Pak Risfan dan sahabat-sahabat referensiers ysh, Membaca posting Pak Risfan ttg "Bersiaplah menjadi manusia Indonesia yang ADAPTIF", saya jadi teringat kepada sebuah buku kecil karangannya Pak Arief Budiman (Soe Hok Lie?) yang saya lupa judulnya, karena saya baca lebih dari duapuluh tahun yang silam. Tetapi yang saya ingat di dalam buku tersebut adalah Pak Arief Budiman mengajak kita untuk menjadi seorang yang "Pasca Indonesia", begitu istlah yang diberikan Pak Arief Budiman terhadap manusia Indonesia yang lebih menempatkan suku dan golongan beserta kepentingannya di dalam posisi yang lebih rendah daripada posisi bangsa atau kelompok masyarakat yang lebih besar. Beliau memberi istilah "manusia pasca Indonesia" adalah dengan mengadopsi istilah pasca sarjana yang menurut Bekau berarti sudah lebih daripada seorang sarjana karena sudah memiliki pandangan yang lebih luas daripada seorang sarjana yang biasanya hanya mempelajari suatu ilmu hanya dari rumpun ilmunya sendiri, sementara dalam pasca sarjana, ilmu yang dipelajari adalah juga berasal dari rumpun ilmu lain yang berkaitan. Jadi sudah lebih luas perhatian dan pemahamannya. Ketika dialikasikan ke dalam bangsa Indonesia, kemudian Pak Arief Budiman mencontohkan misalnya seperti manusia Indonesia yang bersuku Jawa, bersuku Minang atau beretnis Cina, dsb, sudah lagi tidak menganggap dirinya sebagai orang Jawa, orang Minang, atau orang Cina melainkan sebagai orang Indonesia keturunan Jawa, keturunan Minang atau keturunan Cina dsb.. Jadi lebih mengedepankan orang Indonesianya. Dalam konteks domestik, mungkin hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Wawo yang "nantinya masyarakat Indonesia hanya bisa mengatakan LOKASI tempat asalnya, bukan SUKU nya". Seperti saya yang kemudian bilang bahwa saya orang Indonesia yang sedang tinggal di Semarang, atau orang Indonesia yang sedang menjadi warga dunia, karena tempat tinggal saya yang sedang berpindah-pindah tempat ke beberapa lokasi dunia selama beberapa tahun ini he he he... Sementara untuk hal yangberkaitan dengan "kearifan", bisa jadi suatu kearifan juga merupakan suatu hal yang dinamis berdasarkan ruang dan waktu, sehingga kolaborasi dan adaptasi nilai, norma, dan aturan-aturan dalam kehidupan juga merupakan suatu konsekuensi logis di dalam kehidupan suatu masyarakat di dalam perjalanan waktu, termasuk di dalamnya masyarakat Indonesia baik secara keseluruhan maupun dalam kelompok yang lebih kecil. Mohon pencerahannya Pak ya... Terima kasih sebelumnya. Salam, Fadjar Undip
--- On Sat, 1/30/10, risfano <[email protected]> wrote: From: risfano <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Campursari dan Adaptasi To: [email protected] Date: Saturday, January 30, 2010, 11:33 AM Pak Onnos dan Rekans ysh, Sebetulnya saya menulis istilah Campursari ini bukan saya kaitkan dengan gonjang-ganjing transisi politik, tapi gejala kebudayaan dalam jangka panjang (pura-pura seperti Toffler gitu lah Pak). Karena ada teman yang menulis tentang "kearifan lokal" lalu disambut dengan "pendatang vs asli". Lokal itu apa? Asli itu apa? murni teori Indonesia itu apa? teori import itu apa? Lha budaya Indonesia (yang murni bukan daerah) itu juga apa? Apa ada "manusia Indonesia" masa kini yang "asli", dengan ilmu yang "asli" pula? Tapi pola pikir dikotomis kan mengatakan kalau tidak asli ya pendatang. Kalau saya per-rumit lagi, lho "asli = suku" dong? Aslinya dulu kan Jawa, Sunda, Batak, Makassar, Bone, Ambon, Papua dst Untunglah dari Gunungkidul muncul kearifan nasional dengan istilah CAMPURSARI (Gunungkidul) . Jadi tak perlu debat tegang-tegang, karena istilahnya sudah ada, ada budaya baru namanya CAMPURSARI. Campuran lagu tradisional (Jawa, Batak, Manado, Minang, dst) dicampur irama disko, rock, RnB, tripping, dangdut. Jangan lupa irama kroncong, yang sepertinya Jawa itu juga hasil ADAPTASI dari musik Portugis, Balanda, daerah nusantara. Di Kompas hari ini, ada artikel (Teroka) tentang ADAPTASI hidup di perkotaan. Hidup di lingkungan kota yang padat menimbulkan berbagai masalah psikologis. Maka warganya melakukan strategi ADAPTASI, yang muncul dalam dua gejala: (1) menata lingkungan, rumah, atau ruang senyaman mungkin (sesuai kepribadian dan budayanya); (2) ya adaptasi "persepsi" pikirannya untuk bisa menerima kenyataan seak, bertetangga dengan warga dari daerah yang adatnya beda-beda. Pada dasarnya hampir semua warga hidup dalam ADAPTASI, yang seperti CAMPURSARI. Campuran "modern/tradisional ", maksud ekonomi/sosial. Pak Wawo, waktu saya kuliah dulu, menanggapi budaya masyarakat transmigrasi pernah bilang, l.k. "nantinya masyarakat Indonesia hanya bisa mengatakan LOKASI tempat asalnya, bukan SUKU nya". Bersiaplah menjadi manusia Indonesia yang ADAPTIF, sambil menikmati musik CAMPURSARI, musik khas Indonesia (?). Salam, Risfan Munir --- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..> wrote: > > > > > > > From: sugion...@.. . > To: refere...@yahoogrou ps.com > Subject: RE: [referensi] Campursari community > Date: Sat, 30 Jan 2010 03:00:07 +0000 > > > > Mas Risfan M. ysh, > Sejak kita memasuki 'era reformasi' sepuluh tahun lalu (awal 2000an), ada > yang mengatakan kita seperti 'kuda lepas dari kandang' dan sedang mencari > 'kandang baru'. Masa ini mungkin seperti waktu memasuki awal era kemerdekaan > atau awal 'orla' (1950an) dan awal 'orba' (1970an). Masalahnya saat ini > teknologi informasi & komunikasi sudah sangat maju, sehingga semua maunya > serba cepat, seperti 'dalam seratus hari' harus sudah ada realisasi program-2 > pembangunan. Mungkinkan 'campursari community' ini akan butuh 'interval' > waktu yang sama dengan masa 'orla' (1950an s/d 1970an) dan 'orba' (1970an s/d > 2000an) yang butuh perubahan sekitar 20 - 30 tahunan (sekitar satu generasi) > atau lebih cepat ? Maaf ini hanya prakiraan saja. > Wassalam, > Onnos > > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > From: risf...@... > Date: Fri, 29 Jan 2010 15:53:41 -0800 > Subject: [referensi] Campursari community > > > > > Rekans ysh, > > Kalau saya ikuti diskusi kita yang menggunakan istilah "kearifan lokal", > Barat, mazhab Jogja, Bandung, kesultanan, NKRI, demokrasi, kuantitatif, > kualitatif. > Kesimpulan saya, pada kenyataannya kita hidup pada "ruang, waktu" yang > berciri Campursari. > > Perubahan politik, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, teknologi (plesot) > yang sulit bagi siapapun untuk berpegang atau berciri asli (original). Dalam > upaya masing2 untuk "meraih yang di depan, sambil melestarikan yang lama", > yang terjadi adalah CAMPURSARI. > > Sebagian senior mengatakan si yunior kebablasan, kebelinger. Tapi si yunior > juga bilang 'ortu'nya jadul (jaman dulu). > > "Malin Kundang anak durhako". Demikianlah si Malin dijuluki karena > mencampakkan Ibunya. Tapi dalam konteks budaya, almarhum AA Navis mengkritik > anggapan itu. Menurut dia Ibunya juga punya andil besar dalam kesalahan itu, > karena dia mendorong, mendoakan anaknya jadi "orang kaya, pejabat, di kota". > Setelah jadi itu semua, tiba2 Ibunya menuntut si Malin menerapkan pola adat > (kampung), hidup sederhana, dst. Ini tidak fair, katanya. > > Kita hidup dalam "ruang dan waktu". Saya hidup hari ini di Jabodetabek > (nglaju, commuting), sementara Pak Djarot di Jogja, Mas Eko di Perancis, > Deden di Savanah, USA. Karena teknologi kita bisa komunikasi real time. > Banyak hal yang kita rasakan sebagai hal "yang sama", walau sesungguhnya > kalau disadari situasi kita berbeda. > > Kesimpulannya, dalam komunitas Campursari, soal "ruang, waktu" bisa > dijembatani. Masing2 masih bisa mengaktualisasikan budaya, kebiasaannya, > dicampur dengan fakta2 aktual, kekinian, pengaruh "luar" yang sulit dihindari. > > Alternatif dari Campursari mungkin bukan "kembali ke tradisi", tapi > Simplicity. > > Kalau kita berada di pusat putaran (as, Kabah), tentu kita tidak ikut pusing > walau roda (kehidupan) berputar cepat. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > > > > Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more. > http://windows. microsoft. com/shop >

