Pak Djarot, Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh.,

Sebetulnya Chicago school yg disebutkan Pak Djarot/Pak Deden perlu dipersempit 
pd konteks urban morphology... walaupun morfologi perkotaan tidak hanya Chicago 
School, tapi ada British, French, dsb. tetapi memang yg banyak diajarkan di 
Planologi ITB adalah Chicago School... Pak Risfan mungkin masih ingat model2 
bentuk kota: concentric zone, sector, dan multi nuclei... ini adalah karya 
Chicago School yg sangat kita kenal ketika dibangku kuliah S1... 

Concern saya adalah, seberapa jauh sebetulnya model2 ini mempengaruhi 
perencanaan kota kita? Apakah karena kita menjadikan model2 tsb sebagai sumber 
ide bentuk rencana kota yg kita rencanakan? Saya baca beberapa RTRWK memang 
mencantumkan gambar2 model tsb yg
kebanyakan sebenarnya lebih pd copy paste dr laporan2 RTRW kota2 lain
yg sudah terlebih dahulu disusun... apakah planners Indonesia
mengadopsi model2 tsb ketika menyusun RTRWK? hmmm tentu kita perlu
berhati2 dgn statemen ini...

Karena berasal dr jurusan Sosiologi maka model2 Chicago school ini adalah 
sebuah upaya memahami kompleksitas kota melalui penyederhanaan... model2 kota 
versi Chicago school harus dibedakan dr model2 kota yg lahir dari ide dan visi 
seperti Garden City karena model kota2 Chicago school berangkat dr fenomena yg 
ada... Model kota seperti Garden City memang model yg diharapkan diwujudkan, 
tapi model2 kota Chicago school dibangun bukan utk ditiru, tapi utk memudahkan 
memahami fenomena... demikian juga LA school yg berangkat dr geograf2... 

Nah kalau model2 kota Chicago school tsb digunakan sebagai sumber ide utk 
membuat replika di kota2 lain dan kemudian tdk cocok lalu yg salah siapa? Tentu 
bukan modelnya atau pembuat modelnya, tapi si planner sendiri..hehe...

Concern yg kedua adalah bila model Chicago/LA school dianggap menjadi sumber 
permasalahan perencanaan kota2 di Indonesia...Seberapa jauh model ini 
mempengaruhi banyaknya permasalahan perencanaan kota2 kita? Tentu saja 
permasalahan perencanaan kota2 kita memiliki banyak sumber: masalah dr 
stakeholders, regulasi, minimnya budget, batas administrasi yg disengketakan, 
lingkungan, kemiskinan, yg saya kira tidak seluruhnya terkait dgn morfologi 
kota ala Chicago maupun LA...

Tapi tentu saya sependapat dgn maksud Pak Deden dan Pak Djarot bahwa kita tidak 
bisa sembarangan mengaplikasikan model2 yg berasal dr lokalitas yg lain...:)

salam..





--- En date de : Sam 30.1.10, Djarot Purbadi <[email protected]> a écrit :

De: Djarot Purbadi <[email protected]>
Objet: Re: [referensi] Re: Mazhab Yogya- mahzab atau jualan scholarship?
À:
 [email protected]
Date: Samedi 30 Janvier 2010, 20h42







 



  


    
      
      
      Dear Sahabats,

Masalahnya sebenarnya bisa disederhanakan yaitu teori lokal untuk pembangunan 
lokal sebagai antitesis dari teori universal untuk pembangunan lokal. "Mashab 
kearifan lokal" ada pada arus yang pertama, bukan yang kedua, sebab asumsinya 
kota terdiri atas anyaman lokus-lokus yang unik, maka menghormati keunikan 
sebagai landasan penataan ruang kota adalah hal yang sangat logis dan 
realistis. Tentunya tidak serta merta yang serba lokal diangkat, mesti melalui 
saringan tahap berikutnya, mana yang sungguh bermanfaat atau berdampak 
stratejik pada masa depan kehidupan kota itu yang diangkat.

