Dari Harian Kompas
Cibubur, Kota Tanpa Rencana
Minggu, 13 Desember 2009 | 02:34 WIB
Ilham Khoiri, Yulia Sapthiani, & Lusiana Indriasari
Jika ingin mengamati semrawutnya tata kota Jakarta dan sekitarnya, datanglah ke
Cibubur. Kawasan yang mekar di wilayah pertemuan antara Jakarta Timur, Bekasi,
Depok, dan Bogor itu kini dirundung berbagai soal: macet, sesak, kisruh, juga
ancaman banjir. Bagaimana semua itu bermula?
Masyarakat Jakarta biasa mengunjungi Cibubur lewat Jalan Tol Jagorawi. Begitu
keluar dari pintu tol (dengan tanda nama ”Cibubur, Cikeas, Cileungsi”), kita
disergap berbagai bangunan yang seolah ditumplekkan begitu saja.
Di kiri Jalan Buperta berdiri patung tunas kelapa sebagai ikon Bumi Perkemahan
Pramuka. Patung kusam itu tampak tenggelam disandingkan dengan label mentereng
logo ”M” kuning McDonald’s dan logo merah-hitam Pizza Hut. Tak jauh dari situ
berdiri stasiun pengisian bahan bakar Pertamina, Telaga Sea Food Restoran, dan
toko 24 jam Circle K.
Kesemrawutan berlanjut di jalan alternatif Trans Yogie, jalan tembus
Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cianjur hingga Bandung. Pada kiri jalan kita temukan
Restoran Kabayan dan Hanamasa, Rumah Makan Khas Sunda Cibiuk, Gado-gado Boplo,
dan Klinik Prodia. Di kanan jalan tampak bangunan Baby and Child Clinic 24
Hours dan Cibubur Point Automotif Center.
Memasuki wilayah Kota Depok lalu Bogor, kita bakal dikejutkan dengan belasan
perumahan yang berjejer di kiri-kanan jalan. Sebagian nama menyematkan bermacam
nama dalam bahasa asing. Sebut saja Mahogany Residence, Raffles Hills, Taman
Laguna, Kranggan Permai, Nusa Dua Citra Gran, Legenda Wisata, Kota Wisata,
Cibubur Residence, dan Citra Gran. Puluhan spanduk iklan perumahan riuh rendah
melintang di atas jalan.
Tentu saja ada pusat perbelanjaan dan ruko di sana-sini. Ada Cibubur Point,
Plaza Cibubur, Cibubur Times Square, dan Mal Ciputra Gran. Di seberang jalan
tol ada mal Cibubur Junction yang nongkrong dengan gagah di tikungan dekat
pertigaan Jalan Taman Bunga.
Daftar jejalan bangunan itu bisa diperpanjang. Kita bisa menyertakan rumah
sakit, sekolah internasional, sarana olahraga seperti golf dan pusat kebugaran,
atau rumah makan. Semuanya berkerumun di kawasan sekitar Tol Cibubur, kemudian
melebar ke wilayah sekitar.
Macet
Apa yang dinikmati warga dari pemekaran kota yang menggerombol itu? ”Cibubur
jadi ramai. Mencari apa-apa mudah,” kata Jajat Sudrajat (48), warga yang
tinggal di Cibubur sejak tahun 1985.
Sayang keramaian itu harus dibayar dengan masalah lain. Pertumbuhan kota yang
serampangan membuat Cibubur sesak.
Situasi makin parah karena kepadatan itu tak diimbangi sarana transportasi.
Akses utama ke Jakarta hanya lewat Jalan Tol Jagorawi atau tembusan Tol
Jatiasih menuju Jalan Simatupang. Padahal, sebagian besar warga di sana bekerja
di Jakarta. Populasinya juga terus membengkak seiring dengan pertambahan
perumahan.
Menurut Pratomo Putro, pemilik media komunitas cibubur.com, kini ada 25-an
kompleks perumahan dengan total penghuni 30.000-an keluarga. Dengan akses utama
jalan tol, setiap keluarga didorong punya mobil pribadi.
”Jika setiap rumah punya satu mobil, jumlahnya bisa 30.000-an unit. Itu belum
mencakup warga di perkampungan dan perusahaan,” katanya.
Akibatnya bisa diduga: kemacetan lalu lintas mendera setiap jam berangkat kerja
pagi dan jam pulang sore hari. Titik macet menyebar di sekitar Jalan Buperta,
Jalan Trans Yogie, Jalan Taman Bunga, bahkan hingga ke Jalan Raya Bogor.
Kemacetan menjadi-jadi pada akhir pekan. Setiap Sabtu dan Minggu jalanan
disesaki kendaraan menuju tempat wisata dan mal. Bus-bus besar dari luar kota
Jakarta juga sering memperparah situasi.
Gembong Arifin (35), pengurus peralatan studio personel God Bless Ian Antono,
mengungkapkan, dia kerap terjebak macet pada Sabtu-Minggu. Ruas jalan dari
rumahnya di Perumahan Villa Cibubur Indah ke pintu tol yang sepanjang 1,5-an
kilometer harus ditempuh sampai satu jam. ”Itu siksaan luar biasa,” ujarnya.
Hingga kini para pengembang masih memburu lahan perumahan. Harga tanah
melonjak. ”Cibubur masih dilirik pengembang dan konsumen. Muncul citra elite
setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan jalan alternatif Cibubur
menuju rumahnya di Cikeas,” kata Fuad Zakaria, Ketua Asosiasi Pengembang
Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia.
Geliat kota ini menggerogoti kawasan hijau. Lahan serapan air dan penghijauan,
seperti kebun, sawah, setu, atau empang, digasak demi menancapkan beton- beton
mal, ruko, atau perumahan. Citra Cibubur tempo dulu yang asri dan sejuk
berangsur menjadi sesak dan mulai panas.
”Dulu kami tidur pakai selimut. Sekarang malah harus pakai AC,” kata Arief
Bagus (30), warga Cibubur.
Masalah lain, muncul ancaman banjir. Syarif (37), warga yang tinggal sejak
kecil di Jalan Lapangan Tembak, Kelurahan Cibubur, bercerita, ”Kalau musim
hujan, jalan di sini banjir sampai tidak bisa dilalui kendaraan. Gorong-gorong
yang ada di depan pasar terlalu kecil.”
Berbagai persoalan itu memaksa sebagian warga berpikir ulang untuk menetap di
sana. Andong Begawan dan orangtuanya yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak
sejak tahun 1970-an, misalnya, menjual rumah dan pindah ke Sawangan, Depok.
”Kami tak tahan lagi dengan macet, debu, dan hiruk pikuk,” katanya.
Tanpa rencana
Apa akar dari semua masalah itu? ”Cibubur menggambarkan fenomena urban sprawl
(pemekaran kota) tanpa rencana,” papar pengamat tata kota dari Universitas
Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna.
Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 1985-2005, menurut Yayat, memasukkan
Cibubur dalam zona konservasi, pertanian, resapan air, dan sedikit hunian.
Namun, ketika meletup booming ekonomi tahun 1990-an, muncul hasrat mengubah
Cibubur menjadi kota baru. Itu selaras dengan pernah munculnya rencana
pemindahan sebagian Ibu Kota ke Jonggol yang berbatasan dengan Cibubur.
Saat pembangunan menggeliat, tiba-tiba rencana umum tata ruang tahun 2000-2010
mengubah Cibubur menjadi permukiman dengan tingkat kepadatan rendah. Maksudnya,
perumahan diizinkan, tetapi dalam sekala kecil dan berhalaman luas. Tujuannya
agar tetap ada lahan terbuka hijau.
Sayang rencana itu kandas dilibas hasrat para pemilik modal membangun perumahan
besar- besaran. Ini memicu munculnya berbagai kegiatan komersial lain. Pasar
mengendalikan semuanya. Parahnya, tidak ada antisipasi transportasi massal ke
Jakarta.
”Cibubur jadi acak-acakan. Mari kita nikmati bermacam masalahnya,” kata Yayat.
Adakah jalan keluar? ”Ada. Lakukan moratorium alias penghentian sementara,
bikin dulu rencana tata kota yang jelas dan rinci, lalu semua perizinan
pembangunan mengacu pada rencana itu. Jangan seenaknya pasar saja yang atur,”
tandas Yayat.
Cibubur Tempo Dulu, Sejuk dan Sepi
Minggu, 13 Desember 2009 | 02:37 WIB
yulia sapthiani, ilham khoiri & lusiana indriasari
Apa yang diingat banyak orang saat ditanya seperti apa Cibubur tempo dulu?
Jawabannya hampir serupa: banyak sawah, empang, pepohonan, berudara sejuk,
sekaligus sepi dan menyeramkan.
Sampai awal tahun 1990-an saja masih ada sawah di kawasan Jalan Raya Alternatif
Cibubur yang sekarang didominasi perumahan dan pertokoan. ”Dulu saya masih bisa
lihat kerbau di sawah-sawah itu,” kata Tusiran mengenang lingkungan di sekitar
Warung Pak Dul pada masa sekitar 15 tahun lalu.
Warung Pak Dul di Kampung Kalimanggis, Kelurahan Jati Karya, Bekasi. Kalau
bertanya pada Tusiran tentang nama jalan tempat Warung Pak Dul berada, dia akan
menjawab Jalan Trans-Yogie, sama seperti kalau kita bertanya kepada orang-orang
yang sudah sangat lama tinggal di Cibubur.
Orang lama atau yang sepanjang hidupnya tinggal di Cibubur bahkan tak hanya
menyebut kata ”Cibubur” untuk kawasan yang berada di sepanjang Jalan Raya
Alternatif Cibubur. Sebutan orang untuk wilayah ini lain-lain, seperti
Cileungsi-Cibubur atau Cibubur Baru.
Bagi mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di sana, Cibubur adalah daerah
yang dalam peta disebut sebagai Kelurahan Cibubur dengan kode pos 13720. Dari
tol Jagorawi arah Jakarta, Kelurahan Cibubur berada di sebelah kanan jalan tol.
Sementara Cibubur Baru berada di sebelah kiri jalan tol.
Karena belum banyak perumahan seperti sekarang, kondisi lalu lintas di Jalan
Raya Alternatif Cibubur masih sepi. Kendaraan umum pun hanya dua jurusan saja.
”Dulu yang banyak di sini anjing liar. Anjing-anjing itu sampai memangsa
kambing saya. Waktu saya cari, bekasnya ada di tengah sawah. Suasana di sini
cukup seram, apalagi dekat sini ada kuburan,” kata Tusiran.
Sepi hiburan
Andong Begawan, yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak selama 20-an tahun,
mengatakan, daerah tempat tinggalnya rawan maling. Padahal, lokasinya
berdekatan dengan kompleks perumahan dan lapangan latihan tembak. Dari sinilah
jalan tersebut kemudian diberi nama Jalan Lapangan Tembak.
Sepinya Cibubur dulu membuat tidak ada tempat hiburan di situ. Satu-satunya
sarana hiburan yang menjadi andalan, menurut pedagang buah di sekitar pasar
Cibubur Syarif (37), adalah layar tancap saat ada yang menggelar hajatan. Kalau
mau ke bioskop, pilihannya adalah ke Cisalak atau Cijantung.
”Saya ingat, dulu nonton film Superman di Bioskop Peralon di Cijantung. Dikasih
nama Peralon karena memang bekas pabrik pipa peralon,” kata Andong.
Meski seram, Cibubur tempo dulu adalah lingkungan yang nyaman untuk ditempati.
Ini karena masih banyak pepohonan sehingga membuat udara menjadi sejuk. Maklum,
sebagian lahan di sana masih dipenuhi kebun karet. ”Udara dingin bisa saya
rasakan setiap kali bangun tidur. Sekitar tahun 1980-an hingga awal 1990-an,
air tanah di Cibubur masih dingin,” kata Rossy Nahissa, penghuni Jalan Lapangan
Tembak.
Nindeng (60), warga Kampung Pondok Rangon, yang masuk wilayah Depok, masih
ingat betul bagaimana Cibubur tahun 1960-an. Cibubur saat itu sangat hijau
royo-royo. Udaranya sejuk dan dingin. Orang dari Jakarta pun suka singgah untuk
sekadar berwisata sehari di Cibubur.
Nindeng juga suka ngangon kebo (menggembala kerbau) di kawasan rawa dan setu
yang sekarang dikenal sebagai Bumi Perkemahan Cibubur. Jumlah kerbau yang
digembalakan orang- orang di situ bisa sampai 300 ekor.
Saat itu, setu masih lebar dan besar. Masyarakat menyebutnya sebagai Rawa
Jemblong atau Rawa Putat karena tepian rawa banyak ditumbuhi pohon putat.
Jalanan di sekitar daerah itu masih tanah merah atau tanah yang dilapisi batu
brojolan—batu yang ditebarkan tak beraturan.
”Kalau mencari angkutan umum, kami harus jalan kaki beberapa kilometer sampai
dekat Pasar Lama di Jalan Raya Bogor. Itu pun busnya mirip truk untuk
mengangkut kambing,” papar Nindeng.
Berubah
Cibubur mulai berubah setelah dibangun jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi)
tahun 1973-1978. Hampir bersamaan dengan selesainya tol, dibangun kawasan Bumi
Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur. Lahan masyarakat pun dibeli
pengembang, termasuk sawah Nindeng seluas 5.000 meter persegi.
Sejak itu, Cibubur sangat terkenal sebagai arena berkemah anggota Pramuka.
Lewat program Jambore Nasional, para siswa sekolah dari seluruh Tanah Air
berbondong-bondong mendirikan tenda, menginap, sambil berlatih disiplin
kepramukaan. Saat pulang ke daerah, mereka mengenang Cibubur yang asri.
Perubahan radikal terjadi pada tahun 1990-an, terutama ketika muncul
pembicaraan Ibu Kota akan dipindahkan ke Jonggol, daerah di sebelah tenggara
Cibubur. Isu ini diikuti pembangunan jalan tembus (Trans-Yogie) yang
menghubungkan Cibubur, Cileungsi, Jonggol, sampai Cianjur.
Warga Kampung Pondok Rangon lainnya, Bonen (36), bercerita, bersamaan dengan
ramainya jalan tembus itu, secara perlahan orang-orang Jakarta berduit dari
Jakarta berbondong-bondong memborong lahan di Cibubur dan sekitarnya.
”Tanah asli penduduk Cibubur banyak dijual. Sebagian besar lahan di sini punya
orang-orang Jakarta,” kata Bonen.
Tahun 2000-an, Cibubur makin menggeliat cepat. Kiri-kanan jalan Trans-Yogie
ditancapi beton-beton untuk perumahan, mal, ruko, rumah makan, rumah sakit, dan
berbagai bangunan komersial lain. Kawasan itu pun sudah semakin sesak.
Apa mau dikata, Cibubur tempo dulu yang asri, sejuk, dan tempat istirahat yang
nyaman kini tinggal kenangan.