Warga mailing list yang budiman. Maaf jika terjadi penerimaan ganda...
"... Berkat menyebarnya gagasan -gagasan demokrasi tentang kesamaan status dan hak. Komunitas-komunitas sekarang menuntut kesamaan perlakuan, termasuk penghapusan diskriminasi, kesamaan kesempatan, dan hak yang sama untun berpartisipasi di dalam dan membentuk kehidupan kolektif masyarakatnya. Dalam beberapa tahun belakangan ini, persamaan perlakukan (equal treatment) ditafsirkan secara luas bahwa negara tidak bisa diidentikkan dengan sebuah etnis, agama dan kelompok kultural tertentu, dan harus netral ... Kegagalan akomodasi terhadap kelompok-kelompok ini telah membawa konsekwensi politis cukup serius, mulai dari ketidakatuhan (disobidience) sampai separatisme. ... Dalam pidatonya ketika berkunjung ke Indonesia tahun 2005 yang lalu,Sekretaris Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kofi Anan, memberi komentar ... Minoritas harus diyakinkan bahwa negara benar-benar milik mereka, juga milik mayoritas, dan bahwa keduanya akan menjadi pecundang kalau negara pecah ... Nasionalisme Indonesia, dengan demikian Bukanlah sepenuhnya padanan dari apa yang di Eropa disebut ''amour sacre de la patrie', cinta suci kepada tanah air, karena bahkan sampai ketika Sumpah Pemuda mendeklarasikan 'satu tanah air' pun, pada dasarnya kita belum lagi punya tanah air yang satu untuk semua orang Indonesia itu. Kecintaan Diponegoro kepada tanah airnya, misalnya, hanya sebatas pada sebuah domain kecil di dalam wilayah kerajaan Mataram. ..." Itulah sekelumit cuplikan buku bertajuk Hak Minoritas, Ethnos, Demos, dan Batas-batas Multikultarilisme (Jakarta: Interseksi Foundation dan Yayasan Tifa, 2009). Dalam buku setebal 286 hal. + xxx yang disunting Hikmat Budiman, salah seorang pendiri dan Direktur Interseksi Foundation, terkandung 4 hasil kajian pada 4 kelompok minoritas, masing-masing di Tasikmalaya (Masyarakat Adat Kampung Naga), Jawa Barart; Masyarakat Sakai di Riau; Masyarakat Buda di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Komunitas Dayak Tidung di Sembakung, Nunukan, Kalimantan Timur, di samping dua tulisan Editor pada bagian awal dan akhir buku, yang pada hakekatnya adalah pengkerangkaan kembali gejala-gejala yang teramati dalam keempat kasus dalam perpektif kajian masyarakat multikultural dan multikulturalisme. Sebagaimana dinyatakan dalam Pengantar-nya, buku ini antara lain hendak menunjukkan dilemma (politik) baru yang dihadapi masyarakat Indonesia setelah lepas dari bawah kuasa otoritarianisme. "Pada sisi yang satu, sekarang orang ramai mengajukan tuntutan tentang keharusan menghormati diversitas kulrural, menolak homogenisasi, dan antusias menyambut multikulturalisme, tapi pada saat yang bersamaan orang juga tidak kalah ramai mencemaskan kemungkinan terjadinya perpecahan nasional akibat ledakan politik identitas," tulis Budiman. Pada tulisan yang dimaksudkan sebagai Penutup seluruh sajian isi buku ini, Budiman meninjau ulang diskusi yang berlangsung terbatas hak-hak minoritas dan isu multikulturalisme di Indonesia. Budiman mengkritik kalangan yang begitu saja mengamini gagasan multikulturalisme sebagai solusi dari kondisi masyarakat multikultural di Indonesia. Bagi Budiman, multikulturalisme bukan tanpa persoalan dan bahkan berbahaya di dalamnya dirinya. Budiman memang tidak sampai pada rumusan alternatif. Boleh jadi bukan itu yang diinginkannya. Namun, sepertinya jelas baginya bahwa penghormatan kepada perbedaan (difference) tidak bisa mengesampingkan komitmen kepada kebangsaan dan begitu pula sebaliknya. Sebuah buku penting saya kira, baik bagi 'si minoritas', terlebih lagi bagi 'si mayoritas', Yang menurut Kofi Annan adalah para calon pencundang jika sebuiah Bangsa cq. Negara pecah, yang kebetulan beredar luas pada saat-saat masyarakat adat di Nusantara memperingati Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) ke XI, yang jatuh pada tanggal 17 Maret 2010. Selamat HKMAN XI. Selamat juga buat teman-teman Interseksi Foundation yang kembali menyumbang pengetahuan tentang hal ihwal hak-hak kelompok minoritas ini. Salam, ryz Tentang Interseksi Foundation lihat: Website: http://interseksi.org Email : [email protected] [email protected]

