Pak Rofiq,
Nyali Bappenas memang tdk sekuat masa lalu, dan mereka tinggal cari
gampangnya saja alias apa maunya yg punya kuasa dan lebih repot lagi
kalau mewakil parpol. Saya pikir pak kita tetap mengguah hati dan
pikiran mereka. Memang sejak lama kuat keinginan utk menumpulkan
Bappenas dan memberi peran kpd Menpan. Janggal rasanya peran Menpan
ini shg apa yg ada saat lucu. Akan dibawa kemana kita semua dgn
hanya berbekal strategic planning? Jangan-jangan kita hanya sekedar
ikuti maunya si donor yg telah memberikan hibahnya utk penyusunan
renstra dan sekaligus melakukan intervensi dlm development policy
kita ?
Thanks
reintje
-----Original Message-----
From: Aunur rofiq
Sent: 26-02-2010, 06.58
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] RE: dr Pak JokoWi (Walkot Solo)...scenario
planning
Pak Rientje dan mas djarot ysh,
Saya tahun 2002 memperkenalkan pendekatan skenario planning ke
beberapa daerah di KTI untuk menyusun RPJMD nya. Meskipun mendapat
sambutan positif dan mereka mau berminggu-minggu diskusi, tapi
mereka tidak mau menggunakan itu, karena Bappenas dan Menpan meminta
mereka menggunakan strategic planning. Sekarang bappenas ingin
menerapkan skenario planning dengan menggunakan sistem dinamis
sebagai alat analisisnya. Saya sendiri cenderung memakai tool sesuai
dengan kondisi daerah, jika mereka masih belum tahu apa yang akan
menjadi unggulan mereka lebih cocok menggunakan skenario planning
Salam
Aunur Rofiq
________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Fri, February 26, 2010 6:57:24 AM
Subject: [referensi] RE: dr Pak JokoWi (Walkot Solo)...scenario
planning
Memang kebutuhan skrg adalah pendekatan skenario. Modalnya adlh
visi. Pendekatan strategic yg saat ini dianut dlm dokumen rpjmn dan
rpjmd membuat kabur masa depan nasib kita. Pilihan variabel
pembangunan yg strategic saja tanpa melihat aspek skenario hasilnya
merugikan masa depan kita. Kelemahan dlm pengelolaan pendekatan
skenario bisa diatasi dgn pengembangan modelnya khususnya model
aplikatifnya. Seretnya implementasi tataruang ( agar baik ) karena
visi atau skenario yg lemah dan bahkan tdk dipahami. Dgn demikian
kebijakan pun repot. Saya sangat setuju kalau hal ini dikembangkan.
Semoga forum kita ini menjadi pemicu.
Salam
Reintje
-----Original Message-----
From: Djarot Purbadi
Sent: 26-02-2010, 03.59
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo)...scenario
planning
Pak Risfan, tampaknya situasinya memang sudah berubah, bukan sekedar
strategic planning melainkan menuju ke arah scenario planning. Saya
pernah mendengar istilah itu dari teman saya ekonomi, mantan rektor
atma jaya yogya, tetapi penjelasannya kurang mantap atau detil.
Apakah bisa bapak cerita scenario planning hebatnya dimana dan dalam
situasi bagaimana efektif digunakan ? Mohon pencerahan.
Hal ini saya analogikan dengan paradigma desain yang berubah di
arsitektur. Sampai tahun 1980-an rencangan arsitektur selalu
menggunakan cara berpikir cartesian, yang bertumpu pada salib-sumbu.
Nah sejak bukunya Charles Jencks yang bercerita tentang "jumping
universe" tampak dengan jelas, bahwa era digital telah mengubah
paradigma desain ke arah estetika non-cartesian. Arsitek asyik
bermain-main dengan bentuk untuk menemukan estetika yang belum
pernah terbayangkan, estetika liar yang paradigmanya adalah
continuity and diversity. Estetika yang berbasis garis lengkung-
lengkung non cartesian atau fraktal dan sebagainya menjadi realitas
baru yang mengagetkan !!!
Apakah perubahan planning juga terjadi, dari strategic planning ke
planning yang lain ? Mohon pencerahan.
Salam,
Djarot Purbadi
http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
--- On Fri, 2/26/10, risfano <risf...@yahoo. com> wrote:
From: risfano <risf...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-urdv-
id] QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data -
Advice; Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan
data sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSON
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, February 26, 2010, 2:24 AM
Rekans ysh,
Begitulah realita medan kerja perencanaan saat ini. Bukan hal baru,
tapi di era "dana melimpah, belum desentralisasi, situasi
"governance" daerah kurang dibahas, karena dengan glontoran proyek
nasional maka pembangunan kota/daerah tampak oke-oke saja.
Tapi setelah otonomi daerah, dan loan tidak leluasa (beban cicilan
utang mencekik) maka suasana berubah. Dan, situasi "governance"
daerah jadi perhatian.
Soal peran enterpreneurship daerah saya kira presentasi Prof Tommy
Firman cukup jelas. Bahwa nasib regional development era otonomi
daerah sangat ditentukan kualitas leadership KDH.
Soal nasib organisasi sangat ditentukan siapa pimpinannya, saya kira
di hampir semua organisasi, kecuali mungkin militer. Kenapa Lee
Iacoca, Jack Welch, Cacuk, Fadel, Michael Ruslim etc terkenal karena
kualitas leader memang sangat menentukan policy, gaya dan pasang/
surut organisasi. Bayangkan kalau Cacuk (alm), Fadel cuma harus
mengikuti pemimpin sebelumnya saja. Sehingga itu menjadi realita
yang perlu diperhitungkan juga dalam advokasi rencana.
Seperti judul bukunya Mintzberg, "Rise & Fall of Strategic
Planning", barangkali memang ada pasang surut antara berfikir skala
luas (PJP, PJM) dan skala implementasi praktis (service management).
Untuk Service delivery management banyak good-practice seperti
layanan OSS (misal Solo), RSUD (Jogja), SIMPUS (Ngawi) yang disebut
sebelumnya. Itu sudah mulai banyak direplikasi. Mungkin ada juga
layanan cepat n tepat dalam pelayanan (advis) tata ruang yang layak
diangkat dan direplikasi.
Sudah waktunya juga bagi dunia tata ruang banyak membahas aspek
"pemanfaatan & pengendalian" . Setelah 45 tahun berfokus pada aspek
"merencana" mungkin waktunya peduli aspek pemanfaatan &
pengendalian, yang tentunya mencakup manajemen pelayanan,
operasional, capacity building aparat dst.
Salam,
Risfan Munir
--- In refere...@yahoogrou ps.com, Achadiat Dritasto <atoks...@.. .>
wrote:
>
> Dear All,
> Kenapa ya, dalam sistem 'governace' kita selalu atau sering atau
> sebagian besar "sangat" tergantung pada pimpinan/kepemimpin an. Klo
> ganti kepemimpinan ganati pimpinan sistem bisa berubah sangat
radikal.
> Bahkan terkadang "sangat" merubah suatu peraturan. Dan peraturan itu
> terkadang (klo ga sering) mengikat dan atau berdapak pada
masyarakat.
> Seperti perijinan 1 pintu (bukan satu atap) atau e-government atau
> peraturan cara berpakaian atau larangan merokok, begitu ganti kepala
> daerah, trus berubah klo atau tidak menjadi perhatian dari kepala
> daerah berikutnya, sehingga aturan itu sering di langgar, bahkan
oleh
> aparat pemdanya. Padahal disitu dah ada DPR/D sebagai alat kontrol
> pelaksanaan sistem. Jadi sistem itu tidak baku sesuai peraturan dan
> perundangan. Oh ya ... DPR/D nya juga ganti ya, dan DPR/D ini juga
> berhak menggagas peraturan.
> Klo kebijakan pembangunan itu bisa berbeda, sangat tergantung pada
> visi/misi pimpinan, pembangunan apa yang diprioritaskan, bukan
merubah
> atau menghilangkan peraturan yang sudah baik.
> Rupanya masyarakat kita itu (mungkin) masih sangat takut sama
pimpinan
> bukan sama peraturan yang sudah disepakati sebelumnya. .. Bagaimana
> ini bisa berubah ya ?
>
> Salam
> Atoksaja
>
>
>
> On 2/23/10, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:
> > Pak Dwiagus, tampaknya best practices sudah ada dan mudah
ditemukan, tinggal
> > bagaimana kita saja ya. Artinya, apakah kita punya skenario
besar yang
> > dilengkapi dengan detil skenario kecil-kecil menuju kepada visi
yang jauh
> > dan "terukur". Saya kok masih percaya kepada nasihat guru
samurai saya,
> > bahwa perang besar hakekatnya adalah sama saja dengan perang
kecil-kecil
> > yang sangat banyak. Memang persoalan leadership kadang hanyalah
masalah ada
> > tidaknya "lone samurai" dan "swordless samurai" di dalam
teamwork yang
> > terlibat dan mengawal perang itu.
> >
> > Kini sudah saatnya bertindak secara nyata dan dilandasi oleh
"konsep perang"
> > yang stratejik heheheheee.. ...untuk memenangkan perang
bersama !!!!
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> >
> > --- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@.. .> wrote:
> >
> > From: Benedictus Dwiagus S. <bdwia...@.. .>
> > Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-
urdv-id]
> > QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data -
Advice;
> > Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data
> > sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:55 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pak Djarot,
> > Iya pak. Di skala kecil, memang sdh byk yang coba utk kembangkan
sistem
> > informasi terpadu di RS. Tp ya itu, kuncinya di leadership kyknya.
> > Di RS Zainal Abidin di Aceh juga mencoba yang sama. Tp masih
terseok-seok
> > sepertinya, ketika ganti kepemimpinan dan manajemen, tiba2 agak
macet.
> >
> > Kalau di ngawi kalau ndak salah, sistem informasinya sudah sedikit
> > menyangkut informasi sosial terkait kesehatan.
> > Beberapa indikator status keshatan masyarakat jg terpantau oleh
kantor
> > kepala dinas. Jd memudahkan kepala dinasnya utk segera
bertindak, kalau ada
> > kasus2 tertentu. Akan lbh bagus lagi kalau sudah integrasi
dengan sistem
> > early warning .
> >
> > Bisa saja nanti dikembangkan jadi sistem informasi sosial-
ekonomi daerah.
> > Dengan sistem early warningnya. Misal kalau tiba2 ada desa yg
tiba2 menurun
> > produksi pertaniannya, langsung ada lampu merah kelap-kelip.
Keren juga
> > kayaknya. Bisa jadi rumit, tapi tidak mustahil, apalagi kalau
Putri Solo yg
> > mengerjakannya.
> > Hehehehhehee
> >
> > Salam, dwiagus
> >
> > »»» digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~ Genjot
Teruuusss... !!!From:
> > Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
> > Date: Mon, 22 Feb 2010 17:39:56 -0800 (PST)To:
<refere...@yahoogro u
> > ps.com>Subject: Re: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo)
FW:
> > [se-urdv-id] QUERY: Collecting and Interpreting Local Socio-
Economic Data -
> > Advice; Experiences. /Pertanyaan: Mengumpulkan dan
Mengintegrasikan data
> > sosial-ekonomi. Reply by 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pak Dwi Agus, nimbrung nih ya, tetapi pada skala yang sangat
kecil.
> >
> > Di RSUD Panembahan Senopati, Bantul, manejemen pelayanan
dikelola dengan TI
> > dan kayaknya sangat menarik. Setiap transaksi yang masuk dapat
dipantau
> > dengan seksama, sampai setiap karyawan bisa melihat "jasa medis"
yang akan
> > mereka terima setiap harinya (dengan password). Dari yang saya
dengar,
> > sistem pemantauan "realtime" ini telah menjadi bagian dari
budaya kerja para
> > karyawan, sehingga mereka bisa dengan mudah merencanakan pola
keuangan
> > mereka. Saya dengan juga sistem pengelolaan layanan dengan TI
ini, yang
> > transparan semacam itu tadi, baru ada di Bantul. Sekarang RSUD
Bantul
> > semakin maju karena telah ada di hati setiap warga Bantul,
masyarakat puas
> > dengan layanan dan karyawan puas dengan penggajian yang
transparan.
> >
> > Jika sistem semacam ini bisa dikembangkan di setiap layanan
> > publik, alangkah bagusnya ya....meskipun proses untuk mencapai
kondisi
> > semacam itu tidak gampang... pada titik "pembagian rejeki" tentu
selalu ada
> > dialog - tarik-ulur berbagai kepentingan, yang hendaknya
dilandasi prinsip
> > keadilan substansial.
> >
> > Dalam kondisi semacam itu, manusia memang dikendalikan sistem dan
> > angka-angka, tetapi jika itu semua merupakan bagian dari proses
> > memperjuangkan keadilan dan hormat pada profesi serta menjunjung
tinggi
> > etika, rasanya ekselen juga !!!
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> >
> > --- On Tue, 2/23/10, Benedictus Dwiagus Stepantoro
<bdwia...@gmail. com>
> > wrote:
> >
> > From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
> > Subject: [referensi] Re: dr Pak JokoWi (Walkot Solo) FW: [se-
urdv-id] QUERY:
> > Collecting and Interpreting Local Socio-Economic Data - Advice;
Experiences.
> > /Pertanyaan: Mengumpulkan dan Mengintegrasikan data sosial-
ekonomi. Reply by
> > 4 March 2010. [SEC=PERSONAL]
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Tuesday, February 23, 2010, 8:27 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pak Aby yang baik,...
> >
> >
> >
> > saya ingin mbantu pak jokowi pak,... kirain pak Aby menyarankan
saya untuk
> > mengawini putri solo,.... wah, kalau ini saya nunggu ketok palu
RUU
> > Perkawinan dulu pak ,.. huehehehehee
> >
> >
> >
> > Yang saya tau itu di sektor kesehatan, pemanfaatan sistem
informasi untuk
> > koordinasi, sampai policy making itu, adalah sangat
memungkinkan, ... contoh
> > yang saya tau Kab.Ngawi. Di mana ada sistem informasi kesehatan
yang linked
> > (secara online kalau gak salah) dari tingkat fasilitas sampai ke
Dinas
> > Kesehatannya, .. jadi kepala dinasnya bisa memonitoring
perkembangan
> > pelayanan puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya di tingkat
kecamatan,..
> > ... dan bisa mengkoordinasinya pula secara online,....
> >
> >
> >
> > salam,
> >
> > dwiagus
> >
> >
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso
<watashiaby@ ...> wrote:
> >
> >>
> >
> >> Halo mas Dwi yg baik,
> >
> >> Walau pertanyaan pak Jokowi itu sebenarnya lbh mengharapkan
jawaban dari
> >> Solution Exchange-UN ....namun pandangan berikut ini justru
berasal dari
> >> mitos yg banyak dipercaya kebenarannya baik oleh  orang solo
sendiri
> >> maupun   oleh orang bukan asli Solo  lho.........
> >
> >> Denger2 sih ada mitos .. kalau mau berkarier sukses ....katanya
sih
> >> syaratnya KAWINI-lah dulu putri Solo.......Kalo gak percaya
silahken nanya
> >> sendiri kpd yg udh pada  mempraktekken. ....Soeharto
misalnya .. semenjak
> >> mengawini ibu Tien (puti Solo keturunan Mangkunegaran)
kariernya lalu
> >> melesat dan bahkan sempat jadi presiden sampai 32 tahun dan
itupun ada
> >> yang bilang ..gara2 ditinggal Ibu Tien maka semenjak itu
bintangnya redup
> >> dan lengser..... . lalu Akbar Tanjungpun ikut2an cari putri
Solo dan
> >> hasilnya?... . ia menjadi menteri termuda (usia 36 tahun)
bahkan kemudian
> >> menjadi ketua DPR dan malah skrg meraih gelar doktor dari
UGM....... Amien
> >> Rais, Jendral Djoko Santoso dan pak Djoko Kirmanto (Menteri PU)
apalagi
> >> ........selain pada mengawini putri Solo mereka sendirioun
konon juga asli
> >> Solo ......jadi maka gak usah ditanya lagilah bgmn hasil
kariernya... ....
> >
> >> Jadi kalau mas Dwi bener mau nolongin pak walikota Solo
itu ......silahken
> >> anda nanya .....pak Djokowi itu sudah mengawini putri Solo ato
> >> belum....... kalau belum ya  kalo memang bener ingin sukses ya
gimanalah
> >> gitu caranya ......biar kariernya sbg walikota bisa sukses
besar gitu lho
> >> ......salam,
> >
> >> aby
> >
> >>
> >
> >> Â
> >
> >>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>