Pak Onnos, saya juga gak membayangkan Pak, kalo dari Bekasi ke Jaksel. Seperti saya katakan, kita kan punya 500 lebih urban area. Pada kota-kota kecil , atau di kompleks sendiri kan perlu dikampanyekan "manfaat bersepeda" Karena pada mayoritas permukiman kota kecil itu bukannya tak layak. Tapi tidak modis. Makanya perlu ikon yang bisa mempersuasi masyarakat. Bahwa bersepeda bisa gaya, lebih ber"etika". Kalau saya bersepeda ke supermarket kompleks, tukang cukur, ke masjid. Lumayan Pak, ngeluarin mobil repot, parkir repot. Pake motor tanggung, ya sepeda saja.
Yang praktis-praktis dan realistis aja Pak. Kurangi semen di halaman supaya runoff berkurang, tanam pohon. Langkah kecil untuk bantu ngerem pemanasan. Sering sebagai planner tergoda untuk berfikir revolusi, reformasi, rubah ini itu. Tapi dunia kayaknya gak gitu ya Pak. Jepang, trutama Toyota, bisa sangat unggul dengan langkah-langkah kecil KAIZEN (continuous process improvement). Yang di Jawa disebut "lumintu", alias "alon2 waton kelakon" yang suka diledek itu. Lambat katanya. Tapi mana itu Revolusi, Reformasi, sudah 64 tahun kok gini-gini aja. Menurut saya penataan ruang, tidak bisa dilihat dari ide besar gonta-ganti konsep lagi Pak. Tapi bagaimana kalau mulai dari langkah "pelayanan advis planning" yang lebih transparan. Karena info rencana tata ruang terutama di kota sering jadi komoditas oknum. Bagaimana para pelaku, pengembang mau koordinasi, kalau rencana detailnya diumpetin. Tiap pembangun ditunjukin dikit, tanpa tahu tetanganya akan bangun apa. Ini contoh kecil, perlunya berfikir lebih sederhana dan praktis. Soal naik sepeda yang penting alternatif itu dikampanyekan toh, selanjutnya terserah masyarakat kan. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Sent: Sunday, December 13, 2009 10:38 AM To: [email protected] <[email protected]> Subject: RE: [referensi] jalur sepeda? Mas RM dan rekan-2 ysh; Memang cocok kalau bersepeda itu untuk Olah Raga sehat, tetapi kalau sebagai alat transportasi sehari-hari, apalagi kalau untuk pulang-balik 'ngantor' di Jakarta dsk yang jaraknya lebih dari 10 KM, sepertinya kok 'nggege mongso'. Teman-2 yang sedang kuliah di Eropa (Belanda khususnya) mungkin punya angan-2 untuk 'bersepeda ria' sepulang kuliah, tetapi mungin lupa bagaimana perkembangan masyarakat kita saat ini. Sepertinya banyak hal yang lebih 'urgent' yang musti kita benahi dari pada sekedar ingin 'bersepeda ria' untuk mode transportasi sehari-hari. Maaf, contoh nyata: 'tukang ojek' disekitar kita (mungkin jumlah totalnya ribuan) mau dikemanakan, apa bisa mereka ditransmigrasikan, atau ada lapangan kerja lain ? Wassalam. Onnos To: [email protected] From: [email protected] Date: Sun, 13 Dec 2009 06:52:48 +0700 Subject: RE: [referensi] jalur sepeda? Icon bersepeda, Risa Suseanty lagi, sang peraih emas Indonesia pertama di SEAGames. Setelah kemarin satu halaman penuh di Kompas, hari ini sehalaman penuh di Koran Tempo. Hidup Dwiagus! Salam, Risfan Munir From: Harya Setyaka <[email protected]> Sent: Saturday, December 12, 2009 10:35 PM To: [email protected] Subject: Re: [referensi] jalur sepeda? Tks Mas Dwiagus.. Atas pranala (link) yg membuka wawasan.. Kita sering kurang percaya diri menghadapi 'kenyataan' 'kebiasaan masy/gaya hidup'.. Padahal credo nya planner adalah physical determinism" : yg mempostulatkan bahwa intervensi fisik dapat merubah perilaku.. Plus kita bumbui sedikit dengan micro-economics; bagaiman perilaku konsumen terhadap sinyal2 harga.. Perilaku masyarakat Belanda bersepeda bukan kehendak supranatural atau 'dari sono nye'.. Bersepeda di Belanda adalah perilaku logis menghadapi lingkungan fisik dan kebijakan fiskal: harga BBM.. Orang Belanda di Jogja cenderung naik kendaraan bermotor; sewa kijang kapsul atau taxi.. Di kawasan wisata nge-becak (lebih bernilai tourism daripada angkutan).. Sebaliknya orang Jogja di Belanda ya nggowes.. Kecuali ikut rombongan plesir dinas yg niscaya di-entertain KBRI Amsterdam.. GDP/capita Belanda 30x lipat Indonesia.. Kalao soal daya beli tentu orang Belanda rata2 bisa beli lebih dari 1 motor.. tapi orang Jogja milih beli motor daripada sepeda yg lebih murah.. Sekarang ada realita baru yg belum terjamah planner: dalam 5 tahun terakhir: minat berspeda