Pak Roos,
Saya sependapat dengan teman-teman dari forest wacth Indonesia dan AMAN. 
Kenyataan yang terjadi bahwa planner ikut memperkuat posisi negara dan 
memperlemah hak-hak masayarakt adat terhadap penguasaan lahan. Implikasi lebih 
jauh bahwa marginalisasi masayrakat adat terjadi dari aspek ekonomi (sumberdaya 
tempat dan ruang hidup mereka beralih ke private), pada apsek sosial mendorong 
konflik berkepanjangan antara masyarakat dan swasta bahkan juga telah terjadi 
konflik horizontal karena private menggunakan power dan "right" nya dengan 
mengadu domba masyarakat. dari aspek budaya bahwa masayrakat adat kehilangan 
budaya dan jatidirinya, banyak nilai budaya berkaitan dengan hutan dan 
sumberdaya harus hilang seiring dengan hilangnya sumberdaya hutan dan lahan 
mereka. 
Negara yang diperkuat planner selalu mengatakan "pembangunan'' dengan 
mengorbankan masyarakat yang secara turun temurun bahkan sebelum negara ada 
mereka telah berdaulat memiliki sumberdaya tertentu. Padahal tugas negara dan 
pemerintah adalah mensejahterakan rakyat. Sudah saatnya planner harus 
mereformasi diri dalam perjuangan keadilan dan kesinambungan hidup, tidak hanya 
berorientasi pembangunan semata yang menimbulkan kesengsaraan rakyat.  

Planner selalu menggunakan status formal misal perizinan dalam menata ruang 
wilayah suatu wilayah tanpa melihat aspek history dan implikasi apa yang 
terjadi terhadap masyarakat. Walaupun saya bukan berlatar belakang planner, 
saya melihat beberapa RTRW yang dibuat dibeberapa provinsi di Sumatera 
contohnya, sangat sedikit alokasi untuk ruang masyarakat. hak ruang selalu 
hampir terbagi dua: yang undevelop dikuasai negara (kawasan konservasi, lindung 
dan pelestarian alam), yang develop dikuasi perusahaan (kehutanan, perkebunan, 
tambang) dan lain-lain. saya pernah sepintas membaca artikel bahwa hanya 1 % 
lahan dan hutan yang ada yang diakui negara sebagai hak masyarakat. padahal 
sudah lama mereka hidup dan damai pada kawasan tersebut.  Saya melihat planner 
yang ada di Indonesia lebih banyak yang berpihak pada kaum kapitalis seperti 
yang dikatakan Karl Marx. 

Semoga ada muncul karl marx-karlmarx planner Indonesia yang lebih berorientasi 
pada kepentingan rakyat dari pada kepentingan segelintir kapitalis.

Salam hormat,

Mangara

  
Time for Climate Justice Now!: Changing System and Behaviour for Save the Planet
Kornoeljestraat 2 H-18, 9741 JB
Groningen, The Netherlands 
Mobile Phone +31626254701




________________________________
From: Roos Akbar <[email protected]>
To: Milis Referensi <[email protected]>
Sent: Sat, 27 March, 2010 2:13:18
Subject: [referensi] Radio Australia:Connect Asia:Story:Indigenous Indonesians 
map the land for ownership

  
Any comment?

http://www.radioaus tralia.net. au/connectasia/ stories/201003/ s2852518. htm

Salam,
Roos Akbar




      

Kirim email ke