Pak Onnos dan Rekans ysh,

Trims atas tanggapannya. Sama-sama mencoba memahami ya Pak. Di dunia planning 
istilah "barefoot planner" pada kurun yang sama juga digunakan Pak. Soal 
otodidak saya tidak tahu, tapi ada modul pelatihan praktis untuk perencana 
(informal) tingkat desa. Biasanya tidak semata merencana tata ruang, tapi 
kadang salah satu aspek dari tri-bina (bina manusia, usaha, lingkungan).

Jugaad, kalau saya amati istilah ini digunakan kalau inovasi (improvisasi) itu 
sudah menjadi gerakan atau produk yang dikenal luas, seperti di negara kita 
"bentor" (becak motor) di Sumatera. Perlengkapan sepeda dipakai sebagai 
penggerak mesin giling atau lainnya. Atau parabola desainnya Onno Poerbo yang 
dari wajan dan pralon yang populer di desa-desa.

Di Aceh, awal pasca gempa saya lihat planner muda volunteer (bule) mengajak 
warga membentuk kembali lingkungan tempat tinggalnya dengan guntingan2 kertas 
bergambar  rumah. Kemudian mengajak mereka merubah polanya agar mengikuti 
aturan mitigasi bencana. Mungkin begitu?

Salam,
Risfan Munir










-----Original Message-----
From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Sent: Friday, January 15, 2010 7:24 PM
To: [email protected] <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: vernacular settlements dan "jugaad"

 
Pak Risfan Munir ysh,
 Terima kasih infonya, saya sudah copy, ini gunanya milis kita bisa nambah 
referensi wawasan. Istilah 'barefoot architect' itu juga dari India, saya lupa 
siapa pelopornya yang sekitar tahun 1970-80an (?) telah berusaha meningkatkan 
keahlian para tukang bangunan dipelosok desa-desa tanpa melalui sekolah 
formal. Mengenai term 'jugaad' itu apa mungkin sama dengan 
'keprigelan/kreativitas' para tukang-tukang kita (dari bangunan sampai bengkel 
motor/mobil yang otodidak bisa bongkar pasang dengan bahan lokal atau onderdil 
bekas) ? Untuk 'planner' apa bisa 'otodidak' tanpa sekolah formal ?
 Wassalam,
 Onnos  
 
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Thu, 14 Jan 2010 19:41:53 -0800
Subject: [referensi] Re: vernacular settlements dan "jugaad"

  
Rekans ysh, saya ikut belajar memahami diskusi "vernacular", kebetulan 
menemukan term "jugaad" yang masih senada dengan "small is beautiful"?
 
“Vernacular”
 
Vernacular architecture is a term used to categorise methods of construction 
which use locally available resources and traditions to address local needs. 
Vernacular architecture tends to evolve over time to reflect the environmental, 
cultural and historical context in which it exists. It has often been dismissed 
as crude and unrefined, but also has proponents who highlight its importance in 
current design.
It can be contrasted against polite architecture which is characterised by 
stylistic elements of design intentionally incorporated for aesthetic purposes 
which go beyond a building's functional requirements.[1]
http://en.wikipedia.org/wiki/Vernacular_architecture
 
“JUGAAD”
Ada trend manajemen baru  dari India yang menjadi pouler setelah Negara ini 
secara ekonomi diperhitungkan dunia, yaitu yang disebut pendekatan “jugaad”. 
Yang artinya gaya improvisasi dari inovasi yang didorong keterbatasan sumber 
daya dan perhatian pada kebutuhan pokok masyarakat (pelanggan). Misalnya: 
seorang warga desa merombak mesin pompa menjadi mesin penggerak alat angkut 
hasil pertanian atau kambing. Dan filosofi ini justrus banyak diterapkan 
perusahaan multi nasional yang bekerja disana untuk memenuhi kebutuhan dan 
sesuai keterjangkauan. (Business Week, 13-20 Januari 2010). Bagaimana dengan 
penerapan pada penataan lingkungan?
Salam,
Risfan Munir

--- On Thu, 1/14/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: vernacular settlements
To: [email protected]
Date: Thursday, January 14, 2010, 3:47 PM

  
Pak Risfan dan Pak Djarot ysh, saya sudah membayangkan kolaborasi dua energi 
ini pasti dahsyat. Mohon pak besok dibabarkan usai presentasinya Prof Deden.
Berhubung ada menyebutkan fenomena 'lingkungan' vernakuler, saya teringat saran 
seorang teman tentang buku "Steps to an Ecology of Mind", kumpulan tulisan 
Gregory Bateson, orang gila lain lagi, bisa diunduh via google. Buku mantan 
suami Margaret Mead  ini katanya menjadi 'buku wajib' pada masa pemerintahan 
Bill Clinton. Mudah-mudahan ada rekan yang sudah membacanya dan mau menjelaskan 
dan membahas. Terutama Pak Risfan yang sudah punya basis NLP, dan mau 
menyandingkan dengan Kaizen. Sementara demikian dulu, sampai nanti sore. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan rekans ysh,
>
> Lapor Pak, saya baru kopi darat berdua dgn Pak Djarot sarapan di warung gudeg 
> mBarek. Baru kali ini kami berdua tatap muka, diluar milist.
> Diskusinya apakah gudeg, krecek, telor pindang, dan kompleks mBarek ini 
> termasuk bagian dari fenomena lingkungan vernakuler?
>
> Schumacher (small is beautiful?) bagian dr vernakuler? Saya lontarkan 
> filosofi "Kaizen" (continuous process improvement) yang sering kali lebih 
> efektif drpd "penataan ulang" (reformasi) yg sering "menakutkan" dan akhirnya 
> berhenti di tengah jalan.
>
> Mudah2an bisa ikut kopdar di Jakarta besok.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: ffekadj 4ek...@...
> Sent: Wednesday, January 13, 2010 11:55 PM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: [referensi] Re: vernacular settlements
>
>
>
> Pak Wawo ysh, terima kasih telah melanjutkan diskusi ini dan membuatnya
> semakin jelas. Saya kira kita punya pandangan yang sama untuk masuk
> secara terpilah atau pun masuk secara mendasar terhadap vernakularisme
> ini. Pandangan bapak yang melihat dari sisi outside ataupun double
> inversion saya kira tipikal pendekatan perencana, walau terilhami oleh
> Shumacher (belum baca). Pertimbangan kompleks biasanya digunakan untuk
> mendapatkan 'rasa' permasalahan permukiman. Namun kalau saya bandingkan
> dengan pertimbangan arsitek, langsung masuk ke dalam simbol dan nuansa,
> sehingga peran fenomenologi cukup penting. Saya kira kalau
> diperbandingkan pendekatan inside dan outside ini akan menimbulkan suatu
> kontras, yang menarik untuk dirumuskan. Perbandingannya sama dengan
> permasalahan fenomena kerusuhan sosial, bisa dilihat secara psikologi,
> antropologi, sosiologi, ilmu politik, dsb. Obyek telaahan sama namun
> kesimpulannya pasti berbeda-beda. Sehingga kalau ada seorang 'New
> Foucault' di Indonesia yang mau mendekonstruksi permasalahan permukiman,
> kita akan sampai pada suatu sintesis yang kuat baik secara peristilahan
> (baru) maupun pemaknaan.
>
> Namun istilah ini pun bisa berkembang atau berubah maknanya sejalan
> perkembangan ilmu dan waktu. Contohnya istilah 'simbol', yang dirumuskan
> oleh Victor Turner (1967) lebih kepada pemaknaan kongkrit dan komunal,
> namun berubah oleh Clifford Geertz (1973) menjadi pemaknaan sinyal
> timbal-balik dan individual. Dengan demikian ada relativitas terhadap
> bangun pemikiran, yang kalau boleh kita sebut sebagai dinamika
> perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai catatan, saya melihat persepsi
> arsitek dan perencana terhadap simbol masih menggunakan pemaknaan
> kongkrit dan komunal-individual. Apakah demikian? Kita perlu banyak
> eksperimen, penjelajahan, dan diskusi untuk membangun
> kesepakatan- kesepakatan. Seperti misalnya kita perlu mencermati
> perkembangan pemikiran Pak Djarot yang sedang berjalan ke arah itu.
>
> Mengenai 'kopi darat', kalau Pak Wawo ada di Jakarta Jum'at sore ini
> bisa bergabung. Memang biasanya kita langsungkan setiap ada Pak Wawo.
> Namun kalau masih dalam suasana bulan madu, yah, kita adakan lagi pada
> kesempatan berikutnya. Saya sebenarnya ingin menawarkan satu issue dalam
> pertemuan besok tentang 'wajah sosial' dari Komunitas Referensi, yang
> kalau dapat menggalang resources untuk membantu permasalahan yang ada di
> masyarakat, walaupun sedikit, misalnya melalui kenclengan. Sementara
> demikian dulu pak. Salam.
>
> -ekadj



New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.

Kirim email ke