meningkat tajam.. Sayangnya pendidikan kebijakan transportasi kita sangat bias terhadap mobil. Coba tanya orang PU Bina Marga bagaimana mereka mendekati permasalahan transportasi? Kapasitas jalan diukur dari kemampuannya mengangkut mobil.. Apa ada mata kuliah yg membahas bagaimana merancang suatu pemukiman yg ramah sepeda? Di arsitektur&planologi pun diajari standar ketersediaan ruang parkir mobil dalam pembangunan gedung maupun kawasan.. Tidak ada standar mengenai parkir sepeda.. Itu masih dianggap aksesoris.. (Kira2, bagaiman Lefebvre&Bordieu menjelaskan ini...) Salam, -K- Pedal Powered BikeBerry From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Date: Sat, 12 Dec 2009 14:09:44 +0000 To: [email protected]<[email protected]> Subject: RE: [referensi] jalur sepeda? Mas dan Mbak Refensier ysh; Bicara masalah upaya mendorong untuk bersepeda ria, saya sepakat bahwa itu dapat mengurangi pemborosan energi, polusi dan menambah badan sehat. Namun, realitas perkembangan yang ada sepeda motor yang lebih banyak digunakan, contohnya kota Jogya yang dulu disebut 'kota sepeda' sekarang berapa prosen yang masih bertahan dengan 'bersepeda ria' setiap hari ? Mungkin, masalahnya bukan 'iklan' motor yang lebih gencar, kiranya kita perlu melihat kenyataan/kecenderungan lain, misal adanya perubahan 'gaya hidup' masyarakat selain mungkin tuntutan kebutuhan yang sudah berbeda. Didekat rumah saya ada pangkalan 'ojek' yang setiap hari mangkal sekitar 15 peng-ojek motor, mereka pada dasarnya adalah pengangguran sementara (banyak yang bisa jadi tukang bangunan atau pekerjaan serabutan lain, kalau ada pesanan). Sambil nunggu kerjaan tetap, mereka sejak jam 05.00 sampai 19.00 mencari tambahan dengan sepeda motor (sewaan atau kreditan), penghasilan bersih rata-2 sehari antara Rp. 20.000 s/d 30.000,-. Mungkin banyak pangkalan ojek-motor yang tersebar dimana-mana didekat tempat anda mungkin juga ada. Nah, ini suatu kenyataan yang perlu diamati, apakah ojek-sepeda dapat menggantikannya ? Mungkinkah kita dapat memberikan solusi terbaik untuk keberadaan sepeda motor (tidak hanya ojek) yang semakin menjamur ini ? Seperti: jalur jalan, tempat parkir, keamanan, pengurangan polusi suara & udara dari knalpotnya, dll. semoga tulisan ini bermanfaat. Wassalam, Onnos. To: [email protected] From: [email protected] Date: Sat, 12 Dec 2009 06:53:22 +0000 Subject: Re: [referensi] jalur sepeda? Sya kira dimana iklan kendaraan bermotor selalu lebih agresif daripada iklan sepeda.. Apakah di Belanda ada pengecualian? Artis2 top nya pada mengiklankan sepeda dan bukan kend bmotor? Mungkin yg mengecualikan Belanda adalah harga bensinnya.. Salam, -K- Pedal Powered BikeBerry From: Djarot Purbadi <[email protected]> Date: Fri, 11 Dec 2009 20:53:09 -0800 (PST) To: <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Iklan sepeda selama ini kalah jauh dengan iklan motor, apalagi mobil. Jadi pantaslah motor dan mobil mendominasi gaya hidup dimana-mana. Tampaknya sepeda vs kendaraan bermotor akan memasuki pola Cicak lawan Buaya heheeee.... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sat, 12/12/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote: From: Risfan Munir <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? To: [email protected] Date: Saturday, December 12, 2009, 10:44 AM Intermezo, Emas pertama Indonesia di SEA Games 2009 diraih oleh atlet "balap sepeda" Risa Suseanty di nomor downhill. Selamat! Saya kira akan baik kalau dia dijadikan ikon promo bersepeda (kayak iklan .yg pake Rossi) itu lho. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <[email protected]> Sent: Saturday, December 12, 2009 9:27 AM To: [email protected] Subject: RE: [referensi] Fw: Re: Bls: Bls: [plbpm] jalur sepeda? Pak Risfan, uraian panjenengan memperkuat tesis saya, bahwa untuk ber-arsitektur ria atau ber-planning ria kita mesti melihat awalnya dari titik yang lain, tidak langsung ke arsitektur atau planning. Tentu ini bukan sebuah pelarian atas ketidakmampuan berarsitektur atau berplanning, melainkan sebuah kesadaran bahwa arsitektur dan tata keruangan ada di dalam jaring-jaring kehidupan, bukan perkara yang terisolasi atau terpisah dari sistem yang lain Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.

