Mempelajari lbh jauh pertanyaan walikota DjokoWi ......melihat perhatian rekan2 
ttg  ‘governance’  dan bahkan faktor ‘kharisma kepemimpinan’ yg cukup besar 
..........lalu menimbang jg pandangan2 spt a/l dari  rekan Dr. Djarot bhw kita 
telah memiliki banyak best practices mikro dari governance dan pertanyaannya 
“apakah kita punya skenario besar yang dilengkapi dengan detil skenario 
kecil-kecil menuju kepada visi yang jauh dan ‘terukur’....” nampaknya belum 
memperoleh jawab yg jelas .........walau saya hanya rakyat jelata biasa saja yg 
tak ada kaitannya dgn ketatanegaraan dan kepemerintahan bahkan juga planning 
......namun jadi pusing juga ya  kalau melihat  ‘kepedulian’ masyarakat 
planning  kita akan (good) ‘governance’ yg sepertinya cukup sensitip dan cukup 
besar .....namun kok spt agak ‘kurang’ giliran dituntut ttg sensitivitasnya pd 
masalah ‘enjinering ruang’, terutama kalau dikaitkan dgn pembangunan ekonomi
 wilayah dan nasional.............
Padahal kalau dipikir2........jelas bhw  (good) governance lbh merupakan ranah 
politik dan hukum .......itu jelas lbh merupakan ‘makanan’ orang2 politik, 
hukum dan sosial .........dan pdhal masalah penataan ruang walau memiliki juga 
sisi hukum dan politiknya ......namun ia khan sbnarnya lbh banyak merupakan  
ranah  enjinering (ruang) plus enjinering arsitektur,  ekonomi dan SDM........
Dgn enjinering politik, enjinering sosial dan enjinering hukum .......mau tak 
mau otomatikeli  tata cara kelola  pemerintahan akan dan harus digiring terus 
menuju good governance atau kalau tidak ya urusannya penjara/ pemakzulan 
.......jadi kenapa juga kok masyarakat enjinering ruang msh saja demikian besar 
minat dan perhatiannya pd masalah (good) governance dan kepemimpinan .......dan 
kok spt malah  terkesan kurang minatnya pd  mendiskusikan masalah ranahnya 
sendiri .......ialah enjinering ruang (ekonomi, demografi, sosial, budaya, 
hankam) .........enjinering ruang ... dan enjinering ruang?..........
Daripada  kita terus2an terkagum2 dgn governance  spt  ‘masalah2 mikro terus 
spt model2 e-government dari Sragen atau model walikota menangani dgn baik 
kakilima spt DjokoWi .........menyitir apa yg disabdakan oleh Dr. Djarot ttg 
“visi yang jauh dan ‘terukur’ diatas (kalau yg soal visi angkringannya beliau 
tak usah kita pikirin)  .......kenapa kok kita tidak lbh banyak saja menyimak 
pemandangan2 yg jelas lbh proporsional yg lbh bersifat enjinering ruang yg 
jelas2 lbh merupakan porsi tugas suci dan  wajib ranah pemikirannya spt 
misalnya saja bgmn negara2 lain menyiapkan industrinya (berikut SDM dan 
lingkungan fisik dan sosekbudnya) bagi saling  ‘perang’ ekspor  dan ekonomi dlm 
rangka saling mempertahankan kesejahteraan rakyatnya? ......... 
Kita mengerti .....didalam industri dan manufaktur selain jelas2 terdapat 
demikian banyak unsur2 kuat enjinering ruang  spt ttg perlunya pembangunan 
infrastruktur,  lingkungan, arsitektur  dan kota serta pembangunan wilayah 
..........disitu terdapat pula unsur enjinering utk memperbaiki mutu SDM dan 
kesejahteraan manusia .......
Dgn industri dan manufaktur sbg lembaga penciptaan perluasan kesempatan kerja  
......para muda lulusan sekolah diterima menjadi pekerja dgn rank terbawah  
...........bbrp yg cemerlang lalu diangkat menjadi supervisor/ leader 
......sampai kemudian menanjak lagi mjd manajer ........jadi industri mencetak 
pula SDM  kelas menengah dgn tingkat pendapatan yg baik yg itu kemudian 
berdampak ganda kuat  pd perbaikan pola konsumsi / daya beli diwilayah atau 
bahkan berdirinya banyak usaha2 baru ......menyebabkan perkembangan  pesat 
perekonomian wilayah dan kota diwilayah.......
DIbanding terus mendiskusikan ttg masalah kepemimpinanan good governance bahkan 
kharisma pesonal yg  sebenarnya lbh merupakan ranah pemikiran para ahli ilmu 
politik sosial dan hukum yg merekapun telah cukup banyak jumlahnya dan mampu 
menanganinya ......mengapa kok  para enjiner ruang tidak lebih baik 
berkonsentrasi  bersama para ahli ekonomi, industrialis dan para arsitek bahkan 
militer  dll utk  bekerja berpikir dan mendiskusikan lebih intens ttg masalah 
ruang dan ekonomi serta peningkatan mutu SDM?..........
Dgn diskusi ttg ruang dan ekonomi misalnya .....kita bisa beralih visi dgn 
semula mendiskusikan terus DjokoWi lalu melihat tetangga kita Singapura 
misalnya yg  negeri kota / pulau kecil dan berpenduduk hanya 4.5 juta jiwa 
misalnya ......dgn hanya sekitar 2.5 juta tenaga kerja .......namun dgn GDP 
sekitar no 42-45 dunia melebihi Philipina atau Vietnam (bandingkan dgn 
Indonesia dgn 100an juta tenaga kerja dgn GDP sekitar no. 19 dunia) 
........pelabuhannya yg pernah menjadi tersibuk didunia melebihi Rotterdam dan 
Hongkong ......atau yg kini dgn gigihnya terlihat sdg sibuk berkutat dgn 
tantangan ekspor produk2 dan jasa2 hitechnya ke Amerika Serikat  selain tentu 
saja Asia misalnya yg selama ini terus dikangkanginya .........
Drpd terus saja kita terkagum2 dgn masalah2 mikro governance dlm negeri kita yg 
sebenarnya lbh merupakan porsi pemikiran dan wacana orang lain ......mengapa 
kita tak menyimak dan menekuni bgmn sikecil Singapore  ini menekuni  
spesialisasi industri aircraft  maintenance dan trading  suku cadangnya 
misalnya .......bgmn begitu ada model pesawat2 baru raksasa seperti Airbus 
A-380  atau Boeing 787misalnya lalu mrk dgn gesitnya segera  mendirikan usaha 
jasa bengkel tempat serpisnya ...sesuatu yg negara lain pasti tak  akan segera 
terpikir/ lakukan (tenaga kerja dibidang maintenance, repair dan overhaul 
pesawat  ini saja mencapai 18.000 pekerja dgn nilai  Sin$ 4.5 milyar dolar) 
........atau ketika banyak negara2 lain  sdg krisis krn kenaikan harga minyak 
dunia lalu didalam negeri pmrth (SBY) menaikkan harga BBM dan menjadi bulan2an 
serangan oleh oposisi (demikian juga ketika menurunkan harga BBM) tapi 
SIngapura dgn lincahnya  justru membangun
 tambahan fasilitas kilang minyak misalnya (terapung/ didarat) ......semakin 
memantapkan posisinya sebagai 1 dari 3 refining hubs minyak terbesar dunia 
...yg alamat kalau ada kenaikan harga minyak dunia lagi  mereka akan semakin  
panen........atau bgmn Singapore menekuni sektor pendidikan internasional 
......healthcare dan sektor biomedikal .......sektor IT dan pasarnya 
.......sektor telekomunikasi dan pasarnya ...menambah ruang dgn reklamasi 
pantai2nya ........franchising .......selain jg pariwisata yg amit2 sebuah 
perusahaan suplai buku2 pelajaran ke SMA di Bekasi saja kalau memberikan bonus 
kebugurunya adlah tiket pesawat ke Singapura...............
Maka marilah beralih dari masalah  micro governance kepandangan dan wacana yg 
jauh lbh sedap,  sehat dan bergizi  dan lbh sesuai dgn ranah ilmiah enjinering 
perencanaan ruang bersama masyarakat ekonomi, arsitektur dll..........salam, 
aby


      

Kirim email ke