Pak Koes, sejauh saya tahu, ada doa model cara untuk mencapai tahap mengalami 
pengalaman transenden, yaitu melalui situasi hening dan di dalam situasi 
keramaian. Kita bisa melihat dalam tradisi Katolik ada biara-biara terpencil 
dan ada kelompok yang melakukan "tata ngrame" (bertapa di dalam keramaian). 
Ordonya juga ada, yaitu aliran Benediktin dan SJ (Serikat Yesus, atau 
sahabat-sahabat Yesus, bukan Saking Jogya lho). Prakteknya, rumah biara 
Rawaseneng (biarawan) atau sebuah biara putri di Salatiga (maaf lupa namanya) 
karya Mangunwijaya dilandasi konsep meditasi hening. Di dalam dan melalui 
keheningan ingin menjumpai Tuhan.

Lain dengan SJ, yang bertapa ngrame, mereka malahan hidup bersama masyarakat 
umum, namun dilandasi konsep meditasi di dalam keramaian....puitiknya: berjumpa 
dengan Tuhan di setiap tempat dan situasi. Salah satu karya orang-orang SY ini 
adalah sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Mereka tidak berdiam diri di kamar 
melainkan terjun di dalam kehidupan nyata, tetapi ada waktu khusus untuk 
merenungkan aksinya, maka relasi antara aksi - refleksi = praksis. Jadi jika 
kita bilang praksis itu artinya ada aksi kemudian selalu direfleksikan untuk 
mendapatkan apa intinya. Bahkan di dalam renungan itu selalu ada arah, 
bagaimana Tuhan hadir dalam aksi yang dialami sebelumnya, jadilah bisa berjumpa 
dengan Tuhan di dalam aksi.

Pendirian perguruan tinggi di kalangan Katolik pada awalnya dilandasi semangat 
bertapa dalam keramaian, bahkan pernah ada situasi masa lalu bahwa yang boleh 
mendirikan perguruan tinggi hanya kalangan biarawan, tegasnya ordo SY yang 
secara struktural bertanggungjawab langsung kepada Paus. Jika kita perhatikan, 
perguruan-perguruan tinggi yang usianya tua umumnya lahir dari biara-biara, 
seperti halnya teori genetika lahir dari biarawan. Pendirian Atma Jaya di Jogja 
awalnya pernah mendapat cibiran dari kalangan berjubah, mungkin karena 
didirikan oleh awam dan semangat lama masih bercokol. Jika para romo SY menjadi 
pengajar-pengajar yang sangat bagus (para dosen STF Driyarkara, misalnya) itu 
karena mereka menghayati bertapa dalam keramaian itu dan menurut kami perguruan 
tinggi memang lahir dari jantung gereja. Ini ada dekritnya dari Paus.

Nah, persoalan meditasi dalam keheningan atau dalam keramaian memang memiliki 
implikasi berbeda dalam melahirkan ruang / keruangan. Menurut saya hal ini 
penting ketika kita ingin memahami fenomena ruang-ruang lokal yang lahir dari 
adanya nilai-nilai relijius di dalamnya. Tentu kita ingat analisis sabung ayam 
di Bali oleh Geerts itu, bahwa ruang religius mampu memproduksi ruang-ruang 
ekonomi dst.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 12/4/09, muhammad koeswadi <[email protected]> wrote:

From: muhammad koeswadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: liminalitas dan ruang [3 Attachments]
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Cc: "farhan riska" <[email protected]>
Date: Friday, December 4, 2009, 9:30 PM







 



  


    
      
              
        [Attachment(s) from muhammad koeswadi included below]
        
