Pak Eko dan Pak Eka ysh,

Saya atau umumnya planner mestinya juga tahu kalau inovasi, best/good practice 
di satu daerah kalau mau diterapkan di tempat lain mesti dilihat konteksnya. 
Tapi namanya forum Referensi kalau orang bawa "referensi" mbok ya dikasih 
kesempatan menguraikan dengan lengkap dulu. Kalau perlu diajukan pertanyaan 
konfirmasi, agar semua tahu inovasinya apa, bidang apa, KSF nya apa saja, 
konteksnya apa. Jangan pagi-pagi sudah di "ketok" dengan ketidak cocokannya. 
Apalagi dengan stereotyping, prejudice, dan sejenisnya.
Jadinya tidak banyak yang memperkaya referensi.

Saya sebetulnya pengen tahu betul point inovasinya Curitiba di apanya, pada 
desain? Planning? Management? Penyediaan dana? Pembinaan stakeholdersnya? Lha 
kalo pagi-pagi sudah dibilang "oh lain....itu dari negara lain..." Ya habislah 
semua. 

Seperti Bang Nuzul dalam pencariannya akan bentuk kegiatan ekonomi wilayah 
kerjanya menyampaikan eksplorasi konsep dan referensi (paper dan bahan 
bacaannya) nya disini. Tentu bermanfaat kalau kita tanya lebih jauh. Tapi kalau 
pagi-pagi sudah di ketok, "ah teori... ekonomi makro gak ada manfaatnya untuk 
masyarakat..." Yah habislah semangat diskusi.
Jadinya bukan Referensi yang kita perkaya, tetapi muter-muter saja mengungkap 
"kekecewaan planner". 

Padahal seharusnya banyak yang kita bisa pelajari dari aneka ragam referensi 
(konsep, inovasi, kisah sukses dari daerah lain atau negara lain) yang dikirim 
oleh banyak teman, yang bisa dipelajari.

Saya beberapa hari ini berkesempatan ke kawasan Asia Timur melihat pembangunan 
kawasan ekonomi khusus dan housing development. Tapi mau cerita jadi gak bisa 
karena terhantui komentar, "ah kan itu negara lain...."

Salam,
Risfan Munir








-----Original Message-----
From: ffekadj <[email protected]>
Sent: Friday, December 04, 2009 7:59 PM
To: [email protected]
Subject: [referensi] Curitiba dan Production of Space (was Re: Kota2 Ideal 
Mereka Disana..

 

 Pak Eko yang saya banggakan, saya tertarik dengan ungkapan ini: "...
 perlu perubahan thd society tsb utk bisa meniru ruang dari society yg
 lain... sebaliknya sebuah pembangunan ruang yg baru belum tentu cocok
 utk sebuah society..."

 Mohon perkenan bapak untuk memberikan pencerahan. Saya sungguh
 ketinggalan. Salam.

 -ekadj

 --- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
 >
 > Pak Risfan dan rekan2 ysh.,
 > Melanjutkan diskusi ttg perlunya secara kritis melihat kasus Curitiba
 dan contoh2 pembangunan kota/wilayah di negara2 lain, Â kebetulan
 hari Jumat kemarin salah satu rekan di lab saya mempresentasikan
 progress disertasi dia: "Production of residential space in the
 cross-border metropolis Luxembourg" (La production de l'espace
 résidentiel dans la métropole transfrontalière
 luxembourgeoise)... Â sekilas kita akan berpikir apa susahnya melihat
 pola ruang residensial di Luxemburg? what's so important about it
 anyway?Â
 > Tapi ternyata lebih menarik dari yg saya semula bayangkan, karena dia
 mampu menunjukan bahwa ruang residential yg diproduksi di Luxemburg
 sangat terkait dgn kondisi society Luxemburg yg juga dihuni oleh banyak
 warga Perancis, Belgia, Jerman, selain Lux sendiri terkait dgn posisi
 Lux diantara negara2 tsb dan bagaimana preference utk tinggal di suatu
 tempat, apakah di Lux atau ke tiga negara lainnya terkait dgn regulasi
 masing2 negara, jarak, fasilitas, kultur, dsb... singkat kata, sebuah
 society memproduksi ruang residensialnya sendiri...
 > Presentasi tsb mengingatkan saya akan term production of space yg
 diajukan oleh Henri Lefabvre tahun 1974...secara singkat, Lefebvre
 berpendapat bahwa sebuah society memproduksi ruangnya sendiri... karena
 itu kita tidak dgn serta merta mampu meniru space yg diproduksi oleh
 society lain, perlu perubahan thd society tsb utk bisa meniru ruang dari
 society yg lain... sebaliknya sebuah pembangunan ruang yg baru belum
 tentu cocok utk sebuah society...Tentu saja kita juga perlu kritikal thd
 apa yg disampaikan oleh Lefebvre, tetapi kelihatannya kita juga bisa
 melihat kebenaran yg terkandung di dalamnya...
 > Posisi saya dlm Curitiba dan best practices lainnya, tentu kita perlu
 belajar dari cerita2 sukses negara2 lain, bukankah cara belajar selalu
 diawali dgn meniru/mencontoh? Tetapi kita juga perlu kritikal thd kasus2
 tsb. karena yg perlu kita temukan adalah bagaimana memproduksi ruang yg
 cocok bagi society kita dan sebaliknya...
 > salam,
 > Eko.
 >
 >
 >
 >
 > --- On Mon, 11/30/09, Eko B K ekobu...@... wrote:
 >
 > From: Eko B K ekobu...@...
 > Subject: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal
 Kita Disini
 > To: [email protected]
 > Date: Monday, November 30, 2009, 11:27 AM
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 > Â
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 > Pak Risfan ysh.,
 > saya kira kita tidak mungkin mencontoh kasus lain tanpa membuat
 perbandingan dgn kondisi sendiri pak... perbandingan adanya perbedaan
 kultur, kondisi geografik, ekonomi, dll dgn kota/wilayah yg akan
 dicontoh... prinsipnya kita kenali kelemahan dan kekuatan diri sendiri
 dulu baru kemudian kita lihat kelemahan dan kekuatan orang lain agar
 kita bisa belajar dr mereka... best practices yg ditelan bulat2 dan
 mentah2 hanya menghasilkan rencana2 yg tidak dapat diaplikasikan karena
 situasi yg ada berbeda.. dan ini sudah banyak terjadi bukan? bahkan
 kadang memakan korban jiwa... kasus pembangunan kanal2 di batavia utk
 mencontoh kota2 belanda dgn tujuan nostalgia kampung asal ternyata
 menimbulkan korban jiwa akibat kanal2 yg menjadi sarang nyamuk
 malaria...
 > dlm konteks Curitiba saya tidak melihat bahwa kita
 > tidak perlu belajar, saya hanya menggarisbawahi perlunya kita kenali
 perbedaan2 antara kota2 kita dgn Curitiba, dan ini mau tidak mau adalah
 proses pembandingan. Agar kita bisa menarik manfaat yg sebesar2nya tanpa
 mencontoh membabi buta...soal walikota misalkan, tentunya perlu
 dipelajari apakah walikota2 kita memiliki kewenangan yg sama dgn
 walikota Curitiba? budget yg proporsional? kultur masyarakat? tingkat
 edukasi masyarakat? tingkat kesejahteraan masyarakatnya? dgn mengetahui
 perbedaan tentunya kita jadi tahu apa yg harus dilakukan... wise men say
 "seringkali inti permasalahan bukan apa yg tampak di permukaan".. .
 karenanya kita perlu perdalam apa yg tidak nampak di permukaan tsb...
 ini hemat saya, bukan judgement...
 >
 > saya tidak melihat relevansi bahwa boyolali belajar dari wonogiri atau
 sebaliknya.. . tapi silakan saja kalau boyolali hendak belajar dari
 wonogiri atau sebaliknya, tapi tentu perlu diperdalam pengetahuan akan
 > kondisi spesifik masing2...
 >
 > salam.
 >
 >
 >
 > --- On Mon, 11/30/09, Risfan M risf...@yahoo. com> wrote:
 >
 > From: Risfan M risf...@yahoo. com>
 > Subject: RE: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi
 Sebal Kita Disini
 > To: "ekobu...@yahoo. com" ekobu...@yahoo. com>
 > Cc: "refere...@yahoogro ups.com" refere...@yahoogrou ps.com>
 > Date: Monday, November 30, 2009, 10:59 AM
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 > Â
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 > Apa kita membandingkan? Kayaknya Bu Francisca hanya memberi contoh.
 Dari dulu kita belajar Medival cities, Chandigar, North American Cities,
 semua juga melihat kota2 Eropa.
 >
 > Yang penting apa yang kita pelajari. What&#39;s the point. kan
 Francisca juga menggaris bawahi peran Walikota. Kita bisa cari unsur
 lainnya sbg &quot;key success factors&quot; nya. Itu yang kita ambil
 pelajaran.
 >
 >
 >
 > Kalau kita cari bedanya, ya selalu ada beda besarnya. Wonogiri dan
 Boyolali saja banyak bedanya. Apalagi kalau global dilihat benuanya, ya
 nggak ada yang sama.
 >
 >
 >
 > Saya tidak melihat Curitibanya saja. Tapi pendekatan BEST PRACTICE dan
 REPLICATION ini perlu kita pelajari metodenya. Karena di era otonomi
 daerah ini Panduan dari pusat ala &quot;fit for all&quot; sudah sulit
 diterapkan, jadi kalau ada inovasi bagaimana bisa di sebar, supaya bisa
 jadi sumber inspirasi.
 >
 > Cari key success factornya, cari common factors, apa beda konteksnya.
 Sejauh mana bisa diadopsi/replikasi.
 >
 > Intinya, jangan terlalu pagi di-judge &quot;oh negara kita
 beda...&quot; Ya kapan belajarnya.
 >
 >
 >
 > Mudah2an kita bisa diskusi tentang BEST PRACTICE & REPLICATION ini,
 karena di era otonomi kita perlu mendorong inovasi dan sharing
 pengalaman.
 >
 >
 >
 > Salam,
 >
 > Risfan Munir
 >
 >
 >
 > Eko B K wrote:
 >
 > > Â
 >
 > > Pak Aby, Pak Risfan, Mbak Franciska, dan rekan2 ysh., Dalam hal ini
 saya sepakat dengan Pak Aby... Tentu kita senang belajar dr contoh yg
 baik, tetapi membandingkan antara 2 kota atau wilayah perlulah sedikit
 lebih bijak sehingga solusi thd masalah bisa tepat dan otokritik juga
 bisa lebih proporsional. .. Dlm konteks Curitiba, saya kira kita perlu
 juga melihat dr sisi perekonomian negara tsb., budaya, dst... Brazil
 memang bukan negara kaya, tetapi GDP per kapita (PPP) nya jauh di atas
 kita Pak Risfan ($12,105 dibandingkan Indonesia yg $3,980)... Tapi saya
 juga melihat ini bukan faktor utama... Mari kita lihat komposisi
 penduduk Curitiba yg sebagian besar dihuni oleh keturunan Eropa
 (White)... Konteks Amerika Latin memang sulit dibandingkan dgn konteks
 negara berkembang lainnya karena sebagian penduduk Amerika Latin adalah
 keturunan Eropa
 >
 > > (seperti juga Afrika Selatan)... ini bukan berarti mereka secara
 genetik superior, tetapi bahwa keturunan Eropa membawa kultur asalnya,
 network dgn negara2 leluhurnya, dsb.. ini yg membedakan.. . di bidang
 ilmu pengetahuan, misalkan tradisi berpikir rasional mereka tidak jauh
 berbeda dgn saudara2nya di Eropa dan Amerika Utara... Kita tahu bahwa
 perekonomian modern di Amerika Latin didominasi oleh kulit putih...
 terjadi kesenjangan yg umumnya sangat tinggi antara kelompok white yg
 mendominasi ekonomi dan politik dgn ras lain, khususnya native Indian
 dan keturunan Afrika..tentu sebuah kota dgn dominasi kulit putih dapat
 dikatakan cukup makmur dibandingkan bagian lain dari negara tsb... ini
 saja sudah cukup menjawab mengapa Curitiba dapat cukup tertata dgn
 baik... Tetapi tentu saja kita tetap perlu untuk belajar sesuatu yg baik
 dr negara lain, terutama yg perekonomiannya tidak terlalu jauh dibanding
 negara
 >
 > > kita... Salam, Eko. --- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir
 risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan Munir risf...@yahoo. com>
 Subject: RE: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal
 Kita Disini To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, November 30,
 2009, 1:16 AM Pak Aby, Pak Eko BK, Francisca dan rekans ysh, Seperti dua
 pada Tabel yang saya posting dalam judul "Strategi Pengembangan
 Wilayah". Kita tak perlu menunggu satu "grand strategi for all". Di era
 otonomi ini semua jalur, model bisa dilakukan, baik: pembangunan kota,
 desa, sistem wilayah, dst. Kalau ada yang dikerjakan swasta, ya
 pemerintah ngurusi yang publik. Curitiba juga bukan di negara kaya,
 Brazil kan cuma sepakbolanya yang maju. Selebihnya ya satelit nyaÂ
 >
 > > kapitalis dunia lah sama seperti.... Saya bayangkan itu seperti
 BSD, Kota Wisata, KL Baru dst. Tapi tak mustahil komponen-komponenny a
 jadi inspirasi bagi kota menengah di baberapa daerah
 >
 > >
 >

Kirim email ke