Ha ha ha ha....  saya tidak mengatakan bahwa kearifan lokal adalah suatu yang 
sempit seperti yang Pak Djarot sangka dalam posting di bawah.. Saya juga tidak 
mengatakan bahwa kearifan lokal adalah sesuatu yang mistik, kuno dan lain-lain 
seperti yang Pak Djarot sampaikan di posting lainnya.. Yang ingin saya 
sampaikan adalah bahwa suatu kearifan (termasuk di dalamnya) bisa jadi juga 
merupakan suatu hal yang bersifat dinamis berdasarkan kerangka ruang dan waktu, 
sehingga apabila kita sepakat bahwa kearifan ini juga merupakan suatu hal yang 
dinamis maka kolaborasi dan adaptasi juga bisa jadi merupakan suatu respon 
logis untuk melakukan penemuan suatu "kearifan baru" yang lebih sesuai dengan 
kondisi ruang (dan masyarakatnya) pada waktu yang baru tersebut.
 
Tentang keunikan suatu lokal, saya juga sangat mempercayainya sebagaimana ada 
seorang geograf yang menyampaikan bahwa "setiap wilayah (region/lokal) adalah 
unik, seperti halnya wilayah (region/lokal) lainnya". Beliau menyampaikan hal 
tersebut karena setiap wilayah memiliki karakter yang berbeda yang dibangun 
oleh tidak saja oleh kondisi fisik lingkungan alami-binaan serta masyarakatnya, 
tetapi juga dibangun oleh beberapa aspek lainnya termasuk sejarah dan identitas 
wilayah serta tata organisasi wilayah baik secara institusional maupun secara 
geografis. Oleh karena itu, perlakuan terhadap suatu wilayah untuk mengharapkan 
suatu outcome tertentu belum tentu efektif apabila direplikasi pada wilayah 
lain dengan tujuan yang sama. Namun, sebagaimana suatu teori adalah berguna 
untuk membantu kita dalam menyusun konstruksi pemikiran dalam melakukan 
analisis, maka pendekatan perumusan perlakuan bagi wilayah-wilayah tadi bisa 
saja dilakukan dengan menggunakan
 teori-teori yang sama. 
 
Jadi, kembali ke kearifan lokal, saya tidak mengatakan bahwa kearifan lokal 
adalah suatu hal yang sempit atau bahkan kuno, mistik dan sebagainya. Yang 
lebih saya khawatirkan sebenarnya adalah tentang cara pandang kita yang 
terkadang mengagungkan atau bahkan mengkeramatkan/mengkultuskan sesuatu yang 
kita pandang sebagai suatu kearifan lokal, sehingga kemudian lupa kepada esensi 
dari kearifan tersebut sehingga kita berpikir bahwa kearifan tersebut harus 
dipertahankan (atau dikonservasi kali.....) dan membatasi kita untuk bisa 
berpikir bahwa bisa jadi kearifan tersebut memiliki peluang (dan juga sisi-sisi 
yang perlu) untuk diperbaiki agar kearifan tersebut bisa lebih terrevitalisasi 
dan bekerja secara lebih efektif.
 
Mungkin pandangan saya ini dipengaruhi oleh latar belakang saya sebagai orang 
yang berkecimpung di dalam dunia perencanaan (pembangunan wilayah dan kota), 
dimana berbeda dengan para antropolog saya lebih berorientasi ke masa depan 
berdasarkan pijakan di masa lalu hingga kini. Selain itu, peluang untuk 
melakukan suatu intervensi kepada sistem yang ada, untuk mampu memperoleh 
kondisi yang lebih baik dan/atau lebih diminati, juga merupakan suatu perhatian 
bagi saya. Bisa jadi ini sedikit berbeda dengan perhatian para antropolog yang 
relatif tidak terlalu besar perhatiannya ke masa depan (mohon maaf apabila 
pandangan saya ini tidak terlalu benar). 
 
Adanya kerangka waktu (yang sekarang menjadi semakin dinamis dengan 
perkembangan teknologi terutama dalam bidang informasi, telekomunikasi dan 
transportasi), serta adanya peluang-peluang intervensi di dalam sebagian besar 
sistem aktivitas yang ada di dunia ini, membuat saya berpikir bahwa sebagian 
besar sistem aktivitas bisa dilakukan intervensi untuk menemu-kenali 
(merevitalisasi) sistem aktivitas yang lebih baik atau lebih dikehendaki. Tentu 
saja sistem yang baru tidak harus merupakan suatu sistem yang sama sekali baru. 
Bisa juga sistem yang baru tersebut merupakan perbaikan atau adaptasi dari 
sistem yang lama. 
 
Sebagai contoh adalah cara pandang masyarakat Bali terhadap tari pendet (tapi 
saya ngak tahu apakah hal ini bisa menjadi contoh tentang kearifan lokal atau 
bukan..). Pada awalnya, tari pendet merupakan suatu tarian pemujaan dan terima 
kasih kepada para dewa yang telah datang ke dalam alam dunia berdasarkan 
kepercayaan kehidupan masyarakat Bali. Oleh karena itu, pada jaman dahulu tari 
pendet lebih sering ditarikan di dalam pura sebagai bagian dari suatu aktivitas 
ritual. Namun, perkembangan berikutnya, tari pendet ini kemudian dilakukan 
untuk menyambut turis yang datang sebagai suatu ungkapan rasa terima kasih dan 
selamat datang, sebagai bagian dari penghormatan masyarakat Bali kepada 
wisatawan yang datang. Oleh karena itu, sekarang tari pendet lebih sering 
ditarikan di hotel-hotel atau bahkan di bandara. Bisa jadi pergeseran/perubahan 
ini dilakukan oleh masyarakat Bali karena mereka menganggap bahwa penghormatan 
terhadap tamu juga tidak kalah
 pentingnya bagi kehidupan masyarakat Bali, sehingga tari pendet yang sedianya 
mereka tarikan untuk menyambut kedatangan para dewa, kemudian juga mereka 
tarikan untuk menyambut kedatangan para tamu.
 
Jadi sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan suatu 
hal yang sempit, kuno atau bahkan mistik. 
 
Mungkin begitu dulu ya Pak Djarot. 
 
Salam,
 
Fadjar Undip
 


--- On Sun, 1/31/10, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:


From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Campursari dan Adaptasi
To: [email protected]
Date: Sunday, January 31, 2010, 2:29 AM


  







Pak Fajar, kearifan lokal saya kira tidak sesempit pandangan kembali ke 
suku-suku dalam paradigma lama (Indonesia). Lokal ya lokal, apa yang ada di 
lokal yang diangkat untuk diambil keunikannya karena memang dimiliki masyarakat 
lokal. Kuncinya ada para KEUNIKAN bukan keuniversalannya atau generalisasi. 
Jika cara pikir kita pasca rasionalistik, yang mampu melihat pasca-indonesia 
atas dasar fenomena kekinian yang unik dan bertahan jaman, maka disitulah kunci 
memahami fenomena kearifan lokal. Jadi lokal menunjuk pada situasi lokal yang 
unik dan kandungan substansinya juga unik. Jika masyarakat lokal beragam dari 
berbagai suku, maka kita sebagai planner memasuki kondisi alpha dan 
menghampakan diri untuk menjumpai realitas murni yang ada di tempat itu. 
Tentunya temuan kearifan lokal (konotasinya keunikan lokal) tidak serta-merta 
diangkat menjadi prinsip, sebab siklus prosesnya ada upaya melihat mana yang 
positif dan mana yang negatif untuk perkembangan
 masyarakat, Jadi ada seleksi oleh masyarakat sendiri kearifan lokal mana yang 
akan bermanfaat untuk penataan ruang kehidupan mereka.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sat, 1/30/10, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> 
wrote:


From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] Re: Campursari dan Adaptasi
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, January 30, 2010, 6:55 PM


  






Pak Risfan dan sahabat-sahabat referensiers ysh,
 
Membaca posting Pak Risfan ttg "Bersiaplah menjadi manusia Indonesia yang 
ADAPTIF", saya jadi teringat kepada sebuah buku kecil karangannya Pak Arief 
Budiman (Soe Hok Lie?) yang saya lupa judulnya, karena saya baca lebih dari 
duapuluh tahun yang silam. Tetapi yang saya ingat di dalam buku tersebut adalah 
Pak Arief Budiman mengajak kita untuk menjadi seorang yang "Pasca Indonesia", 
begitu istlah yang diberikan Pak Arief Budiman terhadap manusia Indonesia yang 
lebih menempatkan suku dan golongan beserta kepentingannya di dalam posisi yang 
lebih rendah daripada posisi bangsa atau kelompok masyarakat yang lebih besar. 
Beliau memberi istilah "manusia pasca Indonesia" adalah dengan mengadopsi 
istilah pasca sarjana yang menurut Bekau berarti sudah lebih daripada seorang 
sarjana karena sudah memiliki pandangan yang lebih luas daripada seorang 
sarjana yang biasanya hanya mempelajari suatu ilmu hanya dari rumpun ilmunya 
sendiri, sementara dalam pasca sarjana, ilmu
 yang dipelajari adalah juga berasal dari rumpun ilmu lain yang berkaitan. Jadi 
sudah lebih luas perhatian dan pemahamannya. 
 
Ketika dialikasikan ke dalam bangsa Indonesia, kemudian Pak Arief Budiman 
mencontohkan misalnya seperti manusia Indonesia yang bersuku Jawa, bersuku 
Minang atau beretnis Cina, dsb, sudah lagi tidak menganggap dirinya sebagai 
orang Jawa, orang Minang, atau orang Cina melainkan sebagai orang Indonesia 
keturunan Jawa, keturunan Minang atau keturunan Cina dsb.. Jadi lebih 
mengedepankan orang Indonesianya. Dalam konteks domestik, mungkin hal ini 
sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Wawo yang "nantinya masyarakat 
Indonesia hanya bisa mengatakan LOKASI tempat asalnya, bukan SUKU nya". Seperti 
saya yang kemudian bilang bahwa saya orang Indonesia yang sedang tinggal di 
Semarang, atau orang Indonesia yang sedang menjadi warga dunia, karena tempat 
tinggal saya yang sedang berpindah-pindah tempat ke beberapa lokasi dunia 
selama beberapa tahun ini he he he... 
 
Sementara untuk hal yangberkaitan dengan "kearifan", bisa jadi suatu kearifan 
juga merupakan suatu hal yang dinamis berdasarkan ruang dan waktu, sehingga 
kolaborasi dan adaptasi nilai, norma, dan aturan-aturan dalam kehidupan juga 
merupakan suatu konsekuensi logis di dalam kehidupan suatu masyarakat di dalam 
perjalanan waktu, termasuk di dalamnya masyarakat Indonesia baik secara 
keseluruhan maupun dalam kelompok yang lebih kecil.
 
Mohon pencerahannya Pak ya... Terima kasih sebelumnya.
 
 
Salam,
 
Fadjar Undip


--- On Sat, 1/30/10, risfano <risf...@yahoo. com> wrote:


From: risfano <risf...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: Campursari dan Adaptasi
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, January 30, 2010, 11:33 AM


  

Pak Onnos dan Rekans ysh,

Sebetulnya saya menulis istilah Campursari ini bukan saya kaitkan dengan 
gonjang-ganjing transisi politik, tapi gejala kebudayaan dalam jangka panjang 
(pura-pura seperti Toffler gitu lah Pak). Karena ada teman yang menulis tentang 
"kearifan lokal" lalu disambut dengan "pendatang vs asli".

Lokal itu apa? Asli itu apa? murni teori Indonesia itu apa? teori import itu 
apa? Lha budaya Indonesia (yang murni bukan daerah) itu juga apa?

Apa ada "manusia Indonesia" masa kini yang "asli", dengan ilmu yang "asli" 
pula? Tapi pola pikir dikotomis kan mengatakan kalau tidak asli ya pendatang. 
Kalau saya per-rumit lagi, lho "asli = suku" dong? Aslinya dulu kan Jawa, 
Sunda, Batak, Makassar, Bone, Ambon, Papua dst 

Untunglah dari Gunungkidul muncul kearifan nasional dengan istilah CAMPURSARI 
(Gunungkidul) . Jadi tak perlu debat tegang-tegang, karena istilahnya sudah 
ada, ada budaya baru namanya CAMPURSARI. Campuran lagu tradisional (Jawa, 
Batak, Manado, Minang, dst) dicampur irama disko, rock, RnB, tripping, dangdut. 
Jangan lupa irama kroncong, yang sepertinya Jawa itu juga hasil ADAPTASI dari 
musik Portugis, Balanda, daerah nusantara.

Di Kompas hari ini, ada artikel (Teroka) tentang ADAPTASI hidup di perkotaan. 
Hidup di lingkungan kota yang padat menimbulkan berbagai masalah psikologis. 
Maka warganya melakukan strategi ADAPTASI, yang muncul dalam dua gejala: (1) 
menata lingkungan, rumah, atau ruang senyaman mungkin (sesuai kepribadian dan 
budayanya); (2) ya adaptasi "persepsi" pikirannya untuk bisa menerima kenyataan 
seak, bertetangga dengan warga dari daerah yang adatnya beda-beda.

Pada dasarnya hampir semua warga hidup dalam ADAPTASI, yang seperti CAMPURSARI. 
Campuran "modern/tradisional ", maksud ekonomi/sosial.

Pak Wawo, waktu saya kuliah dulu, menanggapi budaya masyarakat transmigrasi 
pernah bilang, l.k. "nantinya masyarakat Indonesia hanya bisa mengatakan LOKASI 
tempat asalnya, bukan SUKU nya". 

Bersiaplah menjadi manusia Indonesia yang ADAPTIF, sambil menikmati musik 
CAMPURSARI, musik khas Indonesia (?).

Salam,
Risfan Munir

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..> wrote:
>
> 
> 
> 
> 
> 
> From: sugion...@.. .
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: RE: [referensi] Campursari community
> Date: Sat, 30 Jan 2010 03:00:07 +0000
> 
> 
> 
> Mas Risfan M. ysh,
> Sejak kita memasuki 'era reformasi' sepuluh tahun lalu (awal 2000an), ada 
> yang mengatakan kita seperti 'kuda lepas dari kandang' dan sedang mencari 
> 'kandang baru'. Masa ini mungkin seperti waktu memasuki awal era kemerdekaan 
> atau awal 'orla' (1950an) dan awal 'orba' (1970an). Masalahnya saat ini 
> teknologi informasi & komunikasi sudah sangat maju, sehingga semua maunya 
> serba cepat, seperti 'dalam seratus hari' harus sudah ada realisasi program-2 
> pembangunan. Mungkinkan 'campursari community' ini akan butuh 'interval' 
> waktu yang sama dengan masa 'orla' (1950an s/d 1970an) dan 'orba' (1970an s/d 
> 2000an) yang butuh perubahan sekitar 20 - 30 tahunan (sekitar satu generasi) 
> atau lebih cepat ? Maaf ini hanya prakiraan saja.
> Wassalam,
> Onnos
> 
> 
> 
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> From: risf...@...
> Date: Fri, 29 Jan 2010 15:53:41 -0800
> Subject: [referensi] Campursari community
> 
> 
> 
> 
> Rekans ysh,
> 
> Kalau saya ikuti diskusi kita yang menggunakan istilah "kearifan lokal", 
> Barat, mazhab Jogja, Bandung, kesultanan, NKRI, demokrasi, kuantitatif, 
> kualitatif. 
> Kesimpulan saya, pada kenyataannya kita hidup pada "ruang, waktu" yang 
> berciri Campursari.
> 
> Perubahan politik, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, teknologi (plesot) 
> yang sulit bagi siapapun untuk berpegang atau berciri asli (original). Dalam 
> upaya masing2 untuk "meraih yang di depan, sambil melestarikan yang lama", 
> yang terjadi adalah CAMPURSARI.
> 
> Sebagian senior mengatakan si yunior kebablasan, kebelinger. Tapi si yunior 
> juga bilang 'ortu'nya jadul (jaman dulu).
> 
> "Malin Kundang anak durhako". Demikianlah si Malin dijuluki karena 
> mencampakkan Ibunya. Tapi dalam konteks budaya, almarhum AA Navis mengkritik 
> anggapan itu. Menurut dia Ibunya juga punya andil besar dalam kesalahan itu, 
> karena dia mendorong, mendoakan anaknya jadi "orang kaya, pejabat, di kota". 
> Setelah jadi itu semua, tiba2 Ibunya menuntut si Malin menerapkan pola adat 
> (kampung), hidup sederhana, dst. Ini tidak fair, katanya.
> 
> Kita hidup dalam "ruang dan waktu". Saya hidup hari ini di Jabodetabek 
> (nglaju, commuting), sementara Pak Djarot di Jogja, Mas Eko di Perancis, 
> Deden di Savanah, USA. Karena teknologi kita bisa komunikasi real time. 
> Banyak hal yang kita rasakan sebagai hal "yang sama", walau sesungguhnya 
> kalau disadari situasi kita berbeda.
> 
> Kesimpulannya, dalam komunitas Campursari, soal "ruang, waktu" bisa 
> dijembatani. Masing2 masih bisa mengaktualisasikan budaya, kebiasaannya, 
> dicampur dengan fakta2 aktual, kekinian, pengaruh "luar" yang sulit dihindari.
> 
> Alternatif dari Campursari mungkin bukan "kembali ke tradisi", tapi 
> Simplicity.
> 
> Kalau kita berada di pusat putaran (as, Kabah), tentu kita tidak ikut pusing 
> walau roda (kehidupan) berputar cepat.
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger 
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.
> http://windows. microsoft. com/shop
>











      

Kirim email ke