Pak Eka dan Sahabats, Terima kasih atas buah-buah pencerahan yang boleh saya terima, penjelasannya mendalam. Tampaknya kita mulai menyentuh situasi transisi dan mungkin tentang ruang-ruang transisi dan meditasi. Sejauh saya tahu, tema obyek diskusi semacam ini semestinya menarik bagi kalangan arsitek karena akan terkait dengan desain ruang dalam artian yang lebih sempit-dekat (terlihat dan teraba). Saya senang punya sahabat yang mau berbagi sejauh ini, sebab memperkaya pemahaman saya sebagai arsitek. Tentu pengalaman menghayati ruang yang dikaitkan dengan situasi yang sangat subyektif lebih memperkaya saya, artinya panjenengan lebih banyak memberi daripada menerima dari saya. Apakah demikian ?
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Fri, 12/4/09, - ekadj <[email protected]> wrote: From: - ekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: liminalitas dan ruang To: [email protected], [email protected], [email protected] Date: Friday, December 4, 2009, 6:46 PM Pak Djarot dan rekan2 ysh. Sepertinya diskusi kita bergerak ke arah 'plano-religi', mudah-mudahan seiring dengan waktu ada 'hidayah' yang kita terima. Saya memahami memang banyak jalan transendendal, karenanya terbentuk banyak agama dan keyakinan; dan dalam Islam sendiri terdapat beberapa mazhab, aliran, dan tarikat. Di Madinah di seberang Masjid Nabawi, terdapat sebuah mesjid yang bernama Al Ijabah. Diriwayatkan bila Rasulullah saw pernah berdoa di mesjid ini, dari 3 permintaan hanya 2 yang diluluskan Allah swt; dan yang ditolak adalah keinginan Rasulullah saw agar umatnya dapat disatukan dalam satu syariat. Sehingga syarat-syarat dalam syariat dapat berbeda dalam setiap agama dan mazhab. Namun benar bila perlu 'latihan' dalam proses transendental ini, yang menunjukkan bahwa tidak ada proses instan dalam berkeyakinan dan berkesadaran. Saya ingin meluruskan tentang liminalitas, bahwa Victor Turner dalam bukunya "The Ritual Process" berteori tentang adanya ritual perubahan tempat, keadaan, status sosial, dan umur. Teori ini berdasar penelitiannya pada suku Ndembu di Afrika, serta hasil penelitian Arnold van Gennep tentang 'les rites de passage'. Menurut van Gennep terdapat 3 tahapan dalam ritus peralihan ini, yaitu: ritus pemisahan, ritus perpindahan, dan ritus inkorporasi. Turner mengatakan liminalitas merupakan tahapan ke-2 dari 3 tahap pendewasaan van Gennep. Saya kembangkan pengertiannya, bahwa pada kondisi liminalitas merupakan kondisi seseorang dalam keadaan ambigu atau transisi, satu kaki masih di luar rumah satu kaki yang lain sudah di dalam rumah (ambang pintu). Biasanya terjadi pada anak-anak berangkat dewasa (abg), masa pertunangan, masa menerima jabatan baru, masa persiapan pensiun, masa memiliki anak kembar, dst. Masa-masa seperti ini adalah masa-masa yang sangat kritis, sehingga sering mengalami gangguan; dan kalau untuk suku Ndembu bentuk gangguannya adalah makhluk halus. Untuk mengatasinya maka dilakukan upacara (ritual) secara transendental, untuk meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Di dalam Islam hal-hal seperti ini dilakukan juga, walau dalam pemaknaan yang berbeda. Misalnya kewajiban seorang ayah kepada anak sekurangnya 4 perkara: mengazankan/ mengiqomahkan ketika dilahirkan, mengakikahkan sebagai wujud syukur, memberikan nama dan mengeluarkan zakat atas rambut, mengkhitankan untuk anak laki-laki dan atau mengawinkan untuk anak perempuan. Setiap tahapan ini dilakukan walimah bila berkemampuan, yang lebih ditujukan sebagai bentuk syukur. Demikian juga bila akan bepergian jauh (walimatus safar), pernikahan, memangku jabatan/amanah, dlsb. Secara adat-budaya hal-hal seperti ini juga dilakukan, seperti dulu kita mengupa-upa Pak Mod kita. Saya kira juga ada tradisi dalam Katholik, Hindu, dan agama-agama lain; dalam bentuk berbeda. Dengan demikian istilah 'liminalitas' kita terima secara generik, untuk menggambarkan priode kegamangan setiap manusia ketika menghadapi perobahan. Secara ritual Budha kita lihat seperti prosesi pencerahan mulai dari Candi Mendut hingga stupa Borobudur. Dalam Hindu, kalau saya lihat di Bali, yaitu mulai batas kesucian pura dan orientasi ruang; mungkin Pak Wayan dkk lebih pas menjelaskan. Untuk Katholik/Protestan seperti saya lihat di Eropah dalam disain kathedral dan bagian kota. Mungkin, ini bila saya berteori, dimaksudkan untuk memberikan kesan liminalitas yang transendental. Untuk Islam sendiri masih saya mencari polanya. Satu hal yang pasti adalah 'miqot', dalam batas-batas tertentu, dan telah ditunjukkan oleh Pak Koes persyaratannya. Serta pernah kita diskusikan sebelumnya dalam Jagad Jawa. Demikian pak, untuk Trowulannya boleh juga tuh kapan-kapan diceritakan. Salam. -ekadj 2009/12/3 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Eka, untuk bergerak ke arah transenden kayaknya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Ketika kita memiliki informasi yang mendalam tentang suatu