Pak Eka dan sahabats,

Menurut saya masih ada satu tokoh mashab kearifan lokal yang lupa saya 
sebutkan. Beliau ada di Unibraw jebolan sebuah universitas di Perancis, namanya 
Dr. Galih Wijil Pangarsa. Beliau ini lebih gila menggali kearifan lokal di 
nusantara. Kebetulan saja, beliau ini teman satu angkatan dengan saya dan Pak 
Eko Prawoto. Beliau berdua adalah murid Romo Mangun, sementara saya hanyalah 
Bambang Ekalaya !!!

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 1/28/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Mazhab Yogya
To: [email protected]
Date: Thursday, January 28, 2010, 3:10 PM







 



  


    
      
      
      Dr. Djarot ysh. Bila disimak pandangan umumnya, saya memahami bila ada 
kesepahaman untuk membangun mazhab, dengan varian yang khas dari sekedar 
penafsiran kearifan lokal; masuk dalam kajian 'spatial-culture' yang telah kita 
kembangkan di milis ini. Saya berani mentabalkan, dengan mengharapkan restu 
dari para sepuh, menyebut mazhab ini sebagai 'Mazhab Yogya'. Mudah-mudahan 
dengan platform ini dapat dikembangkan secara lebih terukur pemikiran 
knowledgeable di kemudian hari.
Satu ciri dari Mazhab Yogya ini yang saya tangkap adalah rujukan perencanaan 
pada strategi keruangan yang telah dikembangkan secara turun-temurun pada suatu 
tempat, dan hal-hal lain yang perlu dipertajam lebih lanjut. Aspek strategi 
keruangan ini sebenarnya sudah termaktub pada beberapa khazanah budaya, seperti 
ungkapan : "nan lorong tanami tabu, nan tunggang tanami bambu, nan gurun buek 
kaparak, nan bancah jadikan sawah, nan munggu pandam pakuburan, nan gauang 
katabek ikan, nan padang kubangan kabau, nan rawang ranangan itiak".
Adapun perbedaan pandangan bapak dan antropolog masalah 'taktik' dan 
'strategi', sebenarnya persoalan genre; dan patokan tentang hal itu bersifat 
relatif. Seperti misalnya dalam "Negara Teater" disebutkan patokan bagi orang 
Bali untuk menentukan titik awal sejarahnya adalah dari kedatangan Gajah Mada. 
Saya pikir hal ini bukan permasalahan yang prinsip.
Saya mencatat para pendukung mazhab ini sebagaimana bapak sebutkan: Dr. Djarot, 
Sudaryono, Ilya Maharika, Jo Santoso, Eko Prawoto, mungkin juga bisa dimasukkan 
Yando. Mohon juga dicatat simpatisan untuk mazhab ini yaitu Prof Deden, Pak 
BSP, dan saya sendiri.
Mungkin demikian pak, ditunggu 'efek Yogya'-nya lebih lanjut, khususnya untuk 
pengembangan metodologi planologi. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Eka dan sahabats,
> 
> Paparan Prof Deden memang sedikit mengejutkan saya, sebab sangat sejalan 
> dengan "mashab" yang dikembangkan Prof Sudaryono (Pak Guru saya) yang sudah 
> sejak tahun 2001 beliau canangkan dan buktikan secara empiris, terutama saya 
> terlibat dalam penelitian Parangtritis. Jika orang-orang antropologi UGM 
> mengatakan bahwa kearifan lokal adalah "every day activities", bukan 
> kata-kata bijak lokal (local wisdom) maka saya cenderung mengatakan adanya 
> nilai-nilai lokal yang mendasari perilaku lokal sehari-hari. Penegasan ini 
> perlu saya sampaikan sebab kita perlu membedakan "taktik lokal" (pandangan 
> antropolog kemarin) dari "strategi lokal" (pandangan saya). Sementara Pak 
> Guru saya bisa juga berbeda, karena biasanya tinjauannya lebih mendalam, 
> maklum senior ya. Bagi antropolog, ojek dan angkringan merupakan siasat 
> (taktik) lokal yang memanfaatkan semua unsur lokalitas yang ada, dan ini sama 
> dengan pandangan Prof Deden yang cenderung ke siasat sebagai batu bata
> kearifan lokal, yang akan digunakan untuk melakukan pengambilan keputusan - 
> tindakan perencanaan ruang kota. 
> 
> Pak Eka tentang siapa pemashab kearifan lokal selain saya dan Pak Guru, 
> mungkin ada lagi yaitu teman-teman dari UII, minimal kemarin tampil dalam 
> seminar terbatas itu yaitu Dr. Ilya Maharika. Beliau membimbimbing mahasiswa 
> untuk merancang ruang publik kampung yang berada 4,2 m diatas permukaan 
> tanah. Ini fenomena pikiran baru, bahwa ruang publik tidak lagi melekat di 
> tanah melainkan dirancang ada diantara bangunan-bangunan bertingkat di 
> kampung. Pemashab lain, saya kira teman-teman dari UKDW atau para sahabat 
> yang meyakini bahwa kampung merupakan inspirasi untuk menata ruang perkotaan 
> di Indonesia. Jadi Pak Jo Santoso atau Pak Eko Prawoto bisa jadi masuk dalam 
> mashab kearifan lokal ini, karena ikonnya kampung menjadi sumber teori untuk 
> penataan ruang kota di Indonesia.
> 
> Pak Eka saya merekam seluruh diskusi dengan handycam, jadi jika memerlukan 
> akan saya kirimkan via pos saja sebab dikemas dalam dvd, termasuk 
> foto-fotonya jika diperlukan. Semoga dalam waktu dekat bisa saya kemas ke 
> dalam dvd, dan dibagikan kepada sahabat yang memerlukan. Bisa juga kalau 
> mampir ke Jogja saya serahkan jika ada acara ke Jogja, sambil kopi darat ya. 
> Bahan presentasi konon menurut panitia bisa didownload di situs mereka 
> http://urp.ucrc- yogya.or. id. 
> 
> Sementara demikian,
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi
> 
> 
> 
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> 
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> 
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> 
> --- On Thu, 1/28/10, ffekadj 4ek...@... wrote:
> 
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Mashab Kearifan Lokal
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Thursday, January 28, 2010, 2:46 AM
> 
> Pak Djarot dan rekan2 ysh, selamat dan sukses untuk acaranya. Salah satu
> 
> kunci keberhasilan kalau boleh saya buka di sini, adalah karena Prof
> 
> Deden sudah dibekali dengan "Negara Teater"-nya Geertz pada waktu kopi
> 
> darat kemarin. Namun seperti biasa, tentu, saya tidak akan menerima
> 
> begitu saja hasil pencerahannya. Kalau boleh saya komentari sedikit :
> 
> 
> 
> 1) Saya cukup mengerti dengan Mazhab Chicago, yang dikumandangkan
> 
> 1920an, sebagai salah satu bentuk reaksi terhadap penelitian adat
> 
> kebiasaan, kepercayaan, serta praktek-praktek sosial lainnya sebagaimana
> 
> telah diprakarsai oleh Boaz, Lowie, dll, dan menggantinya dengan
> 
> pendekatan dan studi kekinian untuk masalah kekinian dengan antara lain
> 
> penggunaan kuesioner dll. Selain Park, Radcliffe-Brown dan Malinowski
> 
> sampai mengatakan: masa lampau itu sudah mati dan terkubur. Jadi makna
> 
> 'mazhab kearifan lokal' saya tafsirkan sebagai kembali ke era histori,
> 
> mitos, dan legenda, sebagaimana dirintis kembali oleh Neo Boazian dkk.
> 
> Hanya kurang mengerti dan tidak tahu tentang Mazhab Los Angeles,
> 
> siapa-siapa saja penggagasnya, dan bagaimana konsepnya. Mohon pak
> 
> penjelasannya? Kalau boleh sekalian melampirkan materi bahan diskusi.
> 
> 
> 
> 2) Efek Chicago terhadap perencanaan kota di antaranya muncul
> 
> central-place theory, spatial diffusion of innovations, dst. Mohon
> 
> penjelasan apa bentuk 'model baru' dari mazhab kearifan lokal itu untuk
> 
> perencanaan kota? Serta tentunya anti-efek Los Angeles? Mohon kesediaan
> 
> urai-babarkan sebelum tanggal 5 Feb.
> 
> 
> 
> 3) Mazhab itu sudah lebih maju dari paradigma. Mohon kesediaan
> 
> menjelaskan siapa-siapa saja yang masuk dalam mazhab kearifan lokal,
> 
> selain Pak Djarot sendiri, sekurangnya ada 3-4 orang lagi?
> 
> 
> 
> Terima kasih sebelumnya. Foto-fotonya ditunggu juga pak. Salam.
> 
> 
> 
> -ekadj
> 
> 
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:
> 
> >
> 
> > Dear All,
> 
> >
> 
> > Rabu tanggal 27 Januari 2010 Dr. Deden Rukmana memberikan pencerahan
> 
> bagi kalangan pemerhati planning perkotaan yang menjadi peserta Seminar
> 
> Terbatas tentang "Perencanaan Kota dan Kearifan Lokal" di FIB,
> 
> Yogyakarta. Inti gagasan yang disampaikan adalah bahwa mashab Chicago
> 
> dan Loa Angeles sudah perlu ditinggalkan sebab terbukti menimbulkan
> 
> banyak masalah bagi perencanaan kota-kota di Indonesia karena tekanannya
> 
> pada rasionalitas mean-end approach, maka perlulah mempertimbangkan
> 
> kekuatan kearifan lokal sebagai mashab baru !!!
> 
> >
> 
> > Setelah diskusi di FIB, kami sempat berjalan menelusuri sudut-sudut
> 
> kota Yogyakarta dan akhirnya piknik ke Parangtritis. Rute perjalanan
> 
> kami cukup jauh, yaitu UGM, Pantirapih, Kridosono, Kotabaru, Tugu, Jalan
> 
> Mangkubumi,
> 
> > Malioboro, Alun-alun utara (ada sekaten), SD Keputran, Masjid Gede,
> 
> > Monumen SO di Kraton, Tamansari, Alun-alun selatan (melihat Masangin),
> 
> > Panggung Krapyak, Kasongan, RM. Parangtritis, Parangkusumo, Pantai
> 
> > Parangkusumo, Parangtritis, Bukit atas Parangtritis, dan pulang ke
> 
> > Bandara.
> 
> >
> 
> > Demikian, sekilas info jumpa darat yang sangat mengesankan (foto-foto
> 
> di Parangtritis menyusul).
> 
> >
> 
> > Salam,
> 
> >
> 
> >
> 
> >
> 
> > Djarot Purbadi



    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke