Benar Mas Fadjar, tas dan sepatu di butik2 mewah Paris memang rata2 buatan Perancis atau Italia, walaupun yg beli banyak juga orang Asia, termasuk Indonesia... apakah ini berarti HDI Indonesia >> HDI Perancis? hehe Mungkin ini lebih ke life style..
Demikian juga soal kalau parkir sepeda roda depan dicopot, seperti yg disampaikan mas Fadjar, rasanya tdk ada yg sampai repot2 seperti itu... tapi bisa saja teman Pak Djarot salah mengambil kesimpulan setelah melihat adanya sepeda di parkir dg ban hilang satu.. nah kalau yg ini sebetulnya ban nya yg hilang dicuri pak... utk mas Koko, KBRI Belanda di Amsterdam juga mitos, yg betul di Den Haag :) ini intermezzo saja akan fakta2 dan mitos2..hehe Saya setuju dg mas Fadjar, ya semua kembali pd kondisi masing2.. mas Dwiagus mungkin sehat dan kuat utk mengayuh belasan Km di Jakarta yg panas...Tapi bagi yg sering masuk angin ya repot disuruh pake sepeda terus... kalau anak sakit dan perlu dibawa ke RS, ya repot kalau membawanya dgn sepeda... yg penting ada public transport yg handal, terjangkau, aman, nyaman sebagai alternatif bersepeda... seperti yg sy tulis sebelumnya, bahkan di Belanda yg sering jd referensi bersepeda jg begitu, banyak jg yg memilih naik tram, bus, atau motor dan mobil... pengantar pizza rata2 naik motor hehe... Yg menarik adalah yg diajukan Pak Risfan dan mas Fadjar ttg penggunaan sepeda di kota2 sedang-kecil...ini bagus sekali kalau sampai bisa direalisasikan... saya ingin tahu apakah mudah utk membeli sepeda di kota2 tsb.? Dulu sebelum Bike to work menggejala di Jakarta, sy pernah terpikir utk naik sepeda ke kantor yg tdk jauh dr tempat kost, tetapi waktu itu kesulitan mencari sepeda kecuali sepeda mini utk anak2 atau BMX... kelihatannya sekrg banyak sepeda orang dewasa dijual di Jakarta, tapi bagaimana dgn kota2 kecil-sedang tsb? --- On Sun, 12/13/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] jalur sepeda? To: [email protected] Date: Sunday, December 13, 2009, 10:06 AM Hue he he he he...., sekali lagi Pak Djarot, mencopot ban waktu memarkir sepeda di Belanda itu cuma mitos aja.. Setidaknya untuk saat ini.. Sama seperti cerita-cerita hantu yang sering digunakan rang-orang untuk nakut-nakutin anak supaya nggak main jauh dari pengawasan, he he he... Yang bener adalah dari ribuan sepeda (bahkan mungkin lebih) yang diparkir di tempat-tempat umum di Belanda seperti di stasiun keretan, di kampus-kampus, di kawasan-kawasan pusat perbelanjaan, rumah sakit, dll, sangat jarang terlihat sepeda yang dicopot ban depan, ban belakang, atau bahkan tempat duduknya sekalipun... . Semua ini karena tempat-tempat umum tsb memiliki fasilitas parkir sepeda yang juga menyediakan "sesuatu" sebagai tempat bersender (biasanya berupa jepitan ban depan) yang kemudian kita bisa mengikatkan rantai kunci sepeda kita ke fasilitas parkir tsb. Jadi kalaupun ada orang yg mencopot roda depannya ketika memarkir sepedanya, itu hanyalah suatu perilaku "pencilan" yang bukan merupakan arus utama yang terjadi... (mungkin cuma belanda gila aja orang itu hue he he he....). Sekali lagi, kalau melihat pengalaman di Belanda, kayaknya, ketersediaan tempat parkir sepeda yang khusus, aman dan terdapat di mana-mana menjadi faktor yang mendorong animo masyarakat bersepeda (selain ukuran fisik kota di Belanda jarang yg besar juga sih... Tapi banyak juga orang di Belanda yg bersepeda untuk perjalanan antar-kota dari suatu kota kecil yang satu ke kota kecil lainnya, walaupun jarak tempuh antara kota-kota adalah sekitar 10-15 km.. Oleh karena itu, hampir setiap jalur jalan regional (non highway), juga memiliki jalur sepeda di sisinya. (Untuk rekan-rekan yang ingin lihat, coba aja lihat melalui Google Earth.. Cari jalan-jalan regional yang menghubungkan suatu kota dengan kota-kota kecil di sekitarnya. Asal jalan tsb bukan suatu highway, biasanya ada jalur sepeda di salah satu sisi atau bahkan di kedua sisi....) Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah "komitmen" dari pemerintah, terutama pemerintah lokal, yang sangat concern dengan penyediaan fasilitas transprtasi sepeda. Kmitmen seperti ini yang perlu dipelajari oleh banyak pemerintah lokal kita.. Seperti yang Pak Onnos sampaikan, dahulu banyak jalan regional di Jawa Tengah yang punya jalur sepeda di sampingnya. Contoh yang Pak Onnos sampaikan adalah antara Demak-Semarang (via Sayung, ya Pak...? Bukan yang via Mranggen khan....?). Saya juga ingat di pertengahan tahun 80an, rasanya jalur sepeda di jalan regional tsb masih ada.. Conth lainnya adalah jalan regional antara Surakarta-Boyolali via Kertasura.. Dulu, seingat saya, juga ada jalur sepeda di sisi jalan regional. Tapi pelebaran jalan mobil telah menjadi predator bagi jalur sepeda tsb.. Padahal tidak semua warga masyarakat yang memanfaatkan jalan tsb adalah mereka yang menggunakan mobil. Sebagian dari mereka (dengan porsi yang bisa jadi cukup besar) adalah mereka yang menggunakan sepeda. Kalau di Yogyakarta, pemerintahnya malah nggak respon dengan kebutuhan seperti ini. Dulu Yogya dikenal sebagai kota bersepeda. Banyak orang bertransportasi menggunakan sepeda. Bahkan dari Bantul ke Yogya banyak yang menggunakan sepeda. Sampai muncul anekdot agar jangan mau berpacaran dengan orang Bantul, kenapa...? Karena mereka berhidung belang hua ha ha ha... Kenapa orang Bantul dibilang berhidung belang..? Tidak lain karena besarnya fenomena transportasi bersepeda dari Bantul ke Yogya yang trase jalannya adalah Selatan-Utara. Jadi ketika pagi berangkat ke Yogya, bagian kanan hidung mereka lah yang kena sinar matahari pagi, dan ketika pulang kerja dari Yogya ke Bantul, higung sebelah kanan itu lagi lah yang tersinar sinar matahari sore.. Jadi lah orang Bantul berhidung belang hue he he he... (maaf lho, ini cuma anekdot aja lho ya...., bukan untuk mendiskreditkan orang Bantul, he he he...) Komitmen untuk memberikan fasilitas dan melayani secara berkeadilan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan masyarakatnya ini lah yang harus dipelajari oleh banyak pemerntah lokal kita. Kalau sekarang, rasanya rasionalitas agar memiliki komitmen yang berkeadilan tidak lagi cukup untuk menghidupkan kembali animo masyarakat untuk kembali bersepeda di dalam transportasi hariannya.. Mungkin alasan-alasan futuris yang mengkaitkan kesadaran masyarakat untuk turut berkontribusi kepada strategi global untuk mengurangi produksi gas CO2 untuk mengurangi tingkat percepatan pemanasan global bisa dijadikan sebagai salah satu alasan. Tapi apakah sebagian masyarakat kita sudah memiliki concern terhadap hal itu...? Saya masih ragu... Mungkin alasan yang masuk akal adalah memnyadarkan masyarakat bahwa harga BBM tidak lagi bisa dipertahankan murah. Suatu saat yang tidak lama lagi, harga BBM akan berada dalam tingkat yang "mencekik leher", sehingga kita harus persiapkan sesuatu untuk mengantisipasinya sejak sekarang.. Beruntung buat Mas Dwi Agus yang masih di kisaran awal-menuju- pertengahan 30an dan sudah biasa ngegowes lincah di jalan raya, yang sudah dan masih bisa bersepeda terus.. Tapi nanti kalau putrinya sudah besar dan sudah nggak bisa dibnceng lagi, bersepeda di jalan raya sudah bukan lagi jadi pilihan bertransportasi bagi Mas DwiAgus sekeluarga (kecuali jika ada jalur khusus sepeda yang aman, dengan pola perilaku masyarakat yang mengutamakan orang bersepeda dan berjalan kaki seperti di Belanda). Jadi salut dan semangat terus untuk Mas DwiAgus ya Mas.. Semangat terus untuk mengkampanyekan jalur khusus bersepeda di kota-kota Indonesia (asal ingat bahwa kota-kota Indonesia bukan cuma Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, dan Makasar ya... Kota-kota kecil di Indonesia jauh lebih banyak hue he he he... Saya ngurus yang kecil-kecil ini aja deh hue he he he....) Sedangkan untuk orang seperti Pak Onnos yang sudah tidak mampu bersepedaan jauh dan juga untuk bermotor ria di jalan raya (suka gampang masuk angin ya Pak... wajar sih Pak, saya aja sudah suka gampang masuk angin nih walau masih sepedaan ato motor-motoran karena belum dipercaya punya mobil sama Yang Kuasa hue he he he...), semoga Mas Koko lebih giat mengkampanyekan kebutuhan pembangunan perangkutan umum yang handal dan terjangkau deh... Piss ya Pak Djarot... udah ngelantur banyak nih saya.... Salam, Fadjar Undip --- On Sun, 12/13/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, December 13, 2009, 2:52 PM Teman saya pernah studi di Belanda, dia bangga dengan budaya bersepeda di sana. Tetapi kayaknya dia juga pernah bercerita, punya kebiasaan mencopot ban depan sepedanya ketika parkir di tempat umum dan membawanya ke dalam kelas.....sebab jika tidak demikian bisa ilang semua....mending masih menyimpan ban depan ! Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sun, 12/13/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, December 13, 2009, 4:14 AM >>>> Tetapi yang ingin disampaikan adalah, ketika kita sudah enak naik sepeda >>>> motor ada rasa enggan untuk kembali naik sepeda, apalagi ketika sudah >>>> nyaman mengendarai mobil sang ...... ++ Ah masa iyaa... Trus mas Dwiagus gmana? Trus anggota Bike2Work yg 10ribu itu gmana? Turis Belanda yg di Jogja nge-becak atau ngojek, pas balik lagi ke Belanda.. Apa lantas beli motor disana?? Kebanyakan mitos nih.. -K- Pedal Powered BikeBerry From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Date: Sat, 12 Dec 2009 13:08:50 -0800 (PST) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? Ya, teorinya memang kebablasan karena tanpa basis evidensi yang mantap. Tetapi yang ingin disampaikan adalah, ketika kita sudah enak naik sepeda motor ada rasa enggan untuk kembali naik sepeda, apalagi ketika sudah nyaman mengendarai mobil sangat sulit untuk kembali ke pola hidup berjalan kaki lagi seperti masa kecil kita. Apalagi pada saat masih di dalam kandungan sudah naik mobil, waaah rasanya agak mustahil deh diajak apalagi berpikir nikmatnya berjalan kaki. Tampaknya perlu ada revolusi berpikir yang mampu mengubah mindset kita untuk ke arah itu. Pemahaman dan kesadaran tentang teori-teori pemanasan global, polusi dsb barangkali belum cukup. Tentu ada penjelasan lain yang diperlukan deh. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sun, 12/13/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> wrote: From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, December 13, 2009, 12:41 AM Tapi saya belum pernah lihat tas atau sepatu buatan Bantul atau Cibaduyut di butik mewah di paris hua ha ha ha..... (kalo sepatu kodian macem Nike sih sering lah....) Salam, Fadjar Undip --- On Sun, 12/13/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, December 13, 2009, 12:15 AM Karena HDI Paris>>>HDI Jkt>> HDI NTB&NTT.. -K- Pedal Powered BikeBerry From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Date: Sat, 12 Dec 2009 02:27:06 -0800 (PST) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? Mas, tetapi ada teori yang menentangnya lho. Orang desa dimana-mana ingin ke kota, setelah di kota lulus sekolah, ingin kerja di Jakarta. Setelah di jakarta, dia ingin ke Singapore, atau Paris. Ketika di Paris beli tas dan sepatu di butik mewah, eee ternyata tas dan sepatu itu buatan Manding (Bantul) atau Cibaduyut (Jabar).... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sat, 12/12/09, Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com> wrote: From: Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Saturday, December 12, 2009, 2:40 PM Saya juga mau berkomen yg hampir sama dengan koko. Kalow di NTT dan NTB, angka HDI yg buruk disumbang dari angka kematian ibu dan anak yg lumayan tinggi. Dan kebanyakan disebabkan karena keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatan, yg dikarenakan tak adanya sistem angkutan rural yg bisa membawa ibu hamil dan anak yg bermasalah kesehatan ke rumah sakit. Tambahan lagi, hal tersebut juga membuat para keluarga enggan membawa ibu dan anak ke fasilitas kesehatan. Dan mereka prefer pergi ke dukun. Salah satu konsep intervensinya, maka sistem transportasi menjadi salah satu bagian sistem kesiagaan sebuah desa utk menghadapi permasalah kesehatan ibu dan anak. Mulai dari identifikasi siapa punya kendaraan apa, kendaraan mana membantu siapa, dst. Itu yg dilakukan AusAID dan diteruskan GTZ di NTT dan NTB dan kemudian jd program nasional Desa Siaga-nya Menkes. Jadi saya numpang teriak amin, utk menegaskan pentingnya rural transportation system. Salam Dwiagus »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot Teruuusss... !!! From: "Harya Setyaka" <harya.setyaka@ gmail.com> Date: Sat, 12 Dec 2009 06:47:10 +0000 To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] rural transport di Indonesia? Teman2 dari PUSTRAL(Pusat Studi Transp Logistic) UGM menggiati rural transport cukup intensive. Prof. Danang Parikesit, salah satu profesor muda di bidang transport juga sempat menjadi ketua IFRTD: Ins. For Rural Transp Devt., yg berkedudukan di London. Di luar Jawa, misal di Papua, minimnya infastruktur transportasi menjadi kendala pelayanan kesehatan&pendidikan. HDI nya jadi keok. JaTeng Yogya HDI nya cukup tinggi.. Mengenai mangga busuk di Kediri: artinya harga produksi mangga+investasi pendingin+ ongkos angkut / kg >>> harga jual /kg di pasar/kota.. (Basic Von Thunnen). Kalau sudah panen tapi tidak terangkut juga; artinya ongkos angkut >= harga jual. Sulitnya Informasi mengenai harga jual (price signal) ini menjadi tantangan bagi petani.. Salam, -K- Pedal Powered BikeBerry From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com> Date: Fri, 11 Dec 2009 20:30:13 -0800 (PST) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: [referensi] rural transport di Indonesia? Bapak, Ibu, referensiers ysh., Selain MRT dan sepeda utk memecahkan masalah urban transport, saya kira kita juga punya masalah dgn rural transport... sayangnya (rasanya) belum pernah kita diskusikan di milis ini... saya terpikir setelah melihat foto2 kawan di Jawa Tengah dan Yogya yg memperlihatkan beberapa pickup (yg juga sudah penuh dgn barang) masih dipenuhi oleh 20 an orang...aneh tapi nyata... sungguh miris melihat di era masa kini di mana ada indikasi korupsi ratusan milyar bahkan triliun rupiah, masih ada sekelompok saudara2 kita yg tidak hanya dihilangkan haknya utk menikmati transportasi yg nyaman, tapi bahkan juga yg aman... masalah "keamanan" dlm bertransportasi publik mungkin sudah sering kita lihat di KA Jabotabek... Tapi rural transport pun ternyata bermasalah, dan saya tidak tahu banyak ttg ini di Indonesia... kecuali bahwa pernah ada penelitian di Planologi ITB ttg dampak lingkungan dari rural transport, yg kalau hipothesis saya sih tidak akan signifikan dampaknya karena karakter dari rural transport yg merupakan low volume traffic... menurut saya yg perlu diteliti dr rural transport di Indonesia adalah keandalannya (ada ketika diperlukan), murahnya (kasus panen mangga di Kediri yg akhirnya dibiarkan membusuk akibat transportasi yg mahal dan tdk tersedianya fasilitas pendingin), kenyamanan dan keamanan (kasus manusia yg dijejal2 di belakang pickup).... dan masalahnya bisa bervariasi antara wilayah2 di Jawa dan luar Jawa, di dalam pulau dan antar pulau... barangkali ada bapak/ibu yg berkenan sharing pengetahuannya, terimakasih. .. salam.

