Pak Onnos, Pak Iman, Pak Aby, dan rekan2 referensiers ysh., Karenanya alasan pemindahan harus jelas, apakah karena masalah keadilan spasial (yg diangkat Pak Aby, Cak Andry), masalah daya dukung lingkungan (yg disebutkan Pak Iman, Kang Deden), masalah transportasi, masalah kemiskinan perkotaan, atau apa?
Karena jangan2 nanti salah obat seperti kata Koko... Saya kira memutuskan kebijakan yg berimplikasi besar pd keuangan negara tentunya perlu alasan yg jelas dan didukung studi yg dalam... kalau masalah lokasinya menurut saya ini masalah setelah alasan pemindahannya ditetapkan... Tapi kalau sedikit mengkhayal seperti si penulis blog pemindahan ke Kalimantan, tentu tidak ada yg melarang...:) salam.. --- On Wed, 12/23/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Tgp (2a) Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ??? To: [email protected] Date: Wednesday, December 23, 2009, 10:27 AM Bisa jadi, kekumuhan Sao Paulo dan Rio de Janeiro merupakan dampak langsung dari besarnya jumlah penduduknya yang juga diwarnai oleh tingginya laju pertumbuhan penduduk di satu sisi, dengan karakter kemampuan kapasitas pemerintah lokal (kota, metropolitan dan aglomerasi metropolitan serta kerjasama di antaranya) yang tidak mampu berkembang seiring dengan besaran jumlah dan tingginya laju pertumbuhan penduduk tsb. Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi dan menjadi persoalan bagi kota-kota raksasa (megacities) di negara2 berkembang aja, tapi juga menjadi karakter bagi beberapa kota raksasa di negara maju... Menurut saya, pemindahan dan pembangunan ibukota ke Brasilia bukan untuk mengatasi kekumuhan di Sao Pauo atau di Rio de Janeiro. Di samping tujuan utamanya untuk memindahkan ibukota dari sebuah kota pesisir yang ramai ke kawasan pedalaman yang belum berkembang, kalau dikaitkan dengan kekumuhan di Sao Paulo dan Rio ya paling cuma agar pertumbuhan penduduk di Rio dan Sao Paulo yang sudah sedemikian besar jumlah penduduknya tidak selalu tetap tinggi. Harapannya adalah pembukaan pusat-pusat aktivitas baru di kawasan pedalaman Brasil bisa memperlambat laju pertumbuhan penduduk di kedua buah kota raksasa Brasil tadi. Dengan demikian, kekurangan sediaan yang telah terjadi (backlog) di kedua buah kota tersebut bisa lebih mudah tertangani. Tapi sekali lagi, menurut saya, ini mungkin adalah hanya sebuah harapan / ekspektasi. Sedangkan bagaimana hasil / resultat-nya yang sebenarnya perlu dicari tahu lewat hasil-hasil riset yang spesifik mengenai hal itu (kalau ada)... Mungkin segitu dulu ah pendapat saya... Salam, Fadjar Undip --- On Wed, 12/23/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: Re: [referensi] Tgp (2a) Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ??? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, December 23, 2009, 3:15 PM Tapi kekumuhan di Sao Paulo dan Rio tetap tak terselesaikan. . apa gak salah obat nih? -K- Brasilia yg dikembangkan pd 1956…. Ibukota baru dari Brazil itu juga kini berpenduduk 2,5 juta atau 3.6 juta kwsn metropolitannya… dan menjadi kota terbesar ke-4 di Brazil……. Banyak jg perusahaan nasionalnya yg berkantorpusat disana….. Brasilia berkembang tidak berbasis industri manufaktur tetapi berbasis kegiatan konstruksi dan pelayanan/ jasa2… GDPnya terbagi atas Public Administration 54.8%, Services 28.7%, Industry 10.2%, Commerce 6.1%, Agribusiness 0.2%.......... pd 1987 Unesco menetapkan Brasilia sbg bagian dari world heritage…………

