Bang Hotasi, kapan gerakin IAP, banyak nih idea2 namun semua mandeg ditempat, 
gimana kalau konsolidasi?
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: hotasi simamora <[email protected]>
Date: Mon, 29 Mar 2010 22:58:16 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Radio Australia:Connect Asia:Story:Indigenous 
Indonesians map the land for ownership

Hal ini menjadi kerisauan saya sebagai seorang planner ketika saya diundang 
oleh rekan2 penggiat lingkungan yang saya temukan di jaringan fb, untuk hadir 
bersama2 dengan masyarakat petani dari Humbang Hasundutan yang sudah lebih dari 
3O tahun memperjuangkan hak mereka karena diambil oleh PT Toba Pulp Lestari. 
Dari hasil perbincangan dengan mereka, memang, PT Toba Pulp Lestari memiliki 
berbagai dokumen resmi, saya ga tahu dan belum berani mengatakan itu legal atau 
tidak, karena UU No 26 Tahun 2OO7 tentang Penataan Ruang mengatakan, bahwa izin 
yang diperoleh tanpa melalui prosedur yang benar, dapat batal demi hukum. Tapi 
sampai sekarang, belum ada acuan yang mana izin yang melalui prosedur yang 
benar, dan secara sederhana dan juga berdasarkan dari cerita teman2 di Komisi B 
DPRD SUmut yang melakukan kunjungan lapangan dengan didanai dan didampingi oleh 
PT Toba Pulp Lestari, tentunya dengan mudah kita akan mengatakan bahwa Komisi B 
DPRD SUmut akan merumuskan rekomendasi sesuai dengan skenario PT Toba Pulp 
Lestari.
Satu hal yang pasti bahwa kesejahteraan masyarakat Humbanghas semakin turun, 
dan yang sejahtera adalah ara pendatang yang terkait dengan kegiatan baru 
tersebut.
Sebenarnya, kalau saya berbincang dengan rekan2 planner, sangat banyak rekan2 
yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap pemberdayaan masyarakat lokal. Tapi 
terkadang, rekan2 planner kalah dengan faktor non teknis. Dengan kata lain, 
sedemikian gampangnya pihak penyedia kerja mencari orang yang bisa menjadi 
planner yang mampu mengakomodir kepentingan pemberi kerja, atau kalau tidak, 
rencana yang dihasilkan hanya sifatnya sebagai tumpukan kertas di lemari para 
birokrat.
Tentunya ini menjadi tantangan kita bersama di masa mendatang, terutama untuk 
IAP sebagai suatu wadah yang menaungi para planner tersebut.



________________________________
From: Mangara Silalahi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, March 30, 2010 2:11:29
Subject: Re: [referensi] Radio Australia:Connect Asia:Story:Indigenous 
Indonesians map the land for ownership

  
Pak Roos,
Saya sependapat dengan teman-teman dari forest wacth Indonesia dan AMAN. 
Kenyataan yang terjadi bahwa planner ikut memperkuat posisi negara dan 
memperlemah hak-hak masayarakt adat terhadap penguasaan lahan. Implikasi lebih 
jauh bahwa marginalisasi masayrakat adat terjadi dari aspek ekonomi (sumberdaya 
tempat dan ruang hidup mereka beralih ke private), pada apsek sosial mendorong 
konflik berkepanjangan antara masyarakat dan swasta bahkan juga telah terjadi 
konflik horizontal karena private menggunakan power dan "right" nya dengan 
mengadu domba masyarakat. dari aspek budaya bahwa masayrakat adat kehilangan 
budaya dan jatidirinya, banyak nilai budaya berkaitan dengan hutan dan 
sumberdaya harus hilang seiring dengan hilangnya sumberdaya hutan dan lahan 
mereka. 
Negara yang diperkuat planner selalu mengatakan "pembangunan' ' dengan 
mengorbankan masyarakat yang secara turun temurun bahkan sebelum negara ada 
mereka telah berdaulat memiliki sumberdaya tertentu. Padahal tugas negara dan 
pemerintah adalah mensejahterakan rakyat. Sudah saatnya planner harus 
mereformasi diri dalam perjuangan keadilan dan kesinambungan hidup, tidak hanya 
berorientasi pembangunan semata yang menimbulkan kesengsaraan rakyat.  

Planner selalu menggunakan status formal misal perizinan dalam menata ruang 
wilayah suatu wilayah tanpa melihat aspek history dan implikasi apa yang 
terjadi terhadap masyarakat. Walaupun saya bukan berlatar belakang planner, 
saya melihat beberapa RTRW yang dibuat dibeberapa provinsi di Sumatera 
contohnya, sangat sedikit alokasi untuk ruang masyarakat. hak ruang selalu 
hampir terbagi dua: yang undevelop dikuasai negara (kawasan konservasi, lindung 
dan pelestarian alam), yang develop dikuasi perusahaan (kehutanan, perkebunan, 
tambang) dan lain-lain. saya pernah sepintas membaca artikel bahwa hanya 1 % 
lahan dan hutan yang ada yang diakui negara sebagai hak masyarakat. padahal 
sudah lama mereka hidup dan damai pada kawasan tersebut.  Saya melihat planner 
yang ada di Indonesia lebih banyak yang berpihak pada kaum kapitalis seperti 
yang dikatakan Karl Marx. 
 
Semoga ada muncul karl marx-karlmarx planner Indonesia yang lebih berorientasi 
pada kepentingan rakyat dari pada kepentingan segelintir kapitalis.
 
Salam hormat,
 
Mangara
 
  
Time for Climate Justice Now!: Changing System and Behaviour for Save the Planet
Kornoeljestraat 2 H-18, 9741 JB
Groningen, The Netherlands 
Mobile Phone +31626254701




________________________________
 From: Roos Akbar <[email protected]. net.id>
To: Milis Referensi <refere...@yahoogrou ps.com>
Sent: Sat, 27 March, 2010 2:13:18
Subject: [referensi] Radio Australia:Connect Asia:Story:Indigeno us Indonesians 
map the land for ownership

  
Any comment?

http://www.radioaus tralia.net. au/connectasia/ stories/201003/ s2852518. htm

Salam,
Roos Akbar


 


      New Email names for you! 
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke