Pak Eko ysb, terima kasih untuk koreksiannya, juga untuk penilaian yang jujur. Jadi diskusi kita berada dalam tataran mazhab, namun bila efek Mazhab Chicago itu berupa teori, model, konsep, dll masuk ke Indonesia langsung ke Bandung, telah bapak jelaskan. Jadi selama ini para guru itu adalah agents atau transformator yang telah menuntun kita kepada wawasan pengetahuan selama ini. Namun tidak sebatas itu saja, beberapa di antaranya juga mengembangkan pemikiran mandiri, seperti standar permukiman tahun 1960an, sistem regionalisasi pada tahun 1980an, vernakularisme, dan seterusnya sampai sekarang ini. Namun sebenarnya hal ini kurang berkembang sebagai mazhab, karena 1) kebutuhan pembangunan pada masa itu menuntut konsentrasi terpilah-pilah, 2) pengembangan baru di tingkat teori, model, dan konsep, serta 3) pelayanan baru sampai S1.
Sebenarnya saya melihat sejak awal abad ini telah ada gerakan baru yang menonjol di Bandung ketika beberapa ilmuwan mulai konsentrasi pada aspek penegakan rencana. Basisnya masih konstruktif, namun struktural-fungsionalisme, sehingga saya lebih senang menyebutnya sebagai 'governmentability'. Beberapa tokoh di antaranya RAkbar <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7376> , DennyZ <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3825> , dan AO <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5915> . Beberapa pemikiran di antaranya telah masuk dalam kebijakan nasional, dan ada 2-3 tulisan tentang pendekatan yang beredar luas. Beberapa pemikiran saya nilai asli, dan ada juga campuran; karena pemikiran konstruktif sebenarnya sangat rakus kreativitas. Hanya selama ini belum kedengaran semacam pengumuman, tidak ada salahnya tokh, walaupun secara parsial? Supaya gagasan tidak diklaim oleh ilmuwan kota lain; apalagi sudah punya banyak anak-cucu dan simpatisan. Sementara demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote: > > Pak Djarot, Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh., > > Sebetulnya Chicago school yg disebutkan Pak Djarot/Pak Deden perlu dipersempit pd konteks urban morphology... walaupun morfologi perkotaan tidak hanya Chicago School, tapi ada British, French, dsb. tetapi memang yg banyak diajarkan di Planologi ITB adalah Chicago School... Pak Risfan mungkin masih ingat model2 bentuk kota: concentric zone, sector, dan multi nuclei... ini adalah karya Chicago School yg sangat kita kenal ketika dibangku kuliah S1... > > Concern saya adalah, seberapa jauh sebetulnya model2 ini mempengaruhi perencanaan kota kita? Apakah karena kita menjadikan model2 tsb sebagai sumber ide bentuk rencana kota yg kita rencanakan? Saya baca beberapa RTRWK memang mencantumkan gambar2 model tsb yg > kebanyakan sebenarnya lebih pd copy paste dr laporan2 RTRW kota2 lain > yg sudah terlebih dahulu disusun... apakah planners Indonesia > mengadopsi model2 tsb ketika menyusun RTRWK? hmmm tentu kita perlu > berhati2 dgn statemen ini... > > Karena berasal dr jurusan Sosiologi maka model2 Chicago school ini adalah sebuah upaya memahami kompleksitas kota melalui penyederhanaan... model2 kota versi Chicago school harus dibedakan dr model2 kota yg lahir dari ide dan visi seperti Garden City karena model kota2 Chicago school berangkat dr fenomena yg ada... Model kota seperti Garden City memang model yg diharapkan diwujudkan, tapi model2 kota Chicago school dibangun bukan utk ditiru, tapi utk memudahkan memahami fenomena... demikian juga LA school yg berangkat dr geograf2... > > Nah kalau model2 kota Chicago school tsb digunakan sebagai sumber ide utk membuat replika di kota2 lain dan kemudian tdk cocok lalu yg salah siapa? Tentu bukan modelnya atau pembuat modelnya, tapi si planner sendiri..hehe... > > Concern yg kedua adalah bila model Chicago/LA school dianggap menjadi sumber permasalahan perencanaan kota2 di Indonesia...Seberapa jauh model ini mempengaruhi banyaknya permasalahan perencanaan kota2 kita? Tentu saja permasalahan perencanaan kota2 kita memiliki banyak sumber: masalah dr stakeholders, regulasi, minimnya budget, batas administrasi yg disengketakan, lingkungan, kemiskinan, yg saya kira tidak seluruhnya terkait dgn morfologi kota ala Chicago maupun LA... > > Tapi tentu saya sependapat dgn maksud Pak Deden dan Pak Djarot bahwa kita tidak bisa sembarangan mengaplikasikan model2 yg berasal dr lokalitas yg lain...:) > > salam..

