Pak Risfan, Pak Djarot, Pak Eka, Pak Wilmar yang baik, Terimakasih banyak atas diskusinya yang berkembang sangat menarik, sampai pada ranah-ranah hidup lainnya.Dengan segala keterbatasan saya tentang referensi terhadap teori-teori sosial yang ada, saya dan teman-temanmencoba memahami wacana "keberlanjutan" ini sebagai sebuah wacana hasil konstruksi sosial. Kalau saya tidaksalah wacana "keberlanjutan" ini dipicu oleh terbitnya sebuah novel karangan Rachel Carson berjudul "Silent Spring" di negeri Paman Sam di tahun 62, dan kemudian wacana tersebut berkembang sedemikian rupa dalam berbagai kontekssampai kemudian di tahun 1968 muncul konferensi Biosphere (UNESCO) dan elaborasi pembangunan berkelanjutan secaraekologis dilakukan. Kemudian tahun 1972 di Stockholm diadakan konferensi "Human Environment", lahirlah UNEP. Di tahunyang sama kalau tidak salah "Club of Rome" meluncurkan "Limit of Growth", di tahun 1973 lahir gerakan Chipko di Indiauntuk menghadapi laju kerusakan hutan serta perusakan lingkungan. Kemudian tahun 1976 diadakan konferensi Habitatuntuk pertama kalinya yang mengelaborasi isu lingkungan dan tempat hidup manusia. Tahun 1985, di Austria, untuk pertamakalinya isu gas rumah kaca dan prediksi pemanasan global diangkat. Tahun 1987, laporan Brundtland "Our Common Future"diluncurkan, dimulai populernya wacana "pembangunan berkelanjutan". Tahun 1992, "The Earth Summit" di Rio de Janeiro,dst. Kami mencoba melihat perkembangan wacana "berkelanjutan" tersebut dan juga mencoba menggapai-gapai untuk mengertiwacana-wacana saintifik yang juga berkembang saat ini. Dan kami sepakat dengan apa yang dilemparkan oleh Pak Djarottentang sisi "manusia" dan "perilakunya" yang penting. Kemudian juga apa yang dilemparkan oleh Pak Wilmar tentang "SustainableRegion". Kami saat ini terus mengelaborasi apa yang dikenal sebagai sistem sosial-ekologi. Banyak memang "sekolah-sekolah" yangmengelaborasi wacana ini, seperti gank nya Frankfurt dan Vienna, kemudian gank nya Stockholm Resilience yang banyak berbasisterestrial, kemudian gank Bremen yang berbasis non-terestrial. Wacana yang menarik karena mencoba melihat interaksi manusiadan alamnya (ruang hidupnya) sebagai sebuah sistem sosial-ekologis yang senantiasa berubah, senantiasa ber-transformasi karenaadanya interaksi dinamik antara komponen-komponen sistem pada berbagai level. Sehingga kemudian konsekuensinya adalah pada pertanyaan "skala", dan juga ada tantangan metodologis untuk mengerti interaksi-interaksi tersebut. Saat ini sejauh apa yang kami pahami, ranah "ilmu kompleksitas",juga pendekatan "resiliensi" sudah cukup maju untuk memperkaya pemahaman kita terhadap dinamika sistem sosial-ekologi ini. Dan apa yang pak Wilmar sampaikan menjadi menarik, karena Kami mencoba memahaminya seperti itu pak dan juga tentunya melakukan analisa-analisa kritis terhadap mazhab pemikiran tersebut.Dalam ranah perkotaan, saya kira kelompok penelitiannya Professor Michael Batty dari UCL sudah mencoba mengembangkan beberapamodel berbasis agen (apa yang saya pribadi juga kembangkan saat ini) untuk kota. Namun memang, kelompok beliau belum bicara tentangkota dan ekosistem. Kami coba kembangkan wacana ini berdasarkan pemahaman kami terhadap interaksi dinamik manusia dan lingkungannya ini untuk ranah perkotaan. Kami banyak mengelaborasi karya-karya nya Emilio Moran, Elinor Ostrom juga Holling, serta mencoba membenturkanteori-teori tentang perilaku, membuat simulasi dan skenario, sambil melakukan kegiatan-kegiatan nyata di Makassar, untuk kembali memperkayapemahaman kita semua terhadap sistem yang senantiasa bertransformasi ini. Buat kami yang menarik adalah memahami transformasi (sebagaikeniscayaan ini) dan memahami perilaku aktor-aktornya kemudian membenturkannya pada kenyataan dan membuka "ruang-ruang politik", karenakemudian mengerti bagaimana "kekuasaan" bekerja juga sangat menarik dan penting. Maaf terlalu panjang dan mungkin kurang relevan, sekali lagi terimakasih dan mohon diskusi dan elaborasinya. Jabat erat,Radja
"Hasta La Victoria Siempre" To: [email protected] CC: [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 10 Feb 2010 19:22:46 -0800 Subject: Re: Bls: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Pak Sariffudin, Pak Djarot dan Rekans yah, Terima kasih atas tanggapannya. Tampaknya kita memang sudah perlu melangkah, dari sisi Perencanaan kepada PEMANFAATAN & PENGENDALIAN ruang. Salah satu konsekuensinya kita bicara "content" disamping container, bicara "citizen" disamping city. Setelah merencana KERANGKA RUANG nya, bagaimana pula MENGISI dengan rajutan kegiatan ekonomi dan interaksi sosial warganya. Hanya dengan itu Sustainable City bisa dikembangkan. Untuk mendukung pendapat Bapak sekalian, berikut ini saya sisipkan kutipan dari Harian Kompas: Kota yang sehat .............Parameter umum yang dapat dijadikan acuan, apakah sebuah kota itu nyaman dihuni atau tidak, terletak pada sejauh mana kota tersebut memiliki daya dukung bagi aktivitas warganya. Semakin kota memiliki daya dukung yang tinggi bagi aktivitas warganya, maka kota tersebut dapat dikatakan sebagai kota yang sehat. Sebaliknya, jika sebuah kota itu mengisolasi dan menghambat aktivitas warganya sehingga tidak nyaman untuk dihuni, kota tersebut adalah kota yang sakit..............(Oleh Afthonul Afif Alumnus Psikologi Klinis Program Pascasarjana UGM; Menekuni Kajian Psikologi Perkotaan) http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/30/02501471/Kota.dan.Adaptasi.Manusia Masalahnya kemudian untuk melangkah bagaimana? Kalau perencanaan fisik dan pembangunan prasarana, maka intervensi pemerintah sudah biasa dilakukan. Tapi kalau "membangun ekonomi lokal dan merajut relasi sosial masyarakat" instrumennya apa? Apakah model Forum Warga, atau ada contoh lain? Saya kira instrumen ini yang perlu digali? Dan siapa saja yang bisa berperan sebagai fasilitator dan penggerak mula nya? Salam, Risfan Munir --- On Wed, 2/10/10, Sariffuddin <[email protected]> wrote: From: Sariffuddin <[email protected]> Subject: Bls: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City To: [email protected] Date: Wednesday, February 10, 2010, 7:35 PM Kepada Yth. Bpk. Risfan Munir dan Rekan-rekan ysh. Sangat menarik membicarakan wacana Sustainable City, bahkan banyak konsep yang telah ditawarkan untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut dari compact city hingga garden city. Tidak kalah menariknya jika kita dudukkan lagi konsep tersebut pada pernyataan Doxiadis (1968) yang berusaha 'membagi' kota dalam dua elemen besar yaitu 'content' dan 'container' atau pernyataan Prof. Eko Budiharjo mengenai 'city' dan 'citizen'. Prinsip sederhana yang ditawarkan adalah Kota bisa berkelanjutan jika ada hubungan yang harmonis antara 'content' dan 'container' atau 'city' dengan 'citizen-nya'. Literatur-literatur sustainable development banyak yang mengemukakan bahwa sustainable city dapat tercapai jika keseimbangan antara 'environment- social-economy' tercapai. Namun, dari beberapa penelitian yang pernah saya lakukan hal itu ternyata tidak sepenuhnya berlaku dalam lingkup masyarakat kita. Penelitian pertama *Kualitas Hidup Masyarakat di Kota Semarang, UNDIP" menunjukkan bahwa orientasi kehidupan masyarakat berjenjang dari "EKONOMI-SOSIAL- LINGKUNGAN' , Orientasi hidup mereka lebih mengutamakan ekonomi terlebih dahulu, kemudian sosial dan terakhir lingkungan. Akibatnya perhatian masyarakat terhadap lingkungan sangat rendah. Pada kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi cukup baik (relatif kaya) , ternyata mereka memiliki perhatian terhadap lingkungan (namun setelah mereka di 'perkaya' oleh lingkungan sekitarnya). Mereka membuat kelompok-kelompok masyarakat untuk mengaktifkan kembali peran masyarakat terhadap lingkungan seperti gotong royong, arisan bahan bangunan untuk membangun rumah, program taman kampung, dll yang dimotori oleh PKK. Menurut pandangan saya, ini menunjukkan bahwa pembangunan dalam lingkup 'content' akan cukup efektif untuk mewujudkan Sustainable City. Content yang saya maksud dikhususkan untuk manusia, atau human development. Ide sederhana ini sebenarnya terinspirasi oleh bukunya Dr.-ing. Jo Santoso (Menyiasati Kota Tanpa Warga) yang menggarisbawahi pentingnya pembangunan manusia dalam lingkup pembangunan. Mengingat selama ini, lingkup pembangunan di Indonesia atau mungkin bahkan sebagian besar dunia lebih berkonsentrasi pada lingkup 'container' semata yaitu wadah berupa pembangunan jalan, kawasan-kawasan budidaya, dll namun lingkup 'human' sering ditinggalkan. Jika ini dibiarkan maka ketakutan Graham dalam bukunya Splintering Urbanism kemungkinan besar akan terjadi yaitu terjadinya polarisasi ruang atau fragmentasi ruang kota. Ketakutan saya pribadi jika aspek kemanusiaan menjadi 'anak tiri' pembangunan maka yang akan terjadi adalah 'fenomena generasi gelembung sabun' (Soemardjan, 1984), yaitu semain besar gelembung sabun maka akan terlihat semakin indah dan mewah namun rawan pecah. Kondisi ini terjadi saat pekerjaan masyarakat tertransformasi dari sektor vital ke non vital atau bahkan sama sekali tidak vital, yaitu dari petani pemilik dan penggarap pertanian menjadi seorang buruh pabrik yang keberlanjutannya dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Salam Sariffuddin Abdullah Referensi: Budihadjo, Eko. 1998. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota. Bandung: Alumni. Budiharjo, Eko. 2003. Kota dan Lingkungan Pendekatan Baru Masyarakat Berwawasan Ekologi. Jakarta: LP3ES. Budiharjo, Eko., & Sudanti. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan. Bandung: Alumni. Doxiadis, C. A. 1968. Ekistics, the Science of Human Settlements. Science , 393-404 Graham, Stephen and Marvin, Simon. 2001. Splintering Urbanism: Networked Infrastructure, Technological Mobilities, and the Urban Condition. London: Routledge. Soemardjan, Hindro T. 1984. ”Pengembangan Ruang dan Papan Dalam Rangka Peningkatan Ketahanan Nasional”. In Boedihardjo (ed). Sejumlah Masalah Permukiman Kota. Bandung: Alumni, pp. 125-133 Santoso, J. 2006. [Menyiasati] Kota Tanpa Warga. Jakarta: KPG dan Centropolis. Sariffuddin. 2006. Quality of Life and The Perception of Community in Semarang (Case Study: Settlement Area in Genuk, Semarang). 2nd International Conference on Environment and Urban Management (Science, Nature and Justice) (p. 32). Semarang: Soegijapranata Catholic University. Dari: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Cc: perkot...@yahoogrou ps.com Terkirim: Kam, 11 Februari, 2010 07:19:17 Judul: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Sdr Irendra dan Rekans ysh, Masih terkait cerita upaya Anda, tampaknya dalam wacana Sustainable City ini muncul bebera buzz words seperti smart-city, compact-city, green-city. Sebagaimana kisah Anda, keberlanjutan kota tentu mencakup atau bergantung pada keberlanjutan secara ekonomi, ekologi dan sosial. Smart-city dikaitkan dengan keunggulan atau kemandirian ekonominya, selain teknologinya (ada cybercity?). Juga dalam pengelolaan waste, agar tidak ekspor sampah, air kotor ke tempat lain. Compact-city, mengacu pada kekompakan, pengaturan agar bisa mengurangi kebutuhan transportasi. Tidak lapar lahan. Pada aspek sosial juga bisa diartikan sebagai cohesiveness, kuatnya social capital, kerukunan warga. Green-city, barangkali ini sudah banyak dibahas. Pendekatannya seperti biasa tiga jalur. Jalur pemerintah dengan turbinwas nya. Jalur swasta dengan mengundang atau mengendalikan pembangunan yang mereka lakukan, mempromosikan sustainable city itu. Jalur ketiga, yang Anda sudah mulai, dan yang saya ceritakan kemarin. mudah2an memancing tulisan dan ide lain. Salam, Risfan Munir From: Irendra Radjawali <ra...@hotmail. com> Sent: Tuesday, February 09, 2010 4:11 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Pak Risfan yang baik, kami di Makassar mencoba melihat "keberlanjutan" ini dari sisi lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya. dengan segala keterbatasan kami, kami mencoba membongkarnya dari sudut pandang "energi". Akhirnya, kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan sederhana (juga membuka "ruang-ruang politik kota agar warga bisa mengemukakan pendapat dan juga mendapatkan informasi) seperti memisahkan sampah basah dan kering, kemudian teman-teman muda di Unhas mencoba mengganti beberapa ojek dengan "fuel-cell", kemudian kampanye juga mengurangi penggunaan kertas (paling tidak kalau mencetak, bolak balik), dan kami juga mencoba membuka jaringan pada pengambil keputusan. Salam hormat dan jabat erat, Radja "Hasta La Victoria Siempre" To: refere...@yahoogrou ps.com From: risf...@yahoo. com Date: Mon, 8 Feb 2010 15:56:23 -0800 Subject: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Rekans ysh, Di radio mobil saya dengar kampanye Walikota Bekasi soal penghijauan, penanaman pohon demi anak cucu, dikaitkan dengan pemanasan bumi yang sudah terjadi. Bulan lalu RW saya juga sudah beliau kunjungi. DKI dalam penyusunan RTRW nya juga jelas mengaku soal neraca hijaunya deficit. Tema2 sustainable city sudah menjadi tema tiap new town yang dipasarkan. Adakah langkah2 sederhana yang bisa mulai dilaksanakan? Salam, Risfan Munir Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) _________________________________________________________________ New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more. http://windows.microsoft.com/shop

