Pak Bin dan rekan-rekan ysh. Saya belum siap menanggapi link yang bapak tunjukkan, mudah-mudahan ada rekan yang lain. Hanya topik ini terkait dengan buku yang baru saya temukan: "Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony", karya Rudolf Mrazek, edisi terjemahan, penerbit Yayasan Obor Jakarta, Juni 2006.
Saya baru baca bagian pertama, sebenarnya cerita tentang sejarah pembangunan pada masa Hindia Belanda, di antaranya menyangkut pembangunan jalan dan rel kereta api, perumahan dan kota, kelistrikan, komunikasi, dan lain-lain. Priode sekitar penghujung abad 19 dan abad 20. Saya kira menarik untuk jadi pelajaran, ketika kita mulai bergerak ke arah 'pembangunan mula keruangan' (initial spatial development), yang pernah juga disitir Mas Panpan dan rekan-rekan dalam posting terdahulu. Dari sekapur sirih ada paragraf yang menarik, saya kutip: "Insinyur-insinyur, untuk menggunakan kata-kata Karl Marx, adalah 'sebuah kelas buruh yang unggul'. Mereka percaya akan bahasa mereka sebagaimana kita pun percaya akan bahasa kita. Lebih daripada kita-kita lainnya, bagaimanapun, para insinyur itu yakin bahwa bahasa mereka dan segala sesuatu lainnya dapat dibongkar dan disusun kembali (dan dibongkar lagi), demi manfaat bahasa itu maupun segala sesuatu lainnya. Para insinyur bermimpi dan merencanakan sama giatnya dan seringnya seperti kita semua. Tetapi lebih dari kita semua, mereka yakin bahwa ada semacam kesamaan terukur antara perencanaan dengan mimpi itu. Para insinyur, dalam hakekat mereka, tetap tidak berubah kalau mereka membawa keyakinan-keyakinan mereka sampai ke batas-batasnya. Mereka sekadar menjadi lebih mengesankan bagi kita-kita yang lain, lebih tragis, atau lebih berbahaya. Sewaktu mereka mencapai ujung itu, sebagian di antara mereka, menurut kata-kata salah satu yang paling tragis di antara mereka, bahkan boleh jadi memaklumkan diri mereka 'insinyur-insinyur jiwa manusia'. Tentu saja, ada seorang insinyur dalam diri kita masing-masing." Juga diungkapkan mengenai Kromoblanda, sebagaimana disajikan Tillema dalam karya enam jilidnya yang diterbitkan antara 1915 hingga 1927, adalah sebuah impian dan sebuah rencana, dalam jangkauannya yang setara dengan Ville contemporaine karya Le Corbusier. Saya kira bagian ini bisa menarik perhatian Pak Wawo. Cukup panjang ngetiknya, nanti saya sambung lagi. Salam. -ekadj --- In [email protected], "w_binta...@..." <w_binta...@...> wrote: > > w_binta...@... wanted to share this with you: > > artikel menarik, tks. > salam, > W. Bintarto > > > Can We Design Cities for Happiness? > http://shar.es/mHikG

