll, Alhamdulillah, para pemikir kita ini, telah memperoleh pencerahan dari sumberNya,.. .semoga oleh-oleh cahayaNya bertahan lama Siapa mau menyongsong, menyusu, dan menyusul Salam, KoesJKT --- On Wed, 2/12/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, 2 December, 2009, 21:27 Betul sekali, saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut... ...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main.... ...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang- kultur berbeda, padang Arafah sepi melompong... .tidak ada apa-apanya.. .. Wassalam, ATA