      
      Mas Ekadj, mas Djarot, mas Irvan, dll 
Semakin menarik mengikuti bahasan rekan2 “planoreligi” di milis ini. Sebab, 
isinya sayang untuk dilewatkan. Pengalaman bathin, lapangan, telusuran buku 
rujukan semuanya dikemukakan secara santun dan memperkaya pemahaman kita, 
setidaknya saya mendapat banyak masukan..terima kasih mas Ekadj, mas Djarot, 
dll, smoga dpt saya gunakan sebaik2nya.  
Beberapa tulisan yg lalu, agaknya membahas karya abadi para perancang/perencana 
masa silam. Di lihat dari tata letak, saya menyebutnya ada kesengajaan menyusun 
massanya untuk maksud pengkondisian ‘orientasi dan prossesi.’ Hal semacam ini 
memang sering kita jumpai, seperti Taj Mahal yang hamparan taman depannya 
begitu luas tapi diarahkan ke vocal point bangunan utamanya, begitu pula menara 
Eifel yang di kepung jajaran pohon (kalau tdk keliru oak trees, mohon 
dibetulkan), ataupun setting lapangan yang ada Monasnya memiliki nodes di 
jembatan Harmony bag utara, dan Patung Tani/jembatan Kramat samping Gunung 
Agung  bag selatan. Benarkah ini adalah bagian upaya orientasi dan prossesi 
menuju suatu ciptaan/karya agung.  Pada obyek bangunan yang dikeramatkan/ 
dikaromahkan (dianggap memiliki jalan memperoleh keberkahan dari EMPUnya) pun 
agaknya sama. Atau malah menjadi rujukan para perancang/perencana tadi. Site 
plan pure Besakih (Bali), pura Mayura
 (Lombok), Lourdes …(lupa namanya) di Kei Kecil, masjid dan makam Syech Muria 
(Jateng) di puncak bukit, masjid al ‘Ijabah (6km, fotonya bureng)-masjid Jin 
(1km, foto ada)-masjid Kucing (0,5km,) dari tepi masjidil Haram,  ataupun 
masjid Buroq/Golden Dome dan kemudian baru mencapai masjid Al Aqsa dalam satu 
komplek yang diarahkan oleh lanskap pohon sejenis araucaria trees dan 
zaitun/olive trees ini memperkuat “cara pengkondisian” bagi mereke yang 
berkunjung. Jadi, kita sebagai pengunjung,
 memang sudah dengan membekali diri untuk mengalami (experience) sesuatu. Tentu 
suasana hening di sekitar, ataupun hening dlm hati akan mempercepat pencapaian 
‘ambang’ dst. Di sinilah saat para ahli tarikat mengikuti prosesi ‘suluk’ 
diperlukan suasana hening total (latifah di antaranya).  Menurut hemat saya, 
suasana hiruk pikuk pun dapat meraih keadaan yang diinginkan. (Mohon periksa 
terciptanya prestasi Salman al Farizi a.s si ‘insinyur sipil’ berkarya abadi di 
saat suasana genting sekali.). Nah, apa lagi bila sedari awalnya memang sudah 
berlaku sopan/tawwadu’/’pasang badan’ akan lebih mempercepat diraihnya keadaan 
hikmah/wahyu/ pengalaman bathin/ma’rifat/ide cemerlang/ ketentraman/ 
pencerahan/’perjumpaan’/natijah
 (buah).  
Catatan, bagi rekan yg berminat ‘merapat/hadir’ di Raudhah kelak, berlaku sopan 
sebagaimana berkunjung ke makam (tidak berebut/berbalap cepat mendapat tempat), 
saya kira jauh lebih baik. Tanpa embel2 mau ini itu dan menjaga  ‘adab’ adalah 
yang paling perlu dibawa. 
Melalui ‘lambaran laku’ (serious effort) dan istiqamah (bersungguh- sungguh), 
kiranya juga jalan memudahkan apa yang rekan2 sebutkan sebelumnya (lihat 
33:41-43). Mohon diluruskan pendapat ini bila bengkok. Saya selaku planner 
pernah berusaha merancang kota Siak Srie Indera Pura (Riau) berbasis pemahaman 
filosofi 4 suku/tiang penyangga (th 1999). Ternyata dapat ‘serangan’ luar biasa 
dari masyarakat pemuda setempat.. Sebaliknya, waktu belajar berkarya untuk kota 
Wonosobo (1982) merefer ke ratusan candi di puncak Dieng, dan untuk kota 
Tondano (1985) berbasis dari pemaknaan lambang/simbol burung, memperoleh 
dukungan spontan dari para sesepuh. Tahun 1995-96, saya coba melakukan 
perenungan sebentar, kemudian menggambar, dan membuat danau dari tanah gersang 
di Bekasi Timur. Teman2 praktisi menyangsikan dari mana sumber airnya…saya jawab
 dengan seloroh nakal ..’malaikat kasih air hujan’..eh ternyata hingga tahun 
ini tetap berair bening dan banyak fungsinya. (foto terlampir). Mohon 
pelurusan. 
Salam, Koes,jkt.

--- On Fri, 4/12/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: liminalitas dan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com, im...@yahoogroups. com, alumnimuslimitb@ 
yahoogroups. com
Date: Friday, 4 December, 2009, 18:46


  


Pak Djarot dan rekan2 ysh.
Sepertinya diskusi kita bergerak ke arah 'plano-religi' , mudah-mudahan seiring 
dengan waktu ada 'hidayah' yang kita terima. Saya memahami memang banyak jalan 
transendendal, karenanya terbentuk banyak agama dan keyakinan; dan dalam Islam 
sendiri terdapat beberapa mazhab, aliran, dan tarikat. Di Madinah di seberang 
Masjid Nabawi, terdapat sebuah mesjid yang bernama Al Ijabah. Diriwayatkan bila 
Rasulullah saw pernah berdoa di mesjid ini, dari 3 permintaan hanya 2 yang 
diluluskan Allah swt; dan yang ditolak adalah keinginan Rasulullah saw agar 
umatnya dapat disatukan dalam satu syariat. Sehingga syarat-syarat dalam 
syariat dapat berbeda dalam setiap agama dan mazhab. Namun benar bila perlu 
'latihan' dalam proses transendental ini, yang menunjukkan bahwa tidak ada 
proses instan dalam berkeyakinan dan berkesadaran.
 
Saya ingin meluruskan tentang liminalitas, bahwa Victor Turner dalam bukunya 
"The Ritual Process" berteori tentang adanya ritual perubahan tempat, keadaan, 
status sosial, dan umur. Teori ini berdasar penelitiannya pada suku Ndembu di 
Afrika, serta hasil penelitian Arnold van Gennep tentang 'les rites de 
passage'. Menurut van Gennep terdapat 3 tahapan dalam ritus peralihan ini, 
yaitu: ritus pemisahan, ritus perpindahan, dan ritus inkorporasi. Turner 
mengatakan liminalitas merupakan tahapan ke-2 dari 3 tahap pendewasaan van 
Gennep. Saya kembangkan pengertiannya, bahwa pada kondisi liminalitas merupakan 
kondisi seseorang dalam keadaan ambigu atau transisi, satu kaki masih di luar 
rumah satu kaki yang lain sudah di dalam rumah (ambang pintu). Biasanya terjadi 
pada anak-anak berangkat dewasa (abg), masa pertunangan, masa menerima jabatan 
baru, masa persiapan pensiun, masa memiliki anak kembar, dst. Masa-masa seperti 
ini adalah masa-masa yang sangat
 kritis, sehingga sering mengalami gangguan; dan kalau untuk suku Ndembu bentuk 
gangguannya adalah makhluk halus. Untuk mengatasinya maka dilakukan upacara 
(ritual) secara transendental, untuk meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
 
Di dalam Islam hal-hal seperti ini dilakukan juga, walau dalam pemaknaan yang 
berbeda. Misalnya kewajiban seorang ayah kepada anak sekurangnya 4 perkara: 
mengazankan/ mengiqomahkan ketika dilahirkan, mengakikahkan sebagai wujud 
syukur, memberikan nama dan mengeluarkan zakat atas rambut, mengkhitankan untuk 
anak laki-laki dan atau mengawinkan untuk anak perempuan. Setiap tahapan ini 
dilakukan walimah bila berkemampuan, yang lebih ditujukan sebagai bentuk 
syukur. Demikian juga bila akan bepergian jauh (walimatus safar), pernikahan, 
memangku jabatan/amanah, dlsb. Secara adat-budaya hal-hal seperti ini juga 
dilakukan, seperti dulu kita mengupa-upa Pak Mod kita. Saya kira juga ada 
tradisi dalam Katholik, Hindu, dan agama-agama lain; dalam bentuk berbeda.
 
Dengan demikian istilah 'liminalitas' kita terima secara generik, untuk 
menggambarkan priode kegamangan setiap manusia ketika menghadapi perobahan. 
Secara ritual Budha kita lihat seperti prosesi pencerahan mulai dari Candi 
Mendut hingga stupa Borobudur. Dalam Hindu, kalau saya lihat di Bali, yaitu 
mulai batas kesucian pura dan orientasi ruang; mungkin Pak Wayan dkk lebih pas 
menjelaskan. Untuk Katholik/Protestan seperti saya lihat di Eropah dalam disain 
kathedral dan bagian kota. Mungkin, ini bila saya berteori, dimaksudkan untuk 
memberikan kesan liminalitas yang transendental.
 
Untuk Islam sendiri masih saya mencari polanya. Satu hal yang pasti adalah 
'miqot', dalam batas-batas tertentu, dan telah ditunjukkan oleh Pak Koes 
persyaratannya. Serta pernah kita diskusikan sebelumnya dalam Jagad Jawa.
 
Demikian pak, untuk Trowulannya boleh juga tuh kapan-kapan diceritakan. Salam.

-ekadj

 
2009/12/3 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>


  







Pak Eka, untuk bergerak ke arah transenden kayaknya ada syarat-syarat yang 
harus dipenuhi. Ketika kita memiliki informasi yang mendalam tentang suatu 
tempat, dan jiwa kita "terlatih" mengalami pengalaman religius tampaknya agak 
lebih mudah orang melintasi ambang pintu gaib itu. Dalam bahasa yang lain, 
ketika kita memandang sebuah lukisan, syarat-syarat yang diperlukan memadai, 
maka yang kita pandang bukan lagi lukisan itu melainkan sesuatu yang lebih 
relijius. 

Hal seperti ini pernah saya alami, ketika sebelum menelusiri jejak kerajaan 
Majapahit di Trowulan kami diberi informasi lebih dahulu tentang seluk-beluk 
Trowulan oleh ahlinya (pasangan arkeolog Pak Romli dan Ibu Inayati). Pak Romli 
adalah dedengkot lapangan sedangkan istrinya doktor arkeologi, jadinya klop 
pemahaman awalnya. Nah ketika kami di lapangan, pemahaman awal tersebut 
berkembang lebih kaya dan berbagai diskusi yang terjadi semakin memperkaya. 
Persoalan "menghayati
 ruang" ini saya kira lebih menjadi tugas para arsitek, barangkali jauh dari 
kebiasaan para planner. Apakah begitu ? 


Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Thu, 12/3/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] liminalitas dan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com, im...@yahoogroups. com, alumnimuslimitb@ 
yahoogroups. com
Date: Thursday, December 3, 2009, 9:03 PM


  



Pak Djarot dan rekan2 ysh.
Saya pernah mendatangi beberapa tempat, seperti gereja Notre Dome, Abbey, Koln, 
dan Brugge. Yang di Brugge itu menarik karena ada lukisan dinding abad 
pertengahan. Memang nuansa keagamaan untuk kota-kota di Eropah khususnya 
terbangun sejak abad pertengahan. Untuk nuansa Hindu-Budha di Indonesia telah 
terbangun jauh sebelum itu. Termasuk Maya-nya Pak Aby.
 
Sepertinya dirangkum oleh Machiavelli, bahwa setiap orang yang berdaulat 
berdiri pada hubungan singularitas dan eksternalitas dan kemudian transenden, 
untuk mengukuhkan kedaulatannya. Hal ini, menurut Victor Turner, karena manusia 
selalu mengalami proses 'liminalitas' (liminality) , yaitu proses transisi dari 
dua tempat kedudukan yang berbeda (ambang pintu). Seharusnya dilakukan ritual 
untuk mengiringi proses ini untuk memantapkan pemindahan. Untuk ritual skala 
besar, atau untuk 'communitas'  (community dikurangi struktur), maka dilakukan 
disain kota/kawasan sedemikian rupa, termasuk juga disain arsitektur.
 
Hampir semua agama melakukan hal yang sama secara keruangan. Namun, menurut 
saya, untuk agama Islam kurang begitu diperhatikan. Persyaratan liminalitas 
terpulang kepada masing-masing individu: taubat, syukur, zikir, dan ikhlas. 
Biasanya mudah dilakukan di tempat yang bersih dan tenang; dan apresiasi yang 
sangat mendalam biasanya pada orang-orang yang sedang terzalimi dan sedang 
menuntut ilmu. Karenanya ada hadits yang menyebutkan: 'tuntutlah ilmu dari 
buaian sampai ke liang lahat' dan 'tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina'; yang 
berarti diharapkan pada setiap muslim untuk selalu berada dalam posisi 
liminalitas dan ingin berubah. Yang berarti juga, proses liminalitas dilakukan 
dengan penuh kesadaran (conciousness) dan rasional, dan satu lagi: bergerak 
dari satu tempat ke tempat lain (mobile).
 
Mungkin demikian sementara waktu pak. Mohon pelurusan dan penambahan dari para 
ahli hikmah. Salam.
 
-ekadj

 

2009/12/3 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>


  









Pak Koes, Pak Eka, dan sahabats,

Tambahan dan koreksi: contoh pengalaman spiritual dari agama lain tampaknya 
keliru. Seharusnya, misalnya dari kalangan Katolik ada orang yang berkali-kali 
dan rutin datang ke Sendangsono. bukan karena terpesona mahakarya Mangunwijaya, 
melainkan karena kerinduan mengalami pengalaman spiritual. Tampaknya tema 
"nilai ruang yang trandenden" bukan ekonomis atau sosial semata menjadi hal 
yang penting dalam profesi arsitektur atau perencanaan.

Dengan demikian, deposit pengetahuan kita tidak hanya berisi teori-teori yang 
akan menjadikan kita sangat textbook thinking melainkan akan memperkaya cara 
berpikir kita menjadi lebih baik, yaitu trancendental thinking juga. Belajar 
dari pengalaman sendiri memang perlu tetapi kekayaan pengalaman orang lain juga 
sangat penting untuk memperkaya jiwa kita, praktek profesi kita. Apakah begitu 
ya ? 




Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com


--- On Thu, 12/3/09, muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> wrote:



From: muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> 


Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: refere...@yahoogrou ps.com


Date: Thursday, December 3, 2009, 5:37 AM


  






Mas ATA, Mas Ekadj, dll,

Alhamdulillah, para pemikir kita ini, telah memperoleh pencerahan dari 
sumberNya,.. .semoga oleh-oleh cahayaNya bertahan lama 
Siapa mau menyongsong, menyusu, dan menyusul 
Salam, KoesJKT
 

--- On Wed, 2/12/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote:



From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
Subject: Re: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: refere...@yahoogrou ps.com 



Date: Wednesday, 2 December, 2009, 21:27


  

Betul sekali,
saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut...
...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat 
mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main....
...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang- kultur berbeda, padang 
Arafah sepi melompong... .tidak ada apa-apanya.. ..

Wassalam,
ATA












      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke