Salam, Pak BTS, mohon izin menjawab pertanyaan Bapak.

Pak BTS mempertanyakan:

1. Apakah negara dirugikan? Padahal semua itu Ayin (Artalyta) sendiri yang 
membiayai.

Jawab:

Negara mungkin tidak rugi secara material. Namun secara moral, orang menjadi 
semakin tidak kapok untuk berbuat salah, toh nanti di penjara ada fasilitas 
plus-plus-plus bila kebetulan "bertetanggaan" dengan semacam Artalyta. Atau 
koruptor mobil pemadam kebakaran.

2. Apakah ada diskriminasi? Padahal penguni sel lain juga boleh menikmati 
fasilitas yang dimiliki Ayin. Penghuni lain merasa senang adanya fasilitas itu 
koq...

Jawab:

Bila penghuni lain merasa senang nanti setelah bebas mereka bisa 
"berkabar-kabari" ke sanak-kerabat agar tidak usah bekerja, tapi mencuri saja. 
Kalau tidak ketahuan minimal dapat sesuatu, kalau ketahuan di lapas ada 
fasiltas "pancen oye" yang bisa dinikmati secara langsung, umum, bebas, rahasia

3. Bukankah ini sesuai dengan konsep lembaga pemasyarakatan yang  bukan penjara.

Jawab:

Sangat sesuai. Apa lagi kalau Dufan dan Mall mau dibuka juga di lapas tentu 
mereka akan semakin "bermasyarakat" nantinya.

4. Tidak membela Ayin sih, tapi bagaimana keadaan ruang sel-nya Aulia Pohan?

Jawab:
Ehm, itu mungkin masuk Rahasia Negara, Pak. 

Salam,
CA

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Date: Mon, 11 Jan 2010 20:40:28 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [futurologi] Hotel.. eh.. Penjara Artalyta

Dalam kasus ini, menjadi pertanyaan :
 
1. Apakah negara dirugikan? Padahal semua itu Ayin (Artalyta) sendiri yang 
membiayai.
2. Apakah ada diskriminasi? Padahal penguni sel lain juga boleh menikmati 
fasilitas yang dimiliki Ayin. Penghuni lain merasa senang adanya fasilitas itu 
koq...
3. Bukankah ini sesuai dengan konsep lembaga pemasyarakatan yang  bukan penjara.
 
Tidak membela Ayin sih, tapi bagaimana keadaan ruang sel-nya Aulia Pohan?
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Tue, 1/12/10, parino rahardjo <[email protected]> wrote:


From: parino rahardjo <[email protected]>
Subject: Re: [futurologi] Hotel.. eh.. Penjara Artalyta
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 12, 2010, 4:13 AM


  







Ini adalah kenyataan dari penerapan hukum di Indonesia, dan gak heran kalau 
para bos pengedar Narkoba dapat mengendalikan bisnisnya dari balik 'penginapan 
penjara; jadi gak ada habisnya bisnis haram narkoba dapat di hapus dari Bumi 
Indonesia, karena dapat memperkaya banyak orang.

--- On Mon, 1/11/10, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:


From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Subject: Re: [futurologi] Hotel.. eh.. Penjara Artalyta
To: futurol...@yahoogro ups.com, refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, January 11, 2010, 12:42 AM


  


Kemarin kita sempat membahas penjara.
-K-




Pedal Powered BikeBerry



From: mand...@gmail. com 
Date: Mon, 11 Jan 2010 03:35:46 +0000
Subject: [futurologi] Hotel.. eh.. Penjara Artalyta

  

Tidak ada itu pengkhususan! Tidak ada itu pengistimewaan! Semua tahanan 
derajatnya sama! .. kecuali.. ehm.. kalau duit situ berlebih..

Salam,
CA

Source: http://m.kompas. com/news/ read/data/ 2010.01.11. 1005107

--begins--
Arthalyta Sedang Dirawat Wajahnya oleh Dokter Spesialis


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO 

JAKARTA, KOMPAS.com - Inspeksi mendadak oleh anggota Satuan Tugas Pemberantasan 
Mafia Hukum, Minggu (10/1/2010) malam, di Rumah Tahanan Khusus Wanita Kelas II 
A Pondok Bambu, Jakarta Timur, menemukan sejumlah fakta mencengangkan.

Sejumlah ruangan di dalam gedung perkantoran, yang berada di dalam kompleks 
rutan tersebut, seharusnya gedung untuk perkantoran petugas rutan, disulap 
menjadi ruang pribadi mewah yang dipakai beberapa narapidana semacam terpidana 
kasus suap Arthalyta Suryani dan terpidana seumur hidup kasus narkoba, Limarita.

”Tadinya saya cuma dengar kabar ada fasilitas mewah diberikan kepada narapidana 
tertentu, tapi baru sekarang saya lihat sendiri. Ternyata jauh lebih luar 
biasa. Tadi kami lihat sama-sama, ruangan Limarita malah punya ruang karaoke 
khusus yang begitu mewah,” ujar anggota satgas, Yunus Husein, tertawa.

Yunus bersama dua anggota satgas lain, Denny Indrayana dan Mas Ahmad Santosa, 
mendatangi satu per satu ruangan mewah itu dan mengajak keduanya bicara. 
Ruangan mewah milik Arthalyta berada di lantai tiga gedung dan mendapat giliran 
pertama yang mereka kunjungi. Saat para anggota satgas dan wartawan tiba, 
Arthalyta tengah menjalani perawatan wajah dari seorang dokter spesialis dengan 
peralatan khusus di dalam ruangan itu.

Sementara itu, ruang Limarita berada di lantai dua. Dalam pengamatan Kompas, 
orang luar dipastikan tidak akan menyangka bahwa ruangan di gedung perkantoran 
tersebut ”dialihfungsikan” menjadi ruang tahanan mewah, yang fasilitasnya 
setara hotel bintang lima. Hal itu karena bangunannya sebetulnya berfungsi 
sebagai gedung perkantoran dan letaknya terpisah dari bangunan blok-blok sel 
yang ada di rutan tersebut.

Total blok sel yang ada berjumlah lima blok, yang diisi berdesak-desakan oleh 
sedikitnya 1.172 narapidana. Fasilitas mewah yang ada di setiap ruangan 
keduanya adalah alat penyejuk ruangan, pesawat televisi layar datar merek 
terkenal, perlengkapan tata suara dan home theatre, lemari pendingin dan 
dispenser, serta telepon genggam merek Blackberry.

Ruang khusus karaoke

Di ruang Limarita terdapat ruang khusus untuk karaoke. Dua ruangannya 
dilengkapi seperangkat furnitur mewah dari kulit dan tempat tidur. Di kamar 
Arthalyta terdapat beberapa macam permainan anak-anak dan tempat tidur bayi dan 
dewasa.

Limarita mengakui semua fasilitas barang mewah yang ada di ruangannya dibelinya 
sendiri dan kemudian diserahkan sebagai milik Darma Wanita rutan tersebut. Saat 
akan memasuki gedung rumah tahanan, para anggota satuan tugas dan sejumlah 
wartawan yang ikut sempat nyaris bersitegang dengan sejumlah petugas rumah 
tahanan.  (DWA)
--ends-- 
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone








      

Kirim email ke