tempat, dan jiwa kita "terlatih" mengalami pengalaman religius tampaknya agak lebih mudah orang melintasi ambang pintu gaib itu. Dalam bahasa yang lain, ketika kita memandang sebuah lukisan, syarat-syarat yang diperlukan memadai, maka yang kita pandang bukan lagi lukisan itu melainkan sesuatu yang lebih relijius. Hal seperti ini pernah saya alami, ketika sebelum menelusiri jejak kerajaan Majapahit di Trowulan kami diberi informasi lebih dahulu tentang seluk-beluk Trowulan oleh ahlinya (pasangan arkeolog Pak Romli dan Ibu Inayati). Pak Romli adalah dedengkot lapangan sedangkan istrinya doktor arkeologi, jadinya klop pemahaman awalnya. Nah ketika kami di lapangan, pemahaman awal tersebut berkembang lebih kaya dan berbagai diskusi yang terjadi semakin memperkaya. Persoalan "menghayati ruang" ini saya kira lebih menjadi tugas para arsitek, barangkali jauh dari kebiasaan para planner. Apakah begitu ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Thu, 12/3/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote: From: - ekadj <4ek...@gmail. com> Subject: [referensi] liminalitas dan ruang To: refere...@yahoogrou ps.com, im...@yahoogroups. com, alumnimuslimitb@ yahoogroups. com Date: Thursday, December 3, 2009, 9:03 PM Pak Djarot dan rekan2 ysh. Saya pernah mendatangi beberapa tempat, seperti gereja Notre Dome, Abbey, Koln, dan Brugge. Yang di Brugge itu menarik karena ada lukisan dinding abad pertengahan. Memang nuansa keagamaan untuk kota-kota di Eropah khususnya terbangun sejak abad pertengahan. Untuk nuansa Hindu-Budha di Indonesia telah terbangun jauh sebelum itu. Termasuk Maya-nya Pak Aby. Sepertinya dirangkum oleh Machiavelli, bahwa setiap orang yang berdaulat berdiri pada hubungan singularitas dan eksternalitas dan kemudian transenden, untuk mengukuhkan kedaulatannya. Hal ini, menurut Victor Turner, karena manusia selalu mengalami proses 'liminalitas' (liminality) , yaitu proses transisi dari dua tempat kedudukan yang berbeda (ambang pintu). Seharusnya dilakukan ritual untuk mengiringi proses ini untuk memantapkan pemindahan. Untuk ritual skala besar, atau untuk 'communitas' (community dikurangi struktur), maka dilakukan disain kota/kawasan sedemikian rupa, termasuk juga disain arsitektur. Hampir semua agama melakukan hal yang sama secara keruangan. Namun, menurut saya, untuk agama Islam kurang begitu diperhatikan. Persyaratan liminalitas terpulang kepada masing-masing individu: taubat, syukur, zikir, dan ikhlas. Biasanya mudah dilakukan di tempat yang bersih dan tenang; dan apresiasi yang sangat mendalam biasanya pada orang-orang yang sedang terzalimi dan sedang menuntut ilmu. Karenanya ada hadits yang menyebutkan: 'tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat' dan 'tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina'; yang berarti diharapkan pada setiap muslim untuk selalu berada dalam posisi liminalitas dan ingin berubah. Yang berarti juga, proses liminalitas dilakukan dengan penuh kesadaran (conciousness) dan rasional, dan satu lagi: bergerak dari satu tempat ke tempat lain (mobile). Mungkin demikian sementara waktu pak. Mohon pelurusan dan penambahan dari para ahli hikmah. Salam. -ekadj 2009/12/3 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Koes, Pak Eka, dan sahabats, Tambahan dan koreksi: contoh pengalaman spiritual dari agama lain tampaknya keliru. Seharusnya, misalnya dari kalangan Katolik ada orang yang berkali-kali dan rutin datang ke Sendangsono. bukan karena terpesona mahakarya Mangunwijaya, melainkan karena kerinduan mengalami pengalaman spiritual. Tampaknya tema "nilai ruang yang trandenden" bukan ekonomis atau sosial semata menjadi hal yang penting dalam profesi arsitektur atau perencanaan. Dengan demikian, deposit pengetahuan kita tidak hanya berisi teori-teori yang akan menjadikan kita sangat textbook thinking melainkan akan memperkaya cara berpikir kita menjadi lebih baik, yaitu trancendental thinking juga. Belajar dari pengalaman sendiri memang perlu tetapi kekayaan pengalaman orang lain juga sangat penting untuk memperkaya jiwa kita, praktek profesi kita. Apakah begitu ya ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Thu, 12/3/09, muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> wrote: From: muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, December 3, 2009, 5:37 AM Mas ATA, Mas Ekadj, dll, Alhamdulillah, para pemikir kita ini, telah memperoleh pencerahan dari sumberNya,.. .semoga oleh-oleh cahayaNya bertahan lama Siapa mau menyongsong, menyusu, dan menyusul Salam, KoesJKT --- On Wed, 2/12/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, 2 December, 2009, 21:27 Betul sekali, saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut... ...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main.... ...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang- kultur berbeda, padang Arafah sepi melompong... .tidak ada apa-apanya.. .. Wassalam, ATA

