Pak Sariffudin, Pak Djarot dan Rekans yah,
 
Terima kasih atas tanggapannya. Tampaknya kita memang sudah perlu melangkah, 
dari sisi Perencanaan kepada PEMANFAATAN & PENGENDALIAN ruang. Salah satu 
konsekuensinya kita bicara "content" disamping container, bicara "citizen" 
disamping city. Setelah merencana KERANGKA RUANG nya, bagaimana pula MENGISI 
dengan rajutan kegiatan ekonomi dan interaksi sosial warganya. Hanya dengan itu 
Sustainable City bisa dikembangkan.
 
Untuk mendukung pendapat Bapak sekalian, berikut ini saya sisipkan kutipan dari 
Harian Kompas:
 
Kota yang sehat
.............Parameter umum yang dapat dijadikan acuan, apakah sebuah kota itu 
nyaman dihuni atau tidak, terletak pada sejauh mana kota tersebut memiliki daya 
dukung bagi aktivitas warganya. Semakin kota memiliki daya dukung yang tinggi 
bagi aktivitas warganya, maka kota tersebut dapat dikatakan sebagai kota yang 
sehat. Sebaliknya, jika sebuah kota itu mengisolasi dan menghambat aktivitas 
warganya sehingga tidak nyaman untuk dihuni, kota tersebut adalah kota yang 
sakit..............(Oleh Afthonul Afif Alumnus Psikologi Klinis Program 
Pascasarjana UGM; Menekuni Kajian Psikologi Perkotaan)
 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/30/02501471/Kota.dan.Adaptasi.Manusia
 
Masalahnya kemudian untuk melangkah bagaimana? Kalau perencanaan fisik dan 
pembangunan prasarana, maka intervensi pemerintah sudah biasa dilakukan. Tapi 
kalau "membangun ekonomi lokal dan merajut relasi sosial masyarakat" 
instrumennya apa? Apakah model Forum Warga, atau ada contoh lain? Saya kira 
instrumen ini yang perlu digali? Dan siapa saja yang bisa berperan sebagai 
fasilitator dan penggerak mula nya?
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 


--- On Wed, 2/10/10, Sariffuddin <[email protected]> wrote:


From: Sariffuddin <[email protected]>
Subject: Bls: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City
To: [email protected]
Date: Wednesday, February 10, 2010, 7:35 PM


  




Kepada Yth. 
Bpk. Risfan Munir dan Rekan-rekan ysh.

Sangat menarik membicarakan wacana Sustainable City, bahkan banyak konsep yang 
telah ditawarkan untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut dari compact city 
hingga garden city. Tidak kalah menariknya jika kita dudukkan lagi konsep 
tersebut pada pernyataan Doxiadis (1968) yang berusaha 'membagi' kota dalam dua 
elemen besar yaitu 'content' dan 'container' atau pernyataan Prof. Eko 
Budiharjo mengenai 'city' dan 'citizen'. Prinsip sederhana yang ditawarkan 
adalah Kota bisa berkelanjutan jika ada hubungan yang harmonis antara 'content' 
dan 'container' atau 'city' dengan 'citizen-nya'. Literatur-literatur 
sustainable development banyak yang mengemukakan bahwa sustainable city dapat 
tercapai jika keseimbangan antara 'environment- social-economy' tercapai. 
Namun, dari beberapa penelitian yang pernah saya lakukan hal itu ternyata tidak 
sepenuhnya berlaku dalam lingkup masyarakat kita.

Penelitian pertama *Kualitas Hidup Masyarakat di Kota Semarang, UNDIP" 
menunjukkan bahwa orientasi kehidupan masyarakat berjenjang dari 
"EKONOMI-SOSIAL- LINGKUNGAN' , Orientasi hidup mereka lebih mengutamakan 
ekonomi terlebih dahulu, kemudian sosial dan terakhir lingkungan. Akibatnya 
perhatian masyarakat terhadap lingkungan sangat rendah. Pada kelompok 
masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi cukup baik (relatif kaya) , ternyata 
mereka memiliki perhatian terhadap lingkungan (namun setelah mereka di 
'perkaya' oleh lingkungan sekitarnya). Mereka membuat kelompok-kelompok 
masyarakat untuk mengaktifkan kembali peran masyarakat terhadap lingkungan 
seperti gotong royong, arisan bahan bangunan untuk membangun rumah, program 
taman kampung, dll yang dimotori oleh PKK. 

Menurut pandangan saya, ini menunjukkan bahwa pembangunan dalam lingkup 
'content' akan cukup efektif untuk mewujudkan Sustainable City. Content yang 
saya maksud dikhususkan untuk manusia, atau human development. Ide sederhana 
ini sebenarnya terinspirasi oleh bukunya Dr.-ing. Jo Santoso (Menyiasati Kota 
Tanpa Warga) yang menggarisbawahi pentingnya pembangunan manusia dalam lingkup 
pembangunan. 

Mengingat selama ini, lingkup pembangunan di Indonesia atau mungkin bahkan 
sebagian besar dunia lebih berkonsentrasi pada lingkup 'container' semata yaitu 
wadah berupa pembangunan jalan, kawasan-kawasan budidaya, dll namun lingkup 
'human' sering ditinggalkan. Jika ini dibiarkan maka ketakutan Graham dalam 
bukunya Splintering Urbanism kemungkinan besar akan terjadi yaitu terjadinya 
polarisasi ruang atau fragmentasi ruang kota. Ketakutan saya pribadi jika aspek 
kemanusiaan menjadi 'anak tiri' pembangunan maka yang akan terjadi adalah 
'fenomena generasi gelembung sabun' (Soemardjan, 1984), yaitu semain besar 
gelembung sabun maka akan terlihat semakin indah dan mewah namun rawan pecah. 
Kondisi ini terjadi saat pekerjaan masyarakat tertransformasi dari sektor vital 
ke non vital atau bahkan sama sekali tidak vital, yaitu dari petani pemilik dan 
penggarap pertanian menjadi seorang buruh pabrik yang keberlanjutannya 
dipengaruhi oleh mekanisme pasar. 

Salam
Sariffuddin Abdullah


Referensi:


Budihadjo, Eko.  1998. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota. Bandung: Alumni.
Budiharjo, Eko. 2003. Kota dan Lingkungan Pendekatan Baru Masyarakat Berwawasan 
Ekologi. Jakarta: LP3ES.
Budiharjo, Eko., & Sudanti. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan. Bandung: Alumni.
Doxiadis, C. A. 1968. Ekistics, the Science of Human Settlements. Science , 
393-404
Graham, Stephen and Marvin, Simon. 2001. Splintering Urbanism: Networked 
Infrastructure, Technological Mobilities, and the Urban Condition. London: 
Routledge.
Soemardjan, Hindro T.  1984. ”Pengembangan Ruang dan Papan Dalam Rangka 
Peningkatan Ketahanan Nasional”. In Boedihardjo (ed). Sejumlah Masalah 
Permukiman Kota. Bandung: Alumni, pp. 125-133

Santoso, J. 2006. [Menyiasati] Kota Tanpa Warga. Jakarta: KPG dan Centropolis.
Sariffuddin. 2006. Quality of Life and The Perception of Community in Semarang 
(Case Study: Settlement Area in Genuk, Semarang). 2nd International Conference 
on Environment and Urban Management (Science, Nature and Justice) (p. 32). 
Semarang: Soegijapranata Catholic University.




Dari: Risfan Munir <risf...@yahoo. com>
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: perkot...@yahoogrou ps.com
Terkirim: Kam, 11 Februari, 2010 07:19:17
Judul: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  

Sdr Irendra dan Rekans ysh,

Masih terkait cerita upaya Anda, tampaknya dalam wacana Sustainable City ini 
muncul bebera buzz words seperti smart-city, compact-city, green-city.

Sebagaimana kisah Anda, keberlanjutan kota tentu mencakup atau bergantung pada 
keberlanjutan secara ekonomi, ekologi dan sosial.

Smart-city dikaitkan dengan keunggulan atau kemandirian ekonominya, selain 
teknologinya (ada cybercity?). Juga dalam pengelolaan waste, agar tidak ekspor 
sampah, air kotor ke tempat lain.

Compact-city, mengacu pada kekompakan, pengaturan agar bisa mengurangi 
kebutuhan transportasi. Tidak lapar lahan. Pada aspek sosial juga bisa 
diartikan sebagai cohesiveness, kuatnya social capital, kerukunan warga.
Green-city, barangkali ini sudah banyak dibahas.

Pendekatannya seperti biasa tiga jalur. Jalur pemerintah dengan turbinwas nya. 
Jalur swasta dengan mengundang atau mengendalikan pembangunan yang mereka 
lakukan, mempromosikan sustainable city itu.
Jalur ketiga, yang Anda sudah mulai, dan yang saya ceritakan kemarin. mudah2an 
memancing tulisan dan ide lain.

Salam,
Risfan Munir








From: Irendra Radjawali <ra...@hotmail. com>
Sent: Tuesday, February 09, 2010 4:11 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  



Pak Risfan yang baik,


kami di Makassar mencoba melihat "keberlanjutan" ini dari sisi lingkungan, 
ekonomi, dan sosial-budaya.
dengan segala keterbatasan kami, kami mencoba membongkarnya dari sudut pandang 
"energi". Akhirnya,
kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan sederhana (juga membuka "ruang-ruang 
politik kota agar warga
bisa mengemukakan pendapat dan juga mendapatkan informasi) seperti memisahkan 
sampah basah dan kering,
kemudian teman-teman muda di Unhas mencoba mengganti beberapa ojek dengan 
"fuel-cell", kemudian kampanye
juga mengurangi penggunaan kertas (paling tidak kalau mencetak, bolak balik), 
dan kami juga mencoba membuka
jaringan pada pengambil keputusan. 


Salam hormat dan jabat erat,
Radja

"Hasta La Victoria Siempre"





To: refere...@yahoogrou ps.com
From: risf...@yahoo. com
Date: Mon, 8 Feb 2010 15:56:23 -0800
Subject: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City

  


Rekans ysh,

Di radio mobil saya dengar kampanye Walikota Bekasi soal penghijauan, penanaman 
pohon demi anak cucu, dikaitkan dengan pemanasan bumi yang sudah terjadi. Bulan 
lalu RW saya juga sudah beliau kunjungi.
DKI dalam penyusunan RTRW nya juga jelas mengaku soal neraca hijaunya deficit.

Tema2 sustainable city sudah menjadi tema tiap new town yang dipasarkan.

Adakah langkah2 sederhana yang bisa mulai dilaksanakan?

Salam,
Risfan Munir






Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger



Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) 







      

Kirim email ke