Misalnya, ojek sebagai kiat atau strategi sekelompok
 masyarakat untuk hidup dan muncul karena mereka melihat peluang (gap) pada 
sistem transportasi kota di tempat tertentu. Ini bisa dilihat sebagai kearifan 
lokal yang menarik. Ketika guru-guru mengojek
 karena gajinya dianggap kurang, maka tidak lantas fenomena ojek menjadi 
negatif. Ada tugas memperhatikan gaji guru supaya lebih sejahtera dan tidak 
menjadi pengojek yang mungkin mengurangi profesionalismenya, dan ada tugas 
mempertahankan ojek demi sekelompok warga masyarakat yang memang sungguh 
membutuhkannya demi hidupnya. Dengan demikian, ojek bisa menjadi bagian dari 
sistem transportasi kota ketika ada ketidak berdayaan sistem yang ada dalam 
melayani seluruh kebutuhan masyarakat. Masih banyak contoh lain, yang tidak 
selalu konotasinya adalah tradisi lama, irasional, mistik dan sebagainya, sebab 
lokal ya lokal. 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sat, 1/30/10, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:

From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: Mazhab Yogya- mahzab atau jualan scholarship?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, January 30, 2010, 8:13 PM







 



    
      
      
      Pak Risfan dan rekan2 ysh.,
haha betul Pak Risfan, memang kita perlu berdiskusi dgn dasar pengertian yg 
sama...
Saya kira mahzab Chicago yg dibicarakan Pak Djarot dan Pak Deden tidak lain 
dari urban/human ecology yg dikembangkan oleh sosiolog2 Univ Chicago seperti 
Robert Park dan Ernest Burgess... adapun mahzab LA yg berkembang kemudian 
dipelopori oleh geograf2 LA seperti Edward Soja (UCLA) dan Michael Dear (USC)...
mahzab Chicago sudah lama dikenal dan diakui sgt penting kontribusinya dlm 
urban sociology/studies walaupun telah lama dianggap mati, dan orang2 mahzab LA 
mengklaim bahwa pemikiran
 mereka yg posmodernist menantang mahzab Chicago yg modernist... dan seperti 
mahzab Chicago yg mengambil terrain nya di Chicago, maka group LA terrain nya 
di LA...
Tapi beberapa
 scholar seperti Mark Gottdiener berpendapat bahwa berbeda dgn mahzab Chicago 
yg diakui kontribusinya thd scholarship, maka mahzab LA ini lebih pd pelabelan 
utk kepentingan "jualan scholarship" ...scholarship menjadi komoditas 
dagangan... argumen Gottdiener antara lain bahwa fenomena perkotaan yg terjadi 
di LA ini bukan unik hanya di LA dan teori2 tsb bukan hanya dikembangkan oleh 
geograf2 LA, dan beberapa teori bahkan dikembangkan di luar LA seperti oleh 
Harvey, Lefebvre, dan Castells...( kalau kita baca buku2 Soja misalkan, maka 
memang terlihat bahwa dia banyak mengutip Lefebvre, Castells, dan Harvey)...
Jadi tidak aneh kalau Pak Risfan belum pernah dengar ttg kedua mahzab tsb, 
karena yg satu sudah lama mati (Chicago) dan yg satu lagi hanya klaim 
sekelompok scholars (LA)...
ini juga yg membuat saya heran ketika permasalahan perkotaan di Indonesia 
dikaitkan dgn mahzab Chicago dan
 LA....
salam..




--- En date de : Sam 30.1.10, Risfan M <risf...@yahoo. com> a écrit :

De: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Objet: Bls: [referensi] Re: Mazhab Yogya- FE vs FISIP/FIB vsPWK
À: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Samedi 30 Janvier 2010, 8h39















 
 



    
      
      
      Rekans ysh,



Pak Eka, Pak Djarot, sebetulnya yang diomongin itu Mazhab apa sih?



Kalau dicompare dgn mazhab Chicago, LA, itu juga mazhab apa? Selama saya 
sekolah PWK kok belum pernah dengar? (Yang saya ingat kok cuma kasus Land Use 
Plan -nya Chapin?)



Salam,

Risfan Munir



Pada Sab, 30 Jan 2010 00:54 CST ffekadj menulis:



>

>Pak Risfan dan Referensiers ysh.

>

>Saya berusaha menangkap pandangan Pak Risfan berikut, dan intinya telah

>meramaikan diskusi kita sepagi ini tentang pe-mazhab-an pemikiran. 

>Sebelumnya saya menanggapi mengenai 'Barat menuduh Barat', hanya berupa

>fasilitasi pemikiran terhadap rekan-rekan yang sedang atau telah belajar

>di tempat munculnya berbagai pandangan itu; dengan berharap ada

>umpan-balik yang signifikan tentang apa yang mereka pelajari dan

>manfaatnya bagi bangsa Indonesia yang diwakili oleh 500+ peserta milis

>ini. Tidak semuanya gayung bersambut kata berjawab, sehingga dapat

>memunculkan banyak pertanyaan lain, seperti misalnya harapan itu bapak

>tuliskan dalam komentar di bawah.

>

>Berikutnya masalah sumber pemikiran, filsuf dan moralist Adam Smith

>malah didewakan sebagai 'dewa ekonomi', padahal dia bercerita tentang

>fenomena sosial dan moral. Biolog Patrick Geddes kita dewakan sebagai

>'dewa kota', dst. Dengan kata lain 'penafsiran' telah memegang peranan

>penting dalam mengembangkan dan menguraikan ilmu pengetahuan. Dalam hal

>ini sebagaimana yang bapak maksudkan: bersekutu, melakukan perlawanan,

>atau berjalan sendiri? Tapi memang begitulah caranya dinamika itu

>berjalan. Pak ATA sudah beberapa kali mengingatkan: buat teori sendiri

>untuk Indonesia!

>

>Masalah mazhab, sebagaimana saya sebutkan lebih maju dari paradigma,

>namun sebenarnya juga lebih santun dibandingkan dengan pola pro-kontra

>yang selama ini berkembang dalam masyarakat (akademis). Saya kurang

>kompeten mengatakan, bila paradigma kurang berkembang selama ini apalagi

>pada pembentukan mazhab, rujukan saya Pak Hendro

><http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/2306> .

>

>Mengenai 'kearifan lokal', memang banyak sekarang program dan proyek

>yang menggunakan istilah itu; namun apa makna yang digunakan, setelah

>saya intip, belum punya landasan akademis. Memang mengenai 'istilah'

>bisa digunakan bermacam-macam, seperti contoh hikmah dari vernacularitas

>yang saya temukan seminggu ini: sesuatu ketika berada di tangkai disebut

>'bulir', namun ketika dipanen disebut 'padi', kemudian setelah ditumbuk

>dan ditampi disebut 'beras', dan setelah dimasak dinamakan 'nasi', kalau

>digoreng namanya 'nasi goreng', dan setelah dimakan dan dikeluarkan

>namanya 'ampas'. Bendanya itu juga.

>

>Tentang Mazhab Yogya, pertama ini adalah pengakuan identitas dan ada

>pengumuman tentang hal itu. Saya hanya mengakui keberadaan 'identitas'.

>Kedua, adalah hal ini cukup beralasan dan melalui diskusi yang panjang

>pada tahun lalu. Ada konsep yang kuat dan kalau boleh dibilang sudah

>mentoq, seperti kutipan

><http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/9026>   ini. Dalam

>postingan lain, saya cari ndak nemu, ada pernyataan bila Yogya berani

>menolak eksternalitas untuk mempertahankan kearifan lokalnya. Ketiga,

>fenomenologi yang menjadi dasar metodologi mazhab sebenarnya juga tidak

>asli pendekatan Barat, lebih pada konsep kebatinan tradisional (wening)

>yang mencari jejak pada akar keilmuan modern; karena dalam ilmu

>fenomenologi aslinya masih mau menerima eksternalitas. Jadi metodologi

>ini tipikal in situ. Keempat, memang ada beberapa orang ahli yang

>(katanya) bersepakat tentang hal itu.

>

>Saya kira ini sedikit penjelasan tentang pengenalan saya terhadap mazhab

>ini. Mohon koreksi dan tuntunan dari para sesepuh. Sementara demikian

>dulu. Salam.

>

>-ekadj

>

>

>--- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risf...@... > wrote:

>>

>> Uda Ekadj dan Rekans ysh,

>>

>> Menurut saya Uda Eka yang selalu menulis nama Faucault, Bateson, etc

>apakah juga bukan "Barat menuduh Barat".

>>

>> Persoalannya menurut saya bukan Barat vs Lokal. Itu persoalan beda

>paradigma.Sesunggu hnya dua kubu berlawanan itu (ada juga sih proyek

>bersamanya) , adalah kubu Fakultas Ekonomi vs FISIP, Fakultas Ilmu

>Budaya.

>>

>> Murid-murid Adam Smith dkk ada di FE, murid-murid Marx, Faucault, dkk

>(maaf sebetulnya saya tidak tahu) ada di FISIP, FIB. Di antara mereka

>tidak ribut, karena sudah berjalan puluhan tahun sehingga 'sepakat'

>memahami "ilmuku is ilmuku, ilmumu is ilmumu." Kita sebagai Planner

>(yang belajar ekonomi, budaya setelah S2/S3) sebaiknya "memanfaatkan"

>hasil-hasil pemikiran mereka, jangan justru terjebak dalam "kutukan"

>ilmu mereka.

>>

>> Dunia mengenal pasang surut, "what goes up, must come down", begitu

>kata syair lagu soul Spinning Wheel. Era sebelum kemerdekaan (30an,

>40an) Dunia Ketiga disemarakkan ideologi nasionalisme, sosialisme, anti

>kapitalis. Setelah Era kemerdekaan (50an, 60an) era konsolidasi negara

>baru, lalu pembangunan (ekonomi).

>>

>> Di negara kita, sewaktu berjuang semuanya sepertinya satu tujuan, tapi

>awal 60an, politik jadi panglima, geger terus, pawai terus, "perut

>diganjal gombal (pidato)". Paro kedua mulai pembangunan ekonomi. Memberi

>makan 180 juta penduduk, menciptakan lapangan kerja, tentunya perlu

>"visi, misi yang pasti, persatuan, kestabilan", apalagi waktu itu

>ancaman sparatis masih laten bisa terjadi. Era pembangunan menjalankan

>misinya. Dan selanjutnya "kekuasaan" yang terlalu kuat menimbulkan ekses

>"KKN". Maka kondisi menjadi matang untuk bangkitnya era baru, Era

>Reformasi.

>>

>> Perlawanan atas "kekuasaan model Orde Baru" menguatkan ide reformasi,

>demokratisasi, desentralisasi. Di bidang kebijakan publik, perencanaan,

>FISIP/FIB membawa angin baru pula. Dan, ternyata tidak tipikal

>Indonesia. Gejala "anti rasionalisme ekonomi, anti globalisasi" ini

>rupanya juga gejala global. Buktinya terjadi dimana-mana.

>>

>> Masalahnya tetap: bagaimana memberi makan, lapangan kerja, tempat

>tinggal layak, bagi 250 juta manusia Indonesia ini.

>>

>> Sekali lagi, kita Planner/Arsitek, pinter-pinter lah "memanfaatkan" ,

>jangan kena "kutukan" ilmu ekonomi (kapitalis) atau ilmu sosial (ist),

>atau sinkretisme, pemujaan masa lalu. Orang FE dan FISIP/FIB saja yang

>ilmunya jelas bertentangan rukun-rukun saja.

>>

>> "Rational Planning Method" (RPM), katanya terlalu mekanistik,

>kuantitatif, deterministik gantinya diharap ganti dengan yang

>"partisipatif, berbudaya, mengandung kearifan lokal". Saya kira gak gitu

>lah. Masing-masing punya ruang geraknya masing-masing. Kita Planner

>sebaiknya bisa menggunakan keduanya sesuai kebutuhan. RPM, lebih tepat

>untuk skala luas, pendekatan partisipatif berbasis komunitas kebanyakan

>dibangun dari pengalaman di level community.

>>

>> Salam,

>> Risfan Munir

>

>





    
     



 











      

    
     



 





